perjalanan wanita tangguh yang sejak dalam kandunganya sudah harus melawan takdirnya untuk bertahan hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adiwibowo Zhen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sore yang kelam
Angin senja berhembus pelan, membawa serta wangi bunga kembang sepatu yang mekar di pagar. Yati duduk di bangku kayu warungnya yang sederhana, setelah menenangkan larashati dari sakit hatinya karena di usir oleh pembantu neneknya.
Debu kemerahan di jalan kampung berhamburan ditiup angin, menari-nari dalam sinar matahari jingga yang kian merendah.
Tiba-tiba, dari ujung jalan, muncul sosok tua berjalan tertatih. Kodir, lelaki sepuh yang dikenal sebagai dukun di kampung itu, mendekat dengan langkah pelan.
"Ti,kopi satu gelas dan rokok Sintren satu bungkus."Kodir dengan suara serak yang ramah
"Oh,Mbah Kodir. Iya, sebentar."Yati menjawab sambil berdiri dan tersenyum ramah.
Dengan cekatan, Yati mengambil sebungkus rokok sintren dari rak kayu yang sudah usang. Kodir menerimanya dengan senyum tipis, tangannya yang berurat mengeluarkan uang receh dari saku celananya.
"Kopinya kopi apa,Mbah?"Yati bertanya lirih,
"Kopi tubruk saja,tidak pakai gula ya, Ti."Mbah kodir menjawab dengan santai
"Oh iya,Mbah. Tunggu sebentar, saya panaskan air dulu."Yati sambil mengangguk
Yati berbalik menuju dapur di belakang warung. Suara gemerincing gelas dan sendok terdengar samar, diiringi desisan kompor minyak yang dinyalakan.
Tak lama kemudian, Samson datang dengan langkah lebar. pria seumuran yati itu adalah pembantu Yati yang setia, bertugas mengangkut sayuran dari pasar setiap pagi buta.
SAMSON (menyapa dengan riang)
"Eh,Mbah Kodir! Sedang apa Mbah?"Samson dengan suara riang.
Kodir menoleh, matanya yang keriput menyipit.
"Eh,Samson. Iya, lagi pesen kopi. Mau kemana kamu, Son?"Mbah kodir menjawab dengan senyum.
"Oh biasa,Mbah. Ambil catatan buat belanja besok."Samson membalasnya dengan senyum lebar.
"Oh iya,aku lupa kamu kan kerja di sini ya?"Mbah kodir sambil menepuk dahinya.
"Iya,Mbah. Aku kedalam dulu ya, Mbah."Samson,,sambil melangkah masuk. Samson masih menyunggingkan senyum. Kodir mengangguk, lalu menyalakan rokoknya. Asap putih mengepul, menari-nari di udara senja.
Beberapa menit kemudian, Yati keluar membawa cangkir keramik yang masih mengepulkan asap.
"Mbah,ini kopinya."Yati sambil meletakan kopi di meja.
"Iya,Ti. Terima kasih. Ini bayarnya."mbahkodir sambil mengangguk.
Yati menerima uang itu, menghitungnya dengan teliti sebelum mengambil uang kembalian dari laci kayu kecil.
"Ini kembaliannya,Mbah."ucap Yati samil mengulurkan tangan.
"Iya,Ti."Mbah kodir sambil menerima uang kembalianya.
"Mbah,aku tinggal dulu ya. Mau buat catatan belanja besok."Ucap yati dengan ramah.
"Oh iya."Mbahkodir mengangguk.
Yati pun masuk ke dalam, meninggalkan Kodir yang mulai menyeruput kopinya. Tak lama, Samson keluar lagi, kali ini membawa cangkir kopi sendiri. Ia duduk di samping Kodir, menatap jalanan yang mulai sepi.
"Panas sekali hari ini,Mbah."Samson menyeruput kopi.
"Iya,Son. Musim kemarau memang begini."Mbah kodir menjawab pelan.
Kedua lelaki itu duduk berdampingan, menikmati kopi dan senja yang pelan-pelan berubah menjadi malam.
Di warung sederhana itu, percakapan kecil mereka mengalir seperti angin sore yang tenang, menandai berakhirnya hari yang panjang di kampung yang damai.
Senja semakin pekat, meninggalkan jejak jingga di langit yang berubah menjadi lembayung.percakapan seru antara Samson dan Mbah Kodir masih berlanjut.
"Mbah,aku minta doanya dong, biar kaya. Capek hidup miskin terus."Samson dengan senyum getir sambil memainkan gelas kopinya.
"Oh,pengin kaya? Gampang... asal berani dan tidak takut dosa."Mbah kodir ,sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu,matanya berbinar.
Samson" tersentak, lalu tertawa ringan
"Oh,benar mbah? Apa syaratnya?"
Kodir" menyeringai, suaranya berbisik serius,
"Pesugihan."
