8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.
Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.
Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.
Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.
Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31. sahabat sesungguhnya
Matahari Sabtu pagi menyelinap malu-malu di balik gorden sutra kamar utama. Kamar yang dulunya terasa luas dan hampa, kini mulai terasa hangat meski sisa-sisa kecanggungan masih menggantung di udara. Di atas ranjang king size itu, Aldric masih terlelap, napasnya teratur. Tubuhnya secara naluriah mencari kehangatan, dan pagi ini, ia menemukan "rumah"-nya dalam dekapan Eveline.
Eveline terbangun lebih dulu. Ia merasakan lengan kekar Aldric melingkar protektif di pinggangnya. Sejenak, ia terdiam, menatap wajah suaminya yang tampak jauh lebih tenang saat tidur—tanpa kerutan tegas atau tatapan tajam yang biasanya mendominasi.
Perlahan, Eveline melepaskan diri. Ia bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan sederhana untuk keluarga kecilnya. Setelah aroma nasi goreng dan telur mata sapi memenuhi ruangan, ia kembali ke kamar. Ia melirik jam dinding. Pukul tujuh lewat sepuluh.
"Mas... Mas Aldric, bangun," bisik Eveline sambil berdiri di tepi ranjang.
Aldric hanya mengerang pelan, menarik selimut lebih tinggi.
"Mas, bangun. Nanti kamu kesiangan ke kantor. Ini sudah jam tujuh lewat," Eveline mengguncang bahu Aldric pelan.
Tanpa diduga, tangan Aldric bergerak cepat. Ia meraih pergelangan tangan Eveline dan menariknya hingga wanita itu jatuh terduduk, lalu tertarik ke dalam pelukannya di atas ranjang.
"Astaga! Mas! Apa-apaan sih?" seru Eveline kaget, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Aldric yang masih memejamkan mata.
"Sebentar lagi... Mas masih mengantuk, Eve," gumam Aldric dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kamu harus ke kantor, Aldric. Nanti kolega kamu menunggu," protes Eveline, jantungnya berdegup kencang karena posisi mereka yang terlalu intim.
Aldric perlahan membuka matanya, menatap Eveline dengan sayu namun dalam. "Ini hari Sabtu, Eve. Ini weekend."
Eveline mengernyit heran. "Lalu? Biasanya juga kamu tetap ke kantor atau menemui kolega meski hari libur, kan?"
"Waktunya istirahat," jawab Aldric singkat. "Untuk apa ke kantor kalau aku bisa di sini?"
"Kamu aneh," Eveline mencoba mendorong dada bidang Aldric. "Ya sudah, kalau mau tidur lagi, lepasin dulu. Aku mau sarapan sama Sera. Kasihan dia sudah menunggu."
"Satu menit saja. Mas cuma mau peluk kamu sebetar. Hangat," bisik Aldric lagi, malah mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di pundak Eveline.
Eveline membeku. Ada rasa gugup yang menjalar, namun ia tak bisa menampik rasa hangat yang mulai merembat ke hatinya. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Aldric akhirnya melepaskan pelukannya dan beranjak menuju kamar mandi dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Suasana meja makan pagi itu jauh lebih ceria. Sera tampak semangat menyantap sarapannya.
"Sera, setelah ini kita mandi yang bersih, ya. Pakai baju yang bagus," ujar Aldric sambil mengusap kepala putrinya.
"Mau ke mana, Daddy?" tanya Sera dengan mata berbinar.
"Kita jalan-jalan keluar. Mau?"
"Mau banget! Mom, kita jalan-jalan kan?"
Sera menatap Eveline penuh harap.
Eveline melirik Aldric sejenak, lalu tersenyum pada Sera. "Iya, Sayang. Kita pergi jalan-jalan."
Tepat pukul sepuluh, mereka sudah berada di sebuah area terbuka yang hijau dan ramai. Sera berlari ke sana kemari dengan riang. Namun, langkah Aldric terhenti saat ia melihat sosok pria yang sangat familiar berjalan ke arah mereka.
"Rion?" gumam Eveline.
"Lho, Al? Eve? Kalian di sini?" Rion menyapa dengan senyum lebar.
"Papu! Papi Rion!" Sera berlari memeluk kaki Rion.
"Halo, Tuan Putri! Wah, makin cantik saja," puji Rion sambil menggendong Sera sebentar.
Wajah Aldric seketika berubah masam. Ia melipat tangan di dada, berdiri dengan gestur protektif di samping Eveline. "Ngapain lo di sini?"
Rion menurunkan Sera. "Gue cuma lagi cari angin. Nggak nyangka ketemu kalian. Boleh gabung sebentar?"
"Nggak—"
"Boleh dong. Kebetulan kita juga baru sampai," potong Eveline cepat, membuat Aldric mendesis kesal.
'Sial, merusak momen keluarga saja,"gerutu Aldric dalam hati.
Beberapa saat kemudian, mereka bersama sama bermain, sampai Sera menarik tangan Eveline. "Mommy, Sera mau es krim yang di sana! Ayo beli!"
"Oh, oke. Mas, aku temani Sera beli es krim dulu ya sebentar," pamit Eveline.
