Arsenio Wickley, seorang mafia yang berusia 39 tahun. Semenjak kejadian kekasihnya pergi karena kesalahan pahaman, semenjak itu Arsenio menutup hatinya untuk semua wanita. Tapi, kehadiran seorang gadis mengubah pendiriannya. Clara datang kepadanya, dan berniat menjadi sugar baby Arsen. bukan karena uang tapi karena ia butuh kasih sayang yang tidak ia dapat dari orang tuanya.
" Om, aku mau jadi sugar Baby om" ucap Clara sambil menatap wajah Arsen.
" Apa kau tahu, apa yang dilakukan Sugar Baby?" Arsen mendekati wajah Clara, membuatnya sedikit gugup.
" Memang apa yang harus aku lakukan?" tanya Clara yang penasaran, ia hanya tahu sugar baby itu hanya menemani makan, dan jalan-jalan.
" kau harus menemaniku tidur, apa kau mau?" Arsen semakin memojokkan tubuh Clara.
" tidak!! aku tidak mau.." Clara berlari saat mendengar ucapan Arsen.
" Dasar bocah ingusan" ucap Arsen seraya menggelengkan kepala.
Nantikan kisah kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu.peri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan Tiga Pria Tampan
Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai, menyorot ruang tamu apartemen mewah itu. Arsen duduk santai di atas sofa, ber te lan jang dada dengan hanya mengenakan celana panjang gelap. Di tangannya tergenggam sebuah remote televisi, sementara matanya terpaku pada layar yang sedang menayangkan berita pagi.
Wajahnya datar, tetapi sorot matanya tajam. Ada kemarahan yang ia tahan ketika nama Clara disebut dalam siaran.
Di balik sofa yang sama, tubuh Clara menggeliat pelan di bawah selimut tipis. Matanya mulai terbuka, meskipun masih terasa berat. Kepalanya sedikit pening, tapi ia perlahan duduk bersandar, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya pagi. Saat menyadari kehadiran Arsen di dekatnya, ia menatapnya dalam diam.
Lalu, kenangan tentang malam sebelumnya tiba-tiba menyeruak. Clara memandang ke arah pakaiannya yang masih melekat, meskipun kusut. Ia menggigit bibir, lalu menoleh pada Arsen yang masih memandangi layar televisi.
"Om... apa semalam kita benar-benar... melakukannya?" tanyanya polos, dengan suara serak namun penuh rasa ingin tahu.
Arsen menoleh perlahan, tatapannya kosong namun sarat makna. Bibirnya terangkat tipis, seolah menahan tawa kecil. Ia bergerak mendekat, hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
"Apa kau menginginkan itu terjadi?" bisiknya dengan nada rendah, nyaris menggoda.
Clara mengangguk cepat, nyaris tanpa ragu.
Arsen hanya mendecak pelan, lalu dengan santai mendorong jidat Clara hingga kepala gadis itu terdongak ke belakang.
"Kau lihat itu?" ucap Arsen sambil menarik kepala Clara ke arah layar televisi.
Clara memicingkan mata, menatap tayangan berita pagi itu. Di sana terpampang jelas rekaman dirinya semalam—mabuk, tertawa sambil ditarik-tarik oleh tiga pria berbeda. Judul besar di bawah layar membuatnya langsung menegang.
“Gadis Muda Dikelilingi Tiga Pebisnis Tampan, Siapa Pria yang Beruntung?”
Wajah Clara langsung memerah. Ia spontan menarik selimut ke atas kepala, menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus.
"Astaga... malunya aku..." lirihnya di balik selimut.
Arsen menyilangkan tangan di dada, menatap layar dengan mata menyipit. "Kenapa kau minum, hah? Padahal jelas-jelas kau tidak kuat alkohol."
Clara membuka sedikit selimutnya, hanya memperlihatkan sepasang matanya yang terlihat menyesal. “Aku pikir itu sirup... warnanya ungu dan manis, Om…”
Arsen menarik napas dalam-dalam, lalu menoyor dahi Clara. “Dasar bodoh.”
Clara meringis, mengusap dahinya sambil mengerucutkan bibir.
