NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Suamiku Bisa Baca Pikiranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Cinta

Keira Liem terbangun di ranjang rumah sakit, tapi tubuh ini bukan miliknya.

Dia Naomi—mahasiswi biasa yang seharusnya sudah mati. Sekarang dia terjebak di tubuh menantu keluarga Wijaya, salah satu konglomerat paling berkuasa di Jakarta. Suaminya? Reynard Wijaya—pewaris yang dibuang, laki-laki bertopeng perak yang seluruh kota bisikkan sebagai "cacat" dan "tidak normal."

Tapi Si Kepo, sistem misterius yang muncul di penglihatannya, punya kabar yang lebih gila lagi:

*"Selamat! Misi utamamu: buat suamimu jatuh cinta padamu dalam tiga tahun. Gagal = jiwamu lenyap."*

Masalahnya? Semua orang bilang Reynard itu gay.

Dan masalah yang LEBIH besar? Sejak malam pernikahan mereka, Reynard bisa mendengar setiap kata yang Keira pikirkan dalam hati.

*Setiap. Kata.*

Termasuk saat Keira membatin: "Ya Tuhan, badan suamiku bagus banget... Eh tunggu, katanya dia gay? Sayang banget."

Dan Reynard—di balik topeng peraknya—diam-diam tersenyum.

Di dunia konglomerat yang penuh intrik keluarga, ibu tiri yang licik, kakak ipar yang psikopat, dan pertarungan warisan bernilai triliunan, Keira harus bertahan hidup dengan satu senjata: mulut manisnya yang sopan... dan pikiran brutalnya yang jujur.

Yang tidak dia tahu: senjata terbesarnya justru yang paling berbahaya.

Karena laki-laki yang seharusnya dia "taklukkan" itu sudah jatuh cinta padanya—sejak kata pertama yang dia pikirkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Bukan Gay

"Kalau mereka ingin bicara tentang kelayakan, kita tunjukkan siapa yang paling layak bertahan."

Seharian itu, SCBD terasa seperti medan perang ber-AC.

Steven memimpin tim digital membekukan penyebaran berita palsu. Reza mengirim data asal pembayaran. Pak Hadi dari PIK mengirim rekam medis versi publik yang sangat singkat, sangat legal, dan sangat tidak memberi celah. Leo, setelah mengancam akan datang membawa jarum suntik raksasa, akhirnya mengizinkan Reynard bekerja hanya sampai jam delapan malam.

Di luar ruang kaca, beberapa manajer masih mondar-mandir. Ada yang membawa folder, ada yang berbisik sambil melihat berita di ponsel, ada yang langsung menunduk ketika melihatku. Sejak artikel itu naik, semua orang di gedung bergerak seperti berjalan di atas kaca.

Tapi di meja Reynard, dunia tetap rapi.

Terlalu rapi.

Laptop lurus. Laporan sejajar. Obat malam belum disentuh.

Aku menatap blister obat itu.

"Waktu habis" terdengar lebih sopan daripada "kalau kamu tidak minum obat, aku lapor Leo".

Jam delapan lewat lima menit, Reynard masih membaca laporan.

Aku berdiri di depan mejanya.

"Waktu habis."

"Lima menit."

"Sudah lima menit yang kamu curi."

"Keira."

"Jangan pakai suara CEO padaku. Aku sudah kebal."

Steven, dari sofa, mengangkat tangan. "Sebagai saksi, suara itu belum berhasil sejak Puncak."

Reynard menatapnya.

Steven langsung menunduk ke tablet. "Saya tidak ada."

Akhirnya Reynard pulang.

Tapi pulang tidak berarti istirahat. Di PIK, ia naik ke rooftop garden setelah minum obat. Katanya ingin udara. Aku membiarkannya lima belas menit, lalu naik membawa nampan kecil berisi bubur hangat, teh jahe, dan roti panggang.

