Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPULANGAN SANG PANGLIMA
Pagi tiba di Perbatasan Utara.
Sinar matahari menyelimuti markas pertahanan yang selama ini menjadi tempat Gu Yanran dan pasukannya menjaga wilayah kekaisaran.
Hari ini adalah hari kepulangan.
Di halaman utama markas, seratus prajurit pilihan telah berkumpul dengan perlengkapan lengkap. Kuda-kuda perang sudah disiapkan. Barang bawaan telah dirapikan.
Gu Yanran berdiri di depan mereka.
Baju zirah peraknya memantulkan cahaya pagi.
Tatapannya menyapu seluruh pasukan.
“Apa semuanya sudah siap?”
Seratus prajurit segera menjawab serempak.
“Sudah siap, Panglima!”
Gu Yanran mengangguk.
Kemudian ia menoleh ke salah seorang perwira.
“Bagaimana dengan Zhao Lie?”
Perwira itu segera maju.
“Lapor, Panglima.”
“Lukanya sudah diobati.”
“Kami juga sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian pasukan pengangkut logistik agar tidak menarik perhatian selama perjalanan.”
Gu Yanran mengangguk puas.
“Kerja bagus.”
Zhao Lie masih dibutuhkan.
Informasi yang ia bawa terlalu penting.
Jika berita bahwa pemimpin bandit masih hidup tersebar, bukan tidak mungkin akan ada pihak yang mencoba membungkamnya sebelum mereka tiba di ibu kota.
Setelah memastikan semuanya siap, Gu Yanran mengangkat tangan.
“Berangkat.”
“Siap!”
Pasukan mulai bergerak.
Gerbang markas perlahan dibuka.
Namun tepat saat mereka keluar—
seluruh pasukan berhenti.
Di luar gerbang…
ribuan penduduk ternyata sudah berkumpul.
Laki-laki.
Perempuan.
Orang tua.
Anak-anak.
Mereka berdiri memenuhi jalan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada keributan.
Hanya tatapan penuh rasa hormat.
Seorang pria tua melangkah maju.
Kemudian membungkuk.
“Panglima Gu…”
“Terima kasih atas semua yang telah Anda lakukan.”
Satu kalimat itu seperti pemicu.
Orang-orang mulai ikut berbicara.
“Terima kasih, Panglima!”
“Karena Anda kami bisa tidur dengan tenang!”
“Terima kasih telah melindungi kami!”
“Semoga perjalanan Anda aman!”
Para prajurit sedikit terkejut.
Mereka tidak menyangka penduduk akan datang sebanyak ini.
Gu Yanran sendiri terlihat diam.
Tatapannya menyapu kerumunan.
Lalu ia turun dari kudanya.
Langsung berjalan mendekati mereka.
Semua orang menjadi semakin gugup.
Seorang pandai besi tua membawa sebuah kotak kayu.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia berhenti di depan Gu Yanran.
“Panglima…”
Gu Yanran memandangnya.
“Ada apa?”
Pandai besi itu membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah pedang.
Sarungnya sederhana.
Namun dibuat dengan sangat rapi.
Bilahnya tampak kuat namun elegan.
Pandai besi itu menunduk.
“Aku tahu Anda tidak pernah mau menyusahkan rakyat…”
“Tapi kali ini…”
Ia menarik napas.
“Ini hadiah dari kami.”
“Kami tidak tahu kapan Anda akan kembali.”
“Tolong terimalah.”
Suasana menjadi sunyi.
Gu Yanran memandang pedang itu beberapa saat.
Kemudian mengambilnya.
Ia menghunus sedikit.
Kilatan cahaya muncul di permukaan bilah.
Gu Yanran tersenyum tipis.
Senyum yang jarang terlihat.
“Terima kasih.”
“Pedang ini sangat indah.”
Pandai besi tua langsung tersenyum bahagia.
Penduduk lain ikut tersenyum.
Bagi mereka
pedang itu bukan sekadar senjata.
Itu adalah rasa terima kasih.
Gu Yanran memasukkan kembali pedang tersebut.
Kemudian berkata pelan.
“Jaga diri kalian.”
“Teruskan kehidupan dengan baik.”
“Jangan biarkan wilayah ini kembali jatuh ke dalam ketakutan.”
Semua orang mengangguk.
“Hati-hati di jalan, Panglima Gu!”
Gu Yanran menaiki kudanya.
Kemudian pasukan mulai bergerak.
Penduduk berdiri di sepanjang jalan.
Mengantar mereka hingga perlahan menghilang di kejauhan.
—
Sementara itu.
Jauh di ibu kota.
Di Aula Kekaisaran.
Sidang pagi telah selesai.
Para pejabat satu per satu meninggalkan ruangan.
Tak lama kemudian hanya tersisa dua orang.
Kaisar.
Dan kasim kepala.
Kaisar masih duduk di singgasananya.
Tatapannya tenang.
Namun sorot matanya sulit dibaca.
Beberapa saat kemudian ia berbicara.
