Demi meraih mimpinya menjadi arsitek, Bunga, 18 tahun, terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan pria yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Mereka setuju untuk hidup sebagai "teman serumah" selama empat tahun, namun perjanjian logis mereka mulai goyah saat kebiasaan dan perhatian tulus menumbuhkan cinta yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faza Hira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bunga membeku.
Kata itu. Kata yang mereka sepakati tidak akan dipakai.
Arga mengucapkannya. Dengan natural. Dengan lembut. Di depan ibunya.
Itu bukan akting. Itu terdengar... nyata.
Ibu Arga yang melihat adegan itu tersenyum begitu lebar hingga matanya menyipit. "Aduh, aduh. Masih mesra aja kalian. Ibu jadi iri," katanya sambil menepuk pelan lengan Arga.
Bunga hanya bisa tertawa kaku, sebuah suara aneh yang keluar dari tenggorokannya. Ia menatap Arga, yang kini sedang sibuk mengambil koper orang tuanya dengan wajah lurus, seolah ia tidak baru saja meledakkan bom di telinga Bunga. Laki-laki itu... licik sekali.
Pertunjukan telah dimulai. Dan Arga baru saja menaikkan levelnya tanpa memberinya naskah.
"Ayo, Bu, Ayah, masuk," kata Arga, mengambil alih situasi. "Jangan di depan pintu terus."
Ayah Arga, seorang pria berperawakan tenang yang mirip dengan Arga versi tua, tersenyum pada Bunga. "Maaf ya, Nduk, kami datang merepotkan."
"Sama sekali nggak, Yah," jawab Bunga, berusaha keras terdengar normal sambil membantu Ibu Arga melepas sepatunya.
Arga menuntun orang tuanya masuk. "Ini apartemennya. Nggak besar, tapi cukuplah buat kita berdua."
Kita berdua. Kalimat itu diucapkan dengan begitu santai.
Ibu Arga langsung memulai inspeksinya. Matanya yang tajam dan jeli—mata yang sama persis dengan milik Arga—memindai setiap sudut ruang tamu.
"Wah, rapi sekali," pujinya. "Bersih. Kamu rajin juga ya, Nduk, merawat apartemen sebesar ini."
"Bunga dibantu Mas Arga juga, kok, Bu," jawab Bunga cepat. Bukan, Bu, kami bersih-bersih bareng biar sandiwaranya berhasil.
"Oh ya?" Ibu Arga menoleh pada putranya. "Bagus itu, Ga. Suami memang harus begitu. Jangan cuma tahu berantakin."
Arga hanya tersenyum tipis.
Tur berlanjut ke dapur. Ibu Arga membuka kulkas. Bunga menahan napas. Kulkas itu sudah mereka "persiapkan". Di dalamnya ada sayur-sayuran segar yang mereka beli kemarin, sisa opor yang sengaja Bunga simpan, dan yoghurt stroberi.
"Isi kulkasnya lengkap," komentar Ibu Arga. "Kamu sering masak, Nduk?"
"Sering, Bu," jawab Bunga. "Bunga lagi belajar masak capcai. Tapi masih sering keasinan."
"Nggak apa-apa, namanya juga belajar," kata Ibu Arga. Ia menoleh ke Arga. "Kamu jangan cerewet ya, Ga. Masakan istri itu dimakan saja, mau asin mau hambar."
Arga berjalan mendekat dan berdiri di samping Bunga. Ia dengan santai merangkul pinggang Bunga. Gestur itu begitu tiba-tiba hingga Bunga nyaris melompat.
"Masakan Bunga enak kok, Bu," kata Arga, suaranya terdengar hangat. "Cuma kadang dia suka lupa masukin garam. Ya, kan?" Ia menunduk sedikit, menatap Bunga dengan tatapan menggoda.
Bunga hanya bisa mengangguk, jantungnya berdebar kencang. Rangkulan Arga terasa kokoh dan hangat di pinggangnya. Ini... ini juga tidak ada dalam latihan.
"Ah, dasar pengantin baru," Ibu Arga tertawa melihat mereka.
Selanjutnya, puncak dari tur apartemen. Kamar tidur.
