Rembulan Adreyna—seorang wanita muda yang tumbuh dari kehilangan dan kerja keras, hidupnya berputar di antara deadline, tanggung jawab,dan ambisi yang terus menekan. Hingga satu hari, langkahnya membawanya ke Surabaya—kota yang menjadi saksi awal pertemuannya dengan seorang pria bernama Bhumi Jayendra, CEO dingin pemilik jaringan hotel dan kebun teh di kaki gunung Arjuno.
Bhumi, dengan segala kesempurnaannya, terbiasa memegang kendali dalam segala hal—kecuali ketika pandangannya bertemu Rembulan untuk pertama kali. Di balik sorot matanya yang dingin, tersimpan sunyi yang sama: kehilangan, tanggung jawab, dan kelelahan yang tak pernah diucapkan.
Pertemuan mereka bukan kebetulan. Ia adalah benturan dua dunia—teknologi dan tradisi, dingin dan hangat, ambisi dan rasa takut. Namun perlahan, dalam riuh kota dan aroma teh yang lembut, mereka belajar satu hal sederhana: bahwa cinta bukan datang dari siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang lebih berani membuka luka lama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lacataya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Resign
Sore itu apartemen Bulan dipenuhi cahaya keemasan dari matahari yang hampir tenggelam. Rintik hujan tipis mengetuk jendela kaca, menciptakan ritme lembut yang menyatu dengan aroma teh jahe hangat di atas meja kerja. Di layar laptop, jendela Zoom sudah terbuka—ikon kamera berkedip pelan menunggu semua peserta masuk.
Bulan duduk tegak di kursinya, kedua tangannya melingkari cangkir yang masih mengeluarkan uap halus. Napasnya teratur, tapi jarinya sesekali mengetuk pelan pegangan cangkir—tanda kecil kegugupan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Di sampingnya, Liora duduk bersila di sofa, memeluk bantal kecil seolah itu jangkar emosinya. Rambut Italian bob-nya jatuh sedikit menutupi pipi, dan ia beberapa kali mengembus napas panjang, mencoba menata diri sebelum pertemuan dimulai.
Sebelum Pak Yanuar bergabung, Bulan menoleh sedikit.
“Li…” suaranya rendah, hati-hati. “Lo udah reschedule… soal pembatalan uji coba tahap sinkronisasi final dan serah terima ke Arjuno Group? Dari sore ini ke besok sore?”
Liora mengangguk cepat, wajahnya serius tapi tetap manis.
“Udah, Bul. Tadi gue langsung hubungin Pak Arsen.” Ia memutar ponsel di tangannya. “Dia bilang nggak apa-apa, malah lebih baik kalau besok. Arsen udah update kalender tim-nya juga.”
Bulan menghela napas lega. “Oke. Makasih ya.”
“Tenang,” Liora tersenyum tipis sambil menyentuh lengan Bulan sebentar. “Semua yang bisa kita rapihin, kita rapihin dan kita selesain dengan cantik.”
Belum sempat Bulan membalas, notifikasi di layar muncul. “Pak Yanuar has joined the meeting”, suasana ruangan seperti langsung berubah.
Jendela video beliau terbuka. Pak Yanuar tampak di kantor pusat Jakarta, dengan pencahayaan warm yang memantulkan gurat-gurat lelah di wajahnya. Ada senyum kecil tersungging—seperti refleks seorang ayah yang selalu hangat menyapa anak-anaknya—namun mata beliau menyimpan kecemasan halus yang sulit disembunyikan.
“Bulan… Liora…” Suaranya lembut, sedikit serak, seperti baru saja mengakhiri hari panjang. “Ada apa, Nak? Kok mendadak minta meeting?”
Bulan berusaha tersenyum sopan. “Maaf, Pak. Kami ganggu jam istirahat.”
Pak Yanuar menggeleng, senyum beliau melunak. “Kalau soal kalian berdua, saya nggak pernah merasa terganggu. Ada apa sampai kalian butuh bicara sekarang?”
Liora menukar tatap dengan Bulan—tatapan kecil yang menyiratkan: kamu dulu, aku nyusul.
Bulan meletakkan cangkirnya pelan, merapikan anak rambut di belakang telinga, lalu mendongak dengan ketenangan yang ia bangun susah payah.
“Pak…” Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia kira. “Ada hal penting yang ingin kami sampaikan.”
Pak Yanuar mencondongkan tubuh, sorot matanya berubah serius tapi tetap penuh kasih.
