"Jika ada kesempatan kedua, maka aku akan mencintai mu dengan sepenuh hatiku." Kezia Laurenza Hermansyah.
"Jika aku punya kesempatan kedua, aku akan melepaskan dirimu, Zia. Aku akan membebaskan dirimu dari belengu cinta yang ku buat." Yunanda Masahi Leir.
Zia. Cintanya di tolak oleh pria yang dia sukai. Malam penolakan itu, dia malah melakukan kesalahan yang fatal bersama pria cacat yang duduk di atas kursi roda. Malangnya, kesalahan itu membuat Zia terjebak bersama pria yang tidak dia sukai. Sampai-sampai, dia harus melahirkan anak si pria gara-gara kesalahan satu malam tersebut.
Lalu, kesempatan kedua itu datang. Bagaimana akhirnya? Apakah kisah Zia akan berubah? Akankah kesalahan yang sama Zia lakukan? Atau malah sebaliknya.
Yuk! Ikuti kisah Zia di sini. Di I Love You my husband. Masih banyak kejutan yang akan terjadi dengan kehidupan Zia. Sayang jika dilewatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Zia tersenyum kecil. "Barusan ... aku ngomong apa ya?"
"Kezia .... "
"Iya, baiklah. Satu kali kesempatan. Ayo mulai lagi, kak Yunan! Ayo mulai hubungan kita lagi sekarang."
Yunan tidak lagi bisa berkata-kata sangking bahagianya. Air mata haru jatuh perlahan. Dia peluk erat pinggang Zia seolah takut gadis itu pergi meninggalkan dirinya.
"Kali ini, ayo saling mencintai, Zia. Ayo bina rumah tangga dengan dipenuhi rasa cinta di dalamnya."
"Tentu saja. I love you my husband."
"Love you too, sayang. Jangan pernah tinggalkan aku lagi."
"Aku janji."
Mereka saling berpelukan selama beberapa saat. Deswa yang melihat dari kejauhan, langsung membatalkan niatnya untuk mendekat. Jujur, dia sangat ingin ikut merasakan kebahagiaan dari tuan mudanya itu. Tapi, mana boleh dia datang secara tiba-tiba. Bukannya ikut merasakan kebahagiaan, yang ada malah akan menerima penderitaan lagi nantinya.
"Oh iya. Istriku, sebenarnya, aku punya sesuatu buat kamu."
"Apa?"
Yunan mengeluarkan kotak kecil bentuk hati dengan warna merah pekat. "Lihatlah! Aku harap, kamu suka."
Zia langsung menerima dengan rasa penasaran. Adegan ini tidak ada di kehidupan sebelumnya. Karena itu dia sangat penasaran dengan apa yang Yunan berikan padanya barusan.
"Set, perhiasan?" Zia berucap pelan sambil mengalihkan perhatian ke arah Yunan.
"Hm. Iya. Set perhiasan. Awalnya, set perhiasan ini lengkap dengan cincinnya sekalian, Zia. Tapi, ee ... cincinnya aku lebur. Ku ubah bentuk biar jadi yang lebih spesial. Makanya ... cincinnya gak ada di sana."
Zia menatap Yunan lekat. Yunan pun semakin salah tingkah. "E ... Zia. Kamu ... gak marah, bukan?"
"Marah. Aku marah."
"Zia .... "
"Apaan sih? Tentu saja aku gak akan marah. Lagian, istrimu ini gak akan lupa seperti apa romantisnya tuan muda Yunanda. Yah ... walaupun, aku di kehidupan yang dulu sangat nakal. Tapi tetap saja, perlakuan mu padaku gak akan pernah aku lupakan sedikitpun."
Yunan tersenyum. "Nakalnya kamu tetap aja gak bisa lepas dariku. Kasihan."
Zia langsung memasang wajah kesal. "Kak Yunan. Nyari masalah kamu ya?"
"Ha? Ngg--nggak kok. Nggak. Cuma salah ngomong. Gak niat nyari masalah. Aduh .... "
Di sisi lain, acara ulang tahun perusahaan sudah pun resmi di buka. Tapi Zia masih saja belum terlihat. Sang mama sudah mulai sedikit cemas saat melihat anaknya tidak kunjung muncul.
"Zia ke mana sih, Pa? Kok gak muncul-muncul juga."
"Tante. Zia tadi bilangnya mau ke mana? Acaranya udah mau mulai nih. Biar aku susul dia sekarang," ucap Brian menawarkan diri.
Tanpa menunggu mama Zia menjawab terlebih dahulu, Brian malah sudah pergi meninggalkan tempat di mana ia berdiri sebelumnya. Sepertinya, yang cemas karena tidak melihat Zia bukan hanya kedua orang tua Zia. Melainkan, Brian juga.
Sesaat setelah Brian pergi, Wingsi langsung mendekati sang mama. "Ma. Brian mau ke mana?"
"Nyari Zia katanya."