“Anak itu cukup hebat.”
Kasim menunduk.
“Yang Mulia sedang membicarakan Panglima Gu?”
Kaisar tersenyum kecil.
“Tidak sampai satu bulan.”
“Dia sudah membereskan semuanya.”
Jarinya mengetuk pelan sandaran kursi.
Tatapannya perlahan menjadi dingin.
Kasim memperhatikan perubahan itu.
Lalu bertanya hati-hati.
“Kalau begitu… apa rencana Yang Mulia sekarang?”
Kaisar diam sesaat.
Kemudian tersenyum.
“Tunggu saja.”
“Saatnya akan tiba.”
Kasim tidak berani bertanya lagi.
Namun firasat buruk mulai muncul di hatinya.
—
Tak lama kemudian.
Suara langkah terdengar dari luar aula.
Mo Chen masuk.
Ia memberi hormat.
“Ananda memberi salam kepada Yang Mulia.”
Kaisar mengangguk.
“Berdirilah.”
Mo Chen berdiri.
“Tugas yang Yang Mulia berikan sudah selesai.”
“Sekarang ananda tidak memiliki urusan lain.”
Kaisar memandangnya.
“Tunggu sebentar.”
Mo Chen mengangkat alis.
“Ada perintah lain?”
Ia terdiam sesaat.
Lalu berkata dengan tenang.
“Ananda tahu.”
Kaisar sedikit tertarik.
“Tahu apa?”
Mo Chen tersenyum tipis.
“Yang Mulia sengaja memberikan pekerjaan sebanyak itu.”
“Agar ananda tidak pergi ke Perbatasan Utara.”
Ruangan menjadi sunyi.
Kasim langsung menunduk.
Mo Chen melanjutkan.
“Sekarang Nona Gu akan segera kembali.”
“Jadi Yang Mulia tidak perlu lagi memberi pekerjaan tambahan yang tidak perlu kepada ananda.”
Kaisar menatapnya cukup lama.
Lalu tersenyum.
Dalam hati ia sedikit terkejut.
Anak ini…
ternyata jauh lebih peka dari yang ia perkirakan.
Namun selama ini selalu menyembunyikannya.
Kaisar mengangguk.
“Kau boleh pergi.”
Mo Chen memberi hormat.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Kemudian ia berbalik pergi.
Kaisar terus menatap punggungnya.
Lalu bergumam pelan.
“Kalau saja…”
“Dia menunjukkan kemampuan dan wibawa seperti ini sejak dulu…”
“Mungkin dia punya kesempatan.”
Kasim yang mendengar itu langsung terkejut.
Ia menunduk semakin dalam.
Namun tetap memberanikan diri berbicara.
“Yang Mulia…”
“Kalau begitu…”
“Bukankah masih bisa dipertimbangkan?”
“Apalagi sekarang Pangeran Ketiga sangat dekat dengan Jenderal Gu Zhengyuan.”
Kaisar menutup mata.
Lalu melambaikan tangan.
“Sudah.”
Kasim langsung diam.
—
Tidak lama kemudian.
Saat berjalan keluar aula
kasim itu berpapasan dengan Permaisuri.
Permaisuri menghentikannya.
“Apa yang dibicarakan Yang Mulia tadi?”
Kasim ragu.
Namun akhirnya menjawab.
Ia menceritakan percakapan sebelumnya.
Setelah selesai—
Permaisuri tetap terlihat tenang.
Tidak ada perubahan di wajahnya.
Namun tatapannya menjadi lebih dalam.
“Baik.”
“Kau boleh pergi.”
Kasim segera mundur.
Setelah ruangan kosong
Permaisuri memanggil pelayan.
“Pergi.”
“Panggil Pangeran Pertama.”
“Suruh dia segera menghadap.”
“Baik, Yang Mulia.”
—
Tak lama kemudian.
Pangeran Pertama tiba.
Ia memberi hormat.
“Salam kepada Ibunda Permaisuri.”
Permaisuri memandangnya lama.
Lalu berkata tenang.
“Apakah kau tahu kenapa aku memanggilmu?”
Pangeran Pertama sedikit bingung.
“Ada apa, Ibunda?”
Permaisuri menatapnya tanpa berkedip.
“Yang Mulia Kaisar…”
“Mulai memperhatikan orang lain.”
Tatapan Pangeran Pertama berubah.
Permaisuri melanjutkan.
“Dan orang itu adalah Pangeran Ketiga.”
Ruangan menjadi sunyi.
Pangeran Pertama perlahan mengepalkan tangan.
Permaisuri berkata pelan.
“Kalau kau tidak ingin kehilangan posisi…”
“Mulailah bergerak.”
Tatapan Pangeran Pertama berubah dingin.
Ia mengerti maksud ibunya.
Mo Chen…
yang selama ini dianggap tidak berbahaya…
sekarang mulai menjadi ancaman.
Dan di istana begitu seseorang dianggap ancaman
semuanya tidak akan pernah sesederhana lagi.