“Silakan, Nak. Saya mendengarkan.”
Bulan menghela napas tipis—hanya satu detik, tapi bagi Liora itu sudah cukup untuk tahu betapa berat kalimat berikutnya.
“Kami… ingin mengajukan pengunduran diri dari PT Global Teknologi, Pak.”
Di layar, wajah Pak Yanuar langsung berhenti bergerak. Seolah seluruh pixel membeku bersamaan dengan napas beliau. Senyumnya meredup perlahan… sampai hilang sama sekali.
“Kalian…” Ia menelan napas, matanya berkedip cepat seolah memastikan tidak salah dengar. “Resign…?”
Liora meremas bantal kecil di pangkuannya, sementara Bulan duduk sedikit lebih tegap—seolah menahan diri agar suaranya tidak bergetar.
“Iya, Pak,” jawab Bulan lembut. “Kami ingin mengajukan pengunduran diri.”
Beberapa detik lewat tanpa suara. Hanya terdengar hujan tipis di luar jendela dan suara kipas laptop yang bekerja ringan.
“Bulan, Liora…” Nada Pak Yanuar berubah rendah, lebih pelan, seperti seorang ayah yang baru saja diguncang kabar besar.
“Kalian serius? Apa ada masalah? Ada tekanan? Atau… saya melakukan sesuatu yang tidak kalian suka?”
“Tidak, Pak. Sama sekali tidak,” Liora cepat menjawab sambil menggeleng kecil. “Bapak tidak salah apa pun.”
Bulan menunduk sesaat sebelum menatap lagi, suaranya jernih namun lembut, penuh kontrol diri.
“Alasannya… sederhana, Pak. Saya… punya kesan buruk terhadap Pak Farhan. Dari masa lalu saya sebenarnya, dan saya tidak sanggup bekerja di satu lingkungan dengannya. Bahkan satu ruangan pun… berat.”
Pak Yanuar memejamkan mata sebentar—sekilas saja—tapi cukup terlihat bahwa kalimat itu menusuk hatinya.
“Kenapa kamu nggak cerita dari awal, Nak?” Suaranya terdengar patah. “Andai saya tahu… saya pasti lakukan sesuatu.”
Bulan menggeleng pelan, tersenyum kecil yang menggambarkan kedewasaan yang mengenaskan.
“Bapak sudah melakukan banyak hal. Dan saya tidak ingin Bapak repot karena hal yang seharusnya sudah saya tutup lama.”
Liora menambahkan, “Saya ikut Bulan, Pak. Saya tahu apa yang terjadi di masa lalunya. Saya tidak akan biarkan dia menjalani ini sendirian.”
Jeda lagi. Perlahan, Pak Yanuar menyandarkan tubuhnya ke kursi. Bahunya turun sedikit—gerakan kecil yang menggambarkan betapa berat kalimat itu bagi beliau.
“Kalian berdua ini…” Nada beliau pecah tipis. “Saya ini sudah anggap kalian anak sendiri. Dari kantor lama kita yang AC-nya sering ngadat, dari masa-masa lembur sampai jam tiga pagi… kalian selalu ada. Kalian nggak pernah ninggalin saya.”
Bulan tersenyum… senyum rapuh tapi hangat. “Kami juga anggap Bapak seperti ayah kami, Pak.”
Liora menimpali, “Iya, Pak. Kita udah lewatin banyak banget suka dan duka. Mana bisa kami lupakan?”
Pak Yanuar mengusap wajah dengan tangan besar miliknya—gerakan lelah dan emosional. “Saya… berat melepas kalian. Sangat.” Beliau menarik napas dalam.
“Tapi saya nggak akan pernah memaksa anak saya bertahan di tempat yang membuat mereka tidak nyaman.”
Keheningan menyelimuti layar sejenak. Bulan meraih tangan Liora di sampingnya—sebuah gesture kecil yang bertahan lama, stabil.
Bulan melanjutkan, nada suaranya stabil meski matanya berkaca. “Kami tetap akan menyelesaikan semua proyek Surabaya sampai Bapak dapat pengganti kami. Semua klien, timeline, dokumentasi… semuanya akan kami serahkan dengan rapi.”
“Benar, Pak,” Liora mengangguk. “Kami nggak bakal tinggalin apa pun berantakan.”
Pak Yanuar menggeleng pelan, gurat hangat muncul di wajahnya. “Kalian itu… luar biasa. Dari awal sampai akhir tetap profesional.”
