NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Monster Pertama

Asap tipis bercampur bau hangus dari sisa pembakaran Life Energy elemen cahaya milik Elena Aurelius perlahan menguap di udara lembap Hutan Arden. Di atas tanah berlumpur yang licin, tubuh besar Thorn Lizard mutan tingkat puncak Bronze Rank itu tergeletak kaku tanpa kepala, meninggalkan genangan cairan hitam pekat yang perlahan merembes ke sela-sela akar pohon purba. Kawanan monster reptil berukuran lebih kecil yang sebelumnya mengepung dengan beringas kini telah mundur sepenuhnya, menghilang ke balik pekatnya vegetasi hutan setelah menyaksikan pemimpin mereka dipenggal dalam satu gerakan kilat.

Sander Duster perlahan melepaskan dekapan tangan kirinya dari pundak Sylvia Frost. Napas pemuda berusia empat belas tahun itu masih memburu berat, dengan uap hangat yang keluar secara teratur dari sela-sela bibirnya. Di sepanjang otot punggung hingga lengan kanannya, rasa perih laksana disengat ribuan jarum masih terasa sangat menyengat. Itu adalah dampak langsung dari sirkulasi Life Energy keperakan yang dipaksa keluar secara mendadak tanpa fondasi yang matang demi menahan cakar beracun sang monster beberapa saat lalu. Lapisan energi tak kasat mata itu kini telah sepenuhnya surut kembali ke dalam pusaran internal tubuhnya, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa ekstrem.

Sylvia Frost berdiri terpaku selama beberapa detik, memandangi robekan besar di bagian punggung zirah kulit kelabu Sander. Gadis berambut perak panjang itu menundukkan wajah cantiknya yang masih sedikit pucat karena syok, sementara sepasang mata birunya bergetar memancarkan rasa bersalah sekaligus keharuan yang mendalam. Ia meremas ujung gaun latihan wol tebalnya dengan sangat erat sebelum akhirnya melangkah mendekati Sander.

"Kau... kau tidak apa-apa, Sander?" bisik Sylvia dengan nada suara yang sangat pelan, lembut, dan dipenuhi kecemasan yang nyata. "Punggungmu terkena hantaman langsung dari cakar beracun tadi. Kenapa kau bertindak seberani itu padahal kau tahu tubuhmu belum memiliki lapisan pelindung zirah tradisional yang stabil?"

Sander membalikkan badannya secara perlahan, menahan rasa kaku di otot punggungnya, lalu memberikan seulas gelengan kepala yang sangat tenang kepada Sylvia. Sepasang mata hitamnya tetap memancarkan kejernihan tekad yang tidak goyah sedikit pun.

"Aku tidak apa-apa, Sylvia. Luka memar ini akan sembuh dalam beberapa hari," jawab Sander dengan nada suara baritonnya yang datar dan mantap. "Yang terpenting adalah kau selamat. Dalam sebuah tim, perisai depan harus selalu memastikan lini belakang tidak runtuh oleh serangan mendadak."

Elena Aurelius dan Gideon Valentine segera melangkah mendekati posisi mereka berdua setelah memastikan tidak ada lagi pergerakan Thorn Lizard yang mengintai di balik semak-semak belukar. Elena menyarungkan kembali rapier safirnya dengan gerakan yang sangat tangkas, meskipun sisa pendaran cahaya suci di sekeliling tubuhnya masih menyala redup. Wajah cantiknya yang biasa dipenuhi senyuman ceria kini tampak sangat serius, sepasang mata biru langitnya bergerak aktif menilai tingkat kerusakan pada pakaian latihan Sander.

"Aksi penyelamatan yang luar biasa spontan dan berani, Sander," ucap Elena sembari mengembuskan napas panjang untuk meredakan ketegangan batinnya. "Namun, jujur saja, apa yang terjadi pada tubuhmu tadi benar-benar berada di luar seluruh teori buku pelajaran militer yang pernah kubaca di perpustakaan istana. Aku melihat dengan sangat jelas ada kilatan pendaran energi keperakan yang membungkus kulitmu saat cakar monster itu menghantam. Energi itu terasa sangat padat dan asing."

