NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:24k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Cahaya matahari Santorini selalu terlihat terlalu indah untuk sebuah hubungan yang berjalan setengah hati.

Beberapa hari setelah malam itu, aku mulai menyadari bahwa Mason benar-benar bersungguh-sungguh dengan batas yang ia buat di antara kami. Ia tidak bersikap kasar lagi seperti dulu. Ia juga tidak menghindariku dengan dingin yang menyakitkan. Namun, ada jarak yang tetap terasa begitu jelas. Seolah ada sebuah garis tipis yang tidak boleh kulewati, meskipun aku adalah istrinya sendiri.

Dan sejak penolakan malam pertama honeymoon itu, aku tidak lagi punya keberanian untuk mencoba mendekatinya seperti sebelumnya. Rasa malu itu masih tertinggal di dadaku seperti luka yang belum benar-benar mengering.

Aku masih bisa mengingat bagaimana tubuhku gemetar malam itu. Bagaimana aku mengumpulkan seluruh keberanian yang bahkan tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Dan bagaimana semuanya berakhir dengan tatapan datar Mason yang berkata bahwa ia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu denganku. Memikirkannya saja sudah cukup membuat wajahku terasa panas karena malu.

Karena itulah, beberapa hari berikutnya kami lalui seperti dua orang asing yang kebetulan sedang berada di tempat yang sama. Santorini tetap indah. Laut birunya tetap memantulkan cahaya matahari dengan begitu menenangkan. Bangunan-bangunan putih berdiri cantik di sepanjang tebing, dan jalan-jalan kecil berbatu selalu dipenuhi bunga bougenville yang menjuntai dari balkon rumah-rumah penduduk. Namun semua keindahan itu terasa berbeda bagiku sekarang.

Aku berjalan di samping Mason hampir setiap hari, tapi tetap merasa sangat jauh darinya. Pagi itu kami pergi ke Oia. Kota kecil di atas tebing yang terkenal dengan pemandangan lautnya. Aku mengenakan gaun panjang berwarna krem dan topi jerami yang kubeli di toko kecil dekat hotel sehari sebelumnya. Sementara Mason berjalan di sampingku dengan kemeja putih dan celana panjang hitam sederhana.

Ia tampak begitu cocok dengan tempat ini. Terlalu tampan, terlalu tenang, dan terlalu sulit disentuh. Beberapa turis bahkan beberapa kali menoleh ke arahnya diam-diam.

“Apa kau ingin berhenti di sana?” tanyanya tiba-tiba ketika kami melewati sebuah toko kecil berisi keramik dan lukisan.

Aku sedikit terkejut mendengar suaranya setelah cukup lama kami berjalan dalam diam.

“Ah?” Aku menoleh cepat. “Tidak… tidak perlu.”

Mason mengangguk pelan lalu kembali berjalan. Hanya itu. Tidak ada percakapan panjang setelahnya.

Aku menunduk pelan sambil menggenggam tali tasku lebih erat. Dulu aku selalu berharap Mason mau berbicara lebih banyak denganku. Namun sekarang, bahkan ketika ia mulai sesekali bertanya hal kecil seperti tadi, aku malah menjadi canggung sendiri. Barangkali karena aku terlalu takut berharap lagi.

Saat makan siang, kami duduk di restoran kecil menghadap laut. Angin Santorini bertiup lembut membawa aroma asin air laut dan suara ombak dari kejauhan. Aku memesan grilled seafood, sementara Mason memilih pasta seafood sederhana dan segelas wine.

Aku memperhatikan pelayan wanita yang tersenyum cukup lama pada Mason ketika mengantarkan pesanan. Dan Mason bahkan tidak menyadarinya sama sekali.

“Ada apa?”

Aku langsung tersadar ketika mendengar pertanyaannya.

“Tidak ada,” jawabku cepat.

Mason menatapku beberapa detik sebelum kembali fokus pada makanannya. Aku diam-diam menghela napas lega.

Kadang aku sendiri bingung dengan perasaanku akhir-akhir ini. Sedikit perhatian dari Mason sudah cukup membuatku gugup, tapi di saat bersamaan aku juga berusaha mati-matian menjaga jarak agar tidak kembali terluka.

Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama. Kami mengunjungi museum kecil di Fira. Pergi ke pantai pasir hitam di Perissa. Berjalan di jalanan sempit yang dipenuhi toko suvenir. Bahkan beberapa kali naik kapal wisata mengelilingi laut Aegea.

Semua terlihat seperti liburan yang sempurna. Kami mengambil foto. Makan bersama. Berjalan berdampingan. Tersenyum sopan ketika ada turis lain menawarkan bantuan memotret kami. Namun tidak ada satupun momen yang terasa seperti honeymoon. Tidak ada genggaman tangan diam-diam. Tidak ada pelukan hangat. Tidak ada tatapan penuh cinta seperti pasangan lain yang kulihat di sekitar kami. Dan perlahan, aku mulai berhenti membandingkan. Karena semakin kubandingkan, semakin sesak dadaku terasa.

Suatu sore kami duduk di dekat tebing sambil melihat matahari tenggelam. Langit Santorini berubah menjadi jingga keemasan yang begitu indah hingga membuat banyak orang berhenti berbicara hanya untuk memandangnya.

Aku memeluk lututku sambil duduk di kursi panjang batu putih. “Mereka bilang sunset di sini salah satu yang terbaik di dunia,” kataku pelan.

“Mm.”

Aku meliriknya sekilas. Mason sedang melihat ke arah laut dengan ekspresi tenang seperti biasa. Angin membuat rambut hitamnya sedikit berantakan, namun ia tidak terlihat peduli.

“Jadi kau pernah ke sini sebelumnya. Dan hanya untuk pekerjaan?” tanyaku lagi.

“Ya. Begitulah.”

Jawaban singkat itu kembali membuat percakapan kami berhenti. Aku tertawa kecil pelan, lebih pada diriku sendiri.

“Kurasa hidupmu memang hanya berisi pekerjaan.”

Mason menoleh sedikit ke arahku. Tatapannya tenang. “Kurasa begitu.”

Entah kenapa, kali ini aku tidak merasa sakit mendengarnya. Justru ada sesuatu yang terasa menyedihkan. Karena untuk pertama kalinya aku sadar, Mason mungkin memang tidak tahu bagaimana cara hidup selain terus bekerja dan menjaga jarak dari orang lain. Dan aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk perlahan masuk ke dalam hidup seperti itu.

Malamnya, saat kami kembali ke hotel, aku langsung menuju balkon kamar. Angin malam Santorini terasa dingin dan tenang. Dari kejauhan, lampu-lampu kota kecil di sepanjang tebing terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi. Aku memeluk diriku sendiri pelan. Sementara di dalam kamar, Mason sedang duduk di sofa sambil membuka laptopnya. Bekerja lagi.

Aku menatapnya diam-diam dari balik pintu kaca balkon. Kadang aku ingin bertanya apa sebenarnya yang ia pikirkan tentang pernikahan kami. Tentang aku. Tentang semua ini. Namun setiap kali keberanian itu muncul, rasa takutku selalu lebih besar. Aku takut mendengar jawaban yang tidak ingin kudengar. Karena sekali saja ditolak olehnya lagi, aku tidak yakin hatiku masih bisa baik-baik saja.

Hari demi hari berlalu begitu cepat hingga akhirnya koper-koper kami kembali tertutup rapi di dalam kamar hotel. Tibalah kami di hari yang mengharuskan kami kembali ke Chicago.

Aku duduk di dekat jendela bandara sambil memandang langit Santorini yang cerah untuk terakhir kalinya. Sementara Mason sedang menerima telepon pekerjaan beberapa meter dariku.

Ia terlihat serius, datar, dan sangat jauh. Padahal kami baru saja menghabiskan beberapa hari bersama hampir tanpa jeda.

“Pesawat boarding dalam dua puluh menit,” katanya setelah panggilannya selesai.

Aku mengangguk kecil. “Baik.”

