Arsyan Al Ghazali, seorang ustadz muda tampan, dikenal karena keteguhan imannya, kefasihannya dalam berdakwah, dan pesona yang membuat banyak wanita terpesona. Namun, ia tak pernah tergoda dengan pujian atau perhatian dari lawan jenis. Baginya, agama dan dakwah adalah prioritas utama.
Di sisi lain, Nayla Putri Adinata adalah gadis liar dari keluarga konglomerat yang gemar berpesta, bolos kuliah, dan menghabiskan malam di klub. Orang tuanya yang sudah lelah dengan tingkah Nayla akhirnya mengirimnya ke pesantren agar dia berubah. Namun, Nayla justru membuat onar di sana, bersikap kasar kepada para santri, dan berusaha melawan aturan.
Segalanya berubah ketika Nayla berhadapan dengan Al Ghazali, ustadz muda yang mengajarkan ilmu agama di pesantren tersebut. Awalnya, Nayla merasa jijik dengan semua aturan dan ceramahnya, tetapi pesona ketenangan serta ketegasan Al Ghazali justru membuatnya semakin penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia's Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Kecil di Hadapan Mantan suami
Pagi itu sinar matahari menyusup lembut ke jendela ruang perawatan. Raihan tersenyum kecil di pelukan Nayla, kulitnya yang kemarin pucat mulai kemerahan kembali. Setelah pemeriksaan terakhir, dokter menyatakan bahwa Raihan boleh pulang hari ini.
“Alhamdulillah… akhirnya pulang juga, ya, Sayang,” bisik Nayla sambil mencium dahi bayinya.
Sementara Alghazali membereskan tas kecil berisi baju Raihan, Nayla menuju lantai bawah untuk mengurus administrasi. Rumah sakit pagi itu cukup ramai, antrean di bagian kasir cukup panjang. Di sela waktu menunggu, Nayla duduk sejenak di bangku tunggu sambil memainkan jarinya, hingga sebuah suara menyapanya dengan sangat sopan.
“Assalamu’alaikum… Ibu Nayla?”
Nayla menoleh. Dan di sana berdiri dr. Hafidzah, masih dengan aura menenangkan, rapi dalam balutan jas putih, hijab warna sage yang seirama dengan roknya. Wajahnya segar, make-up tipis, dan senyum yang hangat.
“Wa’alaikumussalam... Iya, Dokter. Tadi saya sempat lihat juga, tapi belum sempat menyapa,” jawab Nayla pelan.
Hafidzah tersenyum sambil duduk di sebelahnya. “Alhamdulillah, kondisi bayi Ibu sudah membaik, ya. Saya ikut senang.”
Nayla mengangguk. “Terima kasih, atas bantuannya.”
Hening sejenak. Mereka sama-sama menatap layar antrean.
Namun jauh di dalam hati Nayla, ombak kecil mulai bergulung. Ia memperhatikan Hafidzah tanpa sengaja. Sorot matanya jatuh pada ID Card bertuliskan “dr. Hafidzah Azzahra, Sp.A”, pada postur tubuhnya yang tegap, dan cara bicaranya yang tenang dan elegan.
"Wanita ini… pernah mengisi hati Al.”
“Wanita ini tidak harus berdarah kering untuk menyusui, tidak harus bangun jam 2 pagi karena takut anaknya demam. Wanita ini… terlihat sempurna.”
"Sementara aku? Aku masih belajar membaca surat pendek dengan lancar. Aku bahkan kadang lupa letak surah dalam Al-Qur'an. Aku ibu, tapi belum bisa jadi istri terbaik…”
Hafidzah menyadari keheningan Nayla dan menoleh.
“Maaf, kalau pertanyaan ini terlalu pribadi,” ujar Hafidzah lembut, “tapi… kamu bahagia, Nayla?”
Pertanyaan itu seperti menampar Nayla. Ia terdiam beberapa saat, kemudian memaksa tersenyum.
“Bahagia… tapi kadang merasa tidak cukup.”
“Saya istri dari ustadz yang sangat disukai banyak orang. Tapi saya masih sering… merasa tidak pantas.”
