NovelToon NovelToon
TERPERANGKAP CINTA CEO DINGIN

TERPERANGKAP CINTA CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Percintaan Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:782
Nilai: 5
Nama Author:

Alea, seorang wanita muda dan cantik, terpaksa menikahi Rian melalui perjodohan. Namun, kebahagiaan yang diharapkan pupus ketika Rian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan Gina. Patah hati, Alea memutuskan untuk bercerai dan meninggalkan Rian. Takdir berkata lain, bis yang ditumpangi Alea mengalami kecelakaan tragis. Di tengah kekacauan, Alea diselamatkan oleh Ben, seorang pria berkarisma dan berstatus sebagai bos besar yang dikenal dingin dan misterius. Setelah sadar, Alea mendapati dirinya berada di rumah mewah Ben. Ia memutuskan untuk berpura-pura hilang ingatan, sebuah kesempatan untuk memulai hidup baru. Ben, yang ternyata diam-diam mencintai Alea sejak lama, memanfaatkan situasi ini. Ia memanipulasi keadaan, meyakinkan Alea bahwa ia adalah kekasihnya. Alea, yang berpura-pura hilang ingatan tentang masa lalunya, mengikuti alur permainan Ben. Ia berusaha menjadi wanita yang diinginkan Ben, tanpa menyadari bahwa ia sedang terperangkap dalam jaring-jaring cinta dan kebohongan. Lalu, apa yang akan terjadi ketika ingatan Alea kembali? Apakah ia akan menerima cinta Ben, atau justru membenci pria yang telah memanipulasinya? Dan bagaimana dengan Rian, apakah ia akan menyesali perbuatannya dan berusaha merebut Alea kembali?

MENCOBA KABUR

David tiba di rumah Ben, diantar Bi Ani ke taman belakang. Alea sedang menikmati makan siang ringannya di sana. David mengangguk hormat.

"Selamat siang, Nyonya," sapanya. "Saya diminta mengantarkan ponsel ini."

Alea tersenyum menerima. "Siang, David. Terimakasih ya." Matanya berbinar saat menerima kotak ponsel itu.

Dalam hatinya, Alea merasa secercah harapan muncul. Ponsel ini bisa jadi jembatan untuknya berkomunikasi dengan dunia luar, menyusun rencana untuk keluar dari kehidupannya yang terkekang. Ia sudah lama merindukan kebebasan memilih.

David menjelaskan fitur-fitur ponsel itu, tanpa menjelaskan batasan-batasan yang sudah diatur Ben. Alea mendengarkan sambil lalu, lebih fokus pada kemungkinan-kemungkinan yang terbuka di depannya. 

"Oke, terimakasih banyak untuk penjelasannya," kata Alea, tersenyum tulus. "Nanti aku coba-coba sendiri."

David mengangguk dan pamit. Ia tidak tahu, senyum Alea menyimpan tekad kuat untuk mengubah takdirnya. Ia hanya menjalankan tugas, tanpa menyadari bahwa ia telah memberikan Alea harapan baru.

Alea tersenyum lega begitu David menghilang dari pandangan. Ia melanjutkan makan siangnya dengan semangat baru. Setiap suapan terasa seperti setitik harapan yang masuk ke dalam dirinya.

Setelah selesai, ia bergegas kembali ke kamarnya. Ia sudah tidak sabar untuk membuka kotak ponsel itu dan mulai menyusun rencana. Jantungnya berdebar kencang membayangkan kebebasan yang mungkin bisa ia raih.

Di dalam kamar, Alea mengunci pintu dan duduk di tepi tempat tidur. Ia membuka kotak ponsel itu dengan hati-hati, seolah membuka kotak berisi masa depannya. Ia menyalakan ponsel itu dan mulai menjelajahi setiap fitur yang ada. Pikirannya dipenuhi dengan ide-ide tentang bagaimana cara menggunakan ponsel ini untuk mewujudkan impiannya.

Begitu berada di kamar, Alea dengan bersemangat membuka kotak ponsel itu. Jari-jarinya lincah menari di layar, mencoba memahami setiap fitur yang ada. Tujuan pertamanya adalah menghubungi pengacara pribadinya. Ia yakin, pengacaranya bisa membantu membebaskannya dari Ben.

Namun, setiap kali ia mencoba menghubungi nomor pengacaranya, selalu gagal. Nada sibuk terus terdengar, atau panggilan terputus begitu saja. Alea mulai merasa frustrasi. Ia mencoba berulang kali, tapi hasilnya tetap sama.

Alea tidak menyadari bahwa ponsel yang diberikan Ben memiliki banyak keterbatasan. Ia tidak tahu bahwa Ben telah membatasi nomor-nomor yang bisa dihubungi dari ponsel itu. Bahkan, yang lebih parah, Alea tidak tahu bahwa setiap percakapan dan aktivitasnya di ponsel itu direkam dan dipantau oleh Ben. Ia benar-benar tidak menyadari bahwa ia sedang berada dalam pengawasan ketat.

Alea makin kesal. Setelah gagal menghubungi pengacaranya, ia mencoba membuka aplikasi sosial medianya. Ia berharap bisa menghubungi teman-temannya atau mencari bantuan melalui platform tersebut.

Namun, usahanya kembali menemui jalan buntu. Ia tidak bisa masuk ke akun sosial medianya.  Entah kata sandinya salah, atau ada masalah dengan koneksi internetnya. Padahal, ia sangat ingin menceritakan situasinya kepada seseorang yang bisa ia percaya.

