NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:20.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memetik Badai yang Kau Tabur

Matahari siang itu bersinar terik di atas lokasi proyek pembangunan perumahan baru di kawasan pinggiran Jakarta. Debu-debu tanah kering beterbangan ditiup angin, berbaur dengan suara bising mesin pengaduk semen dan hantaman palu yang bersahut-sahutan. Di sudut area kavling yang sedang dikerjakan, Rendra Wijaya berdiri dengan bangga sembari memegang papan jalan berisi cetak biru bangunan.

​Mengenakan helm keselamatan proyek berwarna kuning dan sepatu bot yang berlumur tanah kering, Rendra merasa hidup kembali. Jabatannya sebagai asisten mandor lapangan mengembalikan sedikit harga dirinya yang sempat terinjak-injak di jalanan. Para pekerja kuli bangunan kini tampak patuh dan menaruh hormat setiap kali Rendra memberikan instruksi atau memeriksa takaran semen.

​Sambil menyeka keringat di dahinya dengan ujung kemeja flanel kotak-kotaknya, Rendra tersenyum tipis. Pikirannya tidak lepas dari kejadian di balik pagar TK Internasional.

"​Abid benar-benar anak yang penurut. Sebentar lagi, anak itu pasti akan mulai menjaga jarak dari si Elang sialan itu," batin Rendra dengan perasaan puas.

​Kebahagiaan kecil karena merasa berhasil menaruh bom waktu di dalam hubungan Rania dan Elang membuat Rendra merasa berada di atas angin. Dia merasa langkah liciknya kemarin adalah awal dari kemenangan besarnya untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Dia tidak sadar bahwa di balik langit yang cerah siang ini, sebuah badai kehancuran yang jauh lebih mengerikan sedang bergerak cepat menuju ke arahnya.

​Tepat pukul satu siang, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik perlahan memasuki area gerbang proyek. Kehadiran kendaraan mewah yang kontras dengan lingkungan proyek yang kotor itu seketika menarik perhatian sang mandor utama, Pak Joko, dan juga Rendra.

​Pintu belakang mobil terbuka, dan melangkah lah Baskara dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan formal. Langkah kakinya yang tegas langsung mengarah menuju ke bedeng utama, tempat Pak Joko sedang beristirahat.

​"Selamat siang. Apakah benar Anda yang bernama Pak Joko, mandor kepala di proyek perumahan ini?" tanya Baskara dengan suara baritonnya yang tenang namun penuh wibawa.

​Pak Joko bergegas berdiri, meletakkan gelas kopi hitamnya dengan agak gugup. "Iya, benar, Pak. Saya Joko. Ada yang bisa saya bantu? Maaf, ini dari pihak investor atau bagaimana ya, Pak?"

​Baskara tidak langsung menjawab. Dia mengeluarkan sebuah kartu nama eksklusif dengan cetakan tinta emas berlogo Danuarta Group, lalu meletakkannya di atas meja kayu bedeng yang berdebu.

​"Saya adalah perwakilan langsung dari Pak Elang Danuarta. Seperti yang Anda ketahui, seluruh pendanaan sekunder untuk proyek pembangunan kompleks perumahan ini berada di bawah naungan anak perusahaan Danuarta Group," ucap Baskara dengan nada dingin yang terstruktur rapi.

​Mendengar nama konglomerat besar itu disebut, wajah Pak Joko seketika memucat karena hormat sekaligus takut. "Ah... iya, Pak! Kami tahu soal itu. Suatu kehormatan besar bagi kami. Apakah ada masalah dengan kualitas bangunan kami, Pak?"

​Rendra yang kebetulan hendak menyerahkan laporan progres harian berjalan mendekati bedeng. Begitu langkah kakinya sampai di ambang pintu kayu, langkahnya mendadak terkunci rapat. Matanya melebar sempurna saat mendengar nama Elang Danuarta berkumandang dari mulut pria berjas hitam di dalam bedeng. Jantung Rendra seketika berdegup kencang, dilingkupi rasa waswas yang hebat.

​"Kualitas bangunan Anda tidak ada masalah, Pak Joko," lanjut Baskara, suaranya sengaja dikeraskan sedikit agar bisa didengar oleh Rendra yang berdiri mematung di luar teras bedeng.

"Namun, pihak Pak Elang Danuarta merasa keberatan dengan salah satu pekerja yang baru saja Anda angkat menjadi asisten mandor lapangan. Pria bernama Rendra Wijaya."

​Deg!

​Tubuh Rendra terasa lemas seketika. Papan jalan yang dipegangnya hampir saja terlepas dari cengkeraman tangannya yang mendadak mendingin dan gemetaran.

