NovelToon NovelToon
Pewaris Segel Hijau : Kebangkitan Si Pecundang Desa

Pewaris Segel Hijau : Kebangkitan Si Pecundang Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Matabatin / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.

Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.

Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.

Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.

Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—

mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30—Memijat Wulan

Bab 30

"Kamu antrian atau main? Aku lagi mijet banyak orang. Edan tiba-tiba semua orang jadiin rumahku bahan terapi pijat! Efek aku mijetin banyak orang kali, ya?” kata Bima terkekeh.

Mendengar kata 'mijet', mata Wulan langsung berbinar cerah. Dia melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma wangi parfum miniaturnya tercium oleh indra penciuman Bima.

"Ih, justru itu, Mas! Mas Bima tahu gak kenapa hari ini rumah Mas mendadak viral sampai orang-orang dari desa sebelah pada datang minta dipijat?" Wulan membusungkan dadanya bangga. 

"Itu semua karena aku yang ceritain ke ibu-ibu pengajian kemarin! Aku bilang, pegal-pegal di pundakku langsung hilang total cuma gara-gara dipijat mas doang.”

Bima melongo sejenak, sebelum akhirnya terkekeh geli.  Ternyata dalangnya bukan pak tua dari barang antik, bukan dari istri pejabat. 

Tapi gadis kembang desa melok ini.

"Oalah... jadi kamu toh biang keroknya, Lan? Pantesan nomor HP-ku sampai jebol ditelpon orang gak dikenal seharian."

"Hehe, iya Mas, maaf ya... Tapi jasa promosiku sukses kan?" Wulan nyengir kuda, menampilkan deretan giginya yang rapi. Namun, raut wajahnya mendadak berubah menjadi agak lesu, kedua tangannya bergerak memegangi area pinggang dan punggung belakangnya. "Tapi Mas... gara-gara seharian kemarin aku bantu bapak jemur padi di sawah, badanku sekarang remuk semua. Pinggangku rasanya kaku banget, Mas. Boleh gak... sore ini aku jadi pasien terakhirnya Mas Bima? Please..."

Wulan menatap Bima dengan pandangan memelas yang sangat menggemaskan, sepasang mata bulatnya berkedip-kedip merayu.

Bima yang dasarnya lelaki normal, langsung merasakan darah mudanya berdesir tajam. Menggunakan Mata Terawangan miliknya, Bima bisa melihat dengan jelas bahwa di area pinggang hingga ke atas punggung mulus Wulan memang terdapat guratan warna abu-abu tipis—tanda kelelahan fisik yang cukup pekat akibat kerja keras.

Namun, di balik warna abu-abu itu, aura merah muda pertanda gairah muda yang meletup-letup dari dalam tubuh Wulan tampak memancar kuat, mengarah tepat ke arah Bima. Gadis ini ternyata tidak murni hanya ingin sembuh; ada ketertarikan mendalam yang dia pendam sejak pertemuan mereka di pasar.

Pikiran Bima langsung teringat pada wejangan Ki Ageng Raga Samudra tadi pagi tentang segel Keterikatan Sukma. Gadis di depannya ini masih perawan ting ting, bersih dari segala macam noda hitam ataupun kutukan pejabat kota.

"Mijat pinggang dan punggung itu sensitif loh, Lan. Harus buka baju bagian belakang biar hawa hangat tanganku bisa meresap sempurna. Kamu gak takut?" goda Bima sembari mendekatkan wajahnya, memberikan tatapan predator nakal yang membuat nyali Wulan menciut sekaligus berdebar gila-gilaan.

Wulan menelan ludah, pipinya semakin merah padam hingga ke leher. Bukannya takut, dia justru merasa area bawah perutnya mendadak berdenyut aneh. "N-nggak takut kok, Mas... Kan dipijatnya di dalam kamar, asal Mas Bima gak macem-macem aja..." bisiknya sangat pelan, nyaris tenggelam dalam deru napasnya sendiri.

"Ya sudah, ayo masuk. Kebetulan Mbak Rasti lagi pergi belanja ke pasar kecamatan, jadi suasananya tenang," ujar Bima sembari membuka pintu rumah barunya.

