Karma tidak pernah salah alamat.
Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.
Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.
Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?
Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Komisaris Cornelis
"Ya. Urusan lain bisa menunggu." Jan Coen tersenyum. "Prioritas, Keti. Prioritas."
Kusumawati tidak membantah. Mereka berjalan ke pintu depan penginapan.
Di luar, hujan sudah berhenti. Tinggal rintik-rintik kecil yang jatuh malas-malasan dari langit kelabu. Genangan air memantulkan bayangan awan. Wangi tanah basah memenuhi udara.
Kereta kuda sudah menunggu.
Jan Coen membuka pintu kereta, mempersilakan Kusumawati masuk lebih dulu.
Kusumawati naik. Jan Coen menyusul. Pintu tertutup. Kereta mulai bergerak.
Angin bertiup. Udara di dalam kereta dingin. Kusumawati merapatkan kerudungnya, memeluk tubuh sendiri.
Jan Coen melirik.
"Kedinginan?"
"Sedikit."
Tanpa peringatan, Jan Coen bergeser dari kursi di seberang ke kursi di samping Kusumawati.
Lalu merangkulnya. Menarik tubuh Kusumawati mendekat sampai menempel ke dadanya.
"Kau mau apa?"
"Mencari kehangatan." Jan Coen berkata santai. "Cuaca dingin. Tubuhmu hangat. Solusi yang logis."
Kusumawati mencoba mendorong, tapi lengan Jan Coen seperti besi, tidak bergerak sedikit pun.
"Jan, lepaskan."
"Tidak mau."
"Jan!"
"Sebentar lagi kita menikah." Jan Coen mengeratkan pelukannya. "Anggap saja latihan."
"Latihan apa?!"
"Latihan jadi istri yang penurut."
"Aku tidak akan pernah jadi istri yang penurut!"
"Aku tahu." Jan Coen tertawa. "Justru itu yang kusuka. Kau penuh tantangan."
Tangannya bergerak turun—dari bahu ke pinggang, lalu ke—
"Jan!"
"Hm?"
"Tanganmu!"
"Tanganku kenapa?"
"Di tempat yang tidak seharusnya!"
"Oh." Jan Coen tidak memindahkan tangannya. "Kupikir ini tempat yang paling hangat."
Kusumawati menggertakkan gigi.
Tapi tidak mendorong lagi.
‘Pria ini ….’
‘Benar-benar tidak tahu sopan santun. Katanya mau sedikit tobat.’
Anehnya, kehangatan tubuh Jan Coen terasa ... nyaman.
Kusumawati tidak mau mengakuinya.
Tapi dia juga tidak protes lagi.
Kereta berhenti.
"Sudah sampai." Jan Coen melepaskan pelukannya, membuka pintu kereta.
Kusumawati turun, merapikan kerudung dan kebayanya yang sedikit berantakan.
Di depannya berdiri sebuah rumah.
Bukan rumah mewah, tapi juga tidak kumuh. Rumah bergaya Eropa dengan sentuhan Hindia—atap genteng merah, dinding putih, teras luas dengan pilar-pilar kayu. Halaman depan ditumbuhi bunga-bunga yang terawat rapi.
"Rumah siapa ini?"
"Teman lama." Jan Coen berjalan ke pintu depan. "Ayo."
Kusumawati mengikuti, kerudung masih menutupi sebagian wajah.
‘Nikah siri.’
‘Hanya formalitas.’
‘Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.’
Pintu terbuka sebelum Jan Coen sempat mengetuk. Slamet berdiri di ambang pintu.
Wajahnya masih bonyok—lebam di mata kiri, bengkak di pipi kanan, bibir pecah-pecah. Tapi dia tersenyum lebar.
Terlalu lebar untuk orang yang baru dihajar habis-habisan semalam. Sangat bahagia.
"Selamat pagi, Tuan! Gusti Ayu!" Dia membungkuk dalam-dalam. "Silakan masuk!"
Kusumawati menatapnya dengan pandangan aneh.
‘Kenapa dia tersenyum seperti itu?’
‘Apa kepalanya terbentur terlalu keras semalam?’
Jan Coen menepuk bahu Slamet.
"Sudah lebih baik?"
"Jauh lebih baik, Tuan!" Slamet masih tersenyum. "Tabib kemarin sangat ahli. Dan uang dari Tuan ... sangat membantu."
"Bagus. Kau siap jadi saksi?"
"Siap, Tuan!"
Mereka masuk ke dalam rumah.
Ruang tamu sederhana. Sofa rotan. Meja kayu. Beberapa lukisan pemandangan di dinding. Vas bunga di sudut.
Dan seorang pria duduk di sofa utama.
Kusumawati tidak langsung memperhatikan—dia masih sibuk merapikan kerudungnya, menyembunyikan wajah.
"Ah, Jan!" Suara berat dari sofa. "Akhirnya kau datang juga. Kupikir kau berubah pikiran."
"Tidak akan." Jan Coen berjalan ke arah pria itu, berjabat tangan erat. "Terima kasih sudah mau datang, Cornelis."
"Untuk teman lama, apa yang tidak." Pria itu tertawa. "Lagipula, aku penasaran dengan calon istrimu yang katanya seorang Raden Ayu—"
Dia berhenti bicara.
Matanya tertuju pada sosok di belakang Jan Coen.
Sosok perempuan berkerudung yang baru saja mengangkat wajah. Sama terkejutnya.
Hening.
Kusumawati membeku.
‘Tidak mungkin.’
Pria di sofa itu—Cornelis, Jan Coen memanggilnya—berusia sekitar lima puluh tahun. Rambut berubah disisir rapi ke belakang. Kumis tebal yang terawat. Tubuh tegap meski sudah tidak muda. Seragam putih dengan epaulet emas di bahu.
Seragam polisi kolonial. Pangkat tinggi.
‘Komisaris Besar Cornelis van der Berg.’
‘Kepala Kepolisian Wilayah Selatan.’
Dan dia mengenal Kusumawati.
Tentu saja dia mengenal.
Tahun lalu, pria ini pernah menghadiri jamuan makan malam di kadipaten. Duduk di sebelah putra Kusumawati. Membahas politik dan keamanan sambil menyantap rijsttafel.
Kusumawati sendiri yang menuangkan anggur ke gelasnya.
"Raden Ayu ... Kusumawati?"
Suara Cornelis pelan. Tidak percaya.
Kusumawati masih membeku.
‘Tenang.’
‘Tetap tenang.’
‘Raden Ayu tidak pernah panik.’
Dia menegakkan punggung. Mengangkat dagu. Memasang senyum yang sudah dilatih puluhan tahun.
"Komisaris Besar van der Berg." Suaranya keluar tenang—lebih tenang dari yang dia rasakan. "Sungguh kebetulan yang menarik."
Cornelis menatap Jan Coen.
Lalu menatap Kusumawati.
Lalu kembali menatap Jan Coen.
"Jan …," Suaranya pelan. "Kau bilang calon istrimu seorang Raden Ayu. Kau tidak bilang dia istri mendiang Bupati."
"Janda." Jan Coen mengoreksi dengan santai. "Janda mendiang Bupati."
"Tetap saja!" Cornelis bangkit dari sofa. "Kau tahu siapa perempuan ini?! Dia ibu dari Bupati yang sekarang menjabat! Dia—"
"Aku tahu." Jan Coen memotong. "Justru karena itu aku ingin menikahinya."
Cornelis menatapnya seperti menatap orang gila.
Kusumawati berdeham.
"Komisaris Besar." Dia melangkah maju, senyum masih terpasang. "Saya paham ini ... mengejutkan. Tapi saya harap Anda bisa merahasiakan pertemuan kita hari ini."
Cornelis menoleh padanya.
"Merahasiakan?"
"Ya." Kusumawati mengangguk anggun. "Seperti yang Anda tahu, kaum bangsawan Jawa selalu punya ... hal-hal yang lebih baik tidak diketahui publik."
Matanya berkilat.
"Skandal kami selalu menjadi topik pembicaraan yang menarik, bukan? Di pesta-pesta. Di ruang-ruang teh. Di mana-mana." Senyumnya sedikit tajam. "Tapi Anda tentu paham—orang seperti kita lebih memilih skandal tetap tersembunyi. Setidaknya sampai waktu yang tepat."
Cornelis menatapnya lama.
"Anda …," Dia menelan ludah. "Anda serius dengan ini? Menikah dengan orang Eropa? Secara diam-diam?"
"Kehidupan membawa kita ke tempat-tempat yang tidak pernah kita bayangkan, Komisaris." Kusumawati tersenyum bijak. "Saya tahu Anda sendiri pernah mengalami hal serupa."
Hening sejenak. Kusumawati hafal skandal pria ini.
Cornelis dan Kusumawati bertatapan.
Ada sesuatu yang tidak terucap di antara mereka—pemahaman antara dua orang yang sama-sama hidup di dunia penuh rahasia dan sandiwara.
Akhirnya Cornelis menghela napas.
"Baiklah." Dia kembali duduk. "Aku di sini sebagai pihak keluarga Jan. Bukan sebagai polisi. Apa yang terjadi di rumah ini, tetap di rumah ini."
"Terima kasih, Komisaris."
"Tapi Jan," Cornelis menatap temannya tajam, "kau berutang penjelasan yang sangat panjang setelah ini."
Jan Coen tersenyum lebar.
"Dengan senang hati. Setelah aku resmi menikah."
Dia menoleh ke Kusumawati, mengulurkan tangan.
"Nah, calon istriku. Penghulu sudah menunggu di ruangan belakang. Kita mulai?"
Kusumawati menatap tangan yang terulur.
‘Komisaris Besar Polisi pasti sebagai saksi.’
‘Bukan saksi nikah—dia bukan Islam—tapi saksi tertulis.’
‘Kalau dia menandatangani dokumen ... pernikahan ini tidak bisa kusangkal begitu saja.’
‘Sial. Jan Coek selalu selangkah di depanku.’
pemberontak yg licik ,
kusumawati terbujuk kah ,kembali ke kadipaten dgn situasi kadipaten ,walau pun bukan soedarsono yg mnjdi bupati
tapi selama ini kadipaten lah yang selalu mnjdi prioritas selama hidup nya
berat sama si Jan cok