NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu dari Kota Lain

Tiga hari telah berlalu sejak Xiao Chen muncul dari retakan ruang.

Dalam tiga hari itu, Sekte Awan Kelabu berubah. Bukan secara fisik—bangunannya tetap sama, paviliun kayu dengan atap genting biru yang kusam, halaman berdebu tempat para murid berlatih setiap pagi. Tapi suasananya berbeda. Ada sesuatu di udara. Sesuatu yang membuat para murid datang lebih pagi, berlatih lebih keras, dan—terutama para murid perempuan—merapikan penampilan mereka dengan lebih teliti.

Alasannya sederhana: Xiao Chen.

Setiap pagi, pemuda berambut putih itu muncul di beranda paviliun. Dia duduk di sana, memangku gulungan-gulungan yang dipinjamkan Wei Zhen, matanya yang ungu keemasan bergerak cepat menyerap setiap kata. Kadang-kadang dia berhenti, menatap langit seolah memikirkan sesuatu, lalu melanjutkan membaca. Dia tidak ikut berlatih. Dia tidak membentuk segel atau mengumpulkan Qi. Dia hanya... membaca. Dan entah bagaimana, kehadirannya saja sudah membuat seluruh sekte terasa lebih hidup.

"Hari ini dia membaca Gulungan Sejarah Alam Fana," bisik Lan Yue pada Wei Ling saat mereka beristirahat di sudut halaman. "Kemarin dia selesai dengan Gulungan Klasifikasi Binatang Buas. Dan kemarinnya lagi, Gulungan Geografi Benua Tengah."

Wei Ling mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil. "Ayah bilang dia membaca tiga gulungan dalam sehari. Dan dia mengingat semuanya."

"Itu tidak normal."

"Aku tahu."

Mereka berdua menatap Xiao Chen yang sedang duduk di beranda. Angin pagi mengibaskan rambut putihnya, menciptakan efek seperti salju yang menari. Jubah putihnya yang sederhana berkibar pelan.

"Apa dia benar-benar tidak ingat apa pun?" tanya Lan Yue.

"Dia ingat namanya. Dan dia tahu dia memiliki kekuatan. Tapi selain itu..." Wei Ling menggeleng. "Dia seperti anak kecil yang baru lahir ke dunia. Hanya saja dia membaca seperti orang gila."

"Anak kecil?" Lan Yue mendengus. "Dengan wajah seperti itu?"

Wajah Wei Ling memerah. "Itu... itu tidak relevan."

"Oh, sangat relevan." Lan Yue menyeringai. "Kau sudah tiga kali hampir menjatuhkan pedang latihan setiap kali dia melihat ke arah kita."

"Aku tidak—"

"Pagi."

Suara itu datang dari belakang mereka. Kedua gadis itu berbalik dengan kecepatan yang hampir menyebabkan cedera leher.

Xiao Chen berdiri di sana, gulungan di tangannya sudah digulung rapi. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya. "Aku tidak bermaksud mengganggu istirahat kalian. Aku hanya ingin bertanya sesuatu."

"Ti-tidak mengganggu sama sekali!" Lan Yue menjawab terlalu cepat. "Apa yang ingin kau tanyakan?"

Xiao Chen mengangkat gulungannya. "Aku membaca tentang sekte-sekte di Benua Tengah. Ada yang disebut Sekte Pedang Langit—sek menengah yang berjarak sekitar tiga hari perjalanan dari sini. Apa kalian tahu tentang mereka?"

Wei Ling dan Lan Yue bertukar pandang.

"Sekte Pedang Langit," ulang Wei Ling. "Mereka sekte menengah. Ketua mereka, Su Yunjian, berada di Tahap Transformasi Dewa tingkat 3. Mereka memiliki lebih dari lima ratus murid. Dibandingkan dengan mereka, Sekte Awan Kelabu..." Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Kita seperti semut," Lan Yue menyelesaikan dengan nada datar. "Mereka bisa menghancurkan kita kapan saja jika mereka mau. Tapi mereka tidak akan repot-repot. Kita terlalu kecil."

Xiao Chen mengangguk pelan. "Lalu bagaimana hubungan antara sekte kecil dan sekte menengah?"

"Kita membayar upeti," jawab Wei Ling. "Setiap tahun, kami mengirimkan dua ratus Batu Spiritual Menengah ke Sekte Pedang Langit sebagai tanda pengakuan. Sebagai gantinya, mereka tidak mengganggu kita."

"Itu tidak adil," kata Xiao Chen.

"Itu realita." Suara Wei Zhen tiba-tiba terdengar. Tetua itu berjalan ke arah mereka, wajahnya serius. "Sekte kecil tidak bisa bertahan tanpa perlindungan sekte yang lebih besar. Dan perlindungan itu ada harganya."