Seringai nakal Bima kembali terkembang sempurna. Sesi pijat penutup hari ini tampaknya akan menjadi sesi yang sangat panjang dan penuh dengan desahan manis dari sang kembang desa.

*

Bima bawa gadis cantik nan melok ini ke kamarnya. Berbeda dengan pasien lain yang cuma di sofat ruang tamu.

Gadis molek kayak gini, harus di private. Nanti kalau mbak rasti lihat bisa cemburu buta lagi.

begitu masuk di kamar. Suasana di dalam kamar baru Bima terasa begitu sunyi dan intim setelah pintu kayu jati itu ditutup rapat. 

Rasanya luar biasa.

“Wah, mas .. semua benar-benar direnovasi, ya .. rumah mas jadi bagus gini!” Ujar Wulan ceria.

Bima menganggukan kepala. Kembali teringat dia sempat mengintip gadis ini dan sekarang dia bebas melepas pakaian wulan–tentu untuk memijat!

Desau angin sore pedesaan yang menembus ventilasi tipis perlahan tergantikan oleh deru napas Wulan yang mulai memburu karena gugup. Kamar itu masih menyisakan aroma samar wangi daster satin merah milik Rasti dari malam sebelumnya, namun fokus Bima kini sepenuhnya teralih pada gadis perawan di depannya.

Wulan berdiri di samping ranjang spring bed yang empuk. Kedua tangannya yang lentik gemetar kecil saat mulai meraih ujung kaus oblong putih ketatnya.

"M-Mas Bima... beneran harus dibuka ya?" tanya Wulan meyakinkan, matanya melirik malu-malu ke arah Bima yang sedang duduk santai di tepi ranjang sembari menggulung lengan bajunya.

"Kalau gak dibuka, kain kausmu yang tebal itu bakal menghalangi aliran hawa hangat dari tanganku, Lan. Hasilnya gak akan maksimal," jawab Bima dengan nada santai namun terdengar sangat mendominasi. Seringai tipisnya membuat jantung Wulan berdegup dua kali lipat lebih cepat.

Bagi orang normal itu kayak alasan klasik. Alasan buaya darat yang cari kesempatan, tapi bagi Wulan yang pernah dapat pijatan dari Bima dia tahu kalau ini real 100%

“Baiklah, mas … awas kalau aneh-aneh.”

Sambil membuang muka karena malu, Wulan perlahan mengangkat kaus putihnya melewati kepala. Detik itu juga, pemandangan indah langsung tersaji di depan mata Bima. 

Kulit punggung Wulan yang kuning langsat tampak begitu mulus, bersih tanpa noda, berpadu kontras dengan tali bra berwarna merah muda yang melintang di tengahnya. Luar biasa, kemarin dia cuma modal ngintip untuk lihat tubuh wulan, tapi sekarang dia dikasih jatah melihat langsung di tempat!

Meskipun Wulan berbalik memunggungi Bima, Mata Terawangan Intuitif milik Bima tetap bisa menangkap guratan aura abu-abu kelelahan yang berpusat di pinggang bawah gadis itu, menjalar naik ke belikatnya. 

Namun yang membuat darah muda Bima semakin mendidih adalah kepulan aura merah muda pertanda gairah Wulan yang justru semakin pekat memenuhi ruangan.

Ternyata gadis perawan ini juga bergairah sama seperti dia!!

"S-Sudah, Mas..." cicit Wulan sembari buru-buru merebahkan tubuh indahnya dalam posisi tengkurap di atas kasur empuk, menenggelamkan wajahnya di bantal untuk menyembunyikan pipinya yang sudah semerah tomat.

Bima tidak membuang waktu. Dia merangkak naik ke atas kasur, mengambil posisi duduk berlutut di samping pinggul padat Wulan. Begitu telapak tangan Bima yang kekar menyentuh permukaan kulit punggung Wulan yang hangat dan halus, tubuh gadis kembang desa itu seketika tersentak kecil bagai tersengat aliran listrik.

