Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan itu lagi..
Menikmati malam minggu yang bertabur bintang di langit, Hana bersantai di balkon lantai dua yang berada di dekat kamar Luca.
Malam ini begitu sepi, hanya ditemani hembusan angin yang mengingatkannya ketika ia berada di Swiss beberapa bulan yang lalu.
Mengenang Swiss, ia baru mengingat kartu nama yang diberikan oleh Nolan. Ia bergegas turun ke lantai bawah menuju kamarnya untuk mencari kartu nama tersebut.
Setelah menggeledah beberapa pakaian dan tasnya, akhirnya ia menemukan kartu nama tersebut di saku salah satu sweater miliknya, kemudian ia menatap sejenak kartu nama berwarna biru tersebut dan menyimpannya ke dalam dompet.
Ponselnya bergetar panjang, sebuah panggilan masuk nomor baru.
Sudah beberapa bulan ia memblokir nomor ayah dan adiknya, hingga mereka mengganti nomor telepon namun kembali Hana memblokirnya.
Ia memutuskan untuk tak lagi menerima telepon dari mereka yang hanya memeras dirinya.
Hana ingin hidup tenang walaupun masih berusaha membayar lunas hutang ayahnya, untuk terakhir kalinya dirinya membantu sang ayah yang tak pernah peduli padanya.
"Hana."
Luca memanggil perempuan muda yang tinggal bersamanya, di tangannya membawa ayam goreng yang ia beli di restaurant yang dilewatinya ketika pulang.
Langkahnya perlahan menuju kamar yang berada di ruang tengah. Ia membuka pintu kamar yang tak terkunci dan mengintip ke dalam kamar yang diterangi lampu tidur.
Di atas ranjang terlihat Hana yang terlelap menggunakan gaun tidur yang cukup manis berwarna ungu muda membuatnya terlihat seperti remaja.
Luca menutup pintu dengan perlahan agar tak membuat Hana terbangun.
Lalu menyimpan ayam goreng yang ia beli di atas meja makan kemudian naik ke lantai dua untuk bersiap tidur.
Jam dua dini hari, Hana terbangun karena haus. Tangannya membuka pintu kamar dan berjalan menuju dapur sembari mengucek mata yang terasa perih.
Dirinya tak memperhatikan Luca yang sedang menyesap kopi di meja makan memperhatikan dirinya.
"Astaga!" Hana terkejut ketika berbalik mendapati Luca yang menatapnya dalam diam.
"Anda sedang minum kopi, tuan?"
"Apa aku terlihat sedang berenang, Hana?"
Perempuan bersurai hitam itu menggeleng.
"A-anda belum tidur, tuan?"
"Kau tidak buta, kan?" Hana melipat bibirnya ke dalam. Tak tahu harus berbasa-basi apa lagi agar tak canggung.
"Kemari." Hana mendekat ke arah Luca.
"Makan itu."
Hana melirik sebuah kotak yang bergambar ayam goreng dengan merk terkenal.
"Kau tidak mau?"
"Kau sedang menjalani proses diet?" Hana menggeleng mantap.
"Saya mau. Terima kasih." Hana mengambil kotak tersebut dan langsung memakannya di depan Luca.
"Anda ingin ini Tuan?"
Hana menyerahkan satu potong ayam goreng ke arah Luca yang memandangnya saat ia mencoba menghabiskan ayam tersebut.
"Tidak, aku sudah kenyang. Habiskan itu."
"Baik, tuan."
Hana tanpa malu mencoba menghabiskan semua ayam tersebut.
"Berapa umurmu?"
"Saya?" Beo Hana.
"Apa ada selain kau dan aku di sini?"
"21 tahun, tuan. Sepertinya anda mengetahui itu."
"Aku tak punya waktu penting untuk hal remeh seperti itu."
Hana hanya mengangguk, mulutnya tersumpal ayam goreng yang begitu lezat meskipun sudah dingin.
"Kau masih punya orang tua?"
"Tinggal ayah. Ibuku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu."
"Oh, maaf." Yang sebenarnya Luca sudah mengetahui semua hal tentang Hana, ia hanya ingin lebih dekat dengan perempuan yang sulit ia taklukan ini.
"Tak apa, tuan."
"Kau sepertinya sangat menyukai itu."
Hana mengangguk pelan.
"Apa cita-citamu, Hana?" Ucapan Luca sukses membuat Hana berhenti mengunyah untuk berpikir sejenak.
"Menjadi orang kaya."
Luca tertarik dengan ucapan Hana.
"Kenapa kau ingin menjadi orang kaya?"