"Sial! Sial! Sial!" umpat Alea sambil melempar ponsel itu ke tempat tidur. Ia merasa benar-benar terisolasi dan tidak berdaya. Semua usahanya untuk menghubungi dunia luar selalu gagal. Ia mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya direncanakan Ben terhadap dirinya.

Alea menghela napas kasar, lalu meraih kembali ponsel itu. Dengan kesal, ia membuka daftar kontak. Di sana tertera nama "Ben" dengan jelas. Tanpa pikir panjang, ia langsung menekan tombol panggil. Mungkin, pikirnya, ada penjelasan kenapa ia tidak bisa menghubungi siapa pun.

Namun, lagi-lagi, usahanya sia-sia. Panggilan itu tidak tersambung. Hanya ada nada sambung panjang yang memekakkan telinga, tanpa ada jawaban dari seberang sana.

"ARRRGGGHHH!" Alea berteriak frustrasi. Ia membanting ponsel itu ke kasur, air matanya mulai mengalir deras. Ia merasa seperti terperangkap dalam sangkar emas, dikelilingi kemewahan, namun kehilangan semua kebebasannya. Ia benar-benar marah, kesal, dan takut dalam waktu yang bersamaan.

Malam sudah sangat larut. Alea sudah berkali-kali mencoba menghubungi Ben, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia mulai merasa putus asa dan ketakutan. Di tengah kegelapan kamar, ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah pesan dari Ben.

Alea segera membuka pesan itu dengan jantung berdebar.

"Sayang, maafkan aku. Saat ini aku harus pergi ke luar negeri. Ada sedikit urusan mendadak. Tunggu aku pulang ya."

Alea tertegun membaca pesan itu. "Urusan mendadak? Urusan apa?" pikirnya. Ia merasa ada kesempatan lain.

Dengan tekad yang membara, Alea bangkit dari tempat tidurnya. Ia tidak bisa hanya berdiam diri menunggu Ben kembali. Ia harus bertindak. Dengan langkah hati-hati, ia menyelinap keluar kamar dan menuju ruang kerja Ben.

Di dalam ruang kerja yang gelap, Alea mulai mencari sesuatu yang bisa ia manfaatkan. Ia menggeledah laci-laci meja, mencari uang tunai atau barang berharga yang bisa ia jual. Akhirnya, ia menemukan sebuah kotak kecil tersembunyi di balik tumpukan dokumen.

Dengan tangan gemetar, Alea membuka kotak itu. Matanya membulat melihat tumpukan uang yang lumayan banyak di dalamnya. Tanpa ragu, ia mengambil setengah dari uang itu, cukup untuk membiayai pelariannya sementara.

Setelah itu, Alea kembali ke kamarnya dan bersiap-siap. Ia mengenakan baju yang rapi dan nyaman, serta membawa tas kecil berisi barang-barang penting. Ia menunggu dengan sabar hingga kondisi rumah benar-benar sepi. Ia tahu, ia harus menunggu sampai semua penjaga tertidur lelap, termasuk Bi Ani yang selama ini selalu baik padanya.

Jantungnya berdebar kencang, antara takut dan bersemangat. Malam ini, ia akan mempertaruhkan segalanya untuk meraih kebebasannya.

Waktu menunjukkan pukul 01.13 dini hari. Keheningan malam semakin terasa mencekam. Alea mengintip dari balik pintu kamarnya, memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Dengan jantung berdebar, ia menyelinap keluar.

Ia berjalan mengendap-endap di sepanjang lorong, menghindari suara derit lantai yang bisa membangunkannya. Sesampainya di ruang depan, ia melihat dua orang penjaga sedang asyik menonton televisi. Sementara itu, di sudut ruangan, seorang penjaga lainnya tampak tertidur pulas.

Alea menarik napas dalam-dalam, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia menyelinap melalui gerbang kecil yang menghubungkan rumah dengan taman belakang. Ia tahu, ini adalah kesempatan emasnya untuk melarikan diri. Ia tidak boleh menyia-nyiakannya.

Begitu kakinya menginjak tanah di luar gerbang, Alea langsung berlari sekuat tenaga. Jantungnya berdebar kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya. Ia tidak tahu ke mana ia harus pergi, tapi yang jelas, ia harus menjauh sejauh mungkin dari rumah itu.

Ia berlari menyusuri jalanan yang gelap dan sepi, tanpa menghiraukan rasa takut dan lelah yang mulai menghantuinya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal kebebasan. Ia tidak ingin lagi hidup dalam kendali Ben. Ia ingin menentukan jalan hidupnya sendiri.

Di tengah pelariannya, Alea terus menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengejarnya. Ia tahu, Ben pasti akan marah besar jika mengetahui ia kabur. Tapi, ia tidak peduli. Ia sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan. Sekarang, ia ingin merasakan kebebasan yang selama ini dirindukannya.

1
Vash the Stampede
Aku sudah jatuh cinta dengan karakter-karaktermu, thor.
AyaShiyaa: Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️
total 1 replies
emi_sunflower_skr
Ceritanya keren, bahasanya juga mudah dimengerti!
AyaShiyaa: Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️
total 1 replies
Ichigo Kurosaki
Ceritanya menghibur sekali.
AyaShiyaa: Terimakasih atas dukungannya ❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!