Bulan menarik napas tipis sebelum menambahkan hal terakhir, “Mohon, Pak… jangan beritahu siapa pun alasan resign kami. Terutama Pak Farhan, Kami tidak ingin mempermalukan siapa pun. Biarkan keputusan ini… hanya ada di ruangan Zoom ini.”
Mata Pak Yanuar sedikit merah. Beliau menahan senyum yang menggetarkan bibirnya.
“Kalian masih sama seperti dulu,” katanya lirih. “Diam-diam kuat, diam-diam baik… dan diam-diam paling mikirin orang lain.”
Liora nyengir kecil walau matanya ikut berkaca. “Itu bawaan lahir, Pak.”
Pak Yanuar tertawa kecil—pelan, patah, tapi hangat. Kemudian ia menarik napas panjang, menegakkan tubuh.
“Baiklah.” Beliau mengangguk perlahan, seolah menyusun tekad. “Besok pagi saya akan umumkan ini di meeting online. Sekalian perkenalkan Pak Farhan sebagai pengganti Pak Siregar.”
Nada beliau turun, hampir seperti bisikan, “Meski berat… saya terima pengunduran diri kalian.”
Bulan menunduk hormat. Liora ikut mengikuti, tangan masih memegang bantal seperti pegangan terakhir.
“Kalian tetap anak saya.” Ucapan itu keluar begitu tenang… dan begitu menghantam.
Bulan tersenyum kecil, tulus, hangat. “Kami tidak pergi jauh, Pak. Hanya pindah tempat kerja.”
Liora menambahkan sambil melambai manja ke kamera, “Kami still available for chitchat kok, Pak. Bulan bahkan bakal tetap kirim brownies favorit Ibu.”
Pak Yanuar tertawa—lebih lepas kali ini. “Tuh kan… mana bisa saya beneran ditinggal dua anak manis ini.”
Pertemuan itu tidak ditutup dengan formalitas. Hanya salam lembut dan wajah yang saling menatap penuh rasa hangat dan kehilangan. Zoom meeting berakhir. Tapi kedekatan mereka… tetap tinggal.
**
Surabaya pagi itu diselimuti kabut tipis. Bulan sudah duduk di meja kerja sejak pukul tujuh, rambutnya disisir rapi ke belakang, mengenakan kemeja putih bersih dan celana kulot warna krem yang membuatnya terlihat profesional sekaligus tak terbaca. Di sampingnya, Liora duduk dengan postur tegak, bibirnya mengatup rapat—gesture yang jarang ia lakukan, pertanda ia sedang berusaha menjaga emosi.
Zoom meeting terbuka. Kotak-kotak wajah mulai muncul satu per satu: tim pusat Jakarta, tim divisi projek, divisi kreatif, CEO cabang, COO cabang, hingga para manajer cabang.
Hingga pada menit ke-2, notifikasi muncul: “Farhan Pahlevi has joined the meeting.” Disusul satu lagi: “Pak Yanuar (Komisaris Utama) has joined the meeting.”
Suasana langsung dipenuhi keheningan formal. Pak Yanuar muncul dengan senyum profesional, tapi ada ketegangan lembut di baliknya.
“Selamat pagi semuanya,” ucapnya. “Kita langsung mulai saja, karena ada hal penting yang harus saya sampaikan.”
“Kita mulai dari kabar pertama… pengangkatan direksi baru menggantikan Pak Siregar.” Pak Yanuar menatap layar, lalu melirik ke salah satu kotak.
“Saya perkenalkan, Pak Farhan Pahlevi. Beliau akan menjabat sebagai Direktur Operasional baru, dan akan handle langsung koordinasi antar cabang, termasuk Surabaya.”
Semua mata otomatis bergerak ke kotak video Farhan. Farhan tersenyum sopan. “Selamat pagi semua. Saya Farhan Pahlevi, mohon kerja samanya.”
Nada suaranya stabil. Tapi ketika ia sadar nama Surabaya disebut, tatapannya—hanya sekilas—bergerak ke kotak Bulan dan Liora.
Begitu matanya fokus pada kotak video Bulan—yang duduk tegak, rambut tersisir rapi, wajah tenang dalam balutan kemeja putih—Farhan seperti tersengat sesuatu yang dingin dan menyesakkan sekaligus.
