NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: REFLEKSI DI BALIK SERAGAM LORENG

Waktu bergulir tanpa permisi, membawa hari-hari yang semula terasa mencekam berjalan menjauhi pusaran badai. Sudah satu minggu penuh semenjak kejadian persidangan yang menguras seluruh air mata dan harga diri itu berlangsung di pusat ibu kota bagian timur. Kini, Kapten Ayuni Ameera Bakri telah resmi kembali ke ksatrian Pusat Pendidikan Militer Satria Garda, Bukit Raya.

Ia telah kembali ke dalam rutinitas militernya yang padat, berdiri tegap di bawah laras seragam Harian Lapangan lorengnya dengan emblem Pasi Intel yang tersemat kokoh di lengan kiri. Di luar, ia tampak seperti biasa—tegas, disiplin, berwibawa, dan tanpa celah. Namun di dalam, Ayu sedang memaksa jiwanya untuk berlapang dada menerima status baru yang kini melekat pada dirinya: seorang janda, seorang ibu tunggal.

Duduk sendirian di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan berkas pengamanan siswa bintara baru, Ayu menatap kosong ke arah jendela kaca yang menampilkan barisan prajurit yang sedang melaksanakan pembinaan fisik siang. Pikirannya melayang, mengurai benang kusut masa lalu yang selama ini sengaja ia kunci rapat di sudut hati yang paling dalam.

Sebenarnya, jika mau jujur pada nuraninya sendiri, Ayu pernah mulai menyukai dan membuka hatinya untuk mantan suaminya dulu. Di awal pernikahan mereka, Ayu bukanlah wanita yang tega bermain-main dengan komitmen suci. Ia senantiasa berpegang teguh pada prinsip hidup dan didikan agama yang tertanam kuat di dadanya.

Bahwa seluruh cinta, ketaatan, dan ketulusan hatinya sudah pasti akan ia berikan seutuhnya pada orang yang sudah menjadi halal baginya. Ketika ia menjabat tangan pria itu di depan penghulu, Ayu telah bertekad mati-matian untuk melupakan nama Kolonel Victor dan menyerahkan sisa hidupnya untuk mengabdi pada suaminya.

Namun, kenyataan hidup menamparnya dengan sangat keras. Ayu kini tersadar bahwa benar, tidak semua niat baik akan berakhir dengan cara yang terbaik. Ada kalanya, manusia dipertemukan dalam sebuah ikatan dengan cara dan alasan yang salah, lalu dari sana mereka dipaksa untuk belajar.

Ayu menarik napas panjang, menatap jemarinya yang kini tak lagi dihiasi cincin pernikahan. Di dalam kesunyian ruang intelijen itu, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak sibuk menyalahkan Sang Penulis Skenario Agung atas nasib malang yang menimpanya. Ia tidak ingin mengutuk takdir Tuhan. Namun, sebagai manusia biasa, ia kerap kali terjebak dalam ruang renungan yang menyiksa, berpikir dalam ketakutan, dosa dan kesalahan besar apa yang dulu pernah ia perbuat di masa lalu, sehingga takdir yang tidak baik seakan-akan datang bertubi-tubi menghujani sisa kehidupannya tanpa ampun?

"Astaghfirullahal'adzim..." bisik Ayu lirih, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Di tengah badai batin itu, sisa-sisa rasionalitasnya sebagai seorang perwira wanita mencoba mengingatkannya agar tidak terlalu larut dalam menyalahkannya diri sendiri secara sepihak. Sebab, di dalam sebuah kegagalan hubungan, ada kalanya pihak yang dipasangkan dengan kita lah yang justru lupa cara bersyukur. Pria itu lupa bagaimana cara menghargai keberadaan Ayu yang telah menurunkan ego perfeksionisnya, menerima segala kekurangannya, dan bersedia mendampinginya dari nol serta melahirkan darah daging untuknya di tengah kerasnya tuntutan dinas militer.