​Pak Joko mengernyitkan dahi, bingung. "Lho... si Rendra, Pak? Memangnya ada masalah apa dengan Rendra? Selama ini kerjanya bagus, jujur, dan rajin, Pak. Makanya saya angkat jadi asisten."

​Baskara tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang tidak memiliki kehangatan sama sekali.

"Pak Elang Danuarta memiliki standar moralitas yang sangat tinggi untuk siapa saja yang terlibat di dalam proyek pendanaannya. Kami menemukan rekam jejak bahwa Rendra Wijaya adalah mantan narapidana dan memiliki masalah hukum yang buruk terkait penipuan bisnis di masa lalu. Kehadiran orang seperti dia bisa merusak citra dan legalitas jangka panjang dari proyek perumahan mewah ini."

​Baskara menjeda kalimatnya sejenak, menatap Pak Joko dengan tatapan mata yang mengunci. "Instruksi dari Pak Elang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. Putus kontrak kerja Rendra Wijaya siang ini juga, coret namanya dari daftar pekerja proyek ini, dan pastikan dia tidak menginjakkan kakinya lagi di area ini. Jika dalam waktu tiga puluh menit ke depan pria itu masih ada di sini, Danuarta Group akan menarik seluruh sisa dana investasi untuk proyek ini tanpa sisa."

​Mendengar ancaman penarikan dana investasi yang bernilai miliaran rupiah itu, Pak Joko panik setengah mati. Keringat dingin langsung membanjiri pelipisnya. Bagi seorang mandor, kehilangan dana investasi dari Danuarta Group berarti kiamat bagi kelangsungan seluruh proyek dan nasib ratusan kuli lainnya.

​"Baik, Pak! Baik! Saya paham!" sahut Pak Joko dengan suara bergetar panik. "Siang ini juga, detik ini juga, Rendra Wijaya akan saya pecat secara tidak hormat! Saya tidak mau proyek ini hancur cuma karena satu orang!"

​Rendra yang mendengar keputusan itu dari luar bedeng merasa seperti disambar petir di siang bolong. Rasa bahagia, bangga, dan ego yang baru saja ia bangun dengan susah payah selama dua bulan ini, hancur berkeping-keping dalam hitungan menit hanya dengan satu kibasan tangan dari Elang Danuarta.

​Dengan kemarahan yang membakar dada, Rendra nekat menerobos masuk ke dalam bedeng. "Pak Joko! Gak bisa gitu dong, Pak! Saya udah kerja keras di sini dari pagi sampai malam! Ini gak adil! Ini pasti taktik licik si Elang buat menyingkirkan saya!" teriak Rendra dengan wajah memerah, matanya melotot menatap Baskara.

​Baskara membalikkan badannya dengan sangat tenang. Menatap Rendra dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang penuh penghinaan halus, seolah sedang melihat seekor tikus selokan yang tidak berdaya.

​"Adil?" ucap Baskara dengan nada suara yang merendahkan. "Pak Rendra Wijaya... Anda harus ingat satu hal. Ketika Anda nekat menyelinap di balik pagar sekolah TK Internasional kemarin siang untuk mengusik ketenangan batin Abid, Anda sudah memilih untuk memetik badai dalam hidup Anda sendiri."

​Mendengar kalimat Baskara yang tepat sasaran itu, lidah Rendra seketika kelu. Seluruh keberaniannya menguap entah ke mana, digantikan oleh rasa ngeri yang menjalar ke seluruh tulang rusuknya. Dia tidak menyangka bahwa aksinya yang ia kira sangat rahasia di sekolah kemarin, bisa diketahui oleh Elang dalam waktu yang sangat singkat.

​"Pak Elang tahu setiap jengkal pergerakan Anda, Rendra," bisik Baskara tepat di samping telinga Rendra sebelum melangkah pergi meninggalkan bedeng. "Ini baru permulaan kecil karena Anda sudah berani menyentuh miliknya. Selamat menikmati kembali jalanan yang dingin."

​"Rendra! Lepas helm kamu, kembalikan papan jalan itu, dan pergi dari proyek saya sekarang juga! Jangan bikin saya rugi!" bentak Pak Joko tanpa perasaan, langsung mendorong bahu Rendra keluar dari bedeng.

​Siang itu, di bawah terik matahari yang membakar kulit, Rendra berjalan gontai keluar dari gerbang proyek sembari menuntun sepeda motor bebek sekennya. Helm kuningnya sudah disita, pekerjaannya sudah hilang, dan impiannya untuk bangkit hancur berantakan. Rasa kasihan pada dirinya sendiri kini bercampur dengan ketakutan yang luar biasa terhadap sosok Elang Danuarta yang seperti bayangan maut yang siap menghancurkan sisa-sisa napas hidupnya kapan saja.

1
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
akhirnya mereka di penjara
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
walau jauh bisa memantau lewat cctv
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!