Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Ethan Lahir
Keira menatap pesan itu, dan untuk pertama kalinya ia merasa waktu yang selama ini ia minta sudah habis.
Ci, dia mau melahirkan?
Pesan Kevin membuat jari Keira dingin.
Ia tidak langsung membalas. Di depannya, Ci Lien sudah memberi instruksi cepat kepada staf sekretariat: semua rapat Rayhan dibatalkan, dokumen mendesak dikirim digital, driver disiapkan di lobi.
"Keira, kamu ikut ke rumah sakit," kata Ci Lien.
"Saya?"
"Pak Direktur minta kamu bawa dokumen asuransi, kontak dokter keluarga, dan daftar keluarga yang boleh masuk."
Tentu saja. Bahkan kelahiran anak pun membutuhkan daftar.
Di mobil menuju rumah sakit, Rayhan duduk di belakang tanpa bicara. Wajahnya tidak panik, tetapi tangannya memegang ponsel terlalu erat. Keira duduk di depan, memegang map medis Sanya yang baru dikirim asisten keluarga Yong.
Usia kehamilan belum cukup ideal. Dokter menyebut kontraksi lebih cepat dari perkiraan, kemungkinan perlu observasi ketat. Ibu Yong menangis di telepon. Herman bertanya apakah media sudah tahu. Ibu Meilan meminta kamar VIP disiapkan dan dokter anak standby.
Rayhan hanya berkata, "Pastikan Sanya aman."
Di rumah sakit, suasana lebih kacau daripada rapat apa pun. Sanya sudah masuk ruang tindakan, wajahnya pucat, rambut menempel di pelipis. Saat Keira menyerahkan dokumen ke perawat, ia sempat melihat Sanya menggenggam sprei dengan kuat.
Mata mereka bertemu.
Sanya tidak mengucapkan apa pun, tetapi matanya seperti berteriak: jangan biarkan dia datang.
Keira tahu siapa "dia".
Ponselnya kembali bergetar.
Kevin:
Aku di parkiran.
Keira hampir kehilangan napas.
Ia berjalan cepat ke ujung koridor dan menelepon.
"Pulang."
"Aku harus tahu dia baik-baik saja."
"Kamu tidak punya hak masuk."
"Anak itu..."
"Jangan selesaikan kalimat itu di rumah sakit ini."
Kevin terdiam. Di seberang, suara hujan dan kendaraan terdengar.
"Ci, kalau anak itu lahir..."
"Kalau kamu masih punya sisa otak, kamu pergi sekarang. Kamu ingin menghancurkan Sanya di depan keluarga Yong? Menghancurkan Mama kamu? Menghancurkan bayi yang bahkan belum bernapas?"
Kevin terdengar seperti menangis. "Aku takut."
"Bagus. Simpan takut itu dan jangan menambah masalah."
Keira menutup telepon sebelum suaranya pecah.
Saat ia kembali, Rayhan berdiri di depan pintu ruang tindakan. Ibu Meilan duduk dengan tasbih buddhis kecil di tangan, bibirnya bergerak tanpa suara. Herman berjalan bolak-balik, lebih gelisah pada reputasi daripada kondisi anaknya. Ibu Yong menangis sambil menelepon kerabat.
Rayhan menatap Keira. "Siapa yang kamu telepon?"
"Keluarga," jawab Keira.
"Kevin?"
Keira tidak menjawab.
Rayhan melangkah mendekat. "Kenapa dia perlu tahu?"
Pintu ruang tindakan terbuka sebelum Keira harus berbohong lebih jauh. Seorang perawat keluar.
"Keluarga Ibu Sanya?"
Semua orang berdiri.
"Bayi laki-laki sudah lahir. Kondisi perlu pemantauan karena lahir lebih cepat, tetapi menangis spontan. Ibu masih ditangani, stabil."
Ibu Yong langsung menangis lebih keras. Herman mengucapkan puji Tuhan. Ibu Meilan menutup mata. Rayhan diam selama satu detik, lalu mengangguk.
"Terima kasih."
Bayi laki-laki.
Keira merasakan dunia bergerak sedikit. Anak itu bukan kesalahan. Anak itu bukan strategi Selene, bukan ketakutan Sanya, bukan kepengecutan Kevin, bukan jadwal Rayhan. Ia bayi yang menangis spontan, kata perawat. Ia hidup.
Ketika bayi dibawa sekilas melewati kaca ruang bayi, semua orang mendekat. Tubuhnya kecil, dibungkus kain rumah sakit, wajahnya merah dan keriput.
"Ethan," kata Herman tiba-tiba. "Nama yang bagus. Ethan Kie."
Rayhan menatap bayi itu.
Tidak ada kelembutan besar di wajahnya, tetapi ia juga tidak menolak. Secara hukum, secara keluarga, secara nama, bayi itu kini berada di garis Kie.
Keira menunduk, merasa tenggorokannya sakit.
Di parkiran, Kevin menerima pesan dari Keira.
Bayi laki-laki. Pulang. Jangan muncul.
Kevin duduk di dalam mobil sewaan, menangis tanpa suara. Ia ingin naik. Ingin melihat. Ingin memastikan apakah bayi itu mirip dirinya. Tapi setiap pintu rumah sakit seperti dijaga oleh semua kesalahan yang ia buat sendiri.
Di lantai atas, Selene datang terlambat dengan bunga mahal. Ia memeluk Sanya di kamar pemulihan dengan gerakan lembut yang terlihat seperti kasih sayang.
"Selamat, Ci," katanya.
Sanya menatapnya dengan wajah pucat. "Jangan panggil aku begitu."
Selene tersenyum di dekat telinganya. "Anakmu kecil sekali. Kita harus pastikan dia tumbuh dengan nama yang tepat, kan?"
Sanya menggigil.
Malam itu, setelah semua keluarga pulang bergantian, Keira duduk di kursi koridor dengan map kosong di pangkuan. Rayhan keluar dari kamar bayi dan berhenti di depannya.
"Kamu belum pulang."
"Menunggu instruksi, Pak."
"Tidak ada instruksi."
"Kalau begitu saya pulang."
Keira berdiri, tetapi Rayhan berkata, "Keira."
Ia berhenti.
"Ada sesuatu tentang hari ini yang kamu tahu dan aku tidak?"
Pertanyaan itu datang pelan, nyaris tanpa tekanan. Justru itu membuatnya lebih berat.
Keira menatap pintu kamar Sanya, lalu kaca ruang bayi tempat Ethan Kie tidur dalam inkubator hangat.
"Ada banyak hal yang belum saya mengerti, Pak."
Rayhan menatapnya lama.
"Kalau sudah mengerti, beri tahu aku sebelum orang lain memakai itu untuk melukaimu."
Keira tidak bisa menjawab.
Di dalam kamar, Selene berdiri sangat diam di dekat tempat sampah medis kecil. Ketika perawat lengah, ia mengambil selembar tisu bayi yang tadi dipakai membersihkan mulut Ethan, memasukkannya ke plastik kecil, lalu menyelipkannya ke tas dengan sangat hati-hati.
Senyumnya sangat tenang.