"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.
Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.
Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: WILAYAH TERLARANG
Suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang terasa begitu pekak. Keano fokus menyetir dengan kecepatan yang membuat jantung siapapun copot, sementara Arcelia bersedekap, menatap lurus ke luar jendela dengan rahang mengeras. Dia benci kalah telak dalam urusan "siapa yang paling dominan".
Begitu mobil berhenti di depan mansion, Keano tidak menunggu pelayan membukakan pintu. Dia turun, memutari mobil, dan membuka pintu sisi Arcelia dengan kasar.
"Turun," perintahnya pendek.
"Gue punya kaki, nggak usah lo perintah," balas Arcelia ketus. Dia keluar dari mobil, tapi baru melangkah dua kali, Keano sudah mencengkeram lengannya—tidak menyakitkan, tapi sangat tegas—dan menariknya naik ke lantai dua.
Bukannya ke arah kamar Arcelia, Keano justru membawanya ke ujung lorong. Ke pintu kayu ek besar yang selama ini selalu tertutup rapat. Kamar pribadi Keano Winchester.
"Masuk," Keano mendorong pintu itu terbuka.
Arcelia mendengus, melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna abu-abu gelap dan maskulin tersebut. Aroma kayu cendana yang tadi ia hirup di mobil terasa jauh lebih pekat di sini. Kamar ini luas, dingin, dan terasa sangat mengintimidasi—persis seperti pemiliknya.
Klik.
Suara pintu dikunci dari dalam membuat Arcelia berbalik dengan cepat. "Lo ngapain kunci pintu? Lo mau macem-macem?"
Keano melepas jam tangan mahalnya, meletakkannya di atas nakas, lalu mulai melonggarkan dasinya. Matanya tidak lepas dari Arcelia. "Setelah apa yang kau lakukan di kelab? Kau pikir aku akan membiarkanmu tidur di kamar yang kuncinya bisa kau retas sesukamu? Mulai malam ini, kau di bawah pengawasanku."
"Pengawasan atau penjara?" Arcelia tertawa sinis. Dia berjalan mendekati Keano, menantang pria itu dengan berdiri tepat di depannya. "Lo takut gue kabur? Atau lo takut rahasia lo kebongkar?"
Keano berhenti menarik dasinya. Dia menunduk, menatap Arcelia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Rahasia apa yang kau maksud?"
"Gue tau lo lagi nyari 'penyelamat' masa lalu lo itu. Dan lo mulai ngerasa kalau gue ada hubungannya sama dia, kan?" Arcelia menyeringai, sebuah gertakan yang berani. "Tapi asal lo tau, Keano... gue bukan Alzena yang bakal nurut cuma karena lo kasih tatapan maut kayak gitu."
Keano tiba-tiba maju satu langkah, membuat Arcelia terpaksa mundur hingga punggungnya membentur tiang tempat tidur yang besar. Keano meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Arcelia, mengurungnya.
"Siapapun kau... entah kau Alzena yang hilang ingatan atau jiwa lain yang masuk ke tubuhnya... aku tidak peduli," bisik Keano, suaranya parau dan berbahaya. "Yang aku tahu, tubuh ini milik istriku. Dan kau bertingkah seolah kau ingin aku menjinakkanmu."
"Coba aja kalau lo bisa," tantang Arcelia. Dia tidak gemetar, dia justru menatap balik mata Keano dengan keberanian yang membuat Keano merasa tertantang.
Suasana mendadak menjadi sangat panas, namun bukan karena cinta. Ini adalah bentrokan ego. Keano mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. Arcelia bisa merasakan napas hangat Keano di bibirnya. Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Arcelia sempat berpikir Keano akan menciumnya, dan dia sudah bersiap untuk menendang tulang kering pria itu jika itu terjadi.
Tapi Keano justru menjauh dengan senyum miring yang menyebalkan.
"Mandilah. Pakai kemejaku di lemari kalau kau tidak punya baju ganti. Aku tidak akan menyentuhmu malam ini... kecuali kau yang memulainya."
