NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Buku catatan.

Jam istirahat pertama Prisha langsung datang ke bangku Ayu. Ayu tersenyum padanya sambil membuka tutup wadah yang Prisha bawa, gadis itu berkali-kali mengucapkan terimakasih padahal itu hanyalah perkedel kentang biasa.

“Ini adalah hadiah terspesial, Prisha!”

Prisha sangat bangga dengan apa yang ia berikan, sebab itu semua berasal dari usahanya sendiri yang di mana ia tidak pernah melakukan hal tersebut di masa lalu. Kemewahan yang pernah ia berikan untuk Yunha, tidak ada artinya dengan ketulusan yang tidak bisa dibeli.

“Tahun depan aku akan membawakan kue, aku akan belajar membuatnya mulai dari sekarang.” Prisha mengacungkan jari kelingking, tanda ia bee sungguh-sungguh.

Ayu menautkankan jari kelingking itu dengan jarinya. “Janji, ya.”

“Jan—”

Plak!

Tautan jari itu terlepas usai dipukul oleh Yunha. Dia menatap Ayu tajam dan penuh rasa jijik. “Memangnya kalian akan tetap berteman sampai tahun depan? Itu membuatku mual,” cerca Yunha. Dia langsung pergi tanpa menoleh ke arah Prisha, mungkin dia khawatir ditampar Prisha.

“Apa-apaan sialan itu!”

Ayu menahan Prisha yang ingin segera mengejar Yunha, gadis itu menggelengkan kepala dengan tatapan memohon. “Biarkan saja dia Prisha, aku tidak ingin kau terlibat masalah lagi.”

Bahu Prisha melemas perlahan, emosinya segera stabil kembali berkat suara lembut Ayu bagaikan bisikan malaikat. Hari ini adalah hari spesial Ayu, jangan sampai mengacaukannya dengan emosi. Ayu juga pasti lelah terus membelanya di antara hujan hujatan dan serangan untuk Prisha.

“Oh iya, Prisha. Aku boleh pinjam catatanmu? Tadi aku agak pusing, jadi ketinggalan hal-hal penting yang seharusnya dicatat.”

Tidak biasanya Ayu ketinggalan dalam mencatat. Mengingat kondisi keluarganya yang perhitungan, Ayu ditekan untuk memberikan yang terbaik sebab biaya keliah tidaklah murah. Jadi ... apakah dia benar-benar pusing tadi? Prisha langsung menyentuh dahi Ayu, suhunya normal.

“Aku cuman sakit kepala biasa, Prisha.” Ayu menurunkan tangan Prisha dari dahinya secara lembut.

“Baiklah-baiklah, aku akan ambilkan.”

Catatan Prisha dikemas begitu rapi, setiap inci lembaran dan penataan tulisan diukur sedemikian rupa sehingga ia sendiri bisa memahami isi dari catatannya. Siapa saja akan menyukai bagaimana Prisha menentukan poin penting untuk dicatat, ia perangkum handal.

“Catatanmu memang yang terbaik, Prisha. Aku akan mencatat sekarang.”

“Sekarang? Nanti di rumah saja, kau bisa kembalikan bukuku besok.”

“Cuman sedikit, tidak perlu menunggu sampai besok.”

Prisha yang masih berdiri berkacak pinggang, melihat Ayu mulai menyalin seolah keberadaan Prisha mulai menipis. Ia heran kenapa Ayu bersikap sesungkan itu padanya, yah walaupun dari dulu dia memang tampak sungkan meskipun cukup dekat dengan Prisha setelah Yunha.

“Ayolah, aku akan traktir kau makan siang di kantin. Nanti saja mencatat itu.”

“Duluan saja, aku benaran kenyang.”

“Cuman makan perkedel kenyang?”

“Sangat kenyang,” jawab Ayu tanpa menoleh. “Jangan menungguku, kau pergilah makan atau kelas selanjutnya kau akan kelaparan.”

Lagi-lagi sendirian, Prisha sadar bahwa Ayu sering menghindar untuk berjalan bersamanya di kampus ini. Sebenarnya itu bisa dimengerti, sebab kerap kali Prisha mendapatkan serangan mendadak. Ayu pasti takut ia terkena imbas peluru nyasar.

Sepanjang langkahnya Prisha diam namun juga waspada, setiap ia berada di kampus rasanya sedang berada di medan perang. Banyaknya mata tertuju padanya tidak terasa menyenangkan sama sekali: Mata para gadis penuh kebencian, mata para laki-laki tersirat nafsu memangsa.

