Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Bercengkrama
Pagi sekali Diandra sudah bangun karena semalam tidurnya nyenyak sekali akibat rasa lelah yang menderanya.
Diandra menikmati suasana pagi yang sejuk, benar benar jauh berbeda dengan kota tempat tinggalnya.
Tiba tiba Nina menghampirinya dan ikut menikmati suasana pagi.
"Gimana Di pagi ini? Sudah merasa nyaman dan tenang?" tanya Nina sambil memegang secangkir kopi susu panas, terlihat dari asapnya yang masih mengepul.
"Yaa lumayan, sedikit merasa tenang" jawab Diandra sambil menatap Nina dan tersenyum.
"Aku yakin kamu bakal betah di sini"
"Entahlah,,bisa jadi begitu" jawab Diandra.
"Mungkin aku bakal cari kerja di sini hehehehe" lanjut Diandra.
"Ah masa iya, beneran gak bakal balik lagi ke tempat asal kita mencari makan?"
"Sejak aku menikah dengan Bagas aku gak lagi bekerja, dia minta aku untuk jadi ibu rumah tangga aja, sejak itu aku sudah lupa bagaimana caranya mencari sesuap nasi di sana, hehehehehe"
"Hemmm,, iya iya yang diberi nafkah seutuhnya sama suami" ledek Nina.
"Tapi semua sudah selesai, aku mau memulai lagi kehidupan baruku, mau memulai lagi mencari pekerjaan tapi Bagas malah menggangguku" Diandra tampak menyesali keadaan.
"Awalnya juga aku mau pergi kan, mau jauh dari kota itu, tapi karena kamu memintaku untuk tetap tinggal ya aku tinggal. Tapiiii ternyata aku memang harus pergi dari kota itu kan?"
"Yaaa, apa yang kamu niatkan memang harus dijalankan ternyata" ucap Nina.
Diandra terkekeh pelan, semua ini terjadi bukanlah karena kebetulan, tapi memang sudah seperti ini yang harus dia jalani. Menerima segala ketentuanNya.
"Walahhhh pada di sini to?" Ibu tiba tiba datang mengejutkan mereka berdua.
Diandra dan Nina menoleh dan tersenyum.
"Iya bu, lagi menikmati suasana pagi yang sudah lama gak kami rasakan" jawab Nina.
"Iyo,,, di sini memang gak ada duanya, tempat yang selalu dirindukan karwna keindahan dan kesejukkannya" ibu menambahkan pujian pujian untuk kota tercintanya ini.
"Ayo sarapan dulu, ibu tadi sudah buatkan sambal goreng krecek kesukaanmu lo ndok" ajak ibu sambil memberi tahu masakan yang sudah dibuat.
"Wahhhh enak banget itu bu, aku sudah kangen banget sambel goreng krecek buatan ibu" ujar Nina girang.
"Ibu juga buatkan tempe mendoan kesukaan Diandra juga, lengkap sama sambal kecapnya"
"Kok ibu tau saya suka banget sam tempe mendoan?" tanya Diandra sedikit terkejut.
"Lahh dulu waktu kamu di sini, sewaktu acara pernikahan Nina hampir setiap hari to kamu buat sendri tempe mendoan, ya sudah pasti kamu suka sama makanan itu"jelas ibu mengingatkan kembali ke masa itu.
"Ya Allah ibu,,kok inget aja itu lo" ucap Diandra menyadari.
"Ya inget to,,ibu ini daya ingatnya masih kuat " jawab ibu bangga.
Diandra dan Nina kembali tertawa karena mendengar kelakar ibu.
"Ayoo sudah cepat sarapan, nanti lewat waktunya bisa sakit perutnya" ajak ibu lagi.
"Inggeh ibu" jawab Nina sambil memeluk ibunya, kemudian mereka bertiga masuk kedalam langsung menuju ke ruang makan, dan melihat meja makan yang sudah tersedia bermacam makanan.
"Jam berpa to ibu ini masak? Kok sudah tersedia aja makanan pagi pagi"
"Yaaa jangan ditanya jam berapa, kebiasaan di sini kan seperti itu to ndok. Memangnya kamu kalau sarapan jam piro?"
"Walahhh ya siang to bu, itu juga paling sering beli aja, males masak soal nya" jawab Nina.
"Itu lah gaya hidup di kota besar, apa apa beli" celoteh ibu.
Diandra dan Nina saling pandang merasa bersalah, benar yang dikatakan ibu, hidup di kota besar selalu menggampangkan, apalagi jaman sekarang yang semua serba online.
"Yo wes ayo sarapan" ajak ibu lagi sambil menyiapkan beberapa piring di atas meja.
Diandra dan Nina langsung saja menyendok nasi, juga sayur dan lauk pauknya.
"Hemmmm,, kangen banget aku sama masakan ibu, pasti enak ini" ucap Nina sambil mencium bau wangi sambal goreng krecek kesukaannya.
"Iya to, pasti uenak" jawab ibu.
Mereka bertiga kemudian sarapan bersama sambil mengobrol dan bercerita apa saja.
"Oh iya bu, besok Nina sudah balik lagi ke kota, kasian anak anak kalau ditinggal terlalu lama" ucap Nina kemudian.
Ibu terlihat murung, sedih baru saja bertemu sudah harus berpisah lagi.
"Kok cepet banget to ndok?"
Nina merasa tidak tega melihat wajah ibunya.
"Nina pasti bakal ke sini lagi, bawa anak anak dan suami" Nina mencoba menghibur ibunya.
"Iya ndok, gak apa apa. Ibu cuma bisa doain kamu, anak kamu dan suami kamu selalu sehat, diberi kelancaran usahanya, bahagia terus" ucap ibu mendoakan.
"Aamiin,,,terimakasih nggeh bu. Ibu juga, harus jaga kesehatan yaa"
"Iya ndok, pasti itu"
"Nanti Nina titip Diandra di sini untuk sementara ya bu, biar sekalian jadi teman ibu" jelas Nina sambil menatap Diandra.
"Oalahhh pasti ibu jaga dengan baik, ibu senang sekarang punya teman di rumah" ucap ibu bahagia.
Diandra dan Nina tertawa kecil mendengar kelakar ibu.
Note: Inggeh ( iya )
Ndok ( sebutan anak perempuan)
Wes/Uwes ( sudah )