Dada Samson berdebar kencang. Tangannya yang memegang gelas kopi sedikit gemetar. Antara keinginan untuk lepas dari belenggu kemiskinan dan suara hati yang masih mempertanyakan moralitas bergulat dalam dirinya.
"Mbah,bukannya pesugihan harus ada tumbalnya?"Samson sambil menurunkan suaranya.
"Iya betul...tapi kan bisa tumbalin orang lain. Atau... pelihara tuyul."Kodir sambil mengangguk perlahan,senyumanya semakin dalam.
Mata Samson membelalak. Bayangan makhluk kecil berwajah mengerikan langsung terbayang dalam pikirannya.
Samson, tersedak...
"Tuyul,mbah? Bagaimana kalau tuyul? Apakah juga harus ada tumbalnya?"
"Kalau tuyul...cuma istrimu harus menyusuinya."mbah kodir ,sambil menggeleng ,tanganya membuat gerakan tenang.
Samson ,terdiam sejenak, lalu bertanya dengan serius.
"Cuma itu mbah?"
"Iya,cuma itu saja."Mbah kodir sambil mengangguk.
Samson ,semangatnya berkobar
"Bagaimana saya bisa mendapat tuyul itu,mbah?"
"Gampang saja...kita pergi ke Gunung Srandil. Di sana ada tempat pesugihan tuyulnya. Kalau mau, aku bisa antar."mbah kodir berkata.
Samson,berdiri, "wajahnya penuh tekad"
"Oke mbah,aku rundingkan dulu sama istriku. Kalau istriku setuju, aku akan ke rumah Mbah Kodir."
Mbahkodir, tersenyum puas
"Iya,oke."
Sementara itu, Yati yang telah kembali ke warungnya menyaksikan seluruh percakapan itu dari balik etalase.
Alisnya berkerut, hatinya merasa tak enak. Dalam hati, ia bergumam pilu, "Memang... kemiskinan bisa membutakan hati dan mengaburkan batas antara yang halal dan yang haram."
Samson pun bergegas pergi, meninggalkan Mbah Kodir yang masih duduk santai.
Senja semakin kelam, seolah menyelimuti niat Samson yang mulai tergoda oleh janji kekayaan instan. Yati hanya bisa menghela napas, khawatir dengan pilihan yang akan diambil oleh pembantunya yang setia itu.
Suara deburan hujan menderu di atap seng yang bocor, menciptakan irama pilu di dalam gubuk seyap yang dihuni Samson dan Rusinah.
Cahaya lampu minyak yang temaram menari-nari di dinding bambu yang lapuk, menerangi wajah lelah pasangan suami istri itu.
Samson "memanggil dengan suara tergesa"
"Rus...Rus! Kemari, aku mau bicara!"
Rusinah" mendekat dengan langkah lesu, wajahnya penuh tanya"
"Ada apa,Mas? Teriak-teriak saja. Ini hujan deras sekali..."
Dia duduk di bangku kayu yang reyot di samping suaminya, matanya menatap penuh keheranan.
Samson" menatap langsung ke mata istrinya.
"Rus,kamu capek tidak hidup begini? Hidup miskin dan serba kekurangan?"
Rusinah terdiam sejenak, tangannya yang kasar memegang ujung selendangnya yang lusuh.
Rusinah "akhirnya menjawab dengan suara lirih"
"Bosan,Mas... Masa miskin terus? Setiap hari harus memikirkan besok makan apa..."
Samson "bersemangat, mendekatkan kursinya"
"Bagaimana kalau...kita pelihara tuyul?"
Mata Rusinah membelalak, wajahnya pucat.
Rusinah" suaranya bergetar"
"Hah?Tuyul? Tapi... itu dosa, Mas!"
Samson"merangkul bahu istrinya"
"Rus,dosa itu urusan nanti. Kalau kita sudah kaya, kita bisa banyak-banyak sedekah. Pahala sedekah kan bisa menebus dosa..."
Rusinah menunduk, jari-jarinya memilin ujung kain sarungnya. Hujan di luar semakin deras, seolah menggambarkan pertempuran dalam hatinya.
Rusinah "setelah lama terdiam"
"Syaratnya...apa, Mas? Kalau pelihara tuyul?"
Samson "berbisik pelan"
"Cuma...kamu harus menyusuinya saja."
Rusinah "refleks memegangi dadanya"
"Menyusui?!"
Samson "mengangguk, matanya berbinar"
"Iya,cuma itu saja."
Ruangan menjadi sunyi, hanya diisi oleh suara hujan yang tak henti-hentinya. Rusinah memandangi rumah mereka yang bocor di sana-sini, meja makan yang kosong, dan pakaian mereka yang sudah compang-camping.
Rusinah "menghela napas panjang, suaranya berat"
"Baiklah,Mas... Daripada hidup miskin terhina, makan tak enak, rumah bobrok... Aku setuju."
Air mata menggenang di matanya saat mengucapkan kata-kata itu. Di luar, petir menggelegar, seakan memprotes keputusan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.