Kini tinggal Aldric dan Rion yang berdiri canggung di bawah naungan pohon besar. Rion memperhatikan Aldric yang terus menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa lo lihatin gue kayak mau nerkam gitu, Al?" Rion terkekeh. "Tumben banget lo di sini. Biasanya hari Sabtu begini lo udah nempel sama berkas di kantor atau lagi main golf sama kolega kelas kakap lo."
"Bukan urusan lo," sahut Aldric dingin. "Mau gue kerja kek, mau gue libur kek, nggak bakal ngerugiin hidup lo juga, kan?"
Rion menyandarkan punggungnya ke batang pohon. "Gue cuma heran aja. Sejak kapan Aldric yang gila kerja tahu artinya hari libur?"
"Gue perlu quality time sama keluarga gue," tukas Aldric ketus. "Tapi malah diancurin sama lo yang tiba-tiba datang. Ngerusak acara keluarga aja tahu nggak."
Rion tertawa kecil, tawa yang membuat telinga Aldric makin panas. "Bilang aja kalau lo cemburu karena ngerasa gue lebih dekat sama Sera dan Eveline selama ini."
"Rion, jaga ucapan lo!"
Rion berhenti tertawa, ekspresinya berubah menjadi lebih serius namun tetap tenang.
"Dengar, Al. Gue nggak ada niat buat rebut mereka berdua dari lo. Nggak pernah."
Aldric terdiam, menunggu kelanjutan kalimat sahabatnya itu.
"Selama ini gue hadir buat mereka, karena mereka udah sering lo sakitin," lanjut Rion tanpa ragu. "Gue ada di sana saat Eveline menangis dan Sera nanyain daddynya yang nggak pernah pulang tepat waktu."
Rahang Aldric mengeras, namun ia tidak membantah.
"Mungkin kalau sekarang lo masih nyakitin Eveline, gue bakal beneran rebut dia dari lo," Rion menatap lurus ke mata Aldric. "Tapi lihat perubahan lo sekarang... jujur, gue senang. Akhirnya lo sadar ada cinta yang udah lama lo abaikan tepat di depan mata lo sendiri."
Aldric tertegun. Amarah yang tadinya meluap-luap perlahan surut, digantikan oleh rasa sesak di dadanya.
"Tenang aja, gue nggak akan rusak kebahagiaan lo, Al. Tapi ingat satu hal," suara Rion merendah, memberi peringatan. "Kalau lo sampai nggak bisa membahagiakan Eveline dan nyakitin dia lagi, jangan salahkan gue kalau gue bawa Eveline pergi jauh dari lo. Eveline nggak pantas buat terus lo sakitin. Dia itu wanita baik yang gak pantas mendapatkan perlakuan jahat Lo itu."
Hening sejenak di antara mereka. Angin sepoi-sepoi meniup rambut Aldric yang kini tampak tertunduk lesu.
"Gue masih sahabat lo, Al," ucap Rion sambil menepuk bahu Aldric dengan akrab. "Lihat lo bahagia sama keluarga lo, gue ikut senang. Gue nggak pernah mau merebut kebahagiaan sahabat gue sendiri."
Aldric mendongak, menatap Rion dengan pandangan yang sudah jauh melunak. Ia tidak tahu harus berkata apa. Semua kecurigaannya selama ini terasa sangat konyol di depan ketulusan Rion.
"Sudah ya, gue harus pergi. Masih ada kerjaan yang harus diselesaikan," Rion melambaikan tangan saat melihat Eveline dan Sera berjalan kembali ke arah mereka dengan es krim di tangan. "Titip salam buat Eveline dan Sera. Gue duluan."
Rion melangkah pergi, berpapasan sebentar dengan Eveline dan Sera untuk berpamitan singkat. Aldric berdiri mematung, menatap punggung sahabatnya yang menjauh.
"Lho, Rion udah pulang?" tanya Eveline saat sampai di samping Aldric.
Aldric tidak langsung menjawab. Ia memikirkan semua perkataan Rion. Selama ini dia salah menilai pria itu. Dia begitu buta oleh kecemburuan sampai lupa bahwa Rion-lah yang menjaga "harta"-nya saat ia sendiri asyik mengejar dunia.
Seharusnya ia berterima kasih karena Rion sudah menjaga Eveline dan Sera selama ia acuh pada mereka.
Rion masih sahabatnya. Sahabat yang tidak pernah pergi, yang terus mendukungnya dengan cara yang paling jujur, bahkan dengan cara menegurnya dengan keras.
"Mas? Kamu kenapa?" Eveline menyentuh lengan Aldric, khawatir melihat suaminya melamun.
Aldric tersadar, ia menoleh ke arah Eveline dan Sera, lalu tersenyum tulus—senyum yang benar-benar sampai ke matanya.
"Nggak apa-apa, Eve. Tadi Rion ada kerjaan jadi pulang duluan,dia juga titip salam," jawab Aldric lembut. Ia merangkul bahu Eveline dan menggandeng tangan kecil Sera. "Ayo, kita lanjut jalan-jalannya. Hari ini milik kita bertiga."
Eveline menatap Aldric dengan heran namun bahagia. Ia bisa merasakan ada beban yang terangkat dari pundak suaminya. Dan di bawah langit Sabtu yang cerah itu, Aldric berjanji dalam hati untuk tidak akan pernah membiarkan Rion memiliki alasan untuk membawa keluarganya pergi. Karena mulai detik ini, ia akan menjadi alasan mereka untuk tetap tinggal.
smoga segera launching adikmu