Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Amira berjalan cukup jauh setelah keluar dari perumahan elit milik mertuanya. Matanya terus menangis tanpa diminta air matanya tak berhenti mengalir. Setiap langkahnya terasa berat. Selama ini ia selalu berusaha berpikir positif mungkin Farhan butuh waktu, mungkin sifatnya memang dingin, mungkin ada hal yang belum ia mengerti. Tapi hari ini, semua harapan itu runtuh seketika.
"Hanya karena kasihan," gumamnya dalam hati, menahan isak yang hendak meledak. "Aku bukan istri yang dicintai. Aku hanya orang yang ditolong dia hanya merasa iba karena aku miskin dan tidak punya orang tua."
Amira tak sanggup lagi berjalan. Hari ini dia tidak melakukan apa pun, namun tenaganya terkuras. Akhirnya, ia memesan ojek online tanpa berpikir panjang. Ia tak ingin lagi datang ke rumah mertuanya sebagai seorang menantu keberadaannya tidak pernah diinginkan. Tak ingin bertemu siapa pun yang menjadi bagian dari rumah itu, terutama Farhan, setidaknya untuk beberapa waktu. Selama perjalanan pulang, ia memandangi jalanan yang berlalu di hadapannya tanpa benar-benar melihatnya. Pikirannya berputar-putar pada setiap kata yang didengarnya tidak cocok dikenalin, menikah tidak harus pakai cinta, aku kasihan padanya.
Sesampainya di rumah, Amara menyambutnya di depan pintu. "Kak, kok cepat pulang? Oleh-olehnya mana? Kenapa wajah Kakak pucat sekali?"
Amira memaksakan senyum tipis, meski matanya masih sembab. "Belum dapat, De. Mereka masih banyak tamu, jadi Kakak pamit pulang aja. Kakak agak pusing, mau istirahat sebentar."
Tanpa menunggu jawaban adiknya, ia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Begitu sendirian, tangisnya meledak. Ia membenamkan wajah di bantal agar suaranya tidak terdengar oleh kedua adiknya. Ia merasa hina, merasa dirinya tidak berharga. Di mata Farhan dan keluarganya, ia hanyalah orang dari kelas bawah yang beruntung mendapatkan tempat tinggal.
Namun di samping rasa sakit yang luar biasa, perlahan muncul perasaan lega. Akhirnya ia tahu kebenaran yang selama ini disembunyikan. Ia tidak perlu lagi menebak-nebak sikap suaminya, tidak perlu lagi berharap sesuatu yang tidak mungkin ada.
**
Sore harinya, Amira dan kedua adiknya pulang ke rumah lamanya. Amira bahkan membawa sebagian baju dan barang-barang miliknya. Cepat atau lambat, dia pasti akan keluar dari rumah milik Farhan rumah itu terasa seperti luka baginya. Amira dan kedua adiknya bagai gelandangan yang diberi tempat tinggal.
“Ternyata seperti ini rasanya dikasihani,” ucap Amira dengan mata berkaca-kaca. Ia terus memasukkan pakaian ke dalam tas miliknya Amira akan melakukannya dengan tenang sampai Farhan tidak menyadari bahwa kebohongannya sudah diketahui.
“Kak, bawaannya banyak banget, kaya mau pindah. Kan kita cuma menginap semalam aja?” tanya Amara, merasa heran dengan tas yang dibawa kakaknya, juga beberapa barang miliknya sendiri.
“Ini barang yang udah nggak dipake. Semua ini kan milik Kakak, jadi mau Kakak bawa ke rumah kita aja. Rumah sebagus ini nggak cocok menyimpan barang bekas milik Kakak,” ucap Amira sambil tersenyum, seolah tak ada beban. Bukan hanya Amira, Ammar pun melakukan hal yang sama.
“Lah, Abang juga bawaannya banyak banget. Kalian berdua kaya mau kabur,” ucap Amara saat melihat tas Ammar yang penuh beserta beberapa bukunya. Spontan, Amira menoleh ke arah Ammar, dan keduanya saling bertatapan. Amira meminta penjelasan lewat tatapan matanya, namun Ammar hanya mengangkat kedua bahunya.
Ammar memang sudah berniat sejak beberapa hari lalu untuk membawa sebagian barang miliknya, sama seperti Amira.
