Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.
Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Hadiah untuk pemenang
Diaken kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Inilah pemenang kompetisi tahun ini! Huang! Murid dari Tetua Mo!"
Sorak-sorai kembali mengguncang seluruh pelataran. Suara para murid luar bercampur menjadi satu, sebagian penuh kekaguman, sebagian lagi masih sulit mempercayai hasil yang terjadi hari ini.
Murid baru yang beberapa bulan lalu bahkan tidak dikenal siapa pun... kini berdiri di puncak kompetisi murid luar.
Huang menangkupkan kedua tangannya ke arah panggung utama.
"Murid memberi salam kepada Pemimpin Sekte dan para Tetua."
Pemimpin sekte, Yun Guicheng mengangguk pelan. Tatapannya tetap tenang, namun kali ini lebih lama tertuju pada Huang. Tetua Wushuang juga tampak puas. Tetua Mo kembali bersandar santai sambil meneguk araknya, mengacungkan jempolnya lagi.
Di tempat duduk murid dalam, Dhu Yan berdiri perlahan. Tatapannya dingin saat memandang Huang sekali terakhir, lalu dia berbalik dan pergi meninggalkan pelataran tanpa mengucapkan apa pun.
Namun di dalam hatinya, niat membunuh perlahan tumbuh semakin dalam.
Huang memang menang hari ini. Akan tetapi setelah memasuki sekte bagian dalam... kesempatan untuk bergerak akan jauh lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
Diaken kembali melangkah ke tengah arena. Di tangannya kini terdapat tiga baki batu giok yang dibawa oleh beberapa murid sekte. Energi spiritual samar menguar dari benda-benda di atas baki tersebut.
"Penyerahan hadiah dimulai!"
Semua murid langsung kembali tenang.
Diaken memandang Ning Su terlebih dahulu. "Posisi kedua, Ning Su!"
Ning Su berjalan maju dengan wajah dingin seperti biasa. Jubahnya masih memiliki bekas luka pertarungan sebelumnya, namun langkahnya tetap tenang. Diaken mengangkat kantung penyimpanan kecil berwarna hijau.
"Seratus batu roh tingkat rendah."
Ning Su menerima kantung itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Tetua."
Setelah itu dia mundur kembali.
Diaken kemudian memandang Huang. "Posisi pertama... Huang!"
Huang segera maju ke depan arena. Semua mata kembali tertuju kepadanya.
Di atas baki batu giok terdapat satu botol pil berwarna hitam, satu kantung penyimpanan kecil, dan satu lagi kantung berwarna biru tua.
Diaken berbicara dengan suara berat. "Hadiah posisi pertama. Satu Pil Pembentukan Fondasi. Seratus batu roh tingkat rendah. Dan dua puluh batu roh tingkat menengah."
Riuh rendah langsung terdengar di antara para murid luar.
"Dua puluh batu roh tingkat menengah?!"
"Itu setara ratusan batu roh rendah!"
"Pil Pembentukan Fondasi juga..."
Bahkan beberapa murid dalam memandang hadiah itu dengan mata serius. Untuk seorang kultivator Ranah Fana Tahap Kesempurnaan Agung, hadiah tersebut sangat besar.
Huang menerima seluruh hadiah itu dengan kedua tangan. "Terima kasih, Tetua."
Setelah itu, Huang menyimpan semua hadiah ke dalam cincin ruangnya.
Diaken lalu mengibaskan lengan bajunya. "Kompetisi murid luar tahun ini resmi selesai!"
Sorak-sorai terdengar sekali lagi sebelum perlahan seluruh murid mulai bubar. Para murid luar masih membicarakan pertarungan Huang tanpa henti. Banyak yang memandang Huang dengan kagum saat melewatinya. Sebagian bahkan menangkupkan tangan lebih dahulu memberi salam.
Huang membalas semuanya dengan sopan.
Tidak lama kemudian Tetua Mo berjalan menghampiri dengan kendi arak di tangannya. Tatapan lelaki tua itu tampak biasa saja, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Jangan berdiri seperti orang bodoh. Tubuhmu hampir penuh luka."
Tetua Mo melemparkan satu botol pil kecil ke arah Huang.
Huang segera menangkapnya. "Guru, ini..."
"Pil pemulihan luka. Pergilah ke balai pengobatan. Besok sebelum pergi ke sekte bagian dalam, temui aku sebentar."
Huang menangkupkan kedua tangannya. "Baik, Guru."
Tetua Mo mengangguk pelan, lalu mengibaskan lengannya. Keempat gelang yang terbenam dilantai segera masuk kedalam cincin ruang miliknya. Setelah itu dia berjalan pergi sambil meneguk araknya lagi.
Tidak lama setelah itu Lei Shan dan Luo Mei datang mendekat.
Lei Shan tertawa kecil sambil memukul bahu Huang perlahan. "Kau benar-benar membuat keributan besar hari ini."
Huang meringis kecil karena luka di tubuhnya masih terasa nyeri. "Maaf membuat Kakak Senior khawatir."
Luo Mei memandang luka di punggung Huang lalu berkata datar. "Kalau terus berdiri di sini, darahmu akan habis."
Lei Shan mengangguk cepat. "Ayo. Kami antar kau ke balai pengobatan."
Huang tidak menolak. "Terima kasih."
Mereka bertiga segera berjalan meninggalkan pelataran. Di sepanjang perjalanan, banyak murid luar menatap Huang dengan kagum. Bahkan beberapa murid perempuan diam-diam memperhatikannya lebih lama.
Namun Huang tidak terlalu memedulikan hal-hal seperti itu. Pikirannya masih mengingat pertarungan tadi.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di balai pengobatan sekte luar. Aroma berbagai ramuan memenuhi udara. Beberapa tabib sekte segera berjalan menghampiri saat melihat kondisi Huang.
"Sangat parah."
"Luka di punggung hampir menyentuh tulang."
"Belati itu juga cukup dalam."
Huang segera dibawa menuju sebuah bilik pengobatan. Beberapa tabib mulai membersihkan darah di tubuhnya dengan cairan ramuan khusus. Luka-lukanya diobati dengan sangat teliti. Ramuan hijau pekat dioleskan ke punggung dan perutnya, menghasilkan rasa panas menusuk.
Huang hanya mengerutkan dahinya tanpa mengeluh.
Setelah seluruh pengobatan selesai, Huang duduk bersila di atas dipan kayu di dalam bilik. Dia mengeluarkan pil pemberian Tetua Mo, lalu langsung menelannya.
Pil itu berubah menjadi aliran hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Huang segera bermeditasi untuk melarutkan khasiat obat tersebut. Waktu berlalu perlahan.