Menjadi seorang dukun bukanlah sebuah pilihan atau cita-cita, tapi sebuah panggilan jiwa...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan
"Buka semua pakaian mu le!"
Joko tercekat, ia penasaran kenapa ayahnya menyuruh ia membuka baju. Tapi lagi-lagi sebagai jawa ia pun hanya menurut. Pranyoto kemudian memberikan selembar kain kafan.
"Pakai kain ini sebagai sarung,"
Joko segera mengambil kain itu kemudian melilitkan ke tubuhnya seperti sarung.
"Mulai hari ini kamu akan tirakat di sini dan aku akan meninggalkan mu. Mulai besok makan lah apa-apa yang ada di hadapanmu karena itu berarti sudah di sediakan untukmu. Ingat tidak ada satupun manusia yang akan datang mengunjungi mu apalagi memberi memberimu makan!"
Tiba-tiba ucapan itu terngiang di telinga Joko.
"Ngapain kamu di sini le, kamu mau mengikuti bapakmu menjadi seorang dukun kejawen??"
"Kamu lupa sama ibu??"
Joko menggeleng.
"Kalau kamu sayang sama Ibu, ayo ikut ibu, tinggalah bersama ibu, aku akan menyayangi mu dan menjagamu dari para perundung itu?"
Joko membuka matanya, tatapannya sendu menatap wajah wanita yang begitu ia rindukan. Rasanya ia ingin memeluknya sekali saja. Namun ucapan sang ayah terus terngiang di telinganya.
Wanita itu tersenyum lebar dan membuka tangannya.
"Kemari lah nak, peluk ibu??"
Joko tersenyum menatapnya.
Sebenarnya ia ingin beranjak menghampiri wanita itu tapi entah kenapa kakinya begitu berat untuk di gerakkan.
Wanita itu terlihat kesal saat melihat Joko tak bergerak menghampirinya. Ia berusaha untuk menghampirinya namun tiba-tiba tubuhnya terpental saat mendekati pancuran.
Seketika wanita itu berubah menjadi sosok kuntilanak dengan wajah yang mengerikan membuat Joko ketakutan dan langsung memejamkan matanya.
Makhluk itu berteriak, suaranya melengking tajam membuat telinga terasa sakit. Joko segera menutup kedua telinganya, namun rasa sakitnya membuat kedua telinganya mengeluarkan darah.
Joko benar-benar ketakutan, apalagi saat melihat wanita itu berubah menjadi banyak. Wajahnya memucat saat puluhan kuntilanak mengerubutinya.
Mereka berjalan mendekat kearahnya, namun setiap akan menyentuhnya mereka selalu terpental dan musnah.
Tidak lama sesosok bayangan pria tua muncul.
"Jangan takut le, eyang akan menjagamu. Asalkan kamu tidak meninggalkan garis pelindung, maka makhluk-makhluk itu tidak bisa menyentuh mu!" ucap sang kakek
Joko merasa lega, setidaknya ia merasa aman sekarang.
Hari kedua rasa lapar mulai mendera Joko. Ia tak bisa lagi berkonsentrasi dan melanjutkan semedi. Pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya ia bisa mendapatkan makanan. Sudah dua hari tidak ada apapun yang masuk dalam perutnya. Jangankan dedaunan yang jatuh bahkan setetes air pun tak ada.
Ia beranjak turun dari batu besar itu dan mendekati pancuran di sebelahnya. Ia hendak mengambil air untuk menghilangkan dahaga nya.
Namun saat ia menengadahkan tangannya di pancuran tersebut, air pancuran seolah menghindar darinya. Ia tak bisa menyentuh air itu. Tentu saja hal itu membuat Joko putus asa. Tubuhnya terasa lemah. Ia benar-benar tak punya tenaga untuk bangun.
Matahari bersinar terik membuat tubuhnya semakin dehidrasi. Sebagai anak remaja yang jarang melakukan puasa panjang membuat Joko benar-benar tak kuat menahan lapar.
"Eyang aku lapar," ucapnya lemah
Bibirnya mulai memutih dan ia merasa tenggorokannya seperti tercekik hingga ia jatuh pingsan.
"Tenang saja le, makanan mu sebentar lagi datang,"
Angin semilir membangunkannya. Netranya perlahan terbuka. Hidungnya kembang kempis mencium aroma wangi makanan.
Joko membuka matanya lebar-lebar, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di depannya tergeletak makanan yang dibungkus daun jati lengkap dengan minumnya yang di letakkan di gelas bambu. Makanan itu seperti nasi dan lauk pauk yang sama seperti di duni, tapi rasanya sangat nikmat. Mungkin karena Joko sedang kelaparan atau entahlah. Yang jelas meskipun porsinya sedikit tapi sudah membuatnya kenyang.
Dan ada dua jenis air di sana satu air putih dan teh manis, kedua minuman itu rasanya benar-benar segar, satu tegukan saja langsung membuat tubuhnya segar kembali.
Kini Joko merasa tubuhnya sudah siap untuk bersemedi kembali.
Hari-hari berikutnya Joko tidak menemui apapun. Tak ada godaan dari makhluk gaib. Dan ia baru sadar jika di hari-hari genap ia akan mendapatkan makanan. Makanan gaib yang beranekaragam dengan cita rasa yang tidak bisa di gambarkan.
