Qin Yue, agen elit paling mematikan dari dunia modern, mati dalam misi. Ia terbangun di tubuh Putri Feng Xiuying—gadis cantik, lemah lembut, dan terkenal bodoh seantero istana.
Tapi dunia akan segera tahu bahwa kelinci mungil ini kini bertaring.
Pedangnya lebih cepat dari lidah bangsawan istana, dan kelicikannya bahkan bisa mempermainkan para pejabat tua.
Hanya satu orang yang tak bisa ia taklukkan. Jenderal Han Ziyu, pria dingin berjulukan "Serigala Salju."
“Ayo bertarung!”
“Maaf, aku tak melawan kelinci,” katanya dingin.
Tapi ketika kelinci itu mulai menggoda pangeran lain, serigala itu menggeram pelan.
“Kelinci milikku... tak boleh bermain di kandang rubah lain.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seojinni_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 - Gaun Merah
Mansion Bai sore itu lebih ramai dari pasar.
Pelayan berlari ke sana kemari sambil membawa baki, bunga segar, dan pita merah, bahkan hampir saling bertabrakan.
Rong Yi berdiri di tengah kekacauan, wajahnya sudah pasrah. Di tangannya—memegang sisir emas, dan di depannya—sumber malapetaka utama. Bai Xiuying.
“Putriku, tolong diam sebentar. Hanya lima tarikan napas! Lima!”
“Aku sudah diam dari tadi,” jawab Xiuying datar. “Yang tak bisa diam itu tanganmu. Kau mencabut rambutku, bukan menyisirnya!”
Rong Yi berhenti, menarik napas dalam. “Putriku… apa kau tahu? Dulu kau gadis yang lembut dan manis.”
Xiuying menatap pantulan dirinya di cermin, lalu berkedip. “Dan sekarang aku gadis cantik dan berani. Lihat? Perkembangan yang bagus bukan.”
Rong Yi memejamkan matanya. “Ya, tentu saja. Bagus sekali. Aku sampai ingin menangis.”
Setelah perjuangan panjang dan dua sisir yang patah, akhirnya riasannya selesai. Xiuying berdiri dan menatap bayangan dirinya di cermin besar.
Gaun semerah darah itu membalut tubuhnya—terlihat pas. Bordiran emas di bahunya berkilau tiap kali ia bergerak. Warna itu mencolok, berani, dan tidak sopan untuk pesta kedewasaan. Persis seperti dirinya.
Rong Yi menatapnya, matanya berkaca-kaca. “Putri kecil kami… akhirnya benar-benar tumbuh dewasa.”
Xiuying menoleh, menaikkan satu alisnya. “Yi, apa kau menangis?”
Rong Yi mendengus. “Siapa yang menangis? Aku hanya takut kau membuat kekacauan lagi.”
Xiuying menatap pantulan mereka di cermin, lalu tersenyum geli. “Kau bilang ‘lagi’? Aku bahkan belum memulainya.”
Saat ini, pelayan masuk tergesa-gesa. “Tuan Rong! Putri Bai! Tandu sudah siap!”
Xiuying mengangguk, memegang rok panjangnya dengan gaya yang sangat anggun—tapi hampir jatuh karena tersandung ujung gaunnya sendiri.
Rong Yi menepuk dahinya. “Aku bersumpah… kalau kau terjatuh di aula istana, aku pura-pura tidak mengenalmu.”
“Tidak masalah,” Xiuying tersenyum licik. “Aku akan berurusan denganmu setelah itu.”
Rong Yi menatap langit-langit. “Dewa Langit, tolong bawa aku pergi dari sini…”
Xiuying melangkah keluar dari kamarnya, cahaya sore memantul di gaunnya, membuat warna merah itu terasa lebih hidup. Semua pelayan yang melihatnya sontak berhenti. Ada decak kagum di udara.
Bahkan Rong Yi, meski sempat kesal, akhirnya hanya bisa berbisik, “Cantik sekali…”
Xiuying menoleh pelan, tersenyum kecil. “Tentu. Aku Bai Xiuying. Siapa lagi yang bisa membuat pesta ini jadi berantakan dengan kecantikan?”
Rong Yi memutar matanya. “Aku menarik kembali ucapanku.”
Suara tabuh drum dari kejauhan terdengar—tanda pesta kedewasaan akan segera dimulai.