Hafidzah menatap Nayla lekat-lekat, matanya teduh.
"Ketika saya tahu Ustadz Al menikah dengan kamu, awalnya saya kaget. Tapi kemudian saya sadar… bukan saya yang dipilih. Dan setelah saya melihat kamu dan putra kalian… saya tahu, itu bukan karena kebetulan. Tapi karena kamu dipersiapkan.”
Nayla tak bisa menahan air matanya.
Hafidzah melanjutkan dengan suara sangat pelan, nyaris berbisik
"Allah tahu betul siapa yang kita butuhkan. Kamu mungkin merasa kecil sekarang, tapi dari luar, kamu terlihat sangat kuat, Nayla. Dan itu... jauh lebih keren dari jas dokter saya.”
Nayla terisak pelan dan tersenyum.
"Terima kasih, Hafidzah…”
“Doakan aku bisa seperti kamu. Teguh… dan tenang.”
“Kamu sudah lebih dari itu, Nayla. Kamu cinta yang sedang tumbuh... dan cinta yang bertumbuh tidak pernah salah tempat.” Hafidzah dengan suara tegas namun pelan.
"Nayla... kamu beruntung karena mendapatkan Al, bahkan sampai sekarang aku sulit melupakannya, meski aku sudah menikah." Hafidzah meracau dalam batinnya.
—
Beberapa menit kemudian, Nayla kembali ke kamar perawatan. Al sedang menggendong Raihan sambil berzikir pelan. Begitu melihat istrinya masuk, ia tersenyum hangat.
“Sudah selesai, Sayang?”
Nayla mengangguk dan menatap suaminya lama, lalu memeluk Al dan anak mereka dengan erat.
Meskipun rasa tidak aman masih tersisa, hari ini Nayla tahu satu hal penting:
Cinta yang utuh bukan datang dari kesempurnaan, tapi dari keberanian untuk bertahan dan terus belajar.
"Kenapa heumm, kok kamu jadi melow begini?"Al mengelus kepala istrinya.
"Enggak kok, aku pengen peluk kamu aja, boleh kan?suamiku wangi banget, aku suka aroma wangi tubuh kamu mas, "
"Oh, ya sudah, sebentar aku taruh Raihan dulu di ranjangnya, biar dia bisa tidur tenang." Nayla melepas pelukannya.
"Nah.. sini... Mas peluk," Al merentangkan tangannya bak seorang Ayah kepada anaknya. Dia tahu bagaimana cara memanjakan istrinya yang memang masih belia tersebut dan masih sangat manja. Nayla langsung duduk di pangkuan suaminya seperti anak kecil.
"Dada ini, bahu ini adalah tempat sandaran ternyamanku, saat ini dan selamanya, aku berharap ... bahu ini akan selalu siap menjadi tempatku bersandar."
"Ssst, kenapa kamu bilang begitu? Hei.. aku selalu siap untuk kamu, dan kamu adalah cinta dalam hidupku, yang mewarnai hidupku, dan memenuhi pikiranku heumm."
"Benarkah? lalu ... lebih besar mana rasa cinta kamu, Aku atau Raihan?"
"Ya ampuun sayang...harus pilih ya ?"
"Harus!" Nayla mencebikkan bibirnya.
"Euh... tentu kamu sayang, karena kamu yang sudah berjuang mengandung dan melahirkan putera kita, sedangkan Raihan buah cinta kita meski kalian memiliki tempat yang berbeda "
"Rasa cintaku sama kamu itu ibarat api olimpiade yang tak pernah padam, selalu mampu membakar gelora hatiku, seperti saat ini, kamu mampu membangkitkan hasratku." Al menyipitkan matanya. Nayla langsung beranjak dari pangkuan Al.
"Mas... jangan... kita mau pulang bisa-bisa ketahuan dokter lagi, kamu itu dasar ustadz mesum." Nayla melirik ke kanan dan ke kiri.
"Mas ... nanti kalau kalau ke kajian, enggak usah lihat-lihat para santriwati, mereka cantik-cantik dan juga muda, solehah bahkan mereka penghafal Al-Qur'an. Aku takut kamu goyah, karena aku tak sehebat mereka.'