“Kalau mau, kamu juga boleh bawa barang-barang seperti kita, Amara. Minimal barang yang jarang dipakai atau sudah tidak terpakai. Biar nggak berat kalau nanti pindahan,” ucap Ammar.
“Emangnya kita akan pindah dalam waktu dekat, ya? Kalau begitu, tunggu dulu. Aku mau bawa barang-barangku juga,” ucap Amara.
“Bawa barang-barang kita aja, Amara. Jangan milik rumah ini,” canda Ammar.
“Emangnya aku ini pencuri apa!” sahut Amara sewot.
Mereka masing-masing membawa satu tas dan beberapa barang yang sudah tidak terpakai. Saat azan Maghrib berkumandang, mereka tiba di kediaman lamanya. Suasana di lingkungan itu tampak sepi karena sebagian besar warga sedang melaksanakan salat berjamaah atau beristirahat di dalam rumah, sehingga kedatangan mereka tidak menarik perhatian.
Begitu masuk ke rumah sederhana itu, ketiganya langsung merasakan kelegaan, kenyamanan, dan tentunya ketenangan.
Pukul delapan malam, Farhan tiba di rumahnya. Ia mulai menyadari adanya perubahan di sana rumah itu kembali seperti sedia kala. Farhan berpura-pura seolah baru pulang dari perjalanan bisnis, padahal Amira sudah tahu Farhan pulang dari rumah orang tuanya
Rumah itu terasa begitu sepi. Ia masih mengamati dari luar cat dinding sudah kembali seperti semula, lampu terang yang biasanya menyoroti depan pintu masuk kini sudah tidak ada, digantikan lampu temaram seperti dulu. Bunga-bunga di halaman depan pun telah diganti dengan tanaman hijau yang ada sebelumnya.
Farhan merasa heran dan terus memikirkan perubahan itu. Bukankah ia yang sebenarnya menginginkan hal ini, namun mengapa kini terasa begitu janggal? Ia mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Ia sempat berpikir Amira pasti sudah tau Farhan pulang karena sebelumnya mengirim pesan akan pulang malam ini lalu biasanya akan menyambutnya, namun sampai mobil masuk ke garasi, pintu rumah tetap tertutup rapat.
Akhirnya, Farhan mengeluarkan kunci rumah dan membukanya perlahan. Begitu pintu terbuka, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah dinding yang kini polos tanpa bingkai foto. Selama ini, ia selalu merasa risih melihat foto-foto kebersamaannya dengan Amira yang terpasang di sana, bahkan sempat merasa ingin merobeknya. Namun sekarang, foto-foto itu benar-benar telah hilang.
“Ke mana perginya foto-foto yang dipajang Amira? Cat dinding pun diganti, begitu juga lampu di ruangan ini. Ada apa dengan Amira? Bukankah dia yang paling senang merenovasi rumah ini?” gumam Farhan dalam hati. Pertanyaan itu terus berputar di benaknya hingga ia tiba di ruang keluarga, dan hal yang sama terjadi di sana foto-foto itu sudah tidak asa.
Semakin masuk ke dalam, kesunyian itu semakin terasa. Rumah itu terasa dingin, sama seperti sikap pemiliknya. Tidak menemukan Amira di mana pun, Farhan akhirnya menghubungi istrinya melalui telepon.
“Halo, Amira. Kamu di mana?”
Setelah beberapa kali panggilan tidak diangkat, akhirnya Amira mengangkat telepon itu. “Halo, Mas. Aku dan si kembar sedang di rumah lama,” jawabnya sambil berbaring di atas kasur.
“Jam berapa kalian pulang? Aku sudah sampai rumah sekarang.”
“Aku sama si kembar menginap di sini, Mas,” sahut Amira.
“Menginap? Kamu kan tahu aku mau pulang malam ini. Kenapa harus menginap di sana? Apa perlu aku menyusul ke sana?”
“Tidak usah, Mas. Istirahat aja di rumah. Pasti Mas juga merindukan suasana rumah seperti dulu. Begitu juga aku dan kedua adikku, kami merindukan rumah ini.”
Farhan terdiam sejenak, berusaha memahami makna ucapan Amira merindukan suasana rumah seperti dulu. Apa maksudnya?