Atas desakan ayahnya, Poppy Yun datang ke Macau untuk membahas pernikahannya dengan Andy Huo. Namun di perjalanan, ia tanpa sengaja menyelamatkan Leon Huo — gangster paling ditakuti sekaligus pemilik kasino terbesar di Macau.
Tanpa menyadari siapa pria itu, Poppy kembali bertemu dengannya saat mengunjungi keluarga tunangannya. Sejak saat itu, Leon bertekad menjadikan Poppy miliknya, meski harus memisahkannya dari Andy.
Namun saat rahasia kelam terungkap, Poppy memilih menjauh dan membenci Leon. Rahasia apa yang mampu memisahkan dua hati yang terikat tanpa sengaja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Saat Poppy tengah fokus membidik bola sasaran, tiba-tiba seorang pria berjalan tergesa-gesa melewati sisinya. Bahunya menghantam tubuh Poppy cukup keras hingga gadis itu tersentak ke depan.
“Hei! Apa kau berjalan tanpa melihat?” seru Poppy kesal.
Pria itu sama sekali tidak berhenti. Dengan jas rapi dan langkah tergesa, ia terus melaju seolah tak terjadi apa-apa.
Poppy menyipitkan mata, rasa curiga langsung muncul.
“Kenapa dia berjalan secepat itu?” gumamnya. “Jangan harap kau bisa lari dariku.”
Tanpa ragu, Poppy melangkah mengikuti pria tersebut sambil masih menggenggam tongkat biliarnya.
“Hei, berhenti!” panggil Poppy. “Kenapa kau lari?”
Namun pria itu justru mempercepat langkahnya.
“Mencurigakan sekali,” gerutu Poppy. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Leon.
“Hallo,” suara Leon terdengar tegas dari lantai atas, “cepat tinggalkan tempat itu!”
“Paman, ada orang yang mencurigakan,” jawab Poppy dengan nada rendah. “Aroma tubuhnya aneh… seperti bensin.”
Di kantor, ekspresi Leon langsung berubah. Ia bangkit dari kursinya.
“Kau ada di mana sekarang?” tanyanya cepat.
“Aku sedang mengikutinya,” jawab Poppy sambil tetap menjaga jarak dari pria itu.
“Poppy, dengarkan aku,” suara Leon mengeras. “Datang ke kantorku sekarang juga. Jangan bertindak sendirian. Orang itu bisa berbahaya.”
Sambil berbicara, Leon memberi isyarat pada anak buahnya. Mereka langsung bergerak mengikuti langkah sang bos.
“Paman,” ujar Poppy lagi dengan napas sedikit memburu, “orang itu menuju ke koridor.”
Leon menggenggam ponselnya erat.
“Jangan terlalu dekat. Tetap di tempat terbuka. Aku segera ke sana.”
Di kejauhan, pria itu berbelok ke arah koridor yang lebih sepi—dan firasat buruk mulai menyelimuti Poppy.
“Dia pasti berniat jahat pada Paman,” gumam Poppy sambil mempercepat langkahnya.
Saat hendak membelok ke arah koridor, tiba-tiba kilatan cahaya dingin menyambar. Sebilah senjata tajam meluncur ke arah wajahnya.
Refleks, Poppy mundur satu langkah ke belakang. Hampir bersamaan, ia mengayunkan tongkat biliarnya ke arah tangan pria itu.
“Cari mati!” bentak pria tersebut dengan sorot mata buas, senjata tajamnya kembali diarahkan ke depan. “Kenapa kau suka ikut campur?”
“Ini kasino pamanku,” jawab Poppy tegas, suaranya dingin meski jantungnya berdegup kencang. “Kau yang seharusnya meminta maaf padaku. Kalau tidak, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.”
Tanpa memberi kesempatan, Poppy kembali mengayunkan tongkat biliarnya. Pukulannya terarah dan disengaja—menghantam lengan, bahu, hingga kaki pria itu. Pria tersebut terhuyung, terdesak, dan terus mundur sambil menahan erangan kesakitan.
Tiba-tiba, sebuah bungkusan kecil terjatuh dari saku jasnya.
Poppy tertegun sejenak saat melihat plastik kecil berisi serbuk putih.
Mata pria itu membelalak. Ia buru-buru membungkuk, hendak meraih bungkusan tersebut.
Namun Poppy lebih cepat.
Tongkat biliarnya melayang ke arah kepala pria itu.
Bruk!