"Bahkan ketakutanku semakin besar, saat ada wanita yang terang-terangan ingin menjadi istri keduamu mas." Nayla dengan suara lirih, dan Nayla langsung berkaca-kaca, "Aku terlalu mencintaimu mas,"
"Sayang.... ya sudah kalau begitu, Raihan kita bawa ke setiap kajian bagaimana, supaya dia terbiasa dengan kajian dan lantunan ayat Al-Qur'an, dia juga penerus dakwahku, Aku ingin semua para wanita tahu bahwa aku memiliki istri hebat, cantik dan solehah, seperti kamu apapun itu baik kelebihan dan kekuranganmu, bagiku kamu sosok wanita yang sempurna."
Terimakasih mas,"Al memeluk Nayla dan mencium kening istrinya. Istri yang selalu membuatnya gelora mudanya semakin bergejolak meski usianya kini 30 tahun namun Nayla yang baru 23 tahun itu selalu mampu membuatnya kembali muda.
Suasana ruang rawat VIP siang itu begitu hangat. Raihan, yang kini sudah membaik, tertidur pulas di pelukan Nayla. Di sampingnya, Al Ghazali duduk sambil membaca Al-Qur’an dengan suara pelan. Tak lama, terdengar ketukan halus dari arah pintu.
Tok. Tok. Tok.
Al menoleh dan segera berdiri. Dengan langkah sigap, ia membuka pintu.
“Assalamu’alaikum…”
Ternyata di ambang pintu berdiri Tn. Haris dan Ny. Humaira, kedua orang tua Al. Wajah Humaira tampak lelah namun bercahaya, matanya sedikit sembab.
Begitu masuk, Humaira langsung menghampiri cucunya, dan tanpa berkata sepatah pun, air matanya menetes. Ia mencium dahi Raihan dengan lembut, lalu menggenggam tangan kecil cucunya yang hangat.
“Raihan… cucu nenek… Ya Allah… akhirnya nenek bisa lihat kamu lagi,” ucapnya lirih, suaranya bergetar menahan tangis.
Nayla terdiam di sisi tempat tidur, menunduk dengan perasaan campur aduk. Al berdiri di belakang ibunya, meletakkan tangannya di bahu wanita itu dengan lembut.
Tn. Malik hanya mengangguk kecil ke arah Nayla, sedikit canggung, namun ada ketulusan dalam tatapannya.
“Kami minta maaf kalau terlalu lama untuk datang. Kami… perlu waktu, Nayla,” kata Malik dengan suara tenang.
Nayla mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa, Abi…”
Humaira akhirnya menatap Nayla. Ia memandang wajah menantunya itu cukup lama, seolah melihat Nayla dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
“Kamu kuat ya, Nak. Kamu jaga Raihan sangat baik. Maaf… karena dulu mama sempat ragu… sekarang mama tahu, kamu adalah tempat terbaik untuk cucu mama berteduh.”
Tangis tak tertahan, baik dari Nayla maupun Humaira. Mereka saling mendekap dalam pelukan haru yang tulus. Al menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca.
“Umi , Abi... terima kasih telah datang. Ini sangat berarti untuk Nayla… untuk kita semua,” kata Al lembut.
Tn. Malik mendekati Raihan dan mengusap kepala cucunya dengan lembut.
“Semoga kelak jadi anak yang sholeh, cucuku… jadi pemimpin yang berilmu seperti ayahmu, dan berhati lembut seperti ibumu.”
Momen itu menjadi awal penerimaan sepenuhnya dari keluarga besar Al terhadap Nayla dan Raihan. Bukan hanya karena ikatan darah, tapi karena mereka melihat sendiri, cinta dan perjuangan Nayla sebagai ibu dan istri yang terus bertumbuh.
"Al... sebaiknya kalian tinggal bersama kami di rumah utama, di sana sangat luas, bahkan Raihan bisa bermain bola di sana dan udaranya juga asri."
"Waduh..." batin Nayla.
bersambung...