“Enghh … ahh!!”

"Rileks, Lan. Jangan tegang," bisik Bima lembut.

Bima mulai memusatkan pikirannya. Energi Mustika Hijau di dalam tubuhnya langsung merespons, mengalirkan Hawa Murni Purifikasi menuju kedua telapak tangannya. Rasa hangat yang sangat nyaman menjalar dari jemari Bima, menekan perlahan otot-otot punggung Wulan yang kaku.

"A-Aaaahh... Mas..."

Sebuah desahan manis nan lirih lolos begitu saja dari bibir ranum Wulan. Gadis itu mencengkeram sprei kasur dengan erat. Sensasi pijatan Bima benar-benar luar biasa. 

Hawa hangat yang merangsek masuk ke dalam kulitnya terasa begitu nikmat, seolah-olah meremukkan semua rasa lelah dan menggantinya dengan gelombang kesenangan yang meletup-letup.

Jemari Bima bergerak turun, menelusuri lekukan pinggang ramping Wulan yang sensitif, lalu memberikan tekanan memutar di area tulang ekor yang menjadi pusat pegal akibat menjemur padi kemarin. Energi murni itu membakar habis guratan abu-abu yang mengungkung tubuh Wulan.

BIma juga menggila! Aroma wanita ini beda dengan mbak rasti! Aroma gadis yang masih bertumbuh, aroma perawan, aroma seorang gadis! Baunya wangi manis, keringat menggoda.

"Nngghhh... Mas Bima... enak banget... j-jangan berhenti, Mas..." racau Wulan setengah sadar. Saraf-saraf dewasanya bergejolak hebat akibat luapan hormon kebahagiaan yang dipicu oleh energi Mustika Hijau.

Melihat Wulan yang sudah menggeliat pasrah di bawah kendalinya, pikiran nakal Bima sempat melintas kembali.

 Di depannya adalah gadis perawan paling dipuja di desa ini. Sesuai wejangan Ki Ageng, jika dia bertindak lebih jauh hingga melintasi batas suci malam ini, maka cairan inti mutlak miliknya akan mengunci jiwa dan raga Wulan seumur hidup untuk menjadi miliknya.

Ia ingin menjadikan gadis idaman sedewasa ini miliknya!! Hidup bersama rasti memijat janda itu membuatnya gila ! Dia gak pernah memuaskan nafsu dengan nya, karena merasa itu terlalu berbahaya untuk melakukan dengan kakak ipar!

Tapi di depannya gadis sah! Bukan kakak ipar! Hanya gadis yang lapar dan siap di panen!

Namun, Bima buru-buru menahan diri. Dia mengingat peringatan sang kakek untuk tidak menjadi budak nafsu. 

Lagipula, jika Rasti tiba-tiba pulang dari pasar kecamatan dan memergoki mereka dalam keadaan basah, keadaan rumah barunya bisa berubah menjadi bencana instan.

“Mbak branya saya buka sedikit!”

“Kya!! Ih masnya mesum banget … tapi suka masnya yang berani!”

Bima mengalihkan fokusnya untuk menyempurnakan purifikasi. Dia melonggarkan sedikit kait bra merah muda Wulan untuk meraih titik saraf di belikat atas, membuat Wulan memekik tertahan menerima kejutan nikmat yang kian intens.

Setelah beberapa menit yang mendebarkan dan dipenuhi desahan manja, guratan abu-abu di tubuh Wulan akhirnya sirna sepenuhnya, menyisakan aliran darah yang lancar dan kulit yang tampak merona segar.

"Sudah selesai, Lan. Gimana badannya?" tanya Bima sembari menarik tangannya, meskipun hawa hangatnya masih tertinggal di kulit Wulan.

Wulan perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Bima dengan tatapan mata yang sayu, berair, dan penuh dengan rasa kagum sekaligus keterikatan batin yang mendalam. Efek samping dari pilar kedua Mustika Hijau telah bekerja; batin Wulan kini telah terpikat sepenuhnya pada pesona sang pemuda.

