NovelToon NovelToon
Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Legenda Pedang Abadi : Jalan Darah Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Perperangan / Ahli Bela Diri Kuno / Penyelamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aku Pemula

Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.

Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.

Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Latihan di Bawah Tekanan

Langit pagi di Sekte Langit Biru mulai terang ketika suara lonceng latihan bergema tiga kali. Bagi sebagian besar murid, itu tanda awal rutinitas sehari-hari: latihan dasar, mengolah napas, lalu pelajaran dari para tetua. Namun bagi Lin Feng, hari itu terasa berbeda. Tubuhnya masih penuh dengan rasa sakit setelah duel sengit melawan Zhao Liang.

Bekas luka di dada dan bahunya masih berdenyut, meskipun ramuan yang diberikan oleh Mei Xue telah membantu menyembuhkan sebagian. Ia duduk bersila di dalam ruangan sederhana yang disediakan Yunhai untuk murid-murid pilihannya. Nafasnya tersengal, setiap tarikan udara seakan menyalakan bara di dalam tubuhnya.

“Lin Feng, jangan berhenti.” Suara tegas Yunhai terdengar dari depan.

Mata guru muda itu menatap tajam, seperti bilah pedang yang menusuk langsung ke hati.

“Tubuhmu berbeda. Semakin sakit yang kau rasakan, semakin besar potensi yang bisa kau buka. Ingat itu.”

Lin Feng menggertakkan giginya, mencoba menahan gemetar yang muncul di seluruh tubuh. Ia menutup mata, berusaha fokus pada aliran energi di dalam tubuhnya. Ada sesuatu yang aneh di dalam sana—seolah energi spiritual yang masuk justru berputar lebih kuat, menimbulkan pusaran kecil yang kadang-kadang mengancam merobek meridiannya.

Mei Xue, yang duduk tak jauh dari sana, menatap dengan khawatir. Tangan mungilnya menggenggam erat sebuah kendi berisi ramuan penyembuh. Setiap kali Lin Feng mengerang pelan, jantungnya ikut berdebar.

“Guru Yunhai, bukankah terlalu cepat memaksa dia berlatih?” tanya Mei Xue dengan suara lembut tapi penuh kecemasan.

Namun Yunhai tidak bergeming.

“Jika dia hanya murid biasa, aku tentu akan menunggu. Tapi Lin Feng bukan murid biasa. Tubuhnya akan membusuk dari dalam bila tidak dipaksa beradaptasi dengan kekuatannya sendiri.”

Kata-kata itu membuat Mei Xue terdiam, meski rasa khawatirnya tak berkurang.

Keringat deras membasahi wajah Lin Feng. Tubuhnya bergetar hebat ketika ia memaksa menyalurkan energi ke seluruh meridian. Rasanya seperti sungai deras yang menghantam bendungan rapuh. Kadang ia merasa seperti akan pecah dari dalam.

"Aku tidak boleh berhenti…" pikirnya.

"Aku tidak boleh kalah di hadapan mereka. Zhao Liang… Liu Tian… semua orang menunggu aku jatuh. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi."

Rasa sakit yang luar biasa menusuk-nusuk dadanya, tapi di balik rasa sakit itu ada percikan hangat yang aneh, seperti bara kecil yang perlahan menyalakan cahaya di dalam tubuhnya. Setiap kali ia hampir pingsan, cahaya itu seperti menopangnya agar tidak jatuh sepenuhnya.

“Bagus,” gumam Yunhai. “Tubuhmu mulai merespons. Teruskan, meski terasa mustahil.”

***

Tak jauh dari aula latihan, dua sosok diam-diam memperhatikan. Zhao Liang, dengan tubuh masih diperban, duduk di kursi roda kayu yang didorong oleh salah satu pengikut keluarganya. Wajahnya pucat, tapi matanya memerah menyala oleh kebencian.

“Bajingan itu… meskipun tubuhnya hancur, dia masih bisa berlatih,” desis Zhao Liang. “Aku tidak akan membiarkannya melangkah lebih jauh. Aku akan membuatnya hancur di depan semua orang.”

Di sisi lain, Liu Tian berdiri dengan kedua tangan bersedekap. Ekspresinya tenang, bahkan seolah acuh, tapi sorot matanya dingin.

“Dia memang tangguh,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Tapi tak peduli seberapa jauh dia melangkah, aku akan selalu berada di atasnya. Aku murid pertama Guru Yunhai, aku yang seharusnya menjadi pusat perhatian, bukan dia.”

Ia tersenyum tipis, lalu berbalik. Bagi Liu Tian, kemenangan Lin Feng hanyalah awal permainan panjang.

***

Latihan terus berlangsung berjam-jam. Lin Feng berkali-kali hampir terjatuh, namun setiap kali ia merasa kalah, bayangan wajah orang-orang yang meremehkannya muncul di benaknya. Zhao Liang dengan ejekan angkuhnya, Liu Tian dengan tatapan merendahkan, bahkan bisik-bisik para murid sekte yang dulu menyebutnya sampah.

