NovelToon NovelToon
Cinta Tulus Sang Penguasa

Cinta Tulus Sang Penguasa

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO / Tamat
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Risnawati

Annisa, seorang TKI dari Indonesia, merantau ke Tiongkok untuk mencari nafkah. Ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Chensi—seorang pengusaha kaya raya, pemimpin perusahaan raksasa, dan dikenal sebagai sosok yang kejam, dingin, serta tak ada yang berani menentangnya. Hidup Annisa terasa penuh ketakutan hingga suatu malam, Chensi pulang dalam keadaan mabuk berat dan melakukan perbuatan keji yang merenggut kehormatannya. Kejadian itu membuat Annisa hamil, memaksanya menghadapi pilihan sulit: bertahan atau kembali pulang dengan membawa beban yang tak terbayangkan. Akankah sang tiran yang dingin itu akhirnya berubah, atau justru menambah penderitaan bagi Annisa dan janin di dalam kandungannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Chensi

Selama hampir dua minggu, Chensi rutin mengunjungi Pak Chen Liang secara diam‑diam. Setiap pertemuan, ia membawa banyak pertanyaan—tentang makna hidup, tentang hak dan kewajiban, tentang cara menjalin hubungan yang benar, dan tentang keesaan Tuhan yang menjadi inti ajaran itu. Penjelasan yang disampaikan dalam bahasa Mandarin membuatnya lebih mudah menangkap setiap makna, tanpa ada kesalahpahaman.

Semakin ia mempelajari, semakin ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia dapatkan dari kekuasaan, harta, atau jabatan. Ia mulai menyadari bahwa selama ini ia hidup hanya mengandalkan akal dan keinginan sendiri, tanpa pegangan yang jelas. Kini, setiap jawaban yang didapat terasa menjawab segala kekosongan yang selama ini tersembunyi di hatinya.

Hingga suatu sore, saat ia duduk mendengarkan penjelasan terakhir, Pak Chen Liang menatapnya dengan pandangan yang dalam.

“Chensi, mencari kebenaran bukan hanya soal mengetahui, tapi juga soal menerima dan mengamalkannya. Jika hatimu sudah merasa yakin bahwa inilah jalan yang benar, maka langkah selanjutnya ada di tanganmu. Jalan ini tidak akan membuatmu kehilangan apa pun yang baik, justru akan memberimu ketenangan dan keberkahan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.”

Kata‑kata itu terngiang terus di kepala Chensi sepanjang perjalanan pulang. Ia memandang ke luar jendela mobil, pikirannya tertuju pada Annisa dan anak yang dikandungnya. Ia teringat pertanyaan gadis itu. “Kenapa harus saya yang mengikuti jalan Tuan? Kenapa tidak Tuan saja yang memahami jalan saya?”

Kini ia punya jawabannya.

Malam itu, suasana di rumah terasa sangat tenang. Setelah makan malam, Chensi meminta Annisa untuk duduk bersamanya di ruang tengah, di tempat yang cukup terang namun terasa akrab. Hatinya berdebar kencang, lebih kencang daripada saat ia harus mengambil keputusan besar dalam bisnis.

Annisa duduk dengan sikap sopan, tetap menjaga jarak seperti yang biasa ia lakukan belakangan ini. Wajahnya tampak tenang, namun matanya menyembunyikan keraguan yang masih ada.

“Tuan memanggil saya, ada hal penting yang ingin disampaikan?” tanyanya lembut.

Chensi mengangguk perlahan, lalu menatap mata gadis itu dengan pandangan yang tulus dan mantap. Ia tidak lagi terlihat sebagai majikan yang berkuasa, melainkan sebagai lelaki yang sedang membuka hatinya sepenuhnya.

“Annisa, selama ini kita terjebak dalam perasaan yang indah namun terasa menyiksa. Kita saling mencintai, memiliki anak, tapi terpisah oleh batas yang kita yakini masing‑masing. Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apakah ada jalan agar kita bisa bersatu tanpa harus melanggar apa yang kita yakini benar?”

Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri.

“Selama dua minggu ini, aku diam‑diam belajar dan mencari jawaban. Aku bertemu dengan Pak Chen Liang, orang yang memahami ajaran yang kau pegang teguh. Ia menjelaskan semuanya dengan bahasa yang aku mengerti, tanpa memaksa, hanya menyampaikan apa adanya. Dan setelah aku pelajari, setelah aku renungkan… hatiku merasa yakin, Annisa. Aku menemukan kebenaran yang selama ini aku cari.”

Annisa tertegun, matanya membelalak tak percaya. Jantungnya berdebar kencang, ia menduga‑duga apa yang akan dikatakan selanjutnya.

“Maka dari itu,” lanjut Chensi dengan suara yang lebih tegas namun lembut, “aku ingin menjawab pertanyaanmu yang dulu sempat kau ucapkan. Jika selama ini aku memintamu mengikuti jalanku, maka sekarang aku memilih untuk mengikuti jalanmu. Aku ingin memeluk ajaran yang kau yakini, bukan karena paksaan, bukan hanya agar kita bisa bersatu, tapi karena hatiku sendiri sudah merasa yakin bahwa inilah jalan yang benar dan membawa kebaikan.”