Perjalanan kembali ke Chicago terasa jauh lebih sunyi dibanding perjalanan datang. Jika sebelumnya aku masih dipenuhi harapan dan kegugupan tentang honeymoon kami, sekarang aku justru merasa kosong.

Aku duduk di samping jendela pesawat sambil memandangi langit malam di luar sana. Lampu kabin diredupkan. Beberapa penumpang sudah tertidur sejak lama. Sementara Mason duduk di sampingku dengan tablet di pangkuannya.

Cahaya layar memantul samar di wajahnya yang tenang. Aku memperhatikannya diam-diam beberapa saat sebelum akhirnya memalingkan wajah kembali ke jendela. Honeymoon ini jauh berbeda dari yang pernah kubayangkan.

Beberapa hari yang lalu, aku pikir perjalanan ini akan menjadi awal kedekatan kami. Bahwa mungkin, jauh dari Chicago dan semua tekanan keluarga, Mason akan sedikit membuka dirinya untukku. Namun ternyata aku salah.

Kami memang pergi bersama. Kami memang tidur di kamar yang sama. Kami memang menghabiskan hari demi hari berdampingan. Tapi hati Mason tetap berada di tempat yang tidak bisa kujangkau. Dan mungkin, sejak awal memang tidak pernah ada tempat untukku di sana.

Aku menunduk pelan sambil menggenggam selimut tipis di pangkuanku.

“Hazel.”

Aku sedikit tersentak dan menoleh.

Mason masih menatap tabletnya. “Apa kau ingin minum sesuatu?”

Aku memandangnya beberapa detik sebelum menggeleng pelan. “Tidak.”

“Mm.”

Lalu ia kembali bekerja. Aneh sekali. Hanya pertanyaan sederhana seperti itu saja sudah cukup membuat dadaku terasa hangat dan sakit di saat bersamaan. Karena begitulah Mason. Ia tidak benar-benar dingin lagi. Namun juga tidak pernah cukup hangat untuk membuatku merasa dicintai.

1
Desak Suryani
kasi dulu pelajaran untuk menghargai istri si mason jangan luluh dulu
Surati Dewi
thor jangan buat hazel jadi bodoh buat nungguin mason sesekali beri pelajaran buat mason biar menyesal kehilangan hazel thor
Yellow Sunshine: Iya nih kak. Kok gak sadar-sadar ya si Hazel ini 🤭
total 1 replies
falea sezi
🤣🤣. cwek plin plan tuh uda di tandangi kn harusnya seneng itu yg lu mau🤣🤣 emank lu mau berbagi batangan satu ma adik tiri suami mu😒 bloon lu
Dilla Fadilla
lanjut
Wayan Suryani
tll byk mulut jdi hazel plin plan
kasian Justin smg kau di PHP in sama mason👎👎
falea sezi
mbuh lah thor terserah lu aja mumet bacanya q🤣
falea sezi
🤣🤣 cwek plin plan laki bekas adek tiri aja doyan cerai bloon😒
Wayan Suryani
dasar jalang plin plan
merry yuliana
ikutan bingung akunya kak
falea sezi
bertele tele sekali thor gimana sih pembaca pada protes tuu🤣
falea sezi
kenapa muter thor😒 sat set donk 😒
Mia Amalia
alur nya emang lama banget

tp tak apa ko, tetap bisa dinikmati kecuali utk bbrp orang yang tidak terbiasa alur lambat

semangat author
Wayan Suryani
ini ceritanya apa sih gak jelas👎
falea sezi
cerai sat set
falea sezi
😒 cerai. thor muter doang kenapa alur nya berantakan sih cerai woyy pembaca nunggu malah bertele tele
falea sezi
kapan cerai nya muter doank g sat set
falea sezi
cwek nya begoo🤣
falea sezi
qm aja bodoh di kasih clue banyak gk sadarr🤣🤣 cerai. goblok. cerai ngapain ngemis
lulu oey
CERITANYA BERBELIT BELIT MEMBOSANKAN
merry yuliana
jia you hazel buang mason tutup pintu ....buka hati buat justin bahagialah...crazy up ya kak💪😍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!