Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Malam Sebelum Badai
Dua malam bisa terasa lebih panjang daripada dua tahun.
Sekar menjalani hari pertama dengan wajah Felicia Tan yang tenang. Ia sarapan di meja keluarga, menjawab pertanyaan Nyonya Lima dengan sopan, mengabaikan Kevin yang menatap ponsel terlalu sering, dan berpura-pura tidak melihat Celine memakai anting baru yang terlalu berkilau untuk perempuan yang katanya sedang menjaga nama baik keluarga.
Darren hadir di kursi roda dekat Engkong.
Ia tidak banyak bicara. Justru karena itu, Sekar merasakan pandangannya lebih sering singgah. Bukan pada lukisan yang sudah tidak ada di Paviliun Mei. Bukan pada Kevin yang gelisah. Pada Sekar.
Seperti orang yang mencium bau asap sebelum api terlihat.
"Koh Darren," Sekar menyapa ketika tatapan mereka bertemu.
Darren tersenyum tipis. "Akhir-akhir ini kamu sering terlihat lelah, Felicia."
"Persiapan pernikahan mungkin membuat saya kurang tidur."
"Atau terlalu banyak urusan lain?"
Sendok Sekar hampir berhenti.
Jesslyn yang duduk di sebelahnya tertawa lembut. "Mas, jangan membuat Dik Feli takut. Semua calon pengantin memang lelah."
Darren tidak membalas. Senyumnya tetap ada, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.
Sekar tahu satu hal. Celine bukan satu-satunya orang yang bisa merusak permainan jika terlalu cepat bergerak. Di rumah ini, bahkan orang yang diam pun bisa menjadi pisau.
Siang itu, ia pergi ke Rumah Tua.
Renard, Harun, dan Hans sudah menunggu di ruang kerja. Di atas meja ada map, salinan tanda terima Kevin, rekaman suara Celine, dan foto gulungan lukisan di tangan Kevin. Semua bukti tersusun rapi seperti bagian dari operasi bisnis, bukan drama keluarga.
Di sudut meja, ada peta sederhana jalur mobil dari Kediaman Liem menuju Kuningan. Hans menandai tiga titik dengan pena merah. Satu untuk mobil Kevin. Satu untuk mobil pengawas. Satu untuk tempat pembeli palsu akan menunggu sebelum masuk gudang.
Sekar memandangi tanda-tanda itu dan merasakan betapa kecil dirinya di tengah rencana yang bergerak rapi. Satu lukisan palsu, satu transaksi palsu, satu perempuan yang terlalu ingin menang. Namun di balik itu ada begitu banyak orang, mobil, rekening, kamera, dan kebohongan yang disusun dengan teliti.
"Kalau aku salah bicara pada Kevin?" tanyanya.
Harun mengangkat bahu. "Jangan bicara terlalu pintar. Orang seperti Kevin lebih mudah percaya kalau dia merasa kamu meremehkan dirimu sendiri."
Sekar tersenyum pahit. "Itu keahlianku selama ini."
Tidak ada yang tertawa.
"Transaksi besok malam," kata Harun. "Tempatnya gudang kecil di belakang galeri kosong daerah Kuningan. Pembelinya orang kita. Uangnya berputar dulu lewat rekening yang sudah disiapkan."
"Celine akan menerima uangnya?"
"Akan terlihat begitu." Harun tersenyum tanpa riang. "Lalu uang itu akan kembali ke tempat asalnya sebelum dia sempat memakainya terlalu jauh."
Sekar menatap berkas-berkas itu. "Kalau dia kabur?"
Renard menjawab, "Dia tidak akan kabur sebelum merasa menang."
"Kamu yakin?"
"Orang yang lapar uang akan lari. Orang yang lapar pengakuan akan tetap tinggal untuk melihat orang lain kalah."
Kalimat itu tepat untuk Celine.
Terlalu tepat.
Sekar duduk di kursi depan meja. Kedua tangannya dingin di pangkuan. Selama ini ia sering menjadi orang yang dijadikan alat. Kali ini ia ikut memegang ujung perangkap, tetapi rasa takut tidak berkurang. Justru karena ia tahu apa yang sedang terjadi, setiap detik terasa seperti menunggu sesuatu meledak.
