Seorang wanita modern Aira Jung, petinju profesional sekaligus pembunuh bayaran terbangun sebagai Permaisuri Lian, tokoh tragis dalam novel yang semalam ia baca hingga tamat. Dalam cerita aslinya, permaisuri itu hidup menderita dan mati tanpa pernah dianggap oleh kaisar. Tapi kini Aira bukan Lian yang lembek. Ia bersumpah akan membuat kaisar itu bertekuk lutut, bahkan jika harus menyalakan api di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. “Tidak ada kemenangan dalam menghancurkan seseorang,”
Tiga hari telah berlalu sejak malam di penjara bawah tanah.Istana tampak tenang di permukaan tapi di balik dinding-dinding batu putihnya, ada arus gelap yang mulai bergerak.
Para pelayan berjalan dengan langkah hati-hati, seolah satu kata salah bisa menjadi alasan kematian.Kaisar belum keluar dari ruang kerjanya selama dua hari penuh.
Sementara Permaisuri Elara menutup diri di paviliunnya, tanpa menerima tamu, tanpa menghadap istana utama.
Di ruang pertemuan kecil yang tersembunyi di bawah paviliun permaisuri, Elara duduk di hadapan seorang lelaki tua dengan jubah kelabu.
Rambutnya sudah memutih, tapi mata tajamnya memantulkan kebijaksanaan Lord Avel, penasihat tertua yang dulu dibuang dari dewan karena menentang Selir Valen.
“Jadi kau akhirnya memutuskan untuk bergerak, Yang Mulia?”
Elara mengangguk pelan.
“Kalau aku tetap diam, aku akan mati. Tapi kalau aku bergerak, mungkin… aku masih punya kesempatan.”
Avel menatapnya lama.
“Kau tahu, di istana ini, setiap langkahmu adalah taruhan hidup.”
“Aku sudah mati berkali-kali, Lord Avel,” Elara balas lirih, menatap lilin yang mulai meleleh.
“Kali ini, aku hanya memilih cara mati yang lebih terhormat.”
Avel tersenyum kecil.
“Kau bukan wanita biasa, Permaisuri. Mungkin takdir memang salah menempatkanmu di dunia ini.”
Elara hanya membalas dengan lirih, “Atau mungkin aku justru datang ke sini untuk memperbaikinya.”
Sementara itu, di paviliun timur, Selir Valen duduk di depan cermin besar, mengenakan jubah ungu gelap.
Wajahnya sempurna, tapi matanya memantulkan kebencian yang dingin.
Pelayan pribadinya berlutut di depannya, membawa gulungan surat dengan segel merah darah.
“Nyonya, pesan dari Marquis Dareth sudah tiba.”
Valen mengambil surat itu, membukanya perlahan.
Matanya menelusuri isi surat, lalu bibirnya melengkung ke atas.
“Bagus… jadi mereka siap bergerak.”
“Apa perintah Anda, Nyonya?”
“Sebarkan kabar bahwa Permaisuri bersekongkol dengan pasukan luar benteng.Kita lihat apakah Kaisar masih bisa melindungi wanita yang ia cintai saat seluruh istana menuduhnya pengkhianat.”
Pelayan itu menunduk dalam.
“Tapi… kalau Kaisar mengetahui sumbernya berasal dari kita—”
Valen menatapnya tajam.
“Kau pikir dia masih bisa berpikir jernih?
Hatinya sudah terbakar oleh cinta dan amarah. Aku hanya perlu meniup sedikit, dan semuanya akan hancur.”
Ia berdiri, menatap keluar jendela di mana cahaya bulan memantul di atas kolam.
“Elara… aku akan membuatmu kehilangan segalanya, seperti dulu aku kehilangan segalanya karenamu.”
Sore itu, Kaisar Kaelith akhirnya keluar dari ruang kerjanya.
Langkahnya berat, matanya merah karena kurang tidur.
Ia berdiri di depan balkon istana utama, menatap halaman luas di bawahnya.
Para pejabat sudah berkumpul, dan di antara mereka, Selir Valen berdiri dengan wajah lembut penuh kepura-puraan.
“Yang Mulia,” katanya dengan suara lembut. “Ada kabar buruk dari pasukan utara.”
“Kabar buruk?” Kaelith bertanya datar.
“Pasukan di bawah Jenderal Arven pasukan yang kabarnya diselamatkan oleh Permaisuri terlibat dalam penyelundupan senjata.
Dan… laporan menyebut mereka menggunakan segel kerajaan yang sama seperti milik Anda.”
Kerumunan berbisik keras.
Kaelith menatap Valen dengan mata menyipit.
“Dari mana kau dapat kabar ini?”
“Dari Dewan Agung, Yang Mulia. Mereka bahkan menuntut agar Permaisuri diperiksa.”
Ruangan menjadi tegang.