Gideon Valentine menekuk lututnya di samping bangkai Thorn Lizard mutan, menggunakan ujung belati peraknya untuk memeriksa ketebalan kuku sang monster sebelum kembali berdiri dan membetulkan posisi jubah abu-abunya. Sepasang mata hijau zamrudnya menyipit tajam, memancarkan kalkulasi strategi yang sangat dalam saat ia menatap Sander.

"Elena benar mengenai analisisnya, Sander. Berdasarkan struktur takdir, seorang ksatria yang gagal memicu sirkulasi elemen dasar pada batu penguji seharusnya tidak akan bisa memancarkan riak pelindung murni secara alami di bawah tekanan hidup mati," ujar Gideon dengan nada suara yang halus namun sarat akan analisis. "Tapi riak energi yang keluar dari tubuhmu tadi, meskipun sangat tidak stabil dan belum sempurna seutuhnya, terbukti sanggup menetralisir dampak racun korosif tingkat puncak Bronze Rank secara mutlak. Kelompok kita mungkin baru saja menyaksikan awal dari sebuah kebangkitan yang aneh."

Sander memilih untuk tetap diam, tidak memberikan penjelasan verbal lebih jauh mengenai denyut Hukum Devouring yang baru saja merespons ikatan Soul Resonance miliknya dan Behemoth. Di atas bahu kirinya, Behemoth merebahkan kembali tubuh kecil berbulu hitamnya dengan posisi angkuh. Sepasang mata emas kosmik sang mantan raja binatang melirik malas ke arah Elena dan Gideon, sebelum sebuah dengkur batin yang penuh penghinaan alami kembali bergema khusus di dalam kepala Sander.

(Hmph! Manusia-manusia fana ini selalu saja meributkan hal-hal dasar yang tidak penting, Sander! Mereka menyebut getaran esensi purba kita sebagai sesuatu yang aneh? Sungguh sebuah kesombongan dari makhluk yang hanya bisa mengandalkan pasokan elemen luar! Jika bukan karena pasokan energi hukumku yang menahan kestabilan sumsum tulangmu tadi, serangan cacing merangkak itu sudah pasti akan membuat struktur fisik murnimu yang belum matang ini retak dalam sekali tekan! Tapi harus kuakui, kemauan batinmu untuk maju tanpa berpikir panjang tadi memiliki kemiripan dengan insting predator sejati.)

(Terima kasih atas bantuan sirkulasimu, Behemoth. Tapi sekarang kita harus tetap fokus pada misi utama kelompok,) balas Sander secara tenang di dalam batinnya sembari mengayunkan kembali pedang besinya untuk memastikan keseimbangan tangannya telah pulih seutuhnya.

Sylvia Frost bergerak dengan telaten, mengambil sebotol kecil ramuan obat luar dari dalam tas pinggangnya lalu menyerahkannya kepada Sander dengan gerakan yang masih sedikit canggung. "Ini... ini adalah salep ekstrak bunga es dari Utara, Sander. Ini akan membantu membekukan sisa getaran rasa perih di punggungmu agar ototmu tidak kaku saat kita kembali bergerak," bisik Sylvia dengan rona merah tipis yang kembali muncul di pipinya.

Sander menerima botol tersebut sembari memberikan sebuah anggukan kepala yang penuh rasa terima kasih. Setelah mengoleskan salep dingin tersebut, rasa terbakar di sepanjang garis ototnya perlahan mulai mereda, digantikan oleh sensasi sejuk yang memulihkan kesegaran fisiknya dengan sangat cepat.

Namun, momen pemulihan kelompok mereka tidak berlangsung lama. Gideon yang sejak tadi memegang kompas navigasi mekanisnya mendadak menghentikan gerakannya, wajah tampannya beralih menjadi luar biasa kaku. Lingkaran jarum perak pada alat sihir tersebut mulai berputar secara acak dan liar, memancarkan riak mana kemerahan yang menandakan adanya distorsi spasial yang sangat besar di sekitar wilayah hutan tempat mereka berpijak.

