NovelToon NovelToon
SAH TAPI TIDAK SELESAI

SAH TAPI TIDAK SELESAI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menikah Karena Anak
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.

Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.

Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.

Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.

Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAMU ASING DI RAHIMKU

Nayaka mencengkeram kemudi dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang dibalut perban terasa berdenyut nyeri. Ia menempelkan ponsel di telinga, menghubungi seorang teman lamanya yang bekerja di bidang medis. Suaranya terdengar tajam dan tidak sabaran.

"Gue nggak peduli soal prosedurnya, gue cuma mau tahu satu hal," desis Nayaka tanpa basa-basi begitu telepon tersambung. "Harus tunggu bayi itu lahir baru bisa tes DNA? Apa nggak bisa sekarang?"

Temannya di seberang sana sempat terdiam sejenak, terkejut dengan nada bicara Nayaka yang penuh emosi. "Sabar, Nay. Secara teknis, memang ada metode Prenatal DNA Testing. Bisa dilakukan lewat sampel darah ibu atau air ketuban."

"Kalau gitu lakuin sekarang juga. Gue butuh buktinya minggu ini," potong Nayaka cepat.

"Dengerin dulu, Nay," timpal temannya dengan nada lebih serius. "Metode itu risikonya tinggi, apalagi kalau pakai pengambilan sampel air ketuban, bisa bahaya buat janinnya. Lagian, biasanya dokter nggak akan mau ngelakuin itu tanpa alasan medis yang kuat atau persetujuan kedua belah pihak. Emangnya kenapa? Lo nggak percaya itu anak lo?"

Nayaka tertawa hambar, suara tawa yang terdengar sangat dingin. "Percaya? Gue bahkan nggak pernah nyentuh dia. Gue tahu persis siapa gue, dan gue tahu wanita itu cuma mau jebak gue lewat anak selingkuhannya."

"Nay, saran gue, tenang dulu. Jangan gegabah. Kalau lo maksa tes sekarang dan terjadi apa-apa sama kandungannya, lo yang bakal disalahin keluarga besar lo."

"Gue nggak peduli!" bentak Nayaka sambil memukul kemudi. "Gue cuma mau bukti kalau gue bener, biar gue bisa tendang dia dari hidup gue tanpa ada satu orang pun yang bisa nahan gue lagi!"

Nayaka langsung mematikan sambungan telepon itu. Ia tidak butuh nasihat moral. Yang ia butuhkan hanyalah kepastian ilmiah yang bisa menghancurkan "kebahagiaan" yang sedang dirayakan orang tuanya di rumah.

Ia menatap jalanan di depannya dengan mata yang menyipit penuh dendam. Begitu sampai di rumah, ia tidak akan membiarkan Azzura merasa tenang sedikit pun. Baginya, janin itu adalah musuh, dan ia akan melakukan segala cara untuk mengungkap "kebohongan" Azzura, bahkan jika ia harus mengambil tindakan yang paling ekstrem sekalipun.

Suasana di meja makan yang seharusnya penuh rasa syukur itu seketika berubah mencekam. Ibu Nayaka yang sedang berusaha menyuapi Azzura—yang tampak sangat pucat dan tak bertenaga—mendongak dengan wajah memohon saat melihat putranya baru saja masuk dengan tangan dibalut perban.

"Nay, bantu Azzura ke kamar ya? Ibu khawatir sekali, tadi dia sempat hampir pingsan lagi di meja makan. Badannya panas, mungkin karena syok," ucap ibunya dengan suara lembut, berharap hati keras putranya melunak demi calon cucunya.

Nayaka tidak langsung menjawab. Ia justru menarik kursi dengan kasar, menimbulkan bunyi decitan yang memilukan di telinga Azzura. Ia menuangkan air putih ke gelas, meminumnya hingga tandas, lalu menatap Azzura dengan tatapan yang sangat asing.

"Suruh dia jalan sendiri," ucap Nayaka datar, suaranya sedingin es. "Dia punya kaki, kan? Tadi pagi aja masih sanggup keluyuran ke apotek sendirian."

"Nayaka! Apa-apaan kamu!" Ayahnya yang baru datang dari ruang tengah menyambar dengan nada tinggi. "Istrimu lagi mengandung! Dia lemas karena membawa nyawa di perutnya, dan itu anak kamu!"

Nayaka tertawa sinis, sebuah tawa yang membuat Azzura ingin menghilang dari bumi saat itu juga. "Anak aku? Ayah yakin? Aku bahkan nggak ingat kapan terakhir kali aku... ah, sudahlah. Lagipula, wanita yang sanggup main di belakang suaminya biasanya punya tenaga ekstra untuk sekadar naik tangga."

"Jaga mulutmu!" bentak Ayahnya sambil menggebrak meja. "Ayah tidak pernah mendidikmu jadi pengecut yang tidak mau mengakui perbuatan sendiri!"

Ibu Nayaka mulai terisak, "Nay, cukup... Azzura lagi sakit. Kenapa kamu jadi begini? Kamu yang biasanya paling perhatian..."