Jakarta malam itu berkilau di bawah kami. Lampu gedung, garis jalan tol, suara jauh kendaraan, semua terlihat indah dari atas, seolah kota ini tidak sedang penuh orang yang ingin saling menjatuhkan.

Reynard berdiri di dekat pagar kaca, Topeng Perak memantulkan cahaya kota.

"Kau akan memarahiku lagi?" tanyanya tanpa menoleh.

"Aku membawa makanan. Marahnya bonus."

Ia hampir tersenyum.

Aku meletakkan nampan di meja kecil. "Makan."

"Aku tidak lapar."

"Krisis keluarga tidak membatalkan metabolisme."

Ia duduk.

Aku ikut duduk di kursi sebelah, menjaga jarak wajar. Angin malam membuat rambutku bergerak. Di bawah, PIK villa terasa sunyi.

Beberapa menit kami diam.

Lalu aku berkata, "Berita itu jahat."

Ia menatap cangkir tehnya. "Yang lebih jahat adalah orang yang membocorkannya dengan setengah kebenaran."

"Setengah kebenaran?"

"Aku memang sakit. Tapi mereka mengubah sakit menjadi ketidaklayakan."

Suara itu tenang, tapi aku mendengar lelah di bawahnya.

"Kamu layak," kataku.

Ia menoleh.

"Bukan karena kamu tidak sakit. Tapi karena kamu tetap bertanggung jawab walau sakit. Brandon sehat dan tetap bodoh."

Reynard menatapku lama.

"Itu dukungan atau hinaan?"

"Dua sisi koin."

Ia benar-benar tersenyum kecil.

"Berita itu alat."

"Tetap jahat."

"Ya."

Jawaban singkat itu membuat dadaku sakit.

Ia sudah terlalu terbiasa diperlakukan sebagai alat. Penyakitnya alat. Topengnya alat. Warisannya alat. Bahkan hidup dan matinya dijadikan bahan tawar-menawar.

Aku menatap tangannya yang masih sedikit pucat.

Aku ingin membantu.

Tapi aku hanya istri kontrak yang datang dari dunia lain, punya sistem cerewet, misi tiga tahun, dan kemampuan membuat kekacauan di meja makan.

Selain itu...

Aku meliriknya.

Dia mungkin gay.

Walau akhir-akhir ini teoriku mulai goyah. Ia menciumku. Ia memelukku. Ia menatapku seperti aku bukan sekadar tugas rumah tangga. Tapi Steven? Ko Steve? Bahu? Kedekatan? Drama lama di kepalaku belum sepenuhnya mati.

Mungkin dia biseksual?

Mungkin dia bingung?

Mungkin aku yang terlalu percaya diri?

Reynard berhenti memegang sendok.

Sangat pelan.

Oh tidak.

Aku lupa.

Kalau dia bisa membaca ekspresi, wajahku pasti bodoh sekali.

"Keira."

"Ya?"

"Apa yang baru saja kau pikirkan?"

"Tidak ada."

"Bohong."

Aku tertawa kaku. "Aku memikirkan cuaca."

"Di kepalamu cuaca bernama Steven?"

Darahku berhenti.

Apa?

Bagaimana dia...

Tidak. Tidak mungkin.

Mungkin tebakannya bagus.

Reynard meletakkan sendok, lalu menatapku penuh. "Aku sudah cukup sabar."

"Sabar soal apa?"

"Soal kesimpulanmu yang sangat salah."

Aku mundur sedikit di kursi. "Kesimpulan apa?"

Di dalam kepalaku, Si Kepo mulai menyalakan tanda bahaya.

[Peringatan: topik sensitif.]

Tidak membantu.

[Saran: jujur.]

Lebih tidak membantu.

Aku mencoba tersenyum. "Setiap orang punya proses berpikir sendiri."

"Kau mengutip Anto?"

Aku langsung kehilangan senyum.

Jadi dia mendengar itu juga?

Ia berdiri.

Aku juga berdiri karena refleks.

