Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31: Sumpah di Balik Debu
Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden apartemen elite di pusat kota, menyinari sisa-sisa pertempuran emosional semalam. Di atas ranjang yang berantakan, Rafael masih terlelap, wajahnya yang biasanya keras kini tampak rapuh dalam tidurnya. Alicia terjaga lebih dulu. Ia duduk bersandar pada kepala ranjang, memperhatikan setiap tarikan napas Rafael. Pria yang semalam merengkuhnya dengan penuh keputusasaan itu kini terlihat seperti anak kecil yang baru saja kehilangan dunianya.
Perlahan, Rafael membuka mata. Ia terkesiap kecil, seolah-olah realitas pahit kemarin baru saja menghantam kepalanya kembali seperti palu gada.
"Kau masih di sini?" bisik Rafael, suaranya serau.
Alicia tersenyum lembut, tangannya mengusap rambut Rafael yang berantakan. "Aku tidak akan ke mana-mana, Rafael. Sudah kubilang, kan? Dunia boleh membuangmu, tapi aku tidak."
Rafael bangkit dan duduk di tepi ranjang, menyembunyikan wajahnya di telapak tangan. "Semalam... aku merasa hidup. Namun pagi ini, kenyataan itu kembali. Aku sudah tidak punya gedung kantor untuk dikunjungi, atau rapat untuk dipimpin. Aku hanya seorang pria biasa sekarang."
Alicia bergeser mendekat, memeluk punggung lebar Rafael yang telanjang. Kulit mereka bersentuhan, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya ketidakpastian masa depan.
"Mungkin itu hal terbaik yang pernah terjadi padamu," gumam Alicia di bahu Rafael. "Selama ini kau membangun gedung-gedung yang tinggi, tapi kau tidak pernah membangun rumah untuk jiwamu sendiri. Sekarang kau bebas, Rafael."
Rafael berbalik, menatap mata Alicia dengan tatapan yang dalam dan perih. "Bebas? Bebas berarti tidak punya apa-apa, Alicia. Ayahku membangun Montenegro dengan darah dan air mata. Dan aku membiarkan paman sialanku merebutnya dalam satu malam."
"Kau tidak membiarkannya," bantah Alicia tegas. "Kau memilih untuk tetap jujur pada nuranimu. Itu jauh lebih berharga daripada kursi CEO yang penuh darah itu."
Rafael mencium dahi Alicia cukup lama. "Aku harus pulang ke apartemenku. Ada banyak hal yang harus kuselesaikan sebelum Mateo membekukan semua aksesku. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil satu sen pun dari harta pribadiku yang sah."
"Berjanjilah satu hal," Alicia menahan lengan Rafael saat pria itu hendak beranjak. "Jangan biarkan kemarahan itu mengubahmu menjadi Hector yang baru."
Rafael terdiam sejenak, menatap matanya sendiri yang terpantul di cermin. "Aku tidak akan menjadi Hector. Tapi aku juga tidak akan menjadi korban lagi."
...****************...
Dua jam kemudian, Rafael berdiri di depan pintu apartemen penthouse-nya yang mewah di pusat kota Madrid. Biasanya, tempat ini terasa seperti simbol kesuksesannya. Namun saat ia melangkah masuk, suasana terasa sangat berbeda. Tempat itu terasa luas, kosong, dan mati.
Setiap furnitur mahal dari Italia, lukisan abstrak yang harganya bisa membangun sebuah sekolah, dan pemandangan kota dari dinding kaca setinggi langit-langit... semuanya terasa seperti ejekan.
"Dingin sekali," gumam Rafael pada dirinya sendiri. Suaranya menggema di ruangan yang luas itu.
Ia berjalan menuju ruang kerja pribadinya. Di sana, tumpukan dokumen masih tertata rapi. Ia duduk di kursi kulitnya yang besar, kursi yang sama di mana ia sering menghabiskan malam untuk merancang strategi menelan perusahaan lain.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama Mateo muncul di layar. Rafael membiarkannya berdering hingga mati. Ia tidak ingin mendengar suara kemenangan pamannya. Ia tidak ingin dihina lagi.
Rafael membuka laptop pribadinya—satu-satunya perangkat yang tidak bisa diakses oleh departemen IT Montenegro Group. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik. Ia masuk ke dalam rekening-rekening rahasia dan investasi pribadinya yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun melalui bisnis sampingan yang bersih.
Totalnya mencapai miliaran Euro. Dengan jumlah tersebut, Rafael tetaplah seorang miliarder. Namun, melihat angka-angka itu, ia tidak merasa bangga. Rafael merasa jijik. Sebagian besar modal awal kekayaan ini berasal dari keuntungan Montenegro.
"Harta berdarah," desisnya.
Rafael meraih telepon dan menghubungi pengacara kepercayaannya, Tuan Rodrigo, satu-satunya orang yang tidak akan bisa dibeli oleh Mateo karena hutang nyawa masa lalu.
"Rodrigo, aku ingin kau memproses pengalihan aset sekarang juga," ujar Rafael tanpa basa-basi.
"Tuan Rafael? Saya dengar berita tentang dewan direksi. Saya sangat menyesal—"
"Jangan menyesal, Rodrigo. Ini adalah hari pembersihan," potong Rafael. "Aku ingin kau memindahkan seluruh dana di rekening pribadiku, seluruh investasi di Swiss, dan semua sahamku di perusahaan luar ke sebuah entitas baru."
"Nama entitasnya, Tuan?"
Rafael terdiam sejenak. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan cincin safir milik ibunya. Sinar matahari pagi memantul di atas batu biru itu, memberikan ketenangan yang aneh.