Suara langkah terdengar dari arah gerbang
dan di sana, Elara muncul, mengenakan jubah hitam dengan mahkota kecil di rambutnya.
“Tidak perlu Dewan yang memeriksa,” katanya tenang. “Aku datang sendiri.”
Semua menunduk.
Kaisar berbalik, menatap wanita yang kini berdiri di hadapannya wanita yang ia cintai, tapi juga yang paling ia ragukan.
“Kau dengar tuduhannya?”
“Dengar,” jawab Elara, melangkah maju.
“Dan aku juga tahu siapa yang menyebarkan kabar itu.”
Ia menatap langsung ke arah Selir Valen.
Tatapan mereka bertemu seperti dua pedang yang saling menantang.
“Kalau kau ingin menjatuhkanku, Valen, lakukanlah dengan cara yang pantas.
Jangan sembunyikan tanganmu di balik kebohongan.”
Valen tersenyum tipis, matanya berkilat.
“Kau berani menuduhku di depan Kaisar?”
“Aku tidak menuduh.” Elara mengangkat surat dari dalam jubahnya.
“Aku bicara fakta.”
Semua mata tertuju padanya saat ia membuka surat itu segel merah yang sama seperti yang diterima Valen sebelumnya.
Hanya bedanya, isi surat ini membongkar seluruh rencana kudeta kecil yang dipimpin oleh Marquis Dareth orang yang diam-diam menjadi sekutu Selir Valen.
Kaisar mengambil surat itu, membacanya cepat.
Wajahnya perlahan mengeras, lalu menatap Valen.
“Jadi… ini yang kau lakukan di balik punggungku?”
Valen tampak pucat.
“T-Tidak, Yang Mulia! Itu jebakan! Permaisuri pasti memalsukannya—”
“Cukup.”
Suara Kaelith menggema di aula, keras dan mematikan.
“Bawa Selir Valen ke ruang pengadilan kerajaan. Aku sendiri yang akan memeriksanya.”
Para penjaga segera maju, menyeret Valen yang berteriak histeris.
“Kau pikir kau menang, Elara?! Kau akan menyesal! Dunia ini tidak akan pernah memihak wanita sepertimu!”
Elara tidak menjawab.
Ia hanya menatap wanita itu dibawa pergi
dan dalam diam, ia tahu bahwa ini baru permulaan.
Malamnya, Kaelith datang ke paviliun Elara tanpa pengawal.
Ia berdiri di ambang pintu, basah oleh hujan.
Elara sedang menulis, tapi berhenti saat melihatnya.
“Kau datang untuk menuduhku lagi?” tanyanya tenang.
Kaelith menggeleng pelan.
“Aku datang untuk meminta maaf.”
Elara terdiam.
“Terlambat.”
“Mungkin,” jawab Kaelith, melangkah mendekat.
“Tapi aku harus melakukannya, atau aku akan tenggelam dalam rasa bersalah.”
Ia berhenti tepat di hadapan Elara.
Suara hujan di luar terdengar lembut, tapi hati mereka berdua masih gemuruh.
“Aku percaya padamu sekarang,” katanya lirih.
“Tapi aku takut… kepercayaanku datang terlalu lambat.”
Elara menatapnya lama, lalu menjawab dengan suara yang hampir patah,
“Kau selalu datang terlambat, Kaelith.
Dan yang terlambat… selalu kehilangan sesuatu yang berharga.”
Kaelith menutup matanya, menahan perih.
“Kalau begitu… izinkan aku memperbaikinya.”
Elara berdiri, menatap langsung ke matanya.
“Buktikan, bukan dengan kata-kata. Tapi dengan pilihanmu.”
Kaelith menunduk sedikit, bibirnya nyaris menyentuh tangannya yang dingin.
“Aku akan buktikan. Demi kau.”
Dan malam itu untuk pertama kalinya, Elara menatap langit yang tak sepenuhnya gelap.
Masih ada cahaya, walau kecil.
Cahaya yang mungkin… bisa membawa mereka keluar dari dunia tanpa cahaya.
Fajar menyingsing di atas ibu kota.
Kabut tipis menggantung di antara menara istana, menyelimuti dunia dalam warna kelabu.
Di ruang pengadilan kerajaan, suara bel logam berdentang tiga kali tanda dimulainya sidang untuk Selir Valen.
Semua pejabat berkumpul.
Kaisar Kaelith duduk di singgasana tinggi, sementara Elara berdiri di sisi kanan aula, sebagai saksi utama.
Wajahnya datar, tapi matanya penuh waspada.
Di tengah ruangan, Valen berlutut dengan tangan terikat rantai emas.
Gaunnya mewah, tapi sudah berlumur debu penjara.
Namun senyum di bibirnya… tetap ada senyum penuh kebencian dan rahasia.