Renard memperhatikan tangannya.
Setelah Harun dan Hans keluar untuk memeriksa detail terakhir, Renard berjalan mendekat. Ia tidak mengatakan jangan takut. Ia hanya berdiri di depan Sekar, lalu mengulurkan tangan.
Sekar menatap tangan itu.
Bekas luka tipis di punggungnya terlihat di bawah lampu.
Ia meletakkan tangannya di atas tangan Renard.
Genggamannya tidak kuat. Tidak memaksa. Tetapi hangat.
"Aku ada di sana," kata Renard.
Empat kata itu seharusnya sederhana.
Namun di dalam dada Sekar, sesuatu yang tegang selama dua hari perlahan mengendur. Bukan karena ia percaya semuanya akan aman. Ia sudah terlalu lama hidup untuk tahu bahwa aman adalah kata yang mahal.
Tetapi untuk malam sebelum badai, mengetahui bahwa ia tidak berdiri sendirian terasa cukup.
Ketika ia pulang, ia melihat Darren di balkon lantai dua.
Pria itu tidak memanggilnya. Tidak memberi isyarat. Hanya duduk di kursi rodanya, jari mengetuk lengan kursi, mata mengikuti Sekar sampai ia masuk ke koridor Paviliun Mei.
Sekar tidak tahu apakah Darren sudah tahu tentang lukisan. Tetapi tatapan itu membuatnya sadar bahwa perangkap yang mereka pasang untuk Celine mungkin juga menggetarkan benang lain di rumah ini.
Di belakangnya, Jesslyn muncul membawa selimut tipis dan menyampirkannya ke bahu Darren. Gerakan itu lembut. Dari jauh, mereka tampak seperti pasangan yang saling menjaga.
Sekar tahu kelembutan di rumah ini tidak pernah boleh dipercaya begitu saja.
Sore harinya, Kevin datang lagi ke Paviliun Mei.
Kali ini ia membawa kotak beludru kecil.
Sekar langsung curiga.
"Apa itu?"
"Hadiah." Kevin terdengar tidak nyaman. Ia meletakkan kotak itu di meja. "Untukmu."
Sekar tidak menyentuhnya. "Kenapa?"
"Memangnya tunangan tidak boleh memberi hadiah?"
Kalimat itu hampir lucu jika tidak begitu menyeramkan.
Kevin membuka kotak. Di dalamnya ada kalung emas putih dengan liontin kecil berbentuk daun. Cantik. Mahal. Tidak personal. Jenis hadiah yang dibeli orang lain atas nama laki-laki yang tidak tahu harus meminta maaf untuk apa.
"Celine yang memilih?" tanya Sekar.
Wajah Kevin berubah. "Jangan selalu bawa-bawa Celine."
Jadi benar.
Sekar menatap kalung itu. "Terima kasih."
"Pakai besok," kata Kevin cepat.
"Ada acara?"
"Tidak. Aku cuma ingin lihat."
Ia pergi sebelum Sekar bertanya lagi.
Sekar berdiri di kamar, menatap kotak beludru itu seperti menatap hewan kecil yang mungkin beracun.
Kevin yang dingin mudah dibaca.
Kevin yang tiba-tiba lembut jauh lebih berbahaya.
Malam itu, Sekar meletakkan kalung tersebut di meja, bukan di kotak perhiasan. Ia menatap liontin daun kecil yang memantulkan lampu kamar.
Mungkin Celine menyuruh Kevin memberinya hadiah agar besok, saat transaksi berlangsung, Sekar tidak curiga. Mungkin Kevin sedang mencoba menenangkan rasa bersalah yang bahkan tidak cukup besar untuk disebut penyesalan. Mungkin keduanya hanya ingin Sekar terlihat sebagai tunangan yang masih bisa dibeli dengan benda indah.
Sekar menyentuh liontin itu dengan ujung jari.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu menghancurkan benda yang diberikan kepadanya oleh orang yang menyakitinya.
Ia hanya akan memakainya sebagai bukti bahwa mereka salah membaca dirinya.