"Karena kupikir aku bisa mengendalikan apapun dengan uang." Hana mengangkat bahu asal, ia tak begitu tahu tujuan sebenarnya ingin menjadi kaya.
"Lalu kenapa kau mempunyai hutang sebesar dua milyar?"
"Itu karena anda."
"Apa?"
"Jika anda tak mengurusi urusan saya, hutang saya hanya beberapa ratus juta."
"Dan kau baru bisa membayarnya seperdelapan."
"Dan anda membuatnya menjadi nol." Hana mengerucutkan bibir.
Luca terkekeh pelan.
"Kau tidak menggunakan kesempatan emas."
"Harga diri saya lebih dari itu, tuan."
"Ya, setidaknya dirimu memiliki harga diri."
Sekilas Hana melirik cincin yang berada di jari telunjuk Luca.
"Oh, ini cincin pemberian mendiang ibuku."
Luca seperti paham arti tatapan Hana terhadap benda yang melingkar di jarinya.
"Ibuku mengatakan bahwa cincin ini membawa keberuntungan. Dia memberikannya ketika aku berulang tahun yang ke 17 tahun."
"Anda memiliki keberuntungan itu, Tuan."
"Benarkah?"
"Ya, doa mendiang ibu anda menyertai perjalanan anda."
Luca sedikit tak nyaman jika membicarakan tentang mendiang ibunya.
"Aku akan tidur, besok kau tak perlu membuatkan sarapan. Nikmati hari liburmu."
"Terima kasih, Tuan." Hana menatap punggung Luca yang meninggalkannya di meja makan.
Sesuai dengan ucapan Luca, Hana benar-benar menikmati waktu liburnya dengan berjalan-jalan di sekitar kawasan apartemen.
Ia memilih masuk ke kedai yang berada tak jauh dari gedung tinggi tersebut untuk memesan kopi dan camilan.
Sedang asyik menikmati secangkir kopi, ia dikejutkan dengan sapaan dari seorang pria yang menghampirinya.
"Hana?" Maniknya menelisik pria tersebut sebelum ia terkejut.
"Tuan?"
Pria tersebut tertawa kecil dan duduk di depan Hana tanpa izin.
"Aku tak menyangka ini kau, Hana."
Perempuan bergaun biru selutut tersebut diam memperhatikan pria di depannya.
"Apa kau tinggal di sana setelah mendapatkan uang yang banyak?" Pria tersebut menunjuk gedung apartemen yang Hana tinggali.
"Ya, tuan. Saya bekerja di salah satu unit."
"Bekerja?"
Hana mengangguk.
"Sebagai pembantu."
Mulut pria tersebut membulat menandakan ia paham atas ucapan Hana.
"Bagaimana kabar anda, tuan?"
"Aku baik, seperti yang kau lihat." Senyum cerah tak luntur dari bibirnya.
"Kulihat hidupmu sepertinya lebih baik setelah bertemu denganku."
"Berkat anda, Tuan. Saya mengakui itu." Hana tak sulit untuk mencari alasan lain, Nolan seakan memberinya jalan.
"Aku pikir kau menjadi simpanan seorang pengusaha. Hahaha."
"Apapun yang anda pikirkan, Tuan."
"Woo.. Kau begitu kaku, Hana."
Ia hanya mengedikkan bahu asal. Nolan seperti enggan untuk pergi
"Aku tinggal di sana, sering melihatmu keluar-masuk gedung."
"Ah, begitu." Hana sedikit tak suka jika dirinya satu gedung dengan Nolan.
"Kupikir kau membeli salah satu unit."
"Apa anda masih bepergian, Tuan?" Hana mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya! Itu bagian dari diriku, Hana." Pria tersebut tertawa kecil. Hana mengira suasana hati Nolan sedang bagus.
"Tapi kau tahu. Mereka tak sebaik dirimu melayaniku."
Hana mengernyitkan keningnya, kata-kata Nolan bisa terdengar ambigu bagi orang yang mendengarnya.
"Mereka hanya ingin uang dan kepuasan dariku."
"Benarkah?"
Nolan mengangguk.
"Itu hal yang sepadan, kan? Kami menemani anda dan menerima bayarannya."
Nolan seperti tak peduli.
"Aku rindu masakanmu, Hana."
"Saya tak pandai memasak."
"Tapi itu makanan yang enak dan membuatku rindu."
"Lain waktu kau bisa memasak untukku, kan?" Nolan menyentuh tangan Hana yang berada di atas meja, gadis itu menarik perlahan agar tak menyinggung Nolan.