"Cih, mimpi lo!" Arcelia menyambar bantal di tempat tidur dan melemparnya ke wajah Keano, yang ditangkap dengan mudah oleh pria itu.
Arcelia masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu. Di bawah kucuran air shower, dia mencoba menenangkan detak jantungnya. Sialan, Keano benar-benar beda dari yang ada di memori Alzena, batinnya. Dia harus tetap waspada. Dia punya misi untuk menghancurkan keluarga Halim, dan dia tidak boleh terdistraksi oleh "suami" yang posesif ini.
Satu jam kemudian, Arcelia keluar dengan kemeja putih milik Keano yang kebesaran di tubuhnya, menutupi hingga paha. Dia melihat Keano sudah berbaring di sisi tempat tidur sebelah kanan, sedang membaca berkas di tabletnya dengan kacamata bertengger di hidungnya. Penampilannya terlihat lebih santai, tapi tetap terlihat berkuasa.
"Tidur di sofa sana," perintah Arcelia sambil menunjuk sofa panjang di sudut ruangan.
"Ini kamarku, ini tempat tidurku," jawab Keano tanpa menoleh. "Kau yang menumpang, kau yang di sofa."
"Gue tamu! Sopan santun lo mana?"
"Tamu yang masuk karena ditarik paksa bukan tamu, tapi tawanan. Jadi, pilih: tidur di sini atau aku ikat kau di kursi?"
Arcelia mendesis kesal. "Fine!"
Dia naik ke tempat tidur, mengambil jarak sejauh mungkin dari Keano hingga dia hampir jatuh dari pinggiran kasur. Dia membelakangi Keano, menarik selimut sampai ke telinga.
Lampu kamar diredupkan. Hening menyelimuti ruangan. Namun, tiba-tiba Arcelia merasakan kasur di belakangnya bergerak. Sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya hingga menempel pada dada bidang Keano.
"Keano! Lepasin!" Arcelia meronta.
"Diamlah, atau aku akan melakukan lebih dari sekadar memeluk," ancam Keano rendah. "Kau dingin, dan aku tidak mau kau sakit lagi. Besok kita punya banyak urusan."
Arcelia mencoba menyikut perut Keano, tapi pria itu dengan mudah menangkap tangannya dan menguncinya. "Tidurlah, Arcelia."
Mendengar nama itu disebut lagi, Arcelia tertegun. Dia tidak tahu apakah Keano menyebutnya karena sudah tahu, atau hanya sekadar memanggil. Tapi anehnya, pelukan Keano terasa sangat familiar. Rasanya seperti... rasa aman yang pernah ia rasakan sepuluh tahun lalu di gudang tua yang gelap.
Pelan-pelan, Arcelia berhenti meronta. Kelelahan setelah kejadian di kelab malam mulai menguasainya. Tanpa sadar, dia tertidur dalam dekapan musuh—atau mungkin, pelindungnya.
Sementara itu, di sebuah apartemen kumuh di sudut kota, Shania sedang menatap layar ponselnya yang hancur. Wajahnya bengkak, matanya penuh kebencian.
"Kalian pikir kalian sudah menang?" Shania tertawa parau. "Aku baru saja mengirimkan berkas panti asuhan itu ke Ayah. Kalau Alzena tahu ayahnya yang membakar tempat itu untuk membunuhnya... mari kita lihat apakah dia masih bisa bergaya sombong di depan Keano."
Di tempat lain, Virel berdiri di balkon kantornya. Di tangannya ada sebuah pita merah yang sudah usang—pita yang sama dengan yang sering dipakai Alzena (Arcelia).
"Sepuluh tahun aku diam, Zen..." bisik Virel. "Maafin Kakak. Kali ini, Kakak nggak akan biarin Ayah nyakitin kamu lagi. Meskipun Kakak harus hancurin Halim Group dengan tangan Kakak sendiri."
...****************...
TBC
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