“Kau menuduhku bersekongkol dengan Marquis Dareth,” kata Valen lantang.
“Tapi di mana buktinya, Yang Mulia?”
Kaelith menatapnya tajam.
“Surat dengan segelmu sudah ditemukan. Dan laporan dari pasukan utara membenarkan bahwa nama Dareth disebut dalam transaksi senjata.”
“Laporan bisa dipalsukan,” balas Valen, menatap Elara sekilas.
“Dan siapa yang paling diuntungkan dari semua ini? Siapa yang ingin menyingkirkan aku dari istana?”
Suara gemuruh kecil terdengar di antara para bangsawan.
Beberapa mulai berbisik keraguan kembali berembus di udara seperti racun.
Elara melangkah maju, suaranya tegas tapi dingin.
“Kau bicara seolah kau tidak bersalah, padahal seluruh jejak suratmu menuju markas pasukan bayaran di utara.
Aku punya saksi.”
Ia memberi isyarat, dan seorang pria bertopeng masuk ke ruang sidang.
Begitu topengnya dibuka, kerumunan terperanjat Marquis Dareth sendiri.
“T-Tuan Dareth?! Bukankah kau sudah dieksekusi di perbatasan?!”
“Eksekusi palsu,” jawab Elara tenang. “Ia menyerahkan diri untuk mendapatkan perlindungan.”
Kaelith menatap Dareth tajam.
“Katakan semuanya.”
Dareth berlutut.
“Yang Mulia, semua ini perintah Selir Valen. Ia ingin menjatuhkan Permaisuri agar mendapat kembali pengaruhnya di dewan.”
Sorakan dan seruan keras memenuhi aula.
Wajah Valen membeku lalu berubah menjadi senyum yang dingin dan menggila.
“Kau pikir aku takut mati?!” teriaknya.
“Kau kira membuangku bisa membuatmu aman, Elara? Dunia ini tidak akan pernah menerima wanita sepertimu!
Kau bukan milik istana, kau bukan milik siapa pun kau hanya bayangan yang tersesat!”
Elara menatapnya tanpa emosi.
“Mungkin aku memang bukan milik siapa pun. Tapi setidaknya… aku berdiri dengan caraku sendiri.”
Kaelith mengangkat tangan, memberi tanda.
“Bawa dia pergi. Hukumannya akan diputuskan malam ini.”
Penjaga menyeret Valen keluar, tapi wanita itu masih berteriak.
“Kaelith! Kau pikir dia akan setia padamu?! Lihat saja, suatu hari nanti, dia yang akan menusukmu dari belakang!”
Suara itu menghilang seiring langkah yang menjauh.
Hening panjang menggantung di aula.
Semua mata beralih ke Kaisar dan Permaisuri.
Kaelith berdiri.
“Mulai hari ini, Selir Valen dilucuti dari semua gelar dan kekuasaannya.
Keluarganya akan dipindahkan dari ibu kota.”
Semua menunduk, menyatakan persetujuan.
Namun Elara hanya diam wajahnya tetap tegas, tapi matanya tampak jauh, kosong.
Malamnya, setelah semua selesai, Kaelith datang ke taman belakang.
Ia menemukan Elara duduk sendirian di bawah pohon magnolia, ditemani cahaya bulan yang dingin.
“Kau tidak datang ke perjamuan kemenangan,” katanya lembut.
“Tidak ada kemenangan dalam menghancurkan seseorang,” jawab Elara lirih.
Kaelith mendekat, duduk di sampingnya.
“Kau terlalu baik untuk dunia ini.”
“Atau mungkin dunia ini terlalu kejam untukku.”
Mereka terdiam lama.
Hanya suara air dari kolam kecil yang mengalir pelan di dekat mereka.
Kaelith menatap tangannya yang pucat di bawah cahaya bulan.
“Aku tak tahu harus memintamu tetap di sisiku… atau memintamu pergi sebelum segalanya semakin hancur.”
Elara menoleh, menatap wajahnya yang letih.
“Kalau aku pergi, apa kau akan membiarkanku?”
“Tidak,” jawab Kaelith tanpa ragu. “Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia.”
Senyum tipis muncul di bibir Elara.
“Kau benar-benar keras kepala, Kaelith.”
“Dan kau terlalu sulit untuk dilupakan.”
Udara malam terasa berat, namun juga hangat di antara mereka.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka duduk bersama tanpa topeng politik, tanpa kebohongan, tanpa kekuasaan yang menekan.
Namun di balik ketenangan itu, Elara tahu…
masa damai mereka tidak akan bertahan lama.
Karena di tempat lain, di ruang bawah tanah istana yang gelap, suara langkah kaki seseorang terdengar pelan dan dari bayangan itu, seorang pria misterius berbisik pada dirinya sendiri:
“Permaisuri… kau sudah memulai perang yang tak akan bisa kau hentikan.”