Gara-gara difitnah "impoten" oleh mantan istri, Kenzo sang CEO Mafia terpaksa menikahi Zia, dokter spesialis sekaligus pengacara yang mulutnya sepedas cabai.
Sialnya, Zia juga punya hobi latah yang bikin harga diri Kenzo jatuh di depan anak buahnya!
"EH COPOT-COPOT, MAFIA GANTENG PISTOLNYA KARATAN!"
Mantan istri? Kena mental lewat jalur medis dan hukum! Tapi bagi Kenzo, menghadapi musuh lebih mudah daripada menghadapi satu istri latah ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Rahasia di Balik Kepingan Emas
Setelah kelelahan menghadapi drama keluarga Adiwangsa yang menguras emosi dan konser dangdut dadakan di pelaminan tadi, Kenzo akhirnya memboyong Zia masuk ke dalam kamar pengantin mereka.
Langkah kaki mereka disambut oleh dekorasi kamar yang sudah dihias sedemikian rupa. Taburan kelopak mawar merah menghiasi tempat tidur, lengkap dengan dua handuk berbentuk angsa yang saling bertautan membentuk lambang hati, serta aroma terapi yang menenangkan indra penciuman.
Sesampainya di dalam, Kenzo langsung menutup pintu rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam. Ia melonggarkan sedikit dasinya yang terasa mencekik, lalu menatap Zia dengan tatapan yang jauh lebih lembut namun penuh damba.
"Akhirnya, hanya ada kita berdua, Nyonya Mahendra," bisik Kenzo dengan suara beratnya yang terdengar sangat seksi di telinga Zia.
Zia, yang masih mengenakan gaun pengantin megahnya itu, bukannya tersipu malu atau baper, ia justru sibuk menyeret sebuah tas kecil ke tengah tempat tidur dengan wajah serius.
"Bentar, Mas! Tahan dulu hawa kepinginnya. Saya mau memastikan sesuatu yang sangat penting sekarang juga," ucap Zia sambil mulai membongkar tasnya.
Kenzo mengerutkan kening bingung, merasa momen romantisnya baru saja diputus secara paksa. "Apa yang lebih penting dari malam pertama kita, Zia?" tanyanya dengan nada sedikit tidak percaya.
Zia tidak menjawab secara lisan. Ia justru membuka tas itu dengan semangat yang meluap-luap. Isinya adalah belasan kepingan logam mulia suvenir sisa pesta tadi yang sengaja ia kumpulkan.
"Ini dia hal pentingnya! Hal yang jauh lebih penting dari apa pun!" seru Zia dengan mata berbinar-binar. "Mas, lumayan banget ini loh sisa sepuluh keping lebih. Kalau kita jual besok, bisa buat beli seblak se-kabupaten atau stok kerupuk samier buat satu tahun!".
Kenzo menghela napas panjang, mencoba bersabar menghadapi tingkah ajaib istrinya. Ia lalu mendekat, memeluk Zia dari belakang, dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya yang harum.
"Zia, aku bisa membelikanmu pabrik seblaknya sekalian kalau kamu mau. Sekarang, tolong lupakan emas itu dan fokus pada suamimu ini, hmm?" bisik Kenzo dengan nada menggoda.
"Eh, jangan gitu Mas! Tak boleh... tak boleh... tak boleh!" tolak Zia sambil menepis pelan tangan Kenzo. "Satu keping ini miring sedikit cetakannya, harus aku lurusin dulu biar estetik!" balas Zia yang masih tetap fokus menghitung hartanya.
Kenzo akhirnya menyerah dan melepaskan pelukannya dengan wajah dongkol. "Sudah, Zia. Lebih baik kamu ganti baju dulu sana ke kamar mandi. Gerah saya lihatnya kamu pakai gaun berat begitu dari tadi," ucap Kenzo kesal.
"Iya deh, iya! Gitu aja marah... dasar!" gerutu Zia pelan sambil bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi dengan membawa baju ganti.
Saat Zia akhirnya menyerah dan menghilang di balik pintu kamar mandi, suasana hati Kenzo langsung berubah drastis. Tatapan matanya yang tadi lembut seketika berubah menjadi tajam dan dingin.
Ia berjalan menuju sofa di pinggir jendela, lalu mengambil amplop hitam milik Hermawan Adiwangsa yang tadi sempat ia amankan secara diam-diam. Dengan gerakan perlahan namun penuh waspada, ia merobek segel amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat dokumen medis yang keakuratannya tingkat tinggi. Rahang Kenzo mengeras saat matanya membaca baris demi baris hasil tes DNA yang dilakukan di laboratorium internasional tersebut.
Hasil: 99,9% Cocok.
Zia memang benar-benar putri kandung Hermawan dan Nadya Adiwangsa yang hilang secara misterius puluhan tahun lalu. Namun, bukan hasil DNA itu yang membuat Kenzo tegang, melainkan sebuah catatan kecil yang ditulis tangan oleh Hermawan di balik lembaran itu.
"Dia tidak hilang karena kecelakaan, Kenzo. Ada pengkhianat di dalam klan kami yang menginginkan dia mati saat itu. Lindungi dia dengan nyawamu, atau aku yang akan mengambilnya kembali dengan caraku sendiri."