"M-Mas Bima..." Wulan duduk sambil mendekap kaus putihnya di depan dada dengan tangan gemetar. Dia menatap Bima lekat-lekat. "Badanku... beneran enteng banget, kayak gak punya beban. Makasih mas.”

Sesi pijat plus-plus berakhir tepat saat itu juga. Wulan sudah balik ke rumahnya begitu tubuh dia terasa bugar, namun rona merah di wajahnya masih sangat jelas.

Sekarang gawat. Kamar pribadi Bima benar-benar berantakan. Aroma gadis segar perawan berada di sni. Keringat dan lan-lain. Barusan dia dapat uang bonus 500 ribu langsung sekali mijat! Walau dia masih merasa sangat kurang, dia masih mau menyentuh gadis kembang desa itu lagi!

.jika ditotal dengan pendapatan  sejak pagi, Bima hari ini mengantongi tiga juta rupiah bersih! Selama satu hari. Klien juga rata-rata cewek. 

Pijat plus-plus. Sungguh kemampuan rezeki nomplok bagi cowok!

​Namun, kesenangan Bima mendapatkan uang segepok itu langsung buyar saat dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamarnya.

“Bima, mbak pulang!”

“waduh gawat ini.”

1
Ariya Noviandy Khusofi
sudah lama ga update, lanjut lagi ga ini novel?
bintoro Suatmaji
seri terusannya mana nih? koq lama banget......
Yosua Juan Minggu
Kerennn semangat author, guysss bantu like dan comment yah di ceritakuu🙏🥺
Naga Hitam
lahh..bknnya cak karno ya
Naga Hitam
joko siapa, rian siapa?????
Clevansky88 Sky
gak update lagi kah Thor?
Alfan
halo thor
Clevansky88 Sky
💪🔥
Gege
kalimatnya kurang "dan bagian bawah bima mengeras menekan pinggul Keysa! membuat Keysa semakin mendelik matanya merasakan dua dragon ball yang menekan pinggulnya bergantian maju mundur"... naaah gitu Thor...
P̷E̷S̷O̷N̷A̷G̷A̷D̷I̷S̷D̷E̷S̷A̷
Kalau di tanah kelahiranku prinsipnya harus punya NYALI...🤣🤣🤣
"SALAM SATU NYALI, WANI"
LOSS GAK REWEL BOSSKU, PREI WONG RUWET...🦾💪💪🏼💪🏾💪🏿
Gege
keysa lebronka kah ini Thor...yang nyanyi keseleo ituu di nada tinggi..🤣
Manusia Biasa: penyembuhannya pakai jalur dalam ..alias entup entupan
total 1 replies
Gege
kalo berobat di shinsei modern bisa habis puluhan juta itu...Eeh bima dikasih cuman tiga juta..rugiii..
Manusia Biasa: gpp toh bima gak modal sama sekali
total 1 replies
Gege
Danu atau bima Thor..🤣
Manusia Biasa: efek nulis dua novel bersamaan
total 1 replies
Gege
Danu Iki sopo Thor...🤣🤭
Gege
wuasyeek... ditunggu momen penyembuhan para LC karaoke ibukota yang sakit lubang pipisnya..🤭🤣
Gege
laaah Kon antrian LC karaokean ibukota belom datang Thor... padahal brosurnya udah disebarin lho...🤣🤭😄 kan lumayan kalo pada berobat sakit saluran kencing, harus diobok-obok cara ngobatinnya..🤣🤣
Gege
klasik dan epic penjelasannya...
Gege
naaah..makin oyeeh nih..yuk bisa yuk banyakin hareem yang pijat plus plus ke MC... duit dapat..enaknya juga dapet..🤭🤣
.
kirain TAMAT Thor dah lama ga update
Manusia Biasa: Nunggu lulus kontrak dulu kemarin. kena masalah terus saking vulgarnya🤣
total 1 replies
septian arista
Nah itu dukun bodoh apa gimana Masa takut sama si Ujang yang nggak bisa apa-apa kenapa nggak disantet aja itu si Ujang🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!