Angin rooftop tiba-tiba terasa lebih dingin.

Reynard berjalan mendekat. Tidak cepat. Justru pelan, membuat setiap langkah terdengar jelas.

"Aku bukan gay."

Otakku kosong.

Kosong total.

Seperti layar ponsel habis baterai.

"Apa?"

"Aku tidak punya perasaan seperti itu pada Steven."

"Tapi..."

"Tidak."

"Bahu..."

"Dia sahabatku sejak kecil."

"Ko Steve..."

"Keira."

Namaku di mulutnya membuat semua alasan mati satu per satu.

Ia berhenti di depanku.

"Dari hari kau masuk ke hidupku, pikiranku tidak pernah setenang sebelumnya."

Kalimat itu aneh. Bukan kalimat cinta yang berbunga. Tapi darinya, itu seperti pengakuan paling telanjang.

"Aku dulu berpikir hidupku hanya daftar urusan yang harus diselesaikan sebelum waktu habis," lanjutnya. "Perusahaan. Hendra. Veronica. Brandon. Penyakit. Ibuku."

Angin menggerakkan ujung rambutnya.

"Lalu kau datang dan memikirkan sepatu mahal di altar."

Aku menutup wajah. "Tolong jangan ingat itu."

"Aku ingat semuanya."

Kalimat itu membuatku membuka jari sedikit.

Ia tidak menjelaskan maksudnya. Belum. Tapi ada sesuatu di matanya, seolah ia berdiri di depan pintu rahasia dan memilih tidak membukanya malam ini.

"Setiap hari setelah itu, hidupku jadi lebih berisik," katanya. "Tapi anehnya, lebih nyata."

Aku menelan ludah.

"Aku tidak tahu cara mengatakan hal seperti ini dengan indah."

"Kau tidak harus indah."

"Kalau begitu aku katakan jelas."

Ia menatapku seolah semua lampu kota di belakangku tidak penting lagi.

"Kau ribut," katanya.

"Maaf?"

"Kau kacau. Kau mengambil anjing, memecat mata-mata, membeli makanan pinggir jalan, naik lereng malam-malam, dan membuatku ingin hidup."

Mataku panas.

"Reynard..."

"Aku tidak tertarik pada Steven. Aku tidak tertarik pada Clara. Aku tidak tertarik pada delapan perempuan yang dikirim Veronica."

Ia menunduk sedikit.

"Aku tertarik padamu."

Jantungku jatuh dari rooftop, mendarat di halaman, lalu mungkin memantul kembali.

"Tapi pernikahan kita..."

"Awalnya kontrak."

"Misi..."

"Aku tahu kau menyimpan rahasia."

Aku membeku.

Ia menyentuh ujung jariku. "Aku tidak memaksa malam ini. Tapi jangan pakai kesimpulan salah untuk menjauh dariku."

Aku ingin bicara.

Tidak ada kata keluar.

Reynard menatap mataku. "Boleh?"

Pertanyaan itu pelan.

Hangat.

Memberiku ruang untuk menolak.

Aku tidak menolak.

Ia menarikku mendekat dan menciumku.

Sebelum bibirnya menyentuh bibirku, ia berhenti sepersekian detik. Memberiku kesempatan terakhir untuk mundur.

Aku justru maju sedikit.

Itu saja.

Keputusan kecil.

Tapi rasanya seperti seluruh hidupku bergeser.

Kali ini tidak ada tabrakan gigi.

Tidak ada panik lucu.

Hanya angin malam, tangan hangat di punggungku, dan bibirnya yang bergerak hati-hati seolah aku sesuatu yang berharga, bukan sesuatu yang dimenangkan.

Aku memejamkan mata.

Di dalam kepalaku, Si Kepo menjerit tanpa suara.

[Tingkat kedekatan: 60/100.]

[Selamat! Kesalahpahaman orientasi target resmi selesai.]

Diam, Kepo.

[Tidak bisa. Ini sejarah.]

