NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:661
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 – Catatan yang Tidak Sengaja

Latihan malam itu selesai lebih cepat dari biasanya.

Tidak ada yang keliru. Bahkan sebaliknya. Lagu berjalan rapi, tempo terkunci, suara Airi stabil dari awal sampai akhir. Tidak ada nada yang meleset, tidak ada jeda yang salah masuk. Semuanya terdengar seperti yang seharusnya.

Justru karena itulah, ruangan terasa aneh setelah nada terakhir menghilang.

Tidak ada tawa kecil yang biasanya muncul ketika latihan selesai. Tidak ada komentar spontan atau candaan ringan. Hanya bunyi kursi yang digeser pelan, tas yang disampirkan ke bahu, dan langkah kaki yang segera menjauh, seolah semua orang ingin cepat keluar dari ruang yang terlalu sunyi itu.

Satu per satu mereka pulang.

Airi berdiri di dekat pintu studio, punggungnya bersandar ringan ke dinding. Dulu, ia akan menunggu Ren selesai merapikan gitar, atau Haruto yang masih memeriksa kabel. Kadang ia menunggu Yukito mengemasi stik drumnya, kadang bercanda sebentar dengan Mei sebelum benar-benar pergi.

Sekarang, ia menunggu arah lain.

Langkah yang ia nantikan selalu datang dari ujung koridor yang sama.

Takahashi.

“Kita jalan?” tanya Takahashi ringan, seolah itu rutinitas yang tidak perlu dipertanyakan.

Airi mengangguk tanpa ragu.

Yukito sudah hampir sampai di lorong luar ketika ia berhenti mendadak. Ia merogoh tasnya sekali lagi, lalu mengerutkan kening.

Stik drum cadangannya tidak ada.

Ia menghela napas pendek, sedikit kesal pada dirinya sendiri, lalu berbalik menuju studio kecil di ujung koridor. Lampu ruangan itu masih menyala, tanda seseorang belum lama meninggalkannya.

Ia mendorong pintu pelan, berniat masuk sebentar saja.

Namun langkahnya terhenti.

Suara Takahashi terdengar dari dalam.

Lembut. Terlalu dekat.

“Aku sebenarnya khawatir,” kata Takahashi. Nadanya rendah, tidak seperti saat mengajar di kelas. “Kamu selalu memaksakan diri demi orang lain.”

Yukito membeku di depan pintu yang setengah terbuka.

Ia tidak bermaksud menguping. Ia bahkan tidak sempat berpikir untuk mundur lebih awal. Kalimat itu sudah lebih dulu menancap.

“Aku enggak mau mereka menyakiti kamu lagi,” lanjut Takahashi. “Kadang orang-orang di sekitarmu enggak sadar betapa beratnya beban yang kamu tanggung.”

Yukito merasakan dadanya mengencang.

Ia mengenal Airi. Ia tahu Airi memang sering menyalahkan diri sendiri. Tapi ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa… menggeser. Seolah beban itu bukan sekadar keadaan, melainkan akibat dari orang-orang di sekelilingnya.

Airi tidak langsung menjawab. Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya. “Aku cuma enggak mau jadi masalah.”

“Kamu bukan masalah,” Takahashi cepat menyela, terlalu cepat. “Justru kamu terlalu sering menyalahkan diri sendiri. Kalau kamu menjauh sedikit dari mereka, itu wajar. Demi kesehatanmu.”

Kalimat itu terdengar lembut.

Menenangkan.

Ia tidak mendengar suara perlawanan dari Airi. Tidak ada bantahan, tidak ada tawa kecil. Hanya helaan napas pendek, seolah kalimat itu akhirnya memberi izin pada sesuatu yang sudah lama ingin ia lakukan tapi takut ia akui.

“Kamu selalu mikirin orang lain,” Takahashi melanjutkan, suaranya makin rendah. “Tapi siapa yang mikirin kamu, selain aku?”

Itu bukan kalimat seorang dosen.

Yukito mundur satu langkah, lalu satu langkah lagi. Jantungnya berdetak terlalu cepat, tidak seirama. Ia tidak ingin mendengar lebih jauh. Tidak ingin menafsirkan. Tapi satu hal sudah jelas.

Percakapan ini tidak seharusnya terjadi seperti ini.

Ia berbalik cepat, meninggalkan stik drum itu di dalam. Langkahnya tergesa di lorong, nyaris berlari.

“Yukito?”

Ia hampir bertabrakan dengan Hinami yang baru kembali dari ruang lain.

“Kamu kenapa?” tanya Hinami, refleks menangkap lengannya sebentar.

Yukito berhenti, napasnya belum teratur. “Enggak apa-apa,” katanya terlalu cepat, terlalu pendek.