Kenzo meremas kertas itu hingga hancur di dalam genggamannya. Matanya menatap tajam ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, seolah bersumpah pada dirinya sendiri.
"Siapa pun yang berani menyentuh milikku, akan aku pastikan mereka tidak bisa melihat matahari besok pagi," gumamnya dengan suara sedingin es.
Keesokan paginya, suasana yang harusnya romantis khas pengantin baru itu langsung hancur berkeping-keping tanpa sisa. Zia terbangun bukan karena sinar matahari yang hangat, melainkan karena ponselnya yang bergetar tanpa henti di atas nakas.
"Aduh, siapa sih pagi-pagi gini bikin keributan di HP? Ganggu orang lagi mimpi makan bakso bareng Lee Min Ho aja!" gerutu Zia sambil meraba-raba mencari ponselnya dengan mata setengah terpejam.
Begitu layar menyala, kantuk Zia seketika hilang dan matanya langsung melotot lebar. Notifikasi berita masuk bertubi-tubi tanpa jeda.
Di semua aplikasi media sosial, portal berita gosip, hingga stasiun TV, berita utama pagi ini adalah: "Putri Keluarga Adiwangsa Telah Ditemukan di Pesta Pernikahan Keluarga Mahendra!"
"Mas Kenzo! Bangun! Hei bangun, kebo banget sih!" teriak Zia sambil mengguncang-guncang tubuh suaminya yang masih terlelap. "Kita viral ini loh! Tapi nggak estetik banget!"
Zia kembali menatap ponselnya dan kali ini ia benar-benar syok berat. Salah satu portal berita mengunggah foto masa kecilnya yang sangat memalukan.
Foto itu menunjukkan Zia saat masih berusia lima tahun, dengan rambut dikuncir dua yang sudah berantakan, dan hidungnya sedang ingusan karena menangis tersedu-sedu hanya karena minta permen.
"Kurang ajar! Ini pasti kerjaan si Mas Masako! Ih, sebel!" protes Zia sambil memukul bantal dengan gemas. "Kalau memang mau viralin aku, harusnya pakai foto pas aku udah glow up dong! Kenapa harus foto pas aku lagi ingusan begini yang dipasang di TV?!"
Kenzo yang kini sudah bangun sepenuhnya langsung menyadari situasi yang terjadi. Tanpa banyak bicara, ia meraih ponselnya sendiri dan langsung menghubungi orang kepercayaannya.
"Rico!" bentak Kenzo ke ponsel dengan suara yang menggelegar.
"Iya Bos, saya sudah tahu," jawab Rico di seberang sana. Suaranya terdengar tenang seperti biasa, namun Kenzo tahu Rico juga sedang dalam kondisi tegang menghadapi kekacauan media ini.
"Beli saham mayoritas stasiun TV yang menayangkan foto memalukan istriku sekarang juga! Hapus semua beritanya dalam sepuluh menit. Jika tidak, pastikan gedung mereka rata dengan tanah sebelum jam makan siang! Cepat laksanakan!" perintah Kenzo tegas sebelum mematikan telepon.
Zia yang melihat aksi suaminya yang sangat impulsif dan kaya raya itu hanya bisa melongo tak percaya. "Gila, di luar prediksi ini mah! Tapi Mas... beneran mau dibeli? Mahal lho itu!"
"Uang bukan masalah jika itu menyangkut harga dirimu, Zia," jawab Kenzo datar, seolah-olah membeli stasiun TV semudah membeli kacang goreng.
Zia terdiam sejenak, lalu senyum licik mulai terkembang di bibirnya. "Oke, kalau Mas sudah urus bagian medianya, biar aku yang urus pelakunya sekarang juga."
Zia segera membuka aplikasi jasa pengiriman dan memesan kurir instan untuk mengirimkan paket khusus ke kediaman Adiwangsa. Ia mengisi paket itu dengan satu set kaset kursus joget dangdut, vitamin anti-stres, dan satu bungkus kerupuk samier andalannya.
Ia kemudian menyelipkan sebuah kartu ucapan cantik dengan tulisan tangan yang sengaja dibuat manis:
"Buat Mas Masako tersayang, biar nggak stres lihat berita kita di TV. Jangan lupa latihan joget lagi ya nanti, siapa tahu nanti diundang di acara DMD Panggung Rezeki biar gerakannya lebih profesional. Semangat, Masako-ku! - Nyonya Mahendra."
Di kediaman Adiwangsa yang megah, suasana juga tak kalah tegang. Marco alias Mas Masako yang sedang memantau berita sambil minum kopi langsung tersedak hebat saat menerima paket misterius tersebut.
Wajahnya merah padam menahan amarah yang meledak-ledak setelah membaca kartu ucapan itu. Sementara itu, Hermawan yang duduk di seberangnya hanya tersenyum tipis melihat kelakuan putrinya tersebut.
"Putrimu ini bener-bener gila, Pa!" seru Marco dengan nada emosi yang meluap.
"Bukan gila, Marco. Dia hanya punya darah Adiwangsa yang asli. Mentalnya tidak akan pernah bisa dijatuhkan oleh siapa pun," balas Hermawan dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan.
emnk km TDK boleh berjauhan dg versi Zia yg lain 🤭🤭😂😂
🤭🤭