“Ayo bangun. Bersihkan dirimu. Bukankah hari ini kau ada kuliah?” tanya Arsen sambil bangkit dari sofa.
Namun Clara langsung menarik kembali selimut ke tubuhnya. “Sepertinya aku tidak enak badan… bisa izin, ya?” gumamnya manja.
Arsen menghela napas, lalu tanpa peringatan ikut berbaring di sebelah Clara. Dengan gerakan alami, lengannya melingkari pinggang Clara dan menarik gadis itu dalam pelukannya dari belakang.
"Mulai sekarang, kau tidak boleh lagi seenaknya sendiri," ucapnya pelan di dekat telinga Clara. "Setiap kau keluar, harus bersamaku. Kau sudah menjadi sorotan. Hidupmu sekarang tidak bebas seperti dulu."
Clara hanya diam. Pelukan hangat itu membuat jantungnya berdetak tak menentu. Tapi dari balik selimut, ia tersenyum kecil.
"Kalau begitu... tolong mandikan aku juga, Om..." bisiknya iseng.
Arsen mengerjap pelan, lalu memejamkan mata. “Clara…”
“Ya?” sahutnya polos.
“Jangan coba-coba memancingku pagi-pagi begini,” gumam Arsen, meskipun pelukannya justru mengerat.
****
Di lantai dua mansion Wijaksono, suara televisi dari ruang tengah bergema ke seluruh penjuru rumah. Di dalam kamar Sera, layar datar yang terpasang di dinding menayangkan tayangan ulang dari berita pagi itu—berita yang telah membuat amarahnya mendidih.
Di layar, tampak potongan klip Clara sedang tertawa bersama beberapa pria berjas mewah, lalu beralih pada wajah Arsen yang tampak melindungi Clara saat wartawan menyerbu mereka usai pesta.
Sera mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Matanya nyalang, penuh rasa dengki yang hampir meluap dari dadanya.
“Kenapa dia selalu terlihat sempurna... kenapa dia selalu beruntung?” gumamnya dengan suara rendah, penuh amarah. “Padahal dia cuma anak tak di anggap!”
Baru saja ia berdiri hendak mematikan televisi, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka lebar. Sosok Anton muncul, berdiri tegap dengan raut wajah keras. Di belakangnya, Elisa masuk dengan langkah anggun, ekspresi tenangnya berbanding terbalik dengan kekesalan di wajah suaminya.
“Aku tidak akan mempermasalahkan kenapa semalam kau pergi dari pesta tanpa izin,” kata Anton dengan nada dingin, langsung ke pokok permasalahan. “Tapi siang ini, bersiaplah. Kau akan ikut denganku menemui Tuan Dirgantara. Rayu dia agar bersedia berinvestasi di perusahaan kita.”
Sera memutar tubuhnya cepat, menatap ayah tirinya dengan tatapan tajam. “Tidak! Aku tidak mau!” bentaknya lantang. “Kenapa bukan Clara saja? Dia ‘kan putri kandungmu. Suruh dia! Buat dia berguna!”
Anton terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Kemarahannya meletup seketika. Ia mengangkat tangannya tinggi, seolah siap menampar wajah Sera tanpa ampun.
Namun Elisa buru-buru menahan pergelangan tangannya, mencegah Anton kehilangan kendali.
“Pa, jangan,” ucap Elisa dengan suara tenang namun tegas. “Biar aku yang bicara dengannya.”
Anton menatap istrinya tajam, kemudian menurunkan tangannya dengan kasar. Tanpa berkata lagi, ia melangkah pergi dan menutup pintu kamar dengan hentakan kuat.
Brak!
Hening sejenak.
Sera mendengus keras, lalu menjatuhkan diri ke sofa dengan ekspresi memberontak. Ia melipat tangan di dada, sorot matanya penuh penolakan. “Aku bukan anaknya... enak saja nyuruh aku. Suruh aja anak kandungnya yang murahan itu!”
Elisa duduk di sampingnya, mendekat pelan-pelan. Wajahnya tenang, tapi ada kilatan manipulatif di matanya.
“Sayang... dengarkan mama,” ucapnya lembut, menepuk tangan Sera dengan perlahan. “Turuti saja keinginan Papa Anton untuk sekarang. Jika perusahaan sudah kembali stabil, kita rebut semua. Setelah itu, kita tendang dia keluar dari keluarga ini. Biarkan dia kembali hidup di jalanan seperti dulu. Gelandangan tak tahu diri.”
Sera masih diam. Tapi perlahan, bibirnya mulai menyunggingkan senyum kecil. Senyum penuh rencana.
Sera membulatkan matanya. Wajahnya berubah, seakan muncul kilatan gai rah untuk membalas dendam.
“Baiklah... aku setuju, Ma. Aku akan rayu Tuan Dirgantara itu.”
****
Di kantor pusat perusahaan Dion...
Langit-langit kaca besar memancarkan cahaya matahari pagi, menerpa ruang kerja Dion yang bergaya modern minimalis. Kursi hitam besar itu menopang tubuh Dion yang duduk bersandar, satu tangan menopang dagu, sementara tangan satunya mengusap sudut bibirnya yang masih memar akibat pukulan Arsen malam sebelumnya.
Pandangan matanya kosong, jelas pikirannya tidak berada di dalam ruangan itu.
Clara.
Nama itu terus menggema dalam benaknya. Wajah polos gadis itu. Tawanya. Tatapan panik semalam. Dan... genggaman hangat yang sesaat sempat ia rasakan. Dion menghela napas pelan. Sial, dia benar-benar jatuh cinta.
Suara langkah kaki yang mantap memecah keheningan ruangan.
“Kau benar-benar terlihat seperti pria patah hati.”
Suara itu datang dari Mathew, pria berjas krem muda yang baru beberapa minggu terakhir intens berhubungan bisnis dengan Dion. Tanpa permisi, Mathew langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa di depan meja kerja Dion, satu kaki disilangkan santai di atas lutut.
Dion tidak langsung menjawab, hanya mengedarkan pandangan lalu kembali menatap meja.
“Aku bukan patah hati,” gumam Dion lirih, “Aku sedang mencintai seseorang.”
Mathew tersenyum kecil, tangannya meraih cangkir kopi yang telah disiapkan oleh asisten. Ia menyesap sedikit, lalu menatap Dion dengan pandangan santai namun penuh perhitungan.
“Kebetulan, aku juga mulai tertarik padanya.”
Ucapannya ringan, tapi efeknya langsung terasa. Dion mendongak cepat, menatap Mathew dengan pandangan yang kini menegang. Rahangnya mengeras, dan matanya tajam.
“Kau bercanda?”
Mathew justru tertawa pelan. “Aku serius. Cantik, polos, dan... penuh misteri. Tipe wanita yang ingin aku taklukkan.”
“Kalau begitu, kau harus berhadapan denganku dulu,” suara Dion mulai dalam, tegas. “Karena aku tidak akan mundur selangkah pun.”
Mathew menaikkan kedua tangan, berpura-pura menyerah.
“Tentu saja.” Ia bersandar lebih santai. “Tapi kau lupa satu hal—sebelum melawanmu, aku mungkin harus menghadapi Arsen lebih dulu. Dan kurasa... itu akan menjadi pertarungan yang menarik.”
Dion mengepalkan tangannya di atas meja. Ia tahu, Mathew bukan pria sembarangan. Di balik sikap santainya, pria itu licik, penuh strategi, dan jelas bukan sekadar teman bisnis biasa.
Mathew menyeringai, lalu menatap Dion dengan tatapan penuh makna.
“Semoga dia cukup kuat untuk menolak pesonaku.”
Lalu ia bangkit berdiri, merapikan jasnya, dan berjalan santai ke arah pintu.
Sebelum pergi, Mathew menoleh sekali lagi.
“Oh ya... dalam perang memperebutkan wanita, jangan hanya andalkan perasaan. Kadang yang kau butuhkan adalah rencana.”
Pintu tertutup lembut di belakangnya, menyisakan Dion yang kini duduk dengan pandangan membara.
jangan lupa mampir di cerita baru author.
MEMBAWA BENIH SANG CASSANOVA
🥰🥰🥰