NovelToon NovelToon
Office Girl Pribadi CEO

Office Girl Pribadi CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat / Romansa Fantasi / CEO / Kehidupan di Kantor / Office Romance / Chicklit
Popularitas:78.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alensvy

Aulia, gadis sederhana yang baru saja bekerja sebagai office girl di kantor megah milik CEO ternama yang dikenal kaku dan sulit didekati, tiba-tiba menjadi pesuruh pribadinya hanya karena kopi buatan Aulia.

Hayalannya menjadi karyawan yang baik dan tenang hancur seketika akibat bosnya yang tukang suruh-suruh hal yang tidak-tidak semakin membuatnya jengkel.

Sifatnya yang ceria dan kelewat batas menjadi bulan-bulanan bosnya. Akankah ia mampu bertahan demi uang yang berlimpah? Atau...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alensvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyebab Aldiano Tidak Bisa Merasakan Rasa

...****************...

Malam itu, Aulia duduk di meja makan apartemen Aldiano, mengaduk-aduk sup yang baru saja ia buat. Aldiano, seperti biasa, duduk di seberangnya dengan ekspresi datar, menikmati makanannya dengan tenang.

Tapi kali ini, Aulia memperhatikan sesuatu. Biasanya, Aldiano makan dalam diam, hanya sesekali mengomentari rasa makanan. Tapi malam ini, ada ekspresi berbeda di wajahnya—sesuatu yang samar, seperti sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Aulia meletakkan sendoknya dan menyandarkan dagu di tangan. "Pak, saya penasaran. Sebenarnya kenapa sih Bapak bisa gak ngerasain makanan?"

Aldiano berhenti mengunyah. Dia tidak langsung menjawab, hanya menatap sup di depannya sejenak sebelum akhirnya meletakkan sendoknya perlahan.

Aulia bisa merasakan perubahan atmosfer. Suasana yang awalnya santai jadi terasa lebih berat.

"Aku tidak terlahir seperti ini," kata Aldiano akhirnya.

Aulia mengernyit. "Terus?"

Aldiano menatapnya sebentar sebelum kembali menatap piringnya. "Dulu aku bisa merasakan makanan seperti orang lain. Tapi, saat kecil, ibuku selalu memaksaku makan."

Aulia mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Aldiano menghela napas, seolah enggan mengingat masa lalu. "Aku ini dulu anak yang sangat kurus. Ibuku benci melihat begitu. Dia selalu berkata kalau aku tidak makan cukup banyak, aku akan sakit, akan mati kelaparan. Jadi, dia terus menyuruhku makan, berkali-kali dalam sehari, tidak peduli aku lapar atau tidak."

Aulia terdiam, mendengarkan dengan serius.

"Dia juga selalu memaksaku makan makanan panas," lanjut Aldiano. "Katanya, makanan panas lebih sehat. Dia akan menyajikannya langsung dari panci, masih mengepul, dan menyuruhku memakannya saat itu juga. Kalau aku menolak, dia akan marah."

Aulia merasa dadanya sedikit sesak mendengarnya.

"Sampai suatu hari, entah bagaimana… mulutku tiba-tiba mati rasa." Aldiano menatapnya. "Aku tidak bisa merasakan makanan lagi sejak saat itu."

Aulia tertegun. "Jadi… itu karena trauma?"

Aldiano tidak menjawab, hanya kembali mengambil sendoknya dan melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa-apa.

Aulia menatapnya dengan ekspresi rumit. Ia tidak pernah mengira alasan di balik kondisi Aldiano begitu berat.

Dia menelan ludah dan mencoba mencairkan suasana. "Terus, kalau misalnya saya paksa Bapak makan makanan panas, nanti jadi bisa ngerasain semua makanan lagi gak?"

Aldiano berhenti mengunyah dan menatapnya datar. "Kalau mau mati, silakan coba."

Aulia tertawa kecil. "Hadeh, bercanda doang, Pak!"

Tapi meski ia tertawa, hatinya masih terasa berat.

Ia melihat Aldiano yang kini kembali fokus ke makanannya, dan untuk pertama kalinya, Aulia sadar kalau di balik sikap dinginnya, pria itu menyimpan luka yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

Dan entah kenapa, itu membuatnya ingin tetap ada di sini.

...****************...

Aulia berdiri di depan pintu apartemen Aldiano, siap kembali ke unitnya sendiri yang berada satu lantai di bawah. Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya, entah karena apartemen yang memang sepi atau karena percakapan serius mereka tadi masih terngiang di pikirannya.

Sebelum membuka pintu, Aulia menoleh ke arah Aldiano yang masih berdiri tak jauh darinya. Pria itu menatapnya dengan ekspresi seperti biasa—datar, sulit ditebak.

Aulia tersenyum kecil. "Pak, makasih ya."

Aldiano mengangkat alis. "Untuk apa?"

Aulia menyandarkan tangan di kusen pintu, memiringkan kepala. "Ya, untuk tadi. Bapak cerita tentang trauma Bapak. Itu pasti nggak gampang."

Aldiano diam. Matanya sedikit menyipit, seolah baru menyadari sesuatu.

Aulia terkekeh pelan. "Kenapa? Kaget karena udah cerita ke saya?"

Aldiano masih tidak menjawab, tapi tatapannya berubah sedikit lebih tajam. Seolah sedang mencerna sesuatu yang bahkan dia sendiri belum bisa pahami.

Aulia tersenyum lebih lebar. "Tenang aja, saya gak bakal cerita ke siapa-siapa. Saya kan karyawan yang bisa dipercaya."

Aldiano menatapnya lama sebelum akhirnya bersuara. "Aku tidak pernah membicarakan itu ke siapa pun sebelumnya."

Aulia terdiam.

Aldiano mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar di ruang tamu, menatap kota yang berkilauan di malam hari. "Bahkan ke Teddy sekalipun."

Aulia mengerjap. Dia tahu Teddy adalah sekretaris kepercayaan Aldiano, orang yang selalu ada di sisinya dalam urusan pekerjaan. Jika bahkan Teddy tidak tahu…

Aulia menatap Aldiano dengan bingung. "Terus, kenapa ke saya?"

Aldiano tidak langsung menjawab.

Aulia menunggu. Tapi jawaban yang ia harapkan tidak kunjung datang. Yang ada, hanya pria itu yang kembali menatapnya dengan ekspresi yang… aneh. Seperti sedang menilai sesuatu dalam dirinya.

Aulia menelan ludah, tiba-tiba merasa sedikit gugup.

Akhirnya, Aldiano hanya menghela napas pelan. "Sudah malam. Pergilah tidur."

Aulia mengerutkan kening. "Hei, jangan ganti topik gitu, dong—"

"Tutup pintunya dari luar."

Pintu langsung ditutup di depan wajahnya.

Aulia melongo. "Eh? Pak?! Ya ampun, tega banget!"

Dari dalam, Aldiano bisa mendengar Aulia mengomel sambil berjalan ke arah lift.

Sementara itu, ia sendiri masih berdiri di depan pintu, menatap kosong ke arah lantai.

Dia tidak pernah menceritakan trauma itu kepada siapa pun. Bahkan saat dokter bertanya, bahkan saat Teddy mencoba mencari tahu, dia selalu menghindar.

Tapi tadi… dia mengatakannya begitu saja.

Kepada Aulia.

Kenapa?

Aldiano tidak mengerti.

Dan itu membuatnya sedikit kesal.

Dengan mendengus pelan, ia berjalan ke sofa dan menjatuhkan dirinya di sana.

Tapi meski matanya terpejam, bayangan wajah Aulia yang tersenyum tadi tetap tidak bisa hilang dari kepalanya.

Sial.

.

.

Next👉🏻

1
Erviana Erastus
gpp hancur kan cm digosipin aza benaran juga gpp aulia kan bismu tajir 🤣
aagnes
Luar biasa
Alen's Vy: Makasih yaa kak dukungannya,, aye ayee josss/Determined//Whimper/
total 1 replies
Tyaz Wahyu
knpa sll ke polisi sih,pst dpt hukuman ringan n denda yg bs dibayR sm l*nt* itu AL²
Tyaz Wahyu
la kan bisa liat ktpnya si cewek itu boss
Tyaz Wahyu
katanya kaya raya kenapa pintunya msh ditutup pakai kunci biasa y ,g pakai tombol yg dibawah mejax si coolkas ni
Anizar S Pelawi
Luar biasa
Alen's Vy: Makasih dukungannya kak/Kiss/
total 1 replies
Mama Gezkara
ceritanya sederhana tapi bagus kak othoorr... aku sukaaa...
Alen's Vy: Terima Kasih banyak kak, atas dukungannya/Determined//Kiss/
total 1 replies
🥀🇹🇼🍁
lah lakok ending nya 😭
Alen's Vy: HEHEHEHE👹🙏🏻🙏🏻😔
total 1 replies
Alen's Vy
Terima Kasih sudah mampir dan atas dukungannya💕 Mari baca karyaku yang lain, judulnya Ibu Pengganti Anak Sponsor Ku..
Semangat
Thor tega banget lu😭😭
Alen's Vy: Wkwk kebiasaan🤣
total 1 replies
Desmeri epy Epy
lanjut thor
Desmeri epy Epy
lanjut
Desmeri epy Epy
lanjut thor
Desmeri epy Epy
lanjut thor dobel up dong thor
Alen's Vy: Okeeyy 🤣
total 1 replies
Desmeri epy Epy
lanjut thor
🥀🇹🇼🍁
semangat KK Thor up sampai tamat ya
Alen's Vy: Iyaa💕 tungguin terus ya, makasihh🤩
total 1 replies
Maya Lara Faderik
entah lah
Desmeri epy Epy
lanjut thor dobel up dong thor
Alen's Vy: Besok yakk🤣😅
total 1 replies
Desmeri epy Epy
lanjut thor
🥀🇹🇼🍁
menarik
Alen's Vy: Makasih dukungannya😭💕
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!