NovelToon NovelToon
Cinta Yang Menunggu Waktu

Cinta Yang Menunggu Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Single Mom
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: Amoreiza Aneta

Andira merupakan seorang wanita yang di tinggal oleh suaminya ketika pernikahan mereka memasuki usia 6 tahun. suaminya meninggalkannya karena meninggal pada saat kecelakaan. Andira terpukul dan sedih karna harus merelakan suaminya pergi untuk selamanya. menjelang 4 bulan kepergian suaminya banyak cinta yang datang kepadanya tetapi dia tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya ada yang muncul dan itu cinta pertama nya, akhirnua dia menerima tapi banyak cobaan dan godaan yang dialamin mereka tapi pada akhirnya mereka bisa sampai pada jenjang pernikahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Bulan yang Rasanya Setaℎ

Tiga hari setelah Imel balik ke rumah dengan koper pink,_ rumah Ikbal masih dingin. Tapi di rumah Andira... dinginnya beda.

Dingin karena sepi.

Jam 6 pagi. Alarm HP Andira bunyi. Suara yang dulu tiap pagi ditemenin chat "Sayang, udah bangun?" dari Renaldi. Sekarang nggak ada.

Andira duduk di pinggir kasur. Pandangannya kosong ke meja rias. Di sana masih ada foto dia sama Renaldi. Senyum dua-duanya.

Dia wudhu. Sholat. Doa.

"Ya Allah... kuatkan aku."

Jam 7. Dia siapin bekal. Nasi putih, telor dadar, sambal. Buat dia sendiri. Dulu Renaldi yang masakin. Sekarang dia belajar lagi.

...----------------...

Jam 11 siang, sekolah SD Cerdas Bangsa_

"Bu Guru, PR kemarin kok susah banget," rengek murid kelas 5B.

Andira ketawa kecil. "Ya biar pinter, Nak. Ayo kerjain bareng-bareng."

Dia berusaha cerah. Tapi tiap bel istirahat, dadanya kosong.

Intan duduk di sebelah. "And, kamu nggak makan?"

"Belum laper, Ntan," bohong Andira.

HP nya getar. Notifikasi. Bukan dari Aditia. Dari grup arisan RT.

Dia buka IG iseng. Liat story. Ada story Imel. Foto koper pink lagi. Caption: _"Rumah yang nggak menghargai perempuan, lebih baik ditinggal."_

Andira cepet-cepet tutup HP. Dadanya sesak.

Di ujung kota, Aditia lagi di bengkel._

Tangannya kotor oli. HP di meja getar terus. Dia ngelirik. Nama "Ndir" muncul di chat. Isinya cuma: "Seen".

Dia narik napas. Nahan pengen nelpon.

Janji adalah janji. 1 bulan jaga jarak.

Tapi jam 12 lewat 10, dia tetep pesen GoFood. Atas nama "Anonim".

Isi: Nasi ayam + sayur bening + teh anget.

Catatan: _"Buat Ibu Guru di SD Cerdas Bangsa. Tolong dianter jam 12.30 ya. Makasih."_

...----------------...

_Jam 12.30, ruang guru_

"Bu Andira, ada GoFood," panggil satpam.

Andira kaget. "Atas nama siapa, Pak?"

"Anonim, Bu."

Begitu buka bungkusnya, masih anget. Ada tusuk gigi sama tisu. Rapi banget.

Di dalam plastik ada kertas kecil lipatan: "Makan ya. Jangan telat. ☺

Andira genggam kertas itu. Matanya panas.

Intan ngelirik. "Siapa, And?"

Andira geleng. "Nggak tau. Mungkin orang tua murid."

Bohong. Tapi dia nggak siap cerita.

Malamnya dia nggak bisa tidur. Jam 10 dia duduk di teras.

Tiba-tiba suara motor pelan. Berhenti di ujung gang. Nggak maju.

Aditia.

Dia duduk di atas motor. Ngrokok satu. Matanya ngarah ke rumah Andira, tapi jaga jarak.

Andira di balik gorden. Jantungnya deg-degan.

Pengen buka pintu. Pengen bilang "capek ya nungguin?"

Tapi dia tahan.

Jarinya gemetar ngetik HP.

_Andira:_ _"Makasih bubur siangnya, Dit."_

Centang dua biru. 3 menit.

_Aditia:_ _"Sama-sama, Ndir. Besok makan lagi ya. Jangan telat."_

Singkat. Sopan. Nggak nanya macem-macem.

Dan itu justru bikin Andira makin sakit. Karena dia tau Aditia juga nahan.

Jam 11.15 motor Aditia pergi. Andira baru berani buka gorden.

Gang kosong lagi.

...----------------...