Ketika ciuman itu berakhir, aku masih memegang lengan Reynard.

Tangannya tetap di punggungku, tidak menahan, hanya memastikan aku tidak jatuh. Lucu, karena seluruh sistem sarafku sudah jelas tidak bisa dipercaya.

Di bawah kami, kota bergerak seperti biasa.

Di atas rooftop, hidupku baru saja berubah dari kontrak aneh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Harapan.

"Kamu benar-benar bukan gay?"

Ia menutup mata.

"Keira."

"Maaf. Otakku belum kembali."

"Aku bisa bantu membuktikan lagi."

Panas langsung naik ke wajahku.

Ia tersenyum.

Benar-benar tersenyum.

Dan demi apa, jika media melihat senyum itu, saham Wijaya Group mungkin naik.

Malam itu aku kembali ke kamar dengan langkah tidak stabil.

Di lorong, Sari berpapasan denganku dan langsung berhenti.

"Nyonya Muda sakit?"

"Tidak."

"Wajah Nyonya merah sekali."

"Angin rooftop."

Sari melihat ke arah rooftop, lalu kembali menatapku. Senyumnya perlahan muncul.

"Tentu, Nyonya."

Aku kabur sebelum harga diriku runtuh total.

Boba mengangkat kepala dari keranjangnya, menatapku seperti bertanya kenapa manusia betina ini terlihat seperti direbus.

Aku menutup pintu, menyentuh bibirku, lalu hampir menjerit ke bantal.

Panel Si Kepo muncul.

[Peringatan: kondisi pemicu fusi jiwa terpenuhi.]

[Gelombang fusi pertama akan terjadi dalam 72 jam.]

[Efek samping yang mungkin: pingsan, disorientasi, kehilangan kesadaran sementara.]

Aku duduk di tepi tempat tidur.

Baru saja aku mendapat jawaban yang kukejar sejak hari pertama: dia bukan gay, dia menginginkanku, dan aku tidak sedang mengejar target mustahil.

Lalu alam semesta langsung mengirim tagihan.

Tiga tahun tiba-tiba terasa jauh lebih pendek daripada sebelumnya.

Aku menatap pintu, membayangkan Reynard di sisi lain rumah, mungkin masih di rooftop, mungkin juga sedang menyentuh bibirnya seperti orang bodoh.

Aku ingin tertawa.

Aku ingin menangis.

Aku ingin hidup cukup lama untuk mendengar ia mengatakannya lagi tanpa krisis menunggu di belakang.

Aku ingin percaya bahwa setelah semua ini, kami akan punya pagi biasa. Sarapan biasa. Pertengkaran kecil tentang obat. Boba mencuri sandal. Reynard membaca laporan sambil pura-pura tidak menungguku masuk.

Keinginan sederhana itu tiba-tiba terasa sangat mahal.

Dan justru karena mahal, aku ingin memperjuangkannya.

Dengan seluruh nyawaku.

Senyumku hilang.

[Catatan: jangan panik.]

Terlambat.

1
Dian Utami
karakter kaira lemah
aku
beuh monica blm jera itu 😌
aku
asik bgt naomi ini keren
aku
bab ini bikin pandangan mertua berasa jd intel ngintai bandar narkoba 😌🤣
aku
tor misal kalo kata batin bisalah di tambah tanda kutip huruf cetak miring biar tahu readernya 🙏
aku
catatan yg membagongkan ya 😌😌
Gustinur Arofah
ceritanya sangat bagus, kata katanya rapih tapi sayank ko blm ada yg baca. 💪💪💪💪
Retno Isma
baru baca nyampe bab 4. tapi sejauh ini bagus novelnya. pemilihan katanya pinter bgt kakk author. ga terlalu kaku tapi ga terlalu santai juga.
pokoknya aku suka novel yg bahasanya kayak gini sih
Retno Isma
🌷🌷🌷🌷
Retno Isma
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!