"Nyari Zia? Kenapa harus di cari? Memangnya, ada perlu apa Brian sama Zia?"
"Ah, mama gak tahu. Mungkin, gara-gara mama bilang Zia gak ada padahal acara udah mau mulai kali. Makanya Brian langsung nyari Zia gara-gara gak enak sama mama." Sang mama berusaha untuk mencairkan suasana yang rasanya tidak baik-baik saja.
Wingsi masih memasang wajah tak nyaman. Sedikitnya, hati gadis itu tentu saja merasa cemburu. Saat itu, Zia menyatakan cintanya pada pria tersebut. Tapi, pria itu malah bilang mencintai dirinya. Tapi makin lama, kenyataan bahwa Brian sangat perduli pada Zia makin terlihat.
Selalu saja ada alasan untuk Brian dekat dengan Zia. Kedekatan yang sudah sangat jelas membuat hati Wingsi tidak baik-baik saja. Di depan Wingsi, Brian selalu berusaha mengutamakan hati si pacar. Namun, saat di belakang Wingsi, Brian terlihat sangat perhatian pada Zia. Seolah, Zia adalah orang yang paling penting buat Brian.
"Mau ke mana, Wing?" Sang mama langsung menahan tangan anaknya saat ingin beranjak.
"Mama. Aku ingin melihat Brian sebentar. Apakah, dia sudah menemukan Zia atau belum."
"Ah, biar mama teman kan ya?"
"Gak perlu, Ma. Biar aku sendiri saja."
"Tapi-- ah, baiklah. Jangan lama-lama. Acaranya sudah mulai."
"Iya. Baiklah."
Di luar gedung. Mata Brian yang awalnya sibuk mencari keberadaan Zia, kini langsung terdiam saat melihat Zia sedang bicara dengan seseorang. Terdiam hanya sejenak saja. Setelahnya, Brian langsung berjalan dengan langkah besar untuk mendekat ke arah gadis tersebut.
"Zia! Apa yang kamu lakukan di sini? Acaranya sudah mau mulai. Kenapa malah bicara dengan pria asing di sini ha?"
Senyum manis Zia langsung lenyap seketika. Brian yang datang-datang, langsung bicara dengan nada tinggi membuat hatinya sangat kesal.
Tak hanya bicara saja, Brian malah langsung meraih tangan Zia dengan cepat. "Ayo kembali! Acara sudah mau mulai."
"Apaan sih?" Zia berucap sambil menarik paksa tangannya yang Brian pegang. "Apa hubungannya aku dengan acara yang mau mulai? Aku bukan bagian dari acara tersebut."
"Bagaimana bisa gak ada hubungan? Kamu adalah anak yang punya perusahaan, Zia. Ayo kembali!"
"Lepaskan tangannya!" Yunan angkat bicara setelah melihat Brian kembali memaksa Zia untuk pergi. "Dia sudah bilang kalau dia gak ada hubungan dengan acara itu. Tapi kenapa kamu malah terus memaksa?"
"Jangan ikut campur! Kamu urus saja urusan mu sendiri. Ini urusan aku dengan calon adik iparku. Kenapa kamu yang orang luar malah mau ikut-ikutan."
"Apaan sih!" Kesal Zia semakin terlihat. "Kamu hanya baru calon kakak ipar sudah belagu."
"Zia."
"Zia benar. Kamu hanya calon kakak ipar yang masih belum punya hak apapun. Ah, lagian, jika kamu sudah menjadi kakak ipar juga tetap gak punya hak kok buat ngatur hidup Zia. Karena kamu hanya orang luar," ucap Yunan dengan nada penuh penekanan.
Ucapan itu tentu saja langsung menambah rasa kesal dan amarah yang ada di hati Brian. "Apa kamu bilang? Aku orang luar? Siapa kamu yang berani ngatain aku orang luar? Asal kamu tahu, aku sudah kenal Zia sangat lama. Sedangkan kamu, baru juga kenal Zia malam ini. Kamu yang bukan siapa-siapa ini berani ngomong besar denganku. Sungguh gak punya malu."
"Cukup, Brian! Dia lebih berhak bicara tentang aku dari pada kamu. Karena dia adalah pasanganku. Sedang kamu hanya calon kakak ipar. Tolong, sadari di mana posisi kamu yang sebenarnya."
Deg. Jantung Brian tiba-tiba berdetak tak beraturan. "Zia. Barusan, kamu bilang apa? Dia ... pa-- pasangan kamu? Bagaimana bisa, Zia? Kapan kalian kenal? Dia-- "
"Apa yang terjadi?" Wingsi yang datang secara tiba-tiba malah ikut dalam perdebatan itu. "Apa yang kalian perdebatkan di sini? Kenapa kelihatan sangat ramai? Apa masalahnya?"
"Kak Wingsi."
"Zia. Ada masalah apa lagi? Keributan apa lagi yang kamu ciptakan sekarang? Apakah selama. ini, kamu tidak pernah bosan untuk menciptakan masalah?"