Tubuh pria tersebut ambruk ke lantai, tak bergerak, sementara bungkusan kecil itu tergeletak jelas di antara mereka—menjadi bukti yang tak bisa disangkal.
“Kau siapa, hah? Kenapa datang ke tempat ini?” tanya Poppy sambil mengarahkan tongkat biliarnya ke arah pria tersebut. Sorot matanya tajam, tak menunjukkan sedikit pun rasa gentar.
“Gadis sialan,” geram pria itu sambil menyeringai. “Lebih baik kau tidak ikut campur. Kalau tidak, kau akan terseret ke dalam masalah besar.”
“Kau berani mengancamku?” Poppy tertawa kecil, namun nadanya dingin. “Sejak kecil sampai dewasa, hanya papaku yang bisa mengancamku. Kau? Kau hanyalah orang luar.” Pandangannya turun ke bungkusan kecil di lantai. “Benda apa yang kau bawa?”
Ia melangkah mendekat, berniat mengambil bungkusan tersebut.
Namun secepat kilat, pria itu kembali mencabut pisaunya dan menghujamkannya ke arah Poppy.
Sebuah tangan besar tiba-tiba menangkap pergelangan tangan pria itu di udara. Leon muncul entah dari mana, wajahnya dingin dan penuh amarah. Dengan satu gerakan tegas, ia memutar tangan pria tersebut.
Krak!
Terdengar suara tulang yang patah.
Pria itu menjerit kesakitan, pisaunya terlepas dan jatuh ke lantai. Leon mendorong tubuhnya hingga tersungkur, lalu berdiri di depan Poppy, posisi melindungi ... tatapannya setajam pisau yang barusan hampir melukai gadis itu.
“Bos, dia membawa narkotika masuk ke kasino,” lapor Vic sambil mengangkat bungkusan kecil yang tadi terjatuh. Serbuk putih di dalamnya membuat situasi semakin mencekam. Pria itu sudah ditahan oleh beberapa anak buah Leon, kedua tangannya terpelintir ke belakang.
“Beri dia pelajaran,” perintah Leon dingin. “Paksa dia bicara. Kalau dia memilih diam…” sorot matanya mengeras, “…cabut giginya.”
Pria itu langsung pucat pasi, tubuhnya gemetar saat diseret pergi.
“Paman hebat sekali,” ucap Poppy dengan mata berbinar. “Sekali gerak saja sudah mengalahkannya.”
Leon menoleh ke arahnya. Tatapan tajamnya membuat senyum Poppy perlahan memudar.
“Apa kau tahu betapa berbahayanya tadi?” suara Leon meninggi, jelas menahan amarah. “Dia bisa saja membunuhmu. Kenapa kau tidak mendengarkan perkataanku?”
“Paman,” jawab Poppy tenang, menatapnya balik tanpa gentar. “Kalau aku tidak mengikutinya, apakah paman bisa tahu dia membawa barang itu? Bisa saja dia sudah menyelipkannya di suatu tempat dan menjebak paman.”
“Walaupun begitu,” potong Leon tegas, “bukan berarti kau harus ikut campur. Kalau dia menikammu, kau tahu akibatnya?”
“Aku tahu,” jawab Poppy pelan, lalu tersenyum tipis. “Tapi aku juga tahu paman akan datang tepat waktu dan menyelamatkanku. Dan buktinya… paman memang datang.”
Leon terdiam sejenak. Amarah di wajahnya perlahan berganti dengan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.
“Poppy Yun,” ucapnya lebih rendah namun berat, “tidak selamanya kau akan seberuntung hari ini. Suatu saat, kalau aku tidak ada di sisimu, kau harus bisa menjaga dirimu sendiri. Jangan bertindak gegabah hanya karena merasa aman.”
Ia menatap gadis itu dalam-dalam.
“Kau adalah seorang gadis, terutama di Macau. Kota ini penuh dengan penjahat. Mereka ada di mana-mana.” Suaranya mengeras. “Macau juga termasuk sarang narkoba. Sedikit saja lengah, nyawamu bisa melayang.”
Poppy terdiam, untuk pertama kalinya benar-benar menyadari ketakutan yang tersembunyi di balik ketegasan Leon.
"Paman sedang mencemaskan aku?" tanya Poppy.
"Poppy Yun, mulai hari ini jangan lagi datang ke kasino. Dan segera tinggalkan Macau!" kata Leon dengan tegas.
up nya jgn dkt ya thor
semangatt💪💪💪💪
gantung nih