"Ini kamar tamu," Arga membuka pintu kamar Bunga yang asli. Ruangan itu bersih, steril, dengan sprei putih. "Kalau ada saudara datang bisa nginap di sini."
Ibu Arga hanya mengintip sekilas. "Oh, iya. Bagus. Bersih."
Lalu, Arga membuka pintu kamarnya. Pintu "kamar pengantin".
Bunga menahan napas.
Ibu Arga masuk ke dalam. Ayah Arga mengikuti di belakangnya. Inspeksi kedua dimulai.
Mata Ibu Arga langsung tertuju pada ranjang king size yang rapi. Lalu ke dua nakas di sisi kanan dan kirinya. Di sisi Arga, ada majalah arsitektur dan kacamata bacanya. Di sisi Bunga, ada novel romantis dan botol losion.
Ibu Arga tersenyum. "Pembagian yang adil."
Lalu ia membuka lemari pakaian. Ia melihat barisan kemeja Arga yang tergantung rapi di sisi kiri, dan barisan blus serta daster Bunga di sisi kanan.
"Bajunya nggak kecampur, ya," komentarnya, nadanya terdengar geli.
Bunga hanya bisa tersenyum kaku.
"Kalian tidurnya nyenyak, kan, di ranjang sebesar ini?" tanya Ibu Arga tiba-tiba, menatap kedua anak itu bergantian.
Pertanyaan itu membuat Bunga panik. Ia menatap Arga, mencari pertolongan.
Arga tertawa pelan. "Nyenyak sekali, Bu," katanya. Ia melirik Bunga dengan jahil. "Cuma kadang kalau malam suka ada yang kakinya nyasar ke perut Arga."
Wajah Bunga memerah padam. Mas Arga!
Ayah Arga tertawa. "Namanya juga tidur, Ga. Nggak bisa dikontrol."
"Iya, Yah. Makanya sekarang Arga pasang guling di pinggir, biar Bunga nggak jatuh," tambah Arga, menunjuk guling di sisi ranjang Bunga.
Sempurna. Alibinya sempurna. Arga telah mengubah potensi bencana menjadi cerita lucu pengantin baru. Bunga menatap Arga dengan campuran antara kesal dan kagum. Laki-laki ini benar-benar seorang master manipulator.
Setelah tur selesai, mereka duduk di ruang tamu. Bunga menyajikan teh hangat dan kue-kue dari katering yang sudah ia pindahkan ke piring cantik.
"Jadi, gimana kuliahmu, Nduk?" Ayah Arga memulai, suaranya ramah dan menenangkan.
"Alhamdulillah lancar, Yah. Tugasnya banyak, tapi seru."
"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan bilang sama Arga. Dia itu kelihatannya saja kaku, tapi sebenarnya peduli," kata Ayah Arga.
"Peduli apa cerewet, Yah?" canda Ibu Arga. "Pasti Bunga pusing dengar dia ngomel terus."
Arga, yang duduk di sofa tunggal, hanya tersenyum. Bunga duduk di sofa panjang bersama Ibu Arga.
Tiba-tiba, Arga bangkit. Ia berjalan dan duduk di sofa panjang, tepat di sebelah Bunga. Sangat dekat. Lalu, ia melakukan hal yang kemarin ia latih. Ia meraih tangan Bunga dan menggenggamnya, meletakkannya di atas pangkuan mereka berdua.
Bunga tersentak, tapi ia ingat latihannya. Ia tidak boleh kaget. Ia harus terlihat biasa saja. Ia membiarkan Arga menggenggam tangannya.
"Mas nggak ngomel kok, Bu," kata Bunga, berusaha terdengar santai. "Cuma... mengingatkan. Biar Bunga nggak lupa waktu."
"Baguslah," kata Ibu Arga, matanya menatap tangan mereka yang bertaut dengan puas. "Arga, kamu jagain Bunga, ya. Dia masih muda. Jangan sampai salah pergaulan di kota besar ini."
"Pasti, Bu," kata Arga. "Makanya Arga sudah kasih jam malam ke Bunga. Kalau ada kerja kelompok, nggak boleh lewat Maghrib. Kalau mau pergi sama teman, harus izin dulu."
Arga mengucapkan "aturan-aturan" mereka, tapi membingkainya dalam narasi seorang suami yang protektif.