"Ada yang tidak beres dengan ekosistem Hutan Arden ini," ucap Gideon dengan nada suara yang mendadak merosot rendah, penuh dengan kewaspadaan militer yang tinggi. "Pertarungan melawan puluhan Thorn Lizard tadi baru saja selesai, namun frekuensi mana negatif di sekitar kita justru terus melonjak naik secara drastis. Monster-monster yang kita hadapi sejak awal ujian masuk tadi ternyata jauh lebih agresif, berbahaya, dan memiliki insting membunuh yang jauh melampaui seluruh penjelasan pembekalan yang diberikan oleh para profesor di aula akademi kemarin. Ini bukan lagi sebuah latihan simulasi yang terkontrol dengan aman."

Elena Aurelius melangkah maju ke garis depan pembatas semak, memasang telinga kirinya dengan jernih untuk menangkap setiap getaran suara yang merambat menembus kepekatan kabut abadi hutan.

"Dengar itu... suara teriakan dan dentingan senjata dari kelompok murid lain di arah barat sudah berhenti sepenuhnya sejak dua menit lalu," ucap Elena dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan mendalam. "Tidak ada suara pelontar darurat dari lencana sihir yang menyala di langit. Atmosfer ini terasa seolah-olah seluruh makhluk hidup di sektor ini tengah dipaksa bungkam oleh kehadiran sesuatu yang jauh lebih dominan."

Sander melangkah maju berdampingan dengan Elena, mengarahkan pandangan panca indra murninya yang tajam menembus kerapatan barisan pohon purba di depan mereka. Di atas tanah basah yang berjarak sekitar lima belas meter dari posisi mereka berdiri, lapisan lumut hijau dan semak berduri tampak telah hancur berantakan, menyisakan jalur robekan tanah yang sangat lebar dan dalam laksana bekas seretan tubuh raksasa.

Di sepanjang jalur hancur tersebut, terdapat beberapa jejak kaki berukuran luar biasa besar yang tercetak sangat dalam di atas lumpur hitam. Setiap jejak kaki itu memiliki empat lubang kuku tajam yang sanggup meremukkan akar pohon purba hingga menjadi serpihan kayu mati. Riak mana abu-abu yang sangat pekat dan berbau busuk masih menggantung rendah di atas jejak tersebut, mengunci seluruh sirkulasi udara bersih di sekitar perimeter pengamatan mereka.

Kelompok mereka terdiam membeku dalam keheningan yang mencekam saat menyadari kenyataan baru yang terpampang di depan mata. Jejak ini bukan milik kawanan reptil tingkat perunggu yang biasa mendiami Sektor Luar, melainkan sebuah bukti otentik dari keberadaan makhluk predator tingkat tinggi yang seharusnya berada di area terlarang terdalam.

"Kita tidak sedang berhadapan dengan gangguan kawanan kecil," ucap Sander dengan nada suara baritonnya yang sangat datar namun sarat akan keseriusan ksatria Utara. "Kita baru saja menemukan jejak dari seekor monster yang ukurannya jauh lebih besar, lebih kuat, dan berada di tingkat ranah yang sepenuhnya berbeda dari apa yang dijelaskan oleh pihak manajemen akademi. Makhluk ini sedang bergerak memburu sesuatu, dan jalur jalannya mengarah tepat ke titik koordinat perlindungan kita selanjutnya."

Sander Duster mempererat cengkeraman kedua tangannya pada gagang pedang besi latihannya, membiarkan postur tubuh tegapnya kembali berdiri di barisan paling depan sebagai perisai murni kelompok. Di sampingnya, Elena, Sylvia, dan Gideon mulai memutar kembali sirkulasi Life Energy mereka dengan tingkat fokus yang jauh lebih tinggi dan tanpa celah sedikit pun. Di tengah keheningan Hutan Arden yang semakin mencekam, kelompok yang dianggap aneh oleh seluruh akademi ini kini harus bersiap melangkah bersama, siap menghadapi badai ancaman predator sejati yang telah mengintai kedatangan mereka dari balik kegelapan terdalam.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!