NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 Batas Kekuasaan dan Nurani

Hi All! Mohon maaf ya karena baru bisa memperbarui cerita setelah 5 hari. Aku baru sempat menulis lagi karena beberapa hari ini aku benar-benar disibukkan oleh urusan pekerjaan dan tugas praktik kuliah yang tidak bisa ditinggalkan. Semoga bab ini bisa mengobati rasa penasaran kalian, ya. Terima kasih dukungannya!"

Happy reading!

✨✨✨

Hujan gerimis di luar jendela ruang dosen berubah menjadi deras yang menghantam kaca dengan irama konstan. Pintu ruangan dosen itu telah tertutup rapat kembali, mengunci kebisingan koridor di luar.

Elara telah pergi, atau lebih tepatnya, dipaksa keluar oleh dua pengawal pribadi Ravian yang tiba beberapa menit lalu dengan instruksi tegas untuk memastikan wanita itu tidak pernah menginjakkan kaki lagi di lingkungan kampus maupun kantor pusat Evander Corp.

Kini, hanya ada Ravian dan Liora di dalam ruangan.

Liora berdiri mematung di samping meja kerja. Jemari tangannya mencengkeram map Laporan Magang Mingguan begitu kuat hingga pinggiran kertasnya melengkung. Matanya menatap lantai kayu polished, mengingat bayangan Elara Arabelle yang beberapa saat lalu bersimpuh di tempat yang sama.

Sosok Elara yang biasa tampil berkilau dan penuh keangkuhan hancur berantakan dalam hitungan jam.

Ravian melangkah mendekat. Pria itu menghentikan jalannya tepat di depan Liora, menyisakan jarak setengah meter di antara mereka. Kemeja putihnya yang disetrika rapi memancarkan aroma parfum kayu sandalwood dan kopi hitam yang khas—aroma yang biasanya selalu berhasil menenangkan saraf Liora.

"Liora," panggil Ravian pelan. Suara beratnya kini bebas dari nada dingin yang ia gunakan saat menghadapi Elara; yang tersisa hanyalah kelembutan yang dalam dan sedikit kecemasan yang tertahan.

Liora mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam iris cokelat tua Ravian di balik lensa kaca tipisnya.

"Pak Ravian... sebenarnya apa yang terjadi pada Arabell Group?"

Ravian tidak serta merta menjawab. Ia meraih map tebal di tangan Liora, meletakkannya dengan santai di atas meja, lalu kembali menatap mahasiswinya.

"Mereka menerima akibat dari keputusan mereka sendiri," jawab Ravian datar, intonasinya kembali tenang layaknya seorang Dosen yang sedang menjelaskan hukum sebab-akibat di kelas. "Elara menggunakan rahasia pribadi untuk memengaruhi keputusan bisnis. Saya hanya menggunakan wewenang saya sebagai kreditor utama untuk menjaga aset perusahaan."

"Tapi Ibu saya... Bu Elara bilang Bapak mengirim orang ke Yogya?" suara Liora bergetar. Ketakutan mendasar tentang keselamatan ibunya kembali membakar dadanya. "Apa Bu Elara benar-benar ingin mencelakai Ibu saya, Pak?"

Sorot mata Ravian serta-merta melunak. Pria berusia tiga puluh tahun itu mengulurkan tangannya, tampak ragu, sebelum akhirnya menyentuh lembut jemari Liora yang dingin.

"Ibumu sangat aman, Liora. Saya bersumpah," tegas Ravian dengan artikulasi penuh kepastian. "Dua tim pengaman khusus sudah sampai di Sleman dari subuh tadi. Mereka akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa mendekati rumah ibumu tanpa izin dari saya. Tidak akan ada yang bisa menyentuhnya. Baik itu Elara, atau siapa pun."

Napas panjang lolos dari bibir Liora, membawa pergi sebagian beban berat yang menghimpit dadanya. Sialnya rasa lega itu tidak bertahan lama. Dia tiba-tiba bergidik menyadari betapa masif dan mengerikannya jangkauan kekuasaan pria di hadapannya ini.

"Pak..." Liora menatap jemari mereka yang bertaut. "Arabell Group itu perusahaan besar dan Bapak menghancurkannya dalam satu malam... hanya karena gertakan Bu Elara ke saya?"

Ravian membisu selama dua detik. Ia mengikis jarak di antara mereka, menundukkan kepalanya sedikit agar pandangan mata mereka sejajar.

"Bagi dunia luar, itu mungkin terlihat seperti aksi manipulasi pasar," ujar Ravian rendah, suaranya mengalun seperti bisikan rahasia yang menggetarkan dada Liora. "Tapi bagi saya, tidak ada harga yang terlalu mahal untuk keselamatanmu, Liora. Kalau ada yang berani mengancam keluargamu, saya tidak akan ragu menghancurkan seluruh dinasti bisnis mereka sampai rata dengan tanah"

Pengakuan itu menghantam Liora bagaikan gelombang pasang. Ada kehangatan luar biasa yang memabukkan dari cara Ravian melindunginya, akan tetapi di saat yang sama, nurani Liora berbisik tegang.

Ia telah jatuh hati pada pria ini; pria yang bisa menjadi dosen yang sangat teliti, CEO yang brilian, dan pelindung yang begitu hangat. Tapi Liora juga mulai melihat sisi gelap dari 'hukum' yang dipegang Ravian.

Ketika Ravian menetapkan batas, siapa pun yang melanggarnya akan dihancurkan tanpa belas kasihan.

"Saya takut, Pak," bisik Liora tulus, mata cokelatnya berkaca-kaca.

Ravian mengerutkan dahi tipis, cengkeraman tangannya di jemari Liora sedikit mengetat. "Takut pada Elara?"

Liora menggeleng pelan. "Takut pada skala dunia Bapak. Saya cuma mahasiswi biasa, Pak Ravian. Kita tidak bisa terus mencampuradukkan urusan kampus, kantor, dan perasaan. Cepat atau lambat, jurang kekuasaan ini yang akan menghancurkan kita berdua."

Ravian membatu. Kata-kata Liora barusan melesat tanpa celah, meruntuhkan dominasi yang selama ini dia banggakan. Sang CEO yang selalu memegang kendali penuh atas papan catur bisnisnya, tersentak menyadari bahwa gadis di hadapannya bukan sekadar mahasiswi yang butuh dilindungi, melainkan wanita dengan nurani tajam yang sanggup melihat ke dalam jiwanya yang tersembunyi.

Sebelum Ravian sempat menjawab, suara ketukan pintu yang tergesa-gesa memecah keheningan ruangan.

Tok! Tok! Tok!

Pintu terdorong sedikit. Julian melangkah masuk dengan raut wajah yang tegang, di tangannya terdapat sebuah tablet digital.

"Ravian, kita punya masalah baru," potong Julian cepat tanpa memedulikan Liora. "Seseorang baru saja mengunggah surat kaleng beserta dokumen transaksi magang Liora ke portal berita utama kampus dan forum alumni Universitas Jagatara. Dekan Fakultas Ekonomi baru saja memanggilmu untuk sidang penegakan etika jam satu siang ini."

Liora mematung, sementara Ravian perlahan menegakkan tubuhnya, tatapan matanya kembali mengeras, memasang wujud asli sebagai CEO bertangan besi yang siap maju ke medan tempur tanpa ampun.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!