Mendengar kalimat itu, Annisa terasa seolah terbangun dari mimpi. Air matanya langsung mengalir deras, tangannya menutup mulutnya untuk menahan isak tangis yang meledak. Selama ini ia takut harus memilih antara cinta dan imannya, namun kini Chensi justru datang membawa jawaban yang tidak pernah ia duga.

“Tuan… apa yang Tuan katakan ini benar? Bukan karena hanya ingin menyenangkan hati saya saja ,kan?” tanyanya terbata‑bata, suaranya bergetar karena haru.

Chensi segera mendekat, namun tetap menjaga batas yang sopan, lalu menggenggam kedua tangan Annisa dengan lembut dan penuh rasa hormat.

“Benar, Annisa. Aku melakukannya karena aku yakin, bukan hanya karena ingin memiliki dirimu. Meskipun jika akhirnya kita bisa bersatu secara sah menurut ajaran ini, itu adalah kebahagiaan terbesar yang bisa aku dapatkan. Aku ingin menjadikanmu istriku yang sah, aku ingin anak kita lahir dan tumbuh dalam ketenangan, tanpa keraguan lagi. Apakah kau… bersedia menerima langkahku ini?”

Annisa tidak bisa menjawab dengan kata‑kata. Ia hanya mengangguk berulang kali, air matanya semakin deras membasahi pipinya. Rasa sakit, keraguan, dan ketakutan yang selama ini menyelimuti hatinya perlahan lenyap, digantikan oleh rasa syukur yang luar biasa.

“Terima kasih, Ya Allah… terima kasih sudah memberikan jalan yang benar, dan tidak memaksakan aku mengubah keyakinanku,” ucapnya lirih di sela tangis.

Chensi tersenyum lebar, senyum yang paling tulus dan lega yang pernah terlihat di wajahnya. Ia akhirnya merasa bebas dari beban yang selama ini menumpuk di hatinya.

“Mulai hari ini, jika kau mengizinkan, panggil saja namaku. Tidak perlu lagi memanggil Tuan. Kita akan memulai semuanya dengan jalan yang benar, sebagai pasangan yang sah, sebagai ayah dan ibu yang memegang satu prinsip kebaikan.”

Malam itu, suasana di rumah terasa berbeda—lebih tenang, lebih hangat, dan penuh harapan. Dinding pemisah yang selama ini terasa tebal akhirnya runtuh dengan sendirinya, digantikan oleh ikatan yang lebih kuat, didasari oleh kebenaran, rasa hormat, dan cinta yang tulus.

1
Kasih Bonda
trima kasih thor
Naufal Affiq
terimakasih atas karya nya aku suka
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
huaa udah ending aja pokoknya bahagia terus buat Chensi dan Annisa. Sukses terus karyanya Thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
lama lama ibu pasti bisa menerima Chensi dengan melihat bukti bahwa Chensi bisa menjaga Annisa dengan baik dan mau melakukan apa saja
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
lucu Rasyid udah bisa merangkak lagi bahagia terus ya kalian 😍
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Alhamdulillah akhirnya ibu dan adiknya Annisa menerima Chensi sebagai suami Annisa. Kebahagiaan Annisa semakin bertambah sekarang. Makasih kak Dewi sudah menyajikan cerita yang menarik dan keren 🥰🥰🥰
❀∂я 𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋𝗪𝗜𝗗𝗬𝗔 ☘𝓡𝓳
akhirnya happy ending kisahnya 😍
Kasih Bonda
next Thor semangat
Naufal Affiq
semoga di mudah urusan dan usahamu ya tuan
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Semoga ibunya Annisa bisa menerima Chensi sebagai menantunya 👍
Kasih Bonda
next Thor semangat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я𝐁⃟⃝ᰲ⃞🧋💘
Bahagia selalu ya untuk kalian berdua, Annisa dan Chensi 🥰🥰
Naufal Affiq
semoga rumah tangga kalian menjadi keluarga yang saling menyayangi satu sama lain nya
Kasih Bonda
next Thor semangat
Indriani Kartini
,bahagia bngt, Nisa di cinta censi, semoga selalu bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
lengkap sudah kebahagiaan Chensi dan Annisa dengan hadirnya bayi laki laki semoga jadi anak yang Sholeh dan berbakti
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
Selamat Chensi dan Annisa pernikahan semoga samawa dan bahagia selalu 🤗
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
Selamat Chensi akhirnya login juga moga Istiqomah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
Pasti ada aja yang pro dan kontra dengan keputusan Chensi, jangan dengerin suara sumbang yang gak jelas mending fokus aja kedepannya menjadi orang yang lebih baik lagi
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ༅Ƭɧเɛ💘❀∂я💋👻ᴸᴷ
hadeuhh kenapa gak jujur aja sich Chensi gak udah malu daripada Annisa jadi marah gak jelas 🤭😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!