"Itu dulu, Bu. Sebelum aku tahu kalau aku cuma dijadikan tempat penampungan aib," balas Nayaka sambil berdiri. Ia menatap Azzura yang sejak tadi hanya menunduk, meremas daster yang dipakainya. "Gimana, Ra? Masih mau akting lemas? Atau perlu aku panggil Satya buat gendong kamu ke atas supaya kamu langsung sembuh?"

Azzura akhirnya mendongak. Matanya yang sembab menatap Nayaka dengan kehampaan yang dalam. Tidak ada pembelaan, tidak ada amarah. Hanya ada rasa lelah yang luar biasa.

"Aku bisa jalan sendiri," suara Azzura nyaris tak terdengar. Dengan tangan gemetar, ia mencoba menumpu tubuhnya pada pinggiran meja. "Ibu, Ayah... maaf. Azzura ke kamar dulu."

Ia melangkah sangat pelan, setiap langkahnya tampak begitu berat. Saat ia melewati posisi Nayaka yang masih berdiri mematung di dekat tangga, Azzura berhenti sejenak tanpa menoleh.

"Kalau kamu mau tes DNA sekarang, lakukanlah. Aku juga ingin tahu... kenapa takdir sejahat ini padaku," bisiknya parau sebelum menyeret langkahnya menaiki satu per satu anak tangga sendirian.

Nayaka hanya memperhatikan punggung yang rapuh itu dengan tangan terkepal kuat. Di balik kemarahannya, ada setitik rasa bingung melihat ketulusan dalam kesedihan Azzura, namun ia segera menepisnya. Baginya, kebenaran hanya milik bukti medis yang akan ia cari nanti. Sementara itu, di meja makan, kedua orang tuanya hanya bisa terdiam, menyadari bahwa benih yang mereka tanam dengan paksa kini mulai menumbuhkan duri yang melukai semua orang.

Di rumah besar itu, suasana jauh dari kata damai. Setelah Azzura berhasil mencapai kamarnya dengan sisa-sisa tenaga, keheningan di lantai bawah meledak menjadi perdebatan sengit antara Nayaka dan orang tuanya.

Nayaka berdiri di tengah ruang tengah, menolak untuk duduk sementara ayahnya menatapnya dengan kemarahan yang tertahan.

"Duduk, Nayaka! Kita perlu bicara sebagai laki-laki," perintah Ayahnya tegas.

"Nggak ada yang perlu dibicarakan, Yah. Hasilnya jelas. Dia hamil, dan aku nggak merasa itu perbuatanku. Apa lagi?" balas Nayaka, suaranya meninggi.

"Kamu pikir kehamilan itu bisa terjadi begitu saja? Kamu pikir Azzura itu wanita seperti apa?" Ibu Nayaka menyela sambil menyeka air mata, hatinya sebenarnya berdebar karena takut rahasia malam itu terbongkar. "Dia istrimu, Nay. Dia wanita baik-baik yang menjaga kehormatannya."

"Wanita baik-baik nggak akan punya 'dua garis' kalau suaminya nggak pernah menyentuhnya, Bu!" Nayaka menunjuk ke arah kamar atas dengan tangan yang berbalut perban. "Kalian semua membela dia seolah-olah dia malaikat. Tapi apa kalian pernah tanya, apa dia benar-benar setia selama sebulan ini?"

"Jaga bicaramu!" Ayah Nayaka berdiri, mendekati putranya. "Kamu hanya sedang mencari alasan untuk lari ke perempuan itu lagi, kan? Kamu mau memfitnah istrimu sendiri supaya kamu punya alasan untuk cerai tanpa merasa bersalah?"

Nayaka tersenyum pahit, kepalanya menggeleng tidak percaya. "Ayah sama Ibu benar-benar sudah buta. Oke, kalau kalian mau aku tanggung jawab, aku akan di sini. Aku akan kasih dia makan, kasih dia tempat tinggal. Tapi jangan harap aku akan menganggap dia istri atau anak itu sebagai darah dagingku sampai aku pegang hasil tes DNA yang membuktikan aku salah."

Tanpa menunggu jawaban, Nayaka berbalik dan melangkah lebar menuju ruang kerjanya, ia lebih memilih tidur di sofa sempit di sana daripada harus satu ranjang dengan wanita yang ia anggap telah mengkhianatinya.

Sementara itu, di dalam kamar yang gelap, Azzura meringkuk di balik pintu yang terkunci. Ia mendengar setiap bentakan Nayaka yang menembus celah pintu. Tangannya secara tidak sadar menyentuh perutnya yang masih rata.

"Kalau ayahmu benar-benar bukan pria yang aku cintai... lalu siapa kamu, Nak?" bisik Azzura dalam hati, merasa asing dengan tubuhnya sendiri, sementara di ruang tamu, orang tua mereka terdiam, menyadari bahwa pernikahan yang mereka coba "selamatkan" kini justru menjadi medan perang yang paling berdarah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!