Sudah lama ia tidak melihatnya dari jarak sedekat ini, meski hanya lewat layar. Dan dalam sekejap itu, ia sadar, Bulan jauh lebih cantik dari yang ia ingat. Lebih matang. Lebih mempesona. Aura yang dulu membuatnya terobsesi—kini tumbuh menjadi sesuatu yang cantik, elegan dan tak bisa ia sentuh.
Ada kilatan kecil di matanya—campuran keterpukauan dan rasa bersalah yang meremas lehernya.
Tanpa sadar, Farhan menelan ludah. Tangannya terangkat sedikit, merapikan kerah kemejanya yang padahal tidak kusut, lalu ia memperbaiki posisi duduk seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Ujung jarinya mengetuk meja dua kali—refleks gugup yang tidak bisa ia kendalikan.
Lehernya menegang. Dada mengeras. Dan wajahnya langsung berubah.
Kedua matanya meredup sepersekian detik, rahang mengeras, dan udara seolah tertarik keluar dari paru-parunya. Seakan dunia tiba-tiba menghantamnya dari belakang.
Ia tidak siap. Tidak untuk pertemuan ini. Tidak untuk melihat Bulan yang telah tumbuh menjadi versi dirinya yang paling tak terjangkau. Dalam hening kurang dari dua detik itu, ekspresi Farhan runtuh perlahan. Dan… terpukul oleh kenyataan bahwa perempuan yang dulu ia akan sakiti kini berdiri jauh lebih kuat daripada dirinya.
Di mata Farhan, Bulan selalu menjadi sosok yang sulit dihapus. Cantik, cerdas, dan memiliki ketenangan yang anehnya semakin membuatnya terobsesi. Sejak pertama kali melihat gadis itu duduk di kantin kampus—hening dengan buku di tangan, senyum tipis di sudut bibirnya—ada sesuatu di dalam diri Farhan yang langsung bergeser.
Dan sejak hari itu, ia tidak pernah benar-benar berhenti memperhatikan Bulan.
Tatapan tenang Bulan, cara ia berjalan tanpa tergesa, cara ia menatap seseorang dengan fokus yang dingin namun sopan… semuanya membentuk rasa ingin memiliki yang tidak pernah bisa ia kendalikan.
Obsesi itu membuatnya menguntit, mengikuti, dan mempelajari setiap langkah Bulan seperti seseorang yang tidak tahu lagi bagaimana caranya mencintai dengan normal.
Kini, bertahun-tahun kemudian, ketika wajah Bulan kembali muncul di layar Zoom—lebih dewasa, lebih tajam, lebih memukau dari yang ia ingat—sesuatu yang lama dan gelap di dalam dirinya kembali bangkit.
Keinginan itu. Hasrat itu. Rasa ingin membuat Bulan menjadi miliknya—sepenuhnya.
Setelah ini, ia bertekad untuk mendekati Bulan lagi. Pelan-pelan. Lembut. Dengan cara yang membuat Bulan… mungkin… bisa memaafkannya. Dan mungkin—di kepalanya—bisa memberi kesempatan baru untuk ia berada di sisi Bulan.
Karena yang Farhan tidak bisa terima adalah kenyataan bahwa satu-satunya perempuan yang pernah benar-benar membuatnya takluk… masih tidak bisa ia miliki.
*
Bulan tetap menatap layar dengan ekspresi profesional yang luwes—tak ada perubahan meski jantungnya sedikit berdetak lebih cepat. Liora duduk tanpa berkedip, dagunya naik sedikit, defensif tapi elegan.
Pak Yanuar menutup kalimat perkenalan, lalu menghela napas panjang. “Kabar kedua… ini jauh lebih berat.”
Semua orang secara naluriah mendekat ke layar.
“Per pagi ini, saya sudah menerima dan menyetujui surat pengunduran diri dari Bu Liora—CEO cabang Surabaya—dan Bu Bulan, COO pelaksana Surabaya.”
Suara-suara kecil langsung terdengar dari microphone yang belum dimute. Kotak-kotak wajah ternganga, alis terangkat, bahu merosot, semua tampak syok.
Pak Aldo, direksi pusat yang duduk miring di kursinya, langsung membentak, “Tunggu—APA?! Keduanya?? Sekaligus?? Pak Yanuar, Anda bercanda?!”
Layar seketika dipenuhi kekakuan, Farhan tampak membeku. Bahkan gerakan napasnya melambat.
Mata laki-laki itu langsung menatap Bulan—panik, tegang, tidak nyaman—campuran rasa bersalah dan shock yang ia sembunyikan buruk-buruk.