_Sore hari ke-7 tanpa kabar lebih_

Andira dipanggil kepala sekolah.

"Bu Andira, ada wali murid komplain. Katanya sering liat ada laki-laki nongkrong depan rumah ibu malam-malam."

Andira nunduk. "Itu... teman, Pak. Dia cuma jagain. Nggak masuk ke rumah."

Kepala sekolah manggut. "Saya percaya Ibu. Tapi tolong jaga nama baik sekolah juga, ya."

Sepulang kerja Andira nangis di motor.

"Mas... capek, Mas," isaknya.

Malam itu dia buka buku diary lama. Tulisan Renaldi 3 tahun lalu: _"And, kalo aku kenapa-kenapa, kamu harus bahagia lagi ya. Janji?"_

Andira nutup buku itu. Nangis.

_Jam 9 malam, Aditia telpon. Tapi dimatiin sebelum nyambung._

Dia kirim WA aja:

_Aditia:_ _"Ndir, aku denger kamu dipanggil kepsek. Aku minta maaf kalau bikin kamu susah. Mulai besok aku nggak akan ke depan rumah lagi. Tapi kalau kamu butuh apa-apa, tinggal chat. Aku siap. Janji."_

Andira baca. Nangisnya pecah.

Dia balas:

_Andira:_ _"Dit... kamu nggak salah. Aku aja yang penakut. Makasih ya udah jagain aku selama ini."_

_Aditia:_ _"Aku nggak jagain. Aku cuma nggak tega liat kamu sendirian. Udah, istirahat. Jangan nangis."_

...----------------...

_Hari ke-15_

Andira mulai terbiasa. Masak sendiri. Nyapu sendiri. Tidur peluk guling.

Tapi tiap jam 11 malam, dia masih suka ngintip ke ujung gang.

Kosong.

Aditia bener-bener jaga jarak.

Sampai suatu sore, hujan deras. Listrik rumah Andira mati.

Dia takut. Gelap.

Jam 8 malam, ada ketukan pelan di pintu.

Andira ngintip dari jendela. Aditia. Bawa senter dan powerbank. Basah kuyup.

"Dit? Ngapain kamu di sini? Kan jaga jarak," kata Andira, suaranya bergetar.

Aditia nunduk. Air hujan netes dari rambutnya. "Aku tau, Ndir. Tapi RT bilang listrik sekomplek mati. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku taruh ini di depan pintu ya. Aku pergi lagi."

Dia mau balik.

Andira spontan megang lengan bajunya. "Tunggu."

Aditia berhenti. Nggak nengok.

"Basah banget. Masuk dulu. Minum teh anget. Cuma 5 menit," bisik Andira.

5 menit itu jadi 30 menit. Mereka duduk di teras, lampu senter di tengah.

Nggak pegangan tangan. Nggak ada sentuhan.

Cuma ngobrol.

"Dit, kenapa kamu mau nunggu?" tanya Andira pelan.

"Karena aku udah nunggu kamu dari SMA, Ndir. Mas Renaldi udah duluan. Aku ikhlas. Tapi kalau sekarang dikasih kesempatan kedua... aku mau nunggu dengan cara yang bener," jawab Aditia.

Andira diem. Terus dia nyodorin gelas teh. "Makasih ya."

"Ya," jawab Aditia sambil senyum tipis.

Setelah itu dia bener-bener pergi. Nggak nongol lagi 2 minggu.

...----------------...

_Malam ke-30_

Andira duduk di teras. Bawa diary. Dia nulis:

_"Aku kira aku butuh waktu untuk melupakan. Ternyata aku butuh waktu untuk berani."_

Jam 11 pas, WA masuk.

_Aditia:_ _"Selamat malam, Ndir. Besok hari ke-31. Keputusan ada di tangan kamu. Aku nggak maksa. Aku cuma mau kamu tau... aku masih di sini. Di ujung gang yang sama. Kalau kamu mau, aku jalan. Kalau nggak, aku juga tetap doain kamu dari jauh."_

Andira baca 3 kali.

Dia noleh ke ujung gang. Gelap. Tapi dia yakin Aditia ada di sana.

Air matanya jatuh. Tapi kali ini bukan karena sedih.

Dia ngetik. Jari gemetar.

_Andira:_ _"Besok jam 7 pagi, ketemu di makam Mas Renaldi ya, Dit. Aku mau ngobrol."_

Dikirim.

Di ujung gang, Aditia liat HP. Dia nggak jawab.

Dia cuma matiin rokoknya. Nyalain motor.

Dan untuk pertama kalinya dalam 30 hari, dia senyum.

Karena menunggu itu capek.

Tapi menunggu orang yang tepat... rasanya kayak pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!