Xiao Chen menatap Wei Zhen dengan saksama. "Lalu bagaimana sekte kecil bisa menjadi lebih besar?"

"Bakat. Sumber daya. Keberuntungan." Wei Zhen menghitung dengan jarinya. "Kau butuh murid-murid berbakat yang bisa naik tingkat dengan cepat. Kau butuh pil dan artefak untuk mendukung kultivasi mereka. Dan kau butuh keberuntungan—menemukan warisan kuno, mendapatkan pelindung kuat, atau menemukan sumber daya langka." Dia menghela napas. "Kami tidak memiliki semua itu. Jadi kami tetap kecil."

Xiao Chen merenung sejenak. "Berapa banyak murid di sekte ini yang memiliki potensi untuk naik ke Pendirian Fondasi sebelum usia tiga puluh tahun?"

Wei Zhen menatapnya aneh. "Hanya Wei Ling dan Feng Mo. Mungkin satu atau dua lagi jika mereka berlatih sangat keras."

"Dan berapa banyak yang berhasil naik dalam kenyataannya?"

"..." Wei Zhen terdiam. "Belum tentu ada."

"Hm." Xiao Chen menyimpan gulungannya di balik lengan jubah. "Kalau begitu, aku akan membantu."

"Kau akan—apa?"

Tapi sebelum Xiao Chen bisa menjawab, suara bel berdentang dari gerbang depan.

Seorang murid berlari ke halaman, napasnya tersengal. "Tetua! Ada tamu dari Kota Hutan Hijau! Mereka membawa kereta dan bendera... bendera Sekte Kayu Suci!"

Wajah Wei Zhen langsung berubah tegang. "Sekte Kayu Suci? Kenapa mereka datang?"

"Aku tidak tahu, Tetua. Tapi mereka meminta bertemu denganmu."

Wei Zhen menarik napas panjang. "Wei Ling, kumpulkan murid-murid senior di aula utama. Feng Mo, siapkan teh dan makanan ringan. Cepat."

Semua orang bergerak cepat. Kecuali Xiao Chen, yang tetap berdiri di tempatnya.

"Apa Sekte Kayu Suci itu?" tanyanya.

"Sekte kecil lain dari kota tetangga," jawab Wei Zhen pelan. "Mereka satu tingkat dengan kita. Tapi ketua mereka, Qin Wuya, berada di Tahap Pendirian Fondasi tingkat 9—dua tingkat di atasku. Hubungan kita... tidak selalu baik."

"Kenapa?"

"Karena mereka menginginkan wilayah kami. Kota Kayangan Awan berada di jalur perdagangan yang menghubungkan perbatasan dengan pusat benua. Selama dua puluh tahun terakhir, mereka sudah tiga kali mencoba memaksa kami untuk bergabung dengan mereka."

"Dan kau menolak."

"Tentu saja aku menolak. Sekte Awan Kelabu sudah berdiri di sini selama tiga ratus tahun. Aku tidak akan menyerahkannya begitu saja." Wei Zhen mengepalkan tangannya. "Tapi jika Qin Wuya datang sendiri... dia mungkin membawa sesuatu yang baru."

Xiao Chen mengamati ekspresi Wei Zhen. Di balik ketegasan itu, ada kelelahan—kelelahan seorang pemimpin yang terus-menerus harus melindungi yang dimilikinya dari mereka yang lebih kuat.

"Aku akan ikut," kata Xiao Chen.

Wei Zhen menatapnya. "Kau bukan anggota sekte ini. Kau tidak perlu terlibat."

"Aku tahu. Tapi aku sudah tinggal di sini selama tiga hari. Dan aku sudah mendapat banyak bantuan." Xiao Chen tersenyum—senyum yang hangat tapi entah bagaimana membuat Wei Zhen merasa sedikit lebih aman. "Anggap saja ini caraku membalas budi."

Aula utama Sekte Awan Kelabu adalah ruangan terbesar di paviliun. Lantainya dari kayu keras yang sudah licin dimakan waktu. Di dindingnya tergantung spanduk-spanduk kaligrafi dengan karakter-karakter motivasi—"Ketekunan", "Kesabaran", "Kekuatan". Sebuah meja panjang di tengah ruangan dikelilingi bantal-bantal duduk.

Saat Wei Zhen dan Xiao Chen memasuki aula, para tamu sudah menunggu.

Ada lima orang dari Sekte Kayu Suci. Yang berdiri di depan adalah seorang pria berusia pertengahan—mungkin sekitar lima ratus tahun, tapi tampak seperti empat puluhan—dengan jubah hijau dan pedang di pinggang. Janggutnya rapi, matanya tajam, dan auranya jelas lebih kuat dari Wei Zhen. Ini pasti Qin Wuya, ketua Sekte Kayu Suci.