Bulan hanya menunduk sedikit sambil mencatat sesuatu, pura-pura fokus pada laptop. Profesional, Datar, Tidak ada celah ekspresi yang bisa dibaca. Liora memiringkan kepala sedikit, lalu tersenyum kecil ke arah kamera—senyum dingin tapi sopan.
“Jangan-jangan ada masalah internal?!” Aldo menunjuk ke layar, suaranya meningkat. “Liora, Bulan—kenapa sekaligus? Ini tidak masuk akal. Resign mendadak begini merugikan pelaksanaan Surabaya!”
“Pak Aldo, tolong—” Bulan mencoba.
“Tidak, saya ingin ALASAN,” potong Aldo tajam. “Apa pemicu sampai kalian pergi bersamaan?”
Zoom mendadak menjadi arena yang sunyi tapi memanas. Farhan menegang makin parah. Matanya menghindari kamera, telapak tangan menggenggam pena sampai buku jarinya memutih. Pak Sadam, salah satu Komisaris Pusat, hanya diam—wajahnya datar, tapi matanya gelap, penuh kalkulasi.
Dengan tenang—lebih tenang dari siapa pun yang hadir—Pak Yanuar mengangkat tangan. Menengahi amarah Pak Aldo yang sudah memuncak.
“Itu cukup, Aldo.”
“Tapi—!”
“Saya bilang cukup.”
Suara Pak Yanuar tenang namun sangat tegas, membuat seluruh ruangan hening. Beliau tersenyum tipis, tapi jelas itu senyum yang dibuat untuk menutupi badai.
“Kalian bertanya alasan resign mereka?” Beliau menautkan tangan di depan wajah. “ Jawabannya sederhana, mereka perempuan, Aldo. Dan kalian tahu sendiri… cepat atau lambat mereka pasti menikah. Fokus mereka akan berbeda.”
Hening turun seketika.
Alasan itu terdengar klise—bahkan konservatif—tapi tuturannya terlalu mantap, terlalu berwibawa, sehingga tidak ada yang berani menyanggah. Padahal, semua yang berada di ruangan itu merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.
Narasi itu terlalu rapi. Terlalu mudah dicerna. Dan—anehnya—terlalu jauh dari karakter Bulan dan Liora yang mereka kenal selama ini.
Di balik layar monitor, ekspresi para direksi berubah samar, beberapa mengangguk ragu, beberapa saling melirik, dan sebagian lainnya hanya menatap meja.
Karena mereka tahu… Ini bukan sekadar resign biasa. Dan Pak Yanuar tahu itu lebih baik dari siapa pun.
Tapi tidak mungkin ia menjelaskan alasan sebenarnya, bahwa direksi baru—seseorang yang bahkan belum menginjakkan kaki di Surabaya—adalah orang dari masa lalu yang bisa merusak sistem dan stabilitas emosional dua aset terbaik perusahaan.
Tidak mungkin ia berkata bahwa ia sedang melindungi Bulan dan Liora sekaligus perusahaan. Jadi, beliau memilih alasan paling aman. Paling klasik, paling sulit dibantah, dan paling jauh dari kebenaran.
Aldo ternganga. “APA?? Itu alasan resmi mereka?!”
“Ya,” jawab Pak Yanuar mantap. “Dan itu keputusan mereka. Saya hanya menghormatinya.”
Sebuah alasan out of the box—alasan yang sengaja dipasang seperti tameng. Aldo tidak bisa menerima begitu saja, tapi melihat Bulan dan Liora yang masih tenang setelah mendengar penuturan Pak Yanura bisa sedikit menerima alasan tersebut. Liora dan Bulan memang sudah delapan tahun di PT Global Tekhnologi.
Sedangkan Farhan hanya bisa menunduk, Wajahnya memucat, rahang terkunci. Ia tahu itu bohong, Ia tahu itu untuk menutup sesuatu, Dan ia tahu siapa penyebabnya.
“Tidak, Pak Yanuar! Ini tidak profesional! Mereka adalah CEO dan COO terbaik yang kita punya!” Aldo menghantam meja diseberang sana. “Resign bersamaan—ini sinyal buruk untuk investor! Saya MENOLAK keputusan ini!”
Pak Yanuar menatap lurus. “Keputusan sudah final, Aldo. Surat pengunduran diri mereka sudah saya ACC pagi ini.”
