Krystal Berliana Zourist, si badgirl bermasalah dengan sejuta kejutan dalam hidupnya yang ia sebut dengan istilah kesialan. Salah satu kesialan yang paling mengejutkan dalam hidupnya adalah terpaksa menikah di usia 18 tahun dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.
Kesialan dalam hidupnya berlanjut ketika ia juga harus di tendang masuk ke Cakrawala High School - sekolah dengan asrama di dalamnya. Dan di tempat itu lah, kisah Krystal yang sesungguhnya baru di mulai.
Bersama cowok tampan berwajah triplek, si kulkas berjalan, si ketua osis menyebalkan. Namun dengan sejuta pesona yang memikat. Dan yang lucunya adalah suami sah Krystal. Devano Sebastian