"Lara Foundation," ucap Rafael dengan mantap. "Semua dana ini akan dikelola atas nama ibuku. Dan tujuannya adalah membangun bisnis dari nol. Tanpa ada satu pun kata 'Montenegro' di dalam dokumen pendiriannya. Aku ingin nama itu dihapus secara mutlak dari hidupku."
"Tapi Tuan, memindahkan dana sebesar itu secara tiba-tiba akan menarik perhatian otoritas pajak dan juga paman Anda," Rodrigo memperingatkan.
"Lakukan saja. Aku akan menghadapi mereka. Jika Mateo ingin perang, aku akan memberinya perang, tapi bukan di atas tanah Montenegro. Aku akan membangun kerajaanku sendiri di atas tanah yang bersih."
Setelah menutup telepon, Rafael berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke gedung Montenegro Group yang menjulang di kejauhan. Bayangan ayahnya, Hector, seolah berdiri di sampingnya.
"Kau lemah, Rafael," suara imajiner Hector berbisik di kepalanya. "Kau membuang apa yang kubangun. Tanpa nama itu, kau bukan siapa-siapa."
"Aku bukan kau, Ayah," jawab Rafael pelan, matanya menatap tajam ke arah gedung itu. "Kau membangun gedung dengan menanam mayat di fondasinya. Aku akan membangun masa depanku dengan menghormati mereka yang kau hancurkan."
Ditengah perjuangan Rafael melawan bisikan tersebut. Tiba-tiba, pintu apartemennya terbuka dengan kasar. Mateo masuk diikuti oleh dua pengacara berpakaian rapi.
"Kau punya nyali untuk pulang ke sini, keponakanku yang malang," Mateo tertawa sinis, matanya mengamati ruangan mewah itu. "Nikmati tempat ini sementara kau bisa. Dewan sedang mempertimbangkan untuk menggugat balik semua fasilitas yang kau gunakan."
Rafael berbalik perlahan, wajahnya tenang—ketenangan yang justru membuat Mateo berhenti tertawa. "Apartemen ini dibeli dengan uang pribadiku, Mateo. Bukan fasilitas perusahaan. Bacalah dokumenmu dengan benar sebelum kau datang menjadi tamu tak diundang dan menggonggong di rumahku."
"Kau pikir kau masih punya kekuatan?" Mateo melangkah mendekat, mencoba mengintimidasi. "Dunia luar sudah tahu kau dibuang. Tidak ada bank yang akan meminjamkanmu uang. Tidak ada kontraktor yang akan bekerja sama denganmu. Kau sudah selesai."
Rafael berjalan mendekati pamannya, berhenti hanya beberapa sentimeter dari wajah Mateo. "Kau tahu apa bedanya aku denganmu, Mateo? Kau butuh nama itu untuk merasa penting. Kau butuh kursi itu untuk merasa berkuasa. Aku?"
Rafael mengangkat tangan kanannya yang menggenggam cincin ibunya. "Aku bisa kehilangan segalanya dan tetap menjadi orang yang paling kau takuti. Karena aku tahu semua rahasia kotor yang kau simpan di balik laci meja itu. Pergilah dari sini sebelum aku kehilangan kesabaranku dan menyeretmu ke penjara bersamaku."
Mateo mendengus, namun ada sedikit ketakutan di matanya. "Kita lihat saja berapa lama kau bertahan, Rafael. Tanpa Montenegro, kau hanyalah sampah di jalanan Madrid."
Setelah Mateo pergi, Rafael merasa dadanya sesak. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
"Rafael Lara," bisiknya. "Nama itu terdengar lebih baik."
...****************...
Malam tiba. Rafael duduk di lantai apartemennya yang kosong—ia sudah memerintahkan staf untuk mulai mengangkut furnitur-furnitur yang terlalu mewah itu untuk dilelang. Ia hanya menyisakan satu kursi dan sebuah meja kecil.
Ia menghubungi Alicia.
"Sudah selesai?" suara Alicia terdengar hangat di seberang sana, memberikan perlindungan instan bagi hati Rafael yang lelah.
"Sudah. Dana sudah dipindahkan. Lara Foundation sudah resmi berdiri," jawab Rafael. "Apartemen ini... aku akan menjualnya, Alicia. Aku tidak bisa tinggal di tempat yang penuh dengan kenangan tentang pria yang kuhancurkan sendiri."
"Pilihan yang bagus, Rafael," sahut Alicia. "Aku juga sedang melakukan hal yang sama. Papan nama Solera sudah turun. Hari ini aku memesan papan nama baru—Fernández Luxury Homes."
Rafael tersenyum kecil—senyum tulus pertama hari itu. "Fernández dan Lara. Dua orang asing yang mencoba bertahan hidup di dunia yang mereka hancurkan sendiri."
"Bukan orang asing, Rafael," ralat Alicia lembut. "Dua orang yang akhirnya menemukan jati diri mereka."
"Aku merindukanmu," bisik Rafael.
"Datanglah ke sini. Tempat ini tidak mewah, tapi ini rumah," jawab Alicia di seberang panggilan.
Rafael mematikan lampu apartemennya. Untuk pertama kalinya, kegelapan di ruangan itu tidak lagi terasa mengancam. Ruang kosong itu kini bukan lagi lambang kehilangan, melainkan kanvas kosong untuk masa depan yang baru.
Ia melangkah keluar, menutup pintu apartemen mewahnya untuk terakhir kali, dan tidak pernah menoleh ke belakang lagi. Di sakunya, cincin safir itu terasa hangat—sebuah janji bahwa badai ini mungkin akan menghancurkan rumahnya, tapi tidak akan pernah menghancurkan jiwanya.