Di belakangnya berdiri empat murid: dua laki-laki berbadan kekar, dan dua perempuan.

Salah satu perempuan itu langsung menarik perhatian Xiao Chen.

Dia berbeda dari yang lain. Rambutnya hitam panjang diikat setengah, dengan beberapa helai dibiarkan tergerai di bahu. Matanya berwarna hijau daun—bukan hijau biasa, tapi hijau zamrud yang berkilau—dan pupilnya sedikit vertikal seperti mata ular. Wajahnya cantik dengan rahang tegas dan bibir tipis yang melengkung alami. Tubuhnya tinggi dan ramping, jubah hijaunya ketat di bagian lengan dan longgar di bagian bawah, memperlihatkan lekuk pinggang yang atletis.

Tapi yang paling mencolok adalah ekspresinya. Tidak seperti murid-murid lain yang berdiri dengan sikap hormat, perempuan ini berdiri dengan satu tangan di pinggul, kepalanya sedikit dimiringkan, dan matanya memandang sekeliling aula dengan ekspresi... bosan.

Dia menangkap tatapan Xiao Chen. Mata hijau itu bertemu dengan mata ungu keemasan.

Dan untuk pertama kalinya, ekspresi bosan itu menghilang. Digantikan oleh sesuatu yang lain—keterkejutan, mungkin. Atau ketertarikan. Bibirnya sedikit terbuka, lalu tertutup lagi.

Xiao Chen tersenyum padanya. Senyum kecil, nyaris tak terlihat.

Perempuan itu memalingkan wajahnya dengan cepat. Tapi ujung telinganya berubah menjadi merah.

"Tetua Wei," suara Qin Wuya memecah keheningan. "Lama tidak bertemu."

"Tetua Qin." Wei Zhen duduk di kursi tuan rumah. "Apa yang membawamu ke kota kecil kami?"

Qin Wuya tersenyum. Senyum yang terlalu ramah untuk terasa tulus. "Aku datang membawa kabar baik. Sekte Pedang Langit baru saja mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan Turnamen Rekrutmen Murid tahun depan. Pemenangnya akan diterima sebagai murid dalam, dengan fasilitas yang setara dengan murid-murid dari sekte menengah."

Wei Zhen mengerutkan kening. "Aku sudah mendengar tentang turnamen itu. Tapi itu untuk sekte-sekte menengah ke atas. Kenapa kau memberitahuku?"

"Karena tahun ini berbeda." Qin Wuya mencondongkan tubuhnya ke depan. "Untuk pertama kalinya, Sekte Pedang Langit membuka kesempatan bagi sekte-sekte kecil di wilayah perbatasan. Setiap sekte kecil bisa mengirimkan maksimal tiga perwakilan."

Jeda.

"Tapi ada syaratnya. Sekte yang ingin berpartisipasi harus menyumbangkan seratus Batu Spiritual Menengah sebagai biaya pendaftaran."

Suasana di aula langsung berubah tegang. Seratus Batu Spiritual Menengah adalah jumlah yang sangat besar untuk sekte kecil seperti Awan Kelabu. Itu setengah dari upeti tahunan mereka.

"Kau ingin kami ikut?" tanya Wei Zhen.

"Aku ingin mengajakmu bekerja sama." Qin Wuya tersenyum lagi. "Sekte Kayu Suci dan Sekte Awan Kelabu. Kita gabungkan perwakilan kita, dan kita bagi biaya pendaftarannya. Bukankah itu lebih baik?"

Wei Zhen terdiam. Di permukaan, tawaran itu terdengar masuk akal. Tapi dia tahu Qin Wuya. Pria ini tidak pernah melakukan sesuatu tanpa agenda tersembunyi.

"Kalau kita bergabung," kata Wei Zhen perlahan, "siapa yang akan memimpin aliansi ini?"

"Tentu saja aku." Qin Wuya mengangkat tangannya, pura-pura rendah hati. "Aku hanya lebih berpengalaman. Tapi jangan khawatir—murid-muridmu akan diperlakukan sama dengan murid-muridku."

"Diperlakukan sama," ulang Wei Zhen datar. "Atau ditelan?"

Senyum Qin Wuya sedikit menegang. "Kau terlalu curiga, Wei Zhen."

"Aku realistis."

Keheningan turun di antara mereka. Para murid di kedua sisi menahan napas.

Dan di tengah keheningan itu, sebuah suara tenang terdengar.

"Turnamen ini... apakah ada batasan usia untuk pesertanya?"