Bunga menatapnya. Ia merasa seperti sedang menonton pertunjukan teater yang brilian.
Waktu Ashar tiba. Ini adalah ujian berikutnya.
"Kita sholat jamaah, yuk," ajak Ayah Arga.
"Iya, Yah. Ayo."
Mereka menggelar sajadah di ruang tamu yang luas. Arga berdiri paling depan, menjadi imam. Di belakangnya, Ayah Arga. Dan di shaf belakang, Bunga berdiri berdampingan dengan Ibu Arga.
Saat Arga mengangkat tangan untuk takbir, Bunga merasakan getaran aneh di hatinya. Ini adalah pertama kalinya ia sholat diimami oleh Arga di depan orang lain. Di depan orang tua Arga. Status "sah" mereka terasa begitu nyata, begitu berat.
Suara Arga yang dalam dan merdu saat membaca Al-Fatihah memenuhi ruangan. Bacaannya sempurna. Bunga mendapati dirinya terhanyut. Ini bukan akting. Ini adalah ibadah. Dan dalam ibadah ini, laki-laki di depannya adalah pemimpinnya. Suaminya.
Saat salam terakhir, Bunga merasakan matanya sedikit basah. Ia merasa seperti seorang penipu di hadapan Tuhan.
Setelah berdoa, ritual salim dimulai. Bunga mencium tangan Ayah dan Ibu Arga. Lalu, Ibu Arga berkata, "Salim sama suamimu juga, Nduk."
Bunga berbalik. Arga sudah menunggunya, mengulurkan tangannya.
Dengan jantung berdebar, Bunga mengambil tangan itu dan mencium punggungnya. Seperti saat akad nikah. Tangan Arga terasa hangat dan kokoh. Saat Bunga mengangkat kepalanya, ia merasakan ibu jari Arga dengan lembut mengusap pipinya sekilas.
Mata mereka bertemu. Hanya sedetik. Tapi dalam sedetik itu, Bunga melihat sesuatu yang lain di mata Arga. Bukan akting. Bukan strategi. Sesuatu yang... tulus.
Makan malam adalah puncak pertunjukan mereka.
"Wah, kateringnya enak," puji Ayah Arga.
"Bunga yang pilih, Yah," celetuk Arga. "Dia jago cari makanan enak."
Bunga hanya tersenyum.
"Lain kali, Ibu mau dimasakin kamu, ya, Nduk," kata Ibu Arga.
"Iya, Bu. Pasti."
"Dulu waktu di rumah," Ibu Arga memulai ceritanya, "Arga ini paling suka dimasakin opor ayam. Kamu bisa masak opor, Nduk?"
Bunga melirik Arga. "Bisa, Bu," katanya. "Beberapa minggu lalu Bunga coba masak, dan kata Mas Arga... lumayan."
"Lumayan?" Ibu Arga menatap putranya dengan galak. "Harus bilang enak, dong!"
Arga tertawa. Ia meletakkan sendoknya dan menoleh ke Bunga, yang duduk di sebelahnya. "Bukan lumayan, Bu. Enak banget," katanya. Lalu ia menatap Bunga dengan tatapan jahil yang sama seperti semalam. "Iya, kan, Sayang?"
Kata itu lagi.
Kali ini, Bunga lebih siap. Ia tidak kaget. Ia hanya tersipu, lalu dengan gerakan yang terasa sangat natural, ia mencubit pelan lengan Arga di bawah meja.
"Ih, Mas! Jangan keras-keras ngomongnya!" bisiknya, berpura-pura malu.
Arga meringis pura-pura kesakitan. "Aduh, iya, iya. Maaf."
Ayah dan Ibu Arga tertawa terbahak-bahak melihat tingkah mereka. Pemandangan itu begitu sempurna. Pasangan muda yang saling menggoda, penuh cinta, dan sedikit malu-malu.
Malam itu, Bunga dan Arga adalah aktor pemenang Oscar.
Pukul sembilan malam, orang tua Arga masuk ke kamar tamu untuk beristirahat. "Kami capek sekali habis perjalanan," kata Ibu Arga.
"Selamat istirahat, Bu, Yah."
Begitu pintu kamar tamu tertutup, Bunga dan Arga saling berpandangan di ruang tamu yang kini sunyi.
Mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka hanya berdiri di sana, seolah baru saja menyelesaikan lari maraton yang menegangkan.
"Mas..." Bunga akhirnya angkat bicara, suaranya berupa bisikan. "Kita... berhasil?"
Arga menghela napas panjang, seluruh ketegangan di bahunya seakan luruh. "Sepertinya begitu," katanya. "Untuk hari ini."
"Kenapa pakai 'Sayang' lagi?!" bisik Bunga kesal. "Bunga kaget banget!"
"Itu momen yang pas," kata Arga, kembali ke mode sutradara. "Dan lihat? Kamu meresponnya dengan sempurna. Cubitan itu... jenius."
Bunga tidak tahu harus merasa tersanjung atau kesal.
"Ayo," kata Arga. "Kita juga harus tidur. Besok pagi mereka pasti bangun cepat."
Mereka berjalan masuk ke kamar mereka. Kamar pengantin. Pintu ditutup pelan-pelan.
Suasana langsung berubah. Tidak ada lagi tawa. Tidak ada lagi rangkulan. Hanya ada dua orang yang terjebak dalam peran mereka.
Bunga pergi ke kamar mandi lebih dulu untuk berganti pakaian dan menyikat gigi. Saat ia keluar, Arga sedang berdiri di dekat jendela, menatap keluar.
"Besok," kata Arga tanpa menoleh, "Ibu pasti akan mengajakmu belanja ke pasar atau ke mal. Ikuti saja. Anggap saja liburan."
"Iya, Mas."
"Dan jangan lupa," Arga berbalik, "jaga ceritamu tetap konsisten. Jangan sampai keceplosan soal 'wali galak'."
Bunga tersenyum tipis. "Sekarang Bunga jadi punya dua peran, ya? Di kampus, punya wali galak. Di rumah, punya suami mesra."
"Selamat datang di dunia orang dewasa," kata Arga datar.
Waktunya tidur.
Bunga naik ke sisi ranjangnya. Arga mematikan lampu. Kegelapan menyelimuti ruangan.
Mereka berbaring. Tidak ada guling. Hanya ada jarak kosong di antara mereka. Tapi jarak itu terasa penuh dengan listrik statis.
Bunga mencoba berbaring kaku di sisinya, membelakangi Arga. Tapi ia tidak bisa. Ia terlalu sadar. Ia teringat genggaman tangan Arga. Rangkulannya. Usapannya di kepalanya. Panggilan "Sayang"-nya.
Semuanya akting. Ia tahu itu.
Tapi kenapa hatinya terasa begitu... hangat?
Ia mendengar kasur bergerak. Arga berbalik menghadapnya. Bunga bisa merasakannya.
"Bunga," bisik Arga dalam gelap.
"Ya?"
"Kamu... aktingnya bagus sekali tadi."
Pujian itu terasa berbeda. Bukan seperti pujian untuk tugas kuliahnya.
"Mas Arga juga," balas Bunga. "Mas Arga... kayak bukan Mas Arga."
"Lalu seperti siapa?"
"Seperti... suami sungguhan."
Kata-kata itu terlontar begitu saja. Bunga langsung menyesalinya. Keheningan yang mengikuti kata-kata itu terasa sangat berat.
Lama sekali.
Lalu Bunga merasakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
Ujung jari Arga.
Dingin dan sedikit gemetar.
Menyentuh pipinya.
Sangat pelan. Sangat hati-hati. Seolah menyentuh kelopak bunga yang paling rapuh.
Bunga tidak bergerak. Ia bahkan lupa cara bernapas.
Jari-jari Arga menelusuri garis rahangnya, turun ke dagunya, lalu dengan lembut memutar wajahnya agar menghadap ke arah Arga.
Di dalam kegelapan yang temaram, Bunga kini berhadapan dengan Arga. Ia bisa melihat siluet wajahnya. Matanya yang gelap menatapnya.
"Kalau begitu," bisik Arga, suaranya serak dan dalam. "Mungkin... kita harus berhenti berakting."
Dan sebelum Bunga sempat memproses arti dari kalimat itu, Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, menghilangkan jarak terakhir di antara mereka.
Bibirnya menyentuh bibir Bunga.