Pernikahan yang didasari oleh perjodohan atau pilihan rasional demi status sosial tidak selalu berakhir indah, apa pun motif di belakangnya. Kegagalan ini menyisakan luka yang teramat dalam di batin Ayu, menjelma menjadi sebuah trauma berat yang sangat mengerikan. Rasanya, untuk detik ini hingga entah kapan, Ayu benar-benar enggan dan menutup rapat pintu hatinya untuk melirik atau menerima pria mana pun lagi di dalam hidupnya. Laki-laki di matanya kini telah berubah menjadi lambang ketidakpastian dan rasa sakit.

Ayu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerja yang kaku. Pikirannya ditarik lebih jauh ke masa lima tahun lalu, saat ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Victor. Dulu, jika dipikir-pikir kembali, Victor yang saat itu masih berpangkat Letnan Kolonel juga memilih untuk menyerah memperjuangkannya setelah Ayu melayangkan penolakan pertama yang didasari oleh desakan keluarga. Victor tidak mengejarnya hingga ke ujung dunia, pria raksasa itu justru memilih mundur teratur, menerima mutasi ke daerah operasi, dan membiarkan Ayu melangkah menuju pelaminan bersama pria lain tanpa riak.

Mengingat hal itu, hati Ayu terasa kian meranggas perih. Apakah memang dirinya ditakdirkan untuk bernasib tidak baik dalam urusan asmara? Apakah ia diciptakan hanya untuk menjadi persinggahan yang ditinggalkan?

Ayu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir kabut hitam yang mulai menggerogoti kewarasannya. Tidak. Apa pun yang sekarang telah terjadi, dan sekacau apa pun status sosialnya di mata publik ksatrian nantinya, Arkan—putra kecilnya—akan tetap dan selalu menjadi prioritas utama yang paling mutlak di atas segalanya. Sisa hidupnya, energinya, dan seluruh helai napasnya kini hanya akan ia dedikasikan untuk memastikan anak itu tumbuh dengan penuh kasih sayang, meskipun tanpa kehadiran figur ayah kandung yang utuh di sampingnya.

Namun, di tengah segala ambisinya untuk melindungi Arkan, ada satu hal besar yang tampaknya luput dari analisis tajam dan pemikiran taktis Ayu selama ini. Ia terlalu sibuk meratapi nasib dan mengasihani dirinya sendiri hingga lupa memikirkan sebuah rahasia takdir yang tersimpan rapat. kenapa Sang Pencipta justru memberikannya seorang anak kandung berjenis kelamin laki-laki?

Ayu menatap foto kecil Arkan yang tersisip di bawah kaca meja kerjanya. Mengapa bukan anak perempuan yang diberikan Tuhan untuk menemani kerapuhannya? Mengapa harus anak laki-laki?

Ayu lupa, bahwa takdir tidak pernah bekerja tanpa alasan yang matang. Di saat hatinya dihancurkan oleh seorang pria maskulin yang egois, Tuhan justru menitipkan seorang pelindung laki-laki baru yang masih suci di rahimnya. Anak laki-laki itu kelak tidak akan tumbuh menjadi pria bajingan seperti ayahnya, melainkan akan ditempa di bawah didikan ketat Ayu untuk menjadi sosok pria sejati yang menghormati wanita.

Dan yang paling krusial, kehadiran anak laki-laki bernama Arkan itu—dengan segala kemiripan insting, kelekatan batin, dan magnet emosional yang terjadi secara ajaib belakangan ini—adalah sebuah cara tak terlihat dari alam semesta untuk menjembatani kembali garis takdir Ayu yang sempat terputus dengan sosok pria raksasa pemegang tahta tertinggi di Pusdikmil, Kolonel Victor. Arkan adalah titik koordinat yang sengaja diletakkan takdir agar Ayu tidak bisa benar-benar berlari menjauh dari pelukan pria yang sesungguhnya tak pernah berhenti mencintainya itu.

Pintu ruang kerja Pasi Intel tiba-tiba diketuk dari luar, membuyarkan seluruh lamunan panjang Ayu.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk," ucap Ayu, dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi sedingin es, tegak tanpa sisa kerapuan.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Lettu Yunita yang melangkah masuk dengan sikap tegap, membawa sebuah map tebal berisi jadwal peninjauan lapangan darurat yang harus ditandatangani hari ini.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!