Dengan dirinya yang tidak memiliki status sebagai perlindungan, mereka berpikir bisa melahap Prisha.

Ketika di kantin, Prisha terpikir untuk membawakan sesuatu untuk ibu hamil di rumah. Donat di kantin ini cukup enak, tidak kalah dengan donat merek terkenal. Prisha melihat-lihat etalase, berharap ia memiliki banyak pilihan untuk dibawa pulang. Pada akhirnya pilihan tetap jatuh ke donat.

“Bibi, tolong bungkuskan donat ini untuk kubawa pulang.”

Si bibi langsung menoleh, ia melayani Prisha terlebih dahulu sebelum gadis itu mengamuk. “Mau rasa apa?”

“Semua rasa, aku akan mengambilnya setelah pulang. Dan ... antarkan sepiring spagetti ke meja di sana.” Ia menunjuk meja di dekat dinding kaca transparan. Padahal cahaya matahari tembus di sana, namun Prisha suka sekali duduk di tempat itu.

Selagi menunggu, dia membuka media sosialnya. Postingannya kemarin mendapat banyak hati dari pengikutnya, mereka adalah orang-orang yang tidak tahu sifat Prisha sesungguhnya, memandang Prisha sebagai putri cantik bergaya mewah.

Tiba-tiba Ayu datang bersama raut panik, membuat Prisha mengangkat alis.

“Aha, apa sekarang kau lapar?” tebak Prisha sembarangan, meskipun wajah Ayu tidak seperti sedang kelaparan.

Ayu menggelengkan kepala, ia bergerak perlahan mengeluarkan buku yang ia sembunyikan di punggungnya. Seketika senyum Prisha pudar, ia seperti kehilangan semua kata-kata. Bukunya ... bukunya rusak robek dan basah berbau kopi.

“A-apa ini?” Tatapannya gemetar, tangan pun tidak mampu terangkat.

“Maaf ... aku minta maaf, Prisha.” Ayu menundukkan kepala hampir menangis. “Aku pergi ke toilet sebentar tadi, saat aku kembali bukumu sudah begini di atas meja.”

Napas Prisha tidak beraturan, mendadak kepalanya panas. Andai kata dia yang sekarang adalah dia yang dulu, maka wajah Ayu akan membengkak ditampar olehnya.

Buku itu, buku tebal yang menyisakan lima lembar kertas kosong untuk ditulis. Dapat dibayangkan seberapa banyak rangkuman penting di dalamnya? Prisha tidak mungkin dapat membuat rangkuman seperti itu dengan cara menyalin catatan orang lain, karena apa yang mereka pahami dan tangkap dari penjelasan dosen jelas berbeda.

Prisha bersandar di kursinya, ia memegang kepala yang rasanya mau pecah. “Padahal kau tau ada banyak berniat jahat padaku. Kenapa kau tinggalkan barang milikku di kelas? Aku bahkan membawa tasku ke mana-mana,. Kenapa? Kenapa kau ... Ayu aku....”

Tenggorokan Prisha tercekat, emosi mengepul di dadanya namun ia tidak ingin kehilangan satu-satunya teman yang tersisa. Sementara Ayu sepertinya tidak memiliki pembelaan, ia sudah sangat jelas bersalah.

Prisha meremas rambutnya kuat-kuat, “Sebentar lagi ujian, apa yang harus aku lakukan? Buku itu mencatat semua hal penting yang harus ke pelajari dari semua mata pelajaran.”

“Maaf ... maafkan aku Prisha, aku ceroboh.”

Maaf? Apa dengan maaf catatan Prisha kembali? Dia langsung mengambil buku dari tangan Ayu. Prisha membuka hati-hati, berharap tulisannya masih bisa dibaca dan ia pasti bisa menyalin ulang selama tujuh hari penuh.

Mata Prisha semakin redup. Niat si pelaku jelas ingin membuat Prisha susah—tidak hanya koyak dan tumpahan kopi—setiap lembaran kertas penuh dengan tinta spidol sehingga mustahil untuk mengenali tulisannya.

“Siapa yang melakukan ini?” geram Prisha tertahan, matanya memerah membuat bibi kantin ragu mengantarkan pesanan Prisha.

Sementara itu Yunha memandang dengan tatapan sulit di artikan dari kursi lain, dia tidak tersenyum, tangannya mencengkram erat pinggiran meja.

Bersambung....

1
Aiden Den
up
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!