Dan seperti biasa, Putri Bai berangkat dengan kepala tegak, hati ringan, dan niat yang tidak bisa disebut baik.
***
Istana Kekaisaran
Istana tampak seperti lautan merah dan emas. Bunga peony memenuhi gerbang, lentera-lentera digantung setinggi langit, dan musik lembut mengalun dari paviliun timur. Para bangsawan sudah berkumpul, berbicara pelan dengan senyum yang terasa lebih tajam daripada pedang.
Di antara keramaian itu, Bai Xiuying melangkah masuk dengan gaun merah darahnya.
Setiap langkahnya menarik perhatian — bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena auranya. Ia berjalan seolah seluruh aula milik dirinya.
Rong Yi di belakangnya hanya bisa berdoa dalam diam. “Tolong jangan bicara dulu… setidaknya sampai kau duduk…”
Sayangnya, doa itu dikabulkan setengah.
“Yi, kenapa mereka menatapku seolah aku makhluk aneh?” bisik Xiuying pelan.
“Karena kau terlalu mencolok,” jawab Rong Yi cepat. “Dan juga karena—”
“Karena aku cantik?” Xiuying menebak.
“Karena mereka berpikir kau gila. Tidakkah kau belajar sejak terakhir kali?” gumam Rong Yi pelan.
Xiuying terkekeh kecil. “Terserahlah, yang jelas... pesta ini jadi tidak membosankan.”
Gong besar berbunyi tiga kali. Semua tamu segera berdiri, menundukkan kepala.
Permaisuri melangkah masuk dari sisi istana, diikuti para selir dan kasim. Senyumnya lembut, tapi matanya seperti danau beku — indah, namun tidak bisa dipahami.
“Keluarga Jenderal Bai,” ucapnya pelan, “Malam ini, istana menyambut kedewasaan putri kesayangan kalian. Bai Xiuying.”
Suasana hening sesaat, lalu musik mengalun kembali.
Xiuying menunduk sopan, tapi bibirnya sedikit terangkat.
Disisi lain, Rong Yi menelan ludah. Entah mengapa, Ia bisa merasakan sesuatu di balik pesta ini, sesuatu yang tidak beres.
Sementara itu, Xiuying… hanya memikirkan satu hal. Makanan di meja depan kelihatannya enak.
Ketika ia mulai melangkah ke arah hidangan, Rong Yi menahan lengannya dengan cepat. “Putriku, jangan sekarang!”
“Tapi mereka semua sedang sibuk menatap Permaisuri.”
“Itu masalahnya! Kalau kau makan sekarang, semua orang juga akan menatapmu!”
Xiuying mendengus kecil. “Kalau begitu biar mereka menatap. Apa peduliku.”
Tapi sebelum langkahnya benar-benar melanggar batas, suara lembut namun tajam terdengar dari singgasana.
“Putri Bai,” panggil Permaisuri.
Semua kepala menoleh.
Xiuying berhenti, berbalik dengan senyum sempurna di wajahnya. “Ya, Yang Mulia?”
Permaisuri tersenyum kecil. “Kau tampak… mempesona malam ini. Seolah seluruh cahaya menolak pergi dari sisimu.”
Kalimat itu terdengar indah — tapi setiap orang tahu, itu bukan pujian.
Rong Yi menunduk cepat, berharap Xiuying tidak membalas.
Tapi tentu saja, itu hanyalah harapan kosong.
“Terima kasih, Yang Mulia,” Xiuying membungkuk sedikit. “Cahaya hanya mengikuti tempat yang hangat.”
Beberapa selir tertawa kecil, sebagian lagi menahan napas.
Rong Yi yang berdiri di belakangnya hampir pingsan. Putriku, pesta bahkan belum dimulai, jangan memancing kematianmu…
Permaisuri tertawa pelan, memecah ketegangan. “Haha, gadis yang cerdas memang pantas dari keluarga Bai.”
Namun, di balik tawa itu, tatapan permaisuri singgah sekejap ke arah Wu Yao — dan tentu saja, pada Wu Huang yang akan melanjutkan.
baru ini nemu MC yang pemalas🤣
😘😘
q tak rela pisan cepat' am xiuying Thor....
sehat2 ya, semangat selalu dalam berkarya