Aldo terdiam seketika, terpaksa lebih tepatnya. Protesnya tidak bisa mengubah sebuah Keputusan yang dikeluarkan dari seorang Komisaris, Aldo tahu jabatannya saat ini masih jauh dibawah Pak Yanuar.
Setelah perdebatan sengit antara Komisaris Utama dan Direksi, Bulan akhirnya bicara, nada suaranya lembut namun stabil.
“Kami berdua sudah menyiapkan seluruh laporan, timeline, dan ongoing-project untuk serah terima. Kami tidak akan meninggalkan apa pun dalam keadaan tidak beres.”
Liora menambahkan, senyum tipis muncul di bibirnya, “Semua data sudah kami rapikan. Selama seminggu kedepan kami akan serahkan semuanya ke tim masing masing projeck yang kami tangani dan kami juga akan secepatnya serah terima pekerjaan dengan CEO dan COO yang baru. Kami pamit dengan cara yang baik.”
Bulan menunduk hormat ke arah layar laptop. Gerakannya halus, terkendali, mencerminkan jam terbang panjang dalam rapat-rapat penting. Di sampingnya, Liora ikut menunduk— sama tenang, sama profesional. Keduanya duduk tegak di kursi meeting kaca lantai lima, cahaya layar Zoom memantulkan siluet wajah mereka yang tanpa ekspresi.
Wajah Bulan… datar. Wajah Liora… juga datar. Lembut, sopan, tidak ada satu pun celah emosi yang bocor ke depan kamera.
Tapi di balik ketenangan itu— ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang hanya bisa terlihat dari gerakan kecil, cara Bulan menarik napas perlahan sebelum menegakkan tubuh, cara Liora merapatkan map di pangkuannya seolah mematenkan keputusan mereka.
Ada ketegasan lembut di sana. Ketegasan yang tidak mereka ucapkan secara eksplisit, tapi terasa dalam aura yang mengalir dari keduanya. Bahwa mereka sudah selesai.
Mata mereka tetap fokus ke arah layar. Tatapan profesional yang begitu rapi sampai-sampai tidak ada seorang pun di sisi Zoom yang mungkin menyadari bahwa dua perempuan itu baru saja membuat keputusan terbesar sepanjang karier mereka.
Hanya ketegasan sunyi yang memancar dari dua kata sederhana yang mereka ucapkan, “Terima Kasih Bapak Bapak sekalian.”
Di akhir meeting, Pak Yanuar menyelesaikan meeting dengan suara stabil. Mencoba tetap tenang walau keadaan terlihat sangat panas, ia tahu Bulan dan Liora merupakan salah satu asset mereka yang paling potensial untuk menggaet klien bisnis, bukan hanya karena kencantikan mereka tapi karena kemampuan yang mereka miliki diatas rata rata CEO cabang lainnya.
“Kita semua harus menghormati keputusan mereka. Hari ini sampai satu minggu ke depan, mereka akan tetap memimpin proses transisi Surabaya. Setelah itu, kepemimpinan sepenuhnya berada di tim pusat dan direksi baru. Terima kasih semuanya, selamat pagi”
Disebrang layar sana Bulan melihat Farhan mengangkat kepala. Matanya gelap, tidak berani bertanya, tidak berani membuka suara.
Lalu meeting berakhir dengan suara notifikasi khas Zoom:
“The host has ended this meeting.”
Layar menjadi hitam. Bulan menutup laptop dengan perlahan, layar proyektor berunah menjadi biru. Liora menghela napas panjang, menutup wajah sebentar dengan kedua tangan.
“Sumpah, gue deg degan tadi” ungkap Liora sembari menyandarkan punggung ke kursinya.
Bulan menghembuskan nafas panjang lalu menoleh menghadap Liora, “Mudah mudahan ini jadi awal yang baik, gak tau kenapa gue mulai takut kalo berhubungan lagi dengan si Farhan ini, dan gue bener bener udah gak mau berurusan lagi sama laki laki itu mau dia udah berubah atau belum, maafin gue ya ,Li.” Ungkap Bulan dengan mata berkaca kaca.
Liora tidak membalas ucapan Bulan barusan, ia hanya menggenggam tangan Bulan dan mengelusnya perlahan, Liora tahu yang Bulan butuhkan bukanlah sebuah kata atau kalimat menenangkan. Ia tahu Bulan hanya butuh supportnya sebagai sahabat dan ia mengerti itu.
**
tbc