Hinami menatap wajahnya lebih lama. Ia mengenal ekspresi bingung yang sedang berusaha ditutupi dengan baik.

“Kamu yakin?”

Yukito mengangguk, meski matanya tidak berani bertemu dengan Hinami. “Aku lupa ambil barang. Tapi… nanti aja.”

Hinami tidak memaksa. Tapi rasa tidak nyaman itu berpindah, diam-diam, seperti hawa dingin yang merayap dari lantai.

Di luar gedung, Takahashi dan Airi berjalan menuju parkiran.

Udara malam menusuk, tapi Airi merasa ringan. Ada rasa lega yang selalu muncul ketika ia berjalan di sisi Takahashi. Ia tidak perlu menjelaskan banyak hal. Tidak perlu membela diri. Tidak perlu merasa salah karena lelah.

Sesampainya di mobil, Takahashi membukakan pintu untuknya. Airi masuk, menarik napas panjang.

“Capek ya,” kata Takahashi sambil menutup pintu.

“Iya,” jawab Airi jujur.

“Mau langsung pulang?”

Airi ragu sejenak. Ada dorongan kecil yang tiba-tiba muncul, keinginan sederhana yang terasa aman karena ia tidak sendirian. “Aku pengen mampir beli crepes.”

Takahashi tersenyum. “Baik.”

Mobil melaju keluar gerbang kampus dan berhenti di sebuah stand kecil dekat stasiun. Lampunya terang, aromanya manis, dan beberapa mahasiswa masih mengantre sambil tertawa dan mengambil foto.

Takahashi turun lebih dulu, lalu membukakan pintu penumpang untuk Airi.

Saat itulah Airi mulai menyadari tatapan-tatapan itu.

Bisikan pelan yang tidak sepenuhnya disembunyikan.

“Eh, itu Airi, kan?”

“Yang sama dosen itu?”

Tubuh Airi menegang.

Ia berdiri terlalu dekat dengan Takahashi. Jarak yang terasa biasa bagi mereka, jarak yang selama ini membuatnya merasa aman. Tapi di mata orang lain, jarak itu tampak salah.

Takahashi tidak mundur. Tidak juga mengambil jarak.

“Pilih aja,” katanya santai, seolah tidak ada yang perlu diubah.

Airi memesan dengan suara kecil. Tangannya gemetar saat menerima crepes hangat itu. Manisnya tidak langsung terasa.

Yang ia rasakan justru pandangan-pandangan yang menilai. Bukan marah. Bukan terang-terangan. Tapi cukup untuk membuat dadanya menyempit.

Untuk pertama kalinya, rasa dimengerti itu bercampur dengan rasa takut.

Keesokan harinya, rumor bergerak lebih cepat dari langkah siapa pun.

Tidak ada yang mengatakannya langsung ke wajah Airi. Hanya bisikan di belakang. Tatapan yang berubah. Senyum yang tidak lagi sepenuhnya tulus.

“Airi sekarang sering diantar sensei, ya?”

“Katanya sering jalan bareng.”

“Pantesan belakangan dia beda.”

Airi tidak mendengar kalimat-kalimat itu secara utuh. Tapi ia merasakannya. Dalam jarak yang dijaga. Dalam percakapan yang terhenti ketika ia datang. Dalam udara yang terasa lebih dingin dari biasanya.

Di ruang latihan, suasana berubah.

Mei berhenti bicara di tengah kalimat. Ren lebih sering diam dari biasanya. Yukito menatap drum terlalu lama, seolah mencari ritme yang tidak kunjung datang. Haruto tidak berani menatapnya sama sekali.

Airi berdiri di depan mikrofon, menunggu.

Menunggu instruksi. Menunggu reaksi. Menunggu sesuatu yang tidak datang.

Tidak ada yang berkata apa-apa.

Dan untuk pertama kalinya, pujian Takahashi yang terngiang di kepalanya tidak cukup menutup sunyi itu.

Malamnya, Yukito duduk di kamarnya. Lampu meja menyala redup. Ia membuka buku catatan kecil yang jarang ia gunakan, yang biasanya hanya berisi coretan lagu atau jadwal latihan.

Tangannya gemetar saat menulis.

Ia tidak menulis kesimpulan. Tidak menulis tuduhan.

Hanya kalimat.

Kalimat yang ia dengar.

Tanggal. Waktu. Tempat.

Ia menutup buku itu perlahan.

Untuk pertama kalinya, ia memilih mencatat, bukan melupakan.

Musim dingin belum berakhir.

Dan sesuatu yang awalnya hanya terasa tidak nyaman kini mulai membentuk bayangan. Bayangan yang tidak bisa dihapus dengan pujian, atau senyum yang selalu muncul di waktu yang terlalu tepat.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!