Semua itu menjadi cambuk yang memaksanya bertahan.

Ketika ia membuka mata lagi, pandangannya kabur. Tubuhnya basah oleh keringat, rambutnya menempel di wajah. Ia bahkan tidak menyadari darah menetes sedikit dari sudut bibirnya. Namun ada cahaya baru di matanya—cahaya keteguhan.

“Cukup untuk hari ini.” Akhirnya Yunhai memberi isyarat berhenti.

Tubuh Lin Feng ambruk, tapi Mei Xue sigap menahan bahunya.

“Lin Feng!” seru Mei Xue panik. Ia segera memberinya seteguk ramuan obat.

Rasa hangat menjalar ke dalam tubuh Lin Feng, sedikit meredakan rasa sakit yang menggerogotinya.

“Terima kasih…” ucapnya lirih. Senyumnya lemah, tapi matanya memancarkan rasa syukur.

Mei Xue terdiam sejenak. Melihat senyum itu, entah kenapa dadanya ikut bergetar.

Saat suasana mulai tenang, Yunhai berjalan mendekat. Wajahnya tetap serius, tapi ada sedikit kepuasan tersembunyi.

“Lin Feng, apa kau tahu apa yang baru saja terjadi?” tanyanya.

Lin Feng menatap gurunya, masih dengan nafas terengah.

“Aku… hanya mencoba bertahan.”

“Tidak. Kau baru saja menyalakan percikan pertama dari potensi tubuh unikmu. Rasa sakit itu bukan musuhmu, tapi kunci yang akan membawamu pada kekuatan yang bahkan orang lain tak sanggup bayangkan.”

Lin Feng terdiam, merenungi kata-kata itu.

“Tapi ingat,” lanjut Yunhai, “semakin besar potensimu, semakin besar pula bahaya yang akan datang. Tak hanya dari tubuhmu sendiri, tapi juga dari orang-orang di sekitarmu.”

Ucapan itu membuat Lin Feng mengingat tatapan Liu Tian dan Zhao Liang. Hatinya mengeras. Ia tahu, jalan di depannya tidak akan mudah.

***

Hari-hari berikutnya, kabar tentang latihan Lin Feng menyebar di antara murid sekte. Banyak yang terkejut mendengar bahwa ia mampu bertahan di bawah tekanan Yunhai yang terkenal keras. Ada yang mulai memandangnya dengan hormat, ada pula yang iri.

Bisik-bisik di antara para murid terdengar di halaman latihan.

“Tubuh Lin Feng itu aneh, katanya makin disiksa makin kuat.”

“Kalau begitu, dia bisa saja menyalip Liu Tian suatu hari nanti.”

“Hush, jangan bicara begitu keras! Nanti Liu Tian marah.”

Ucapan itu sampai juga ke telinga Liu Tian. Ia hanya tersenyum tipis, tapi di dalam hatinya bara amarah terus berkobar.

***

Malam itu, Lin Feng duduk sendirian di kamar kecilnya. Bulan bersinar terang di luar jendela. Luka di tubuhnya masih terasa perih, tapi ada ketenangan aneh yang menyelimuti.

Ia menatap langit malam, dan dalam hati berbisik:

Aku tidak tahu sejauh mana aku bisa melangkah… tapi aku akan terus maju. Demi diriku sendiri, demi mereka yang percaya padaku, dan demi membuktikan bahwa aku bukan sampah.

Sementara itu, di tempat lain, Zhao Liang memandang bayangan dirinya di cermin, matanya merah penuh kebencian.

“Lin Feng… aku bersumpah akan menyeretmu jatuh. Kau tidak akan pernah menikmati kemenanganmu lama-lama.”

Dan di sisi lain, Liu Tian duduk bersila, tersenyum dingin.

“Percikan kecil itu… akan segera kupadamkan. Dan saat saatnya tiba, semua orang akan tahu siapa murid sejati Guru Yunhai.”

Riak-riak kecil mulai bergelombang di Sekte Langit Biru. Dan di tengahnya, Lin Feng berdiri—terhuyung, terluka, tapi tak tergoyahkan

1
Dian Pravita Sari
bosen selalu gak tamat cerita jgn mau bc noveltoooon krn gak jelas ceritanya
Aku Pemula: Terimakasih Kak atas kritikan nya

semoga novel ini bisa selesai ya, bantu terus dukung
total 1 replies
Aku Pemula
Hai kak, terimakasih sudah kasih komentar.

bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
Dian Pravita Sari
percuma kolom komentar
entar tp gak pernah di gubris
Aku Pemula: terimakasih ya kak sudah kasih komentar /Pray/
total 1 replies
Dian Pravita Sari
s
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa
Dian Pravita Sari
sudah ku duga cerita selalu gak tsmatmsnaktedibilitssn
Penggemar Pendekar
go go
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rohmat Ibn Sidik
lanjut
Aku Pemula: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!