Semua mata beralih ke Xiao Chen. Dia berdiri di samping Wei Zhen, lengannya terlipat di depan dada, ekspresinya tenang dan penuh rasa ingin tahu—seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang menarik dan ingin tahu lebih banyak.

Qin Wuya menatapnya, alisnya terangkat. "Siapa kau?"

"Seorang tamu," jawab Xiao Chen. "Aku sedang belajar tentang dunia. Turnamen ini terdengar menarik."

"Tamu?" Qin Wuya menatap Wei Zhen. "Aku tidak tahu kau menerima tamu di sekte ini."

"Dia tamu istimewa," kata Wei Zhen singkat. "Xiao Chen, ini bukan saatnya—"

"Batasan usianya," potong Qin Wuya, masih menatap Xiao Chen dengan rasa ingin tahu, "adalah dua puluh lima tahun ke bawah. Turnamen ini untuk mencari bibit-bibit muda berbakat." Dia menyeringai. "Kenapa? Kau tertarik?"

"Mungkin." Xiao Chen melangkah maju, dan saat dia bergerak, seluruh ruangan sepertinya bergeser sedikit. Bukan karena auranya—dia tidak mengeluarkan aura apa pun—tapi karena kehadirannya yang alami. "Tapi aku punya pertanyaan lain. Mengapa Sekte Kayu Suci membutuhkan aliansi dengan Sekte Awan Kelabu? Dengan ketua yang berada di Tahap Pendirian Fondasi tingkat 9, bukankah kau bisa mendominasi sendiri?"

Pertanyaan itu menusuk langsung ke inti masalah.

Qin Wuya menatap Xiao Chen dengan mata menyipit. "Kau cukup tajam untuk seorang tamu."

"Aku hanya bertanya."

"Baiklah, aku akan menjawab." Qin Wuya menyandarkan punggungnya. "Ya, aku bisa mendominasi sendiri. Tapi Sekte Pedang Langit membatasi jumlah perwakilan per sekte. Dengan bergabung, kita bisa mengirim lebih banyak murid—dan peluang kita untuk menang lebih besar."

"Jadi kau membutuhkan mereka sama seperti mereka membutuhkanmu."

"...Kau bisa bilang begitu."

Xiao Chen mengangguk pelan. Lalu dia menoleh ke Wei Zhen. "Tetua Wei, aku tidak tahu banyak tentang politik sekte. Tapi dari apa yang kudengar, ada baiknya kita mendiskusikan ini lebih dulu secara internal sebelum membuat keputusan."

Itu usul yang sangat masuk akal. Wei Zhen mengangguk. "Aku setuju." Dia berdiri. "Tetua Qin, aku akan mempertimbangkan tawaranmu. Bolehkah aku memberikan jawaban dalam tiga hari?"

Qin Wuya menatapnya, lalu menatap Xiao Chen. Ada sesuatu di matanya—ketidaknyamanan, mungkin. Atau rasa ingin tahu. "Baiklah. Tiga hari." Dia bangkit. "Tapi ingat, Wei Zhen. Turnamen ini bisa menjadi kesempatan terbaik bagi sekte kecil seperti kita untuk naik kelas. Jangan sia-siakan."

Dia berjalan keluar, diikuti murid-muridnya. Perempuan bermata hijau itu berjalan paling belakang. Saat melewati Xiao Chen, langkahnya sedikit melambat. Mata hijaunya menatap Xiao Chen sekilas—dan di detik itu, Xiao Chen mengedipkan satu mata padanya.

Perempuan itu hampir tersandung kakinya sendiri. Wajahnya berubah merah, dan dia buru-buru keluar dari aula dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.

Xiao Chen tersenyum kecil.

"Kau baru saja membuat segalanya lebih rumit," kata Wei Zhen setelah para tamu pergi.

"Aku?"

"Kau menanyakan pertanyaan yang tepat di depan mereka. Sekarang Qin Wuya tahu bahwa ada seseorang di sekte ini yang bisa melihat strateginya." Wei Zhen menghela napas. "Itu bisa menjadi hal baik... atau buruk."

"Dia tidak berbahaya," kata Xiao Chen santai.

"Dia berada di Pendirian Fondasi tingkat 9. Aku tingkat 7. Dia bisa mengalahkanku dalam pertarungan langsung."

"Aku tahu. Tapi itu tidak membuatnya berbahaya."

Wei Zhen menatapnya lama. "Kau sangat percaya diri."

Xiao Chen hanya tersenyum. "Aku akan kembali membaca sekarang. Terima kasih atas pertunjukan yang menarik, Tetua Wei."

Dan dia berjalan keluar aula, meninggalkan Wei Zhen yang mengusap pelipisnya dengan ekspresi antara bingung dan penasaran.

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!