Hingga di hari keempat makanannya mulai berubah, jika biasanya ia selalu dikirimi makanan berupa nasi putih dengan lauk pauk seperti di dunia, kali ini makanan yang ia dapat hanya sekepal nasi dengan bunga kenanga. Dan kali ini air nya hanya air putih, tidak ada teh manis.
Hari ke enam tidak ada nasi, namun kali ini makanan yang muncul adalah bunga melati. Tapi Bunga melatinya berbeda dengan melati di dunia. Jika melati di dunia itu tumpul melati yang Joko makan justru berbentuk runcing. Namun rasanya sangat gurih dan nikmat.
Tepat di hari ke tujuh ujian itu datang lagi. Kali ini Joko melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah kepala terbang menghampirinya. Jantung Joko berdetak kencang saat makhluk itu mulai menggodanya seperti layaknya manusia.
Joko membaca mantera yang sudah ia pelajari dari sang ayah namun kepala itu tak kunjung pergi. Tidak lama muncul makhluk yang terbungkus kain putih. Puluhan Pocong bergerak maju mendekat kearahnya. Kini mereka berdiri mengelilinginya.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Tubuh Joko membeku saat sesosok makhluk hitam tinggi besar dengan bulu di seluruh tubuhnya berdiri tepat di depan hidungnya.
Keduanya saling bertatapan, netra mereka bertemu, membuat Joko tak bisa berkutik.
"Duh Gusti, apakah aku akan mati??"
Saat makhluk itu menyeringai, Joko menjerit sekencangnya. Remaja delapan belas tahun itu benar-benar takut setengah mati dan berpikir untuk kabur dari kepungan makhluk gaib itu.
Saat Joko hendak lari meninggalkan tempat semedinya tiba-tiba ia merasa seperti menabrak sesuatu yang membuatnya terpental dan kembali duduk di batu besar itu.
"Jangan pernah meninggalkan garis pelindung ini le!"
Tiba-tiba ucapan Eyang kakung itu berdengung di telinganya.
"Tapi bagaimana mungkin aku tidak pergi sedangkan makhluk itu tepat di depanku sekarang??"
Makhluk itu terus mengawasinya, tatapannya begitu mematikan hingga membuat Joko tak berkutik.
Ia berdiri mematung dengan tubuh yang sudah tak berdaya. Ia benar-benar lemas dan tak bisa berbuat apa-apa semua mantera nya tak berfungsi.
Saat ia benar-benar takut kembali ia menjerit keras .
"Eyaaaaang!!"
Hanya nama itu yang bisa membantunya kini. Ia tahu pria itu akan datang menolongnya. Dan benar saja tiba-tiba Joko merasakan ikatan batin yang kuat dengan sang kakek.
Kini ia bisa merasakan kehadirannya.
"Ojo wedi le, ndang dodo ko sing anteng?"
Ucapan itu seperti angin sejuk yang menyegarkan baginya. Tiba-tiba saja ia merasa tenang dan aman saat mendengarnya. Ia bahkan merasakan pria itu berdiri di sampingnya meskipun ia tak bisa melihatnya.
"Seaneh apapun bentuk mereka abaikan saja, karena sebentar lagi mereka akan berteman denganmu.
Joko pun kembali duduk bersila, dan bersamaan dengan itu makhluk-makhluk itu pun menghilang.
Hari-hari berlalu dan Joko terbiasa dengan makhluk-makhluk penghuni Alas Roban. Baginya mereka bukan lah musuh tetapi kawan. Seperti yang diucapkan sang kakek, makhluk-makhluk itu justru sering mengajaknya ngobrol seperti layaknya teman dekat.
Di hari ke lima belas Joko kembali di kaget kan dengan kemunculan makhluk aneh lain.
Kali ini makhluk itu berbentuk menjangan (kijang/rusa) namun kepalanya berbentuk kepala manusia dan berparas cantik. Dapat dipastikan makhluk itu berjenis kelamin perempuan, meskipun punya tanduk seperti rusa jantan.
Menjangan itu berwarna puti di kawal oleh beberapa prajurit yang berwujud manusia dan sebagian berwujud binatang dengan kepala manusia. Ada ular dengan kepala manusia, Banteng dengan kepala manusia dan menjangan berkepala manusia.
Makhluk itu menghampirinya, membuat Joko langsung membuka matanya.Wajahnya memucat.
"Eyang apa yang harus aku lakukan??"
lantas untuk memutus adalah dgn bnyk punya istri kok ngeri men ya
tp emang sih siapa yg g sedih krn kehilangan tp mbok ya jgn terllu berlebihan sih
kira3 siapa yg bikin niken seperti itu
kek gtu ya ko
nah tuhh tau kan kek mana klo ada istri bnyk sookoorrr🤭🤭🤣🤣🤣
kek mana coba setan dan jin aja bisa cembokur lho ko
kmu sih g hati2
Tabarakallah....
Alhamdulillah....
setelah mengetahui Joko merasa kepanasan maka Maryati reflek membacakan doa sambil mengusap kepala Joko
karena Maryati sering membaca ayat-ayat Al Qur'an seeeh
padahal saat itu, Pranyoto bukan lah berasal dari kaum bangsawan atau pejabat lhooo tapi bisa memperistri Maryati yang berasal dari bangsawan
ada apa gerangan yang terjadi dengan rumah Maryati ??
kenapa mendadak hawa di rumah nya menjadi sejuk meski tak ada AC
pake maen bisik-bisik segala neeeh
kita-kita kan jadi ikutan keeepooo 🏃🏃