"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana baru nyonya wijaya
Di dalam kabin Rolls-Royce yang kedap suara, suasana terasa begitu hangat dan kontras dengan badai yang baru saja mereka tinggalkan. Penghangat mobil dinyalakan ke suhu optimal. Rayyan langsung menyelimuti tubuh basah Aira dengan jubah handuk tebal dan kering yang selalu tersedia di mobilnya.
Sepanjang perjalanan, Rayyan tidak melepaskan dekapannya. Dia memeluk Aira dari samping, membiarkan kepala istrinya bersandar nyaman di dada bidangnya. Tangannya yang besar bergerak konstan, mengusap lengan Aira untuk mengusir sisa dingin yang menjalar.
"Maafkan aku karena terlambat datang," bisik Rayyan di sela-sela rambut basah Aira. Nada suaranya dipenuhi penyesalan yang mendalam.
Aira mendongak sedikit, menatap rahang tegas suaminya yang kini sudah melunak. Dia menggelengkan kepala pelan. "Bapak tidak terlambat. Kalau tidak ada Bapak tadi... aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada dedek bayi."
Aira membawa tangan kanan Rayyan untuk diletakkan di atas perut buncitnya yang tersembunyi di balik jubah handuk. Sentuhan itu seketika menenangkan detak jantung Rayyan yang sempat berpacu liar karena amarah.
Mobil akhirnya melambat dan memasuki area basement privat sebuah gedung apartemen penthouse super mewah di kawasan elit pusat kota. Ini bukan kediaman utama keluarga besar Wijaya, melainkan properti pribadi milik Rayyan yang aksesnya dijaga oleh sistem keamanan biometrik paling mutakhir di dunia. Tempat rahasia yang sengaja disiapkan Rayyan untuk menyembunyikan Aira dari publik.
Rayyan kembali menggendong Aira keluar dari mobil hingga memasuki lift privat yang langsung mengarah ke lantai teratas. Begitu pintu lift terbuka, pemandangan penthouse dua lantai dengan dinding kaca besar yang menampilkan kerlap-kerlip lampu kota langsung menyambut mereka.
"Mulai hari ini, ini rumahmu, Aira. Tempat teraman di dunia untukmu dan anak kita," ucap Rayyan sambil mendudukkan Aira dengan sangat hati-hati di atas sofa beludru ruang tengah.
Aira menatap sekeliling dengan takjub. Di atas meja marmer, sudah tersedia teh herbal hangat khusus ibu hamil yang tampaknya sudah dipesan Rayyan bahkan sebelum mereka tiba.
"Sekarang, bersihkan dirimu dengan air hangat. Aku sudah menyuruh pelayan menyiapkan pakaian ganti yang nyaman untukmu di kamar utama. Setelah itu, kita harus makan malam. Dokter pribadi akan datang satu jam lagi untuk memastikan tidak ada trauma fisik pada kandunganmu setelah kejadian tadi," perintah Rayyan dengan perhatian yang begitu detail dan protektif.
Aira mengangguk patuh. Saat dia berdiri, dia menyadari sesuatu. Perjanjian mereka untuk merahasiakan hubungan di kantor masih berlaku, tetapi malam ini, dia sadar bahwa dia tidak lagi berjalan sendirian sebagai anak magang yang malang. Di dalam istana baru ini, dia adalah seorang istri yang dicintai dan dijaga oleh pria paling berkuasa di kota ini.
Aira baru saja melangkah dua kali menuju kamar utama ketika langkahnya terhenti. Dia berbalik, menatap Rayyan yang sedang melonggarkan dasinya yang sedikit basah akibat cipratan air hujan tadi.
"Terima kasih... Pak Rayyan," ucap Aira agak ragu, masih terbawa kebiasaan formalnya selama di kantor dan pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.
Mendengar sebutan itu, gerakan tangan Rayyan yang sedang membuka kancing teratas kemejanya langsung terhenti. Pria itu mengembuskan napas pendek, lalu melangkah mendekati Aira. Jarak di antara mereka kembali terkikis. Rayyan menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam mata bulat Aira dengan tatapan intens yang menuntut.
"Aira, kita sudah resmi menikah," ujar Rayyan, suaranya terdengar berat dan rendah. "Dan sekarang kita berada di dalam rumah kita sendiri, bukan di Menara Wijaya."
Aira mengerjapkan matanya polos. "I-iya, saya tahu..."
"Kalau begitu, berhenti memanggilku 'Pak Rayyan' atau 'Bapak' di sini. Panggil aku Rayyan," potong Rayyan dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah, namun terdengar sangat seksi di telinga Aira.
Wajah Aira seketika merona merah mendengar perintah itu. Memanggil nama langsung pada seorang CEO tertinggi yang usianya dua belas tahun lebih tua darinya terasa sangat tidak sopan bagi Aira. "Tapi... itu terasa aneh. Anda kan atasan saya, dan usia kita—"
"Di rumah ini, aku bukan atasanmu, Aira. Aku suamimu," sela Rayyan lagi, kali ini sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menggoda. Jari telunjuknya terangkat untuk mencolek hidung mungil Aira yang masih sedikit dingin. "Jika di kantor, terserah kamu mau memanggilku apa untuk menjaga rahasia kita. Kamu mau panggil Pak Rayyan, Pak CEO, atau sebutan formal lainnya, aku izinkan. Tapi begitu kita menginjakkan kaki di rumah ini, hanya ada nama 'Rayyan'. Mengerti?"
Aira menggigit bibir bawahnya, mencoba menata detak jantungnya yang kembali berantakan. Dia menelan ludah gundah sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara dengan sangat lirih.
"I-iya... Rayyan."
Mendengar namanya disebut oleh bibir mungil istrinya secara langsung, ada kepuasan batin yang luar biasa meluap di dada Rayyan. Senyumnya semakin melebar. Dia mengecup puncak kepala Aira yang masih agak basah dengan penuh kasih sayang.
"Pintar," bisik Rayyan hangat. "Sekarang mandi air hangat, Wifey. Aku tidak mau istri dan anakku masuk angin karena terlalu lama berdebat denganku."
Aira langsung berbalik dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi dengan pipi yang terasa panas terbakar. Di dalam kamarnya yang baru, Aira menyentuh dadanya yang berdegup kencang, menyadari bahwa batas-batas formalitas di antara mereka perlahan-lahan mulai runtuh dan digantikan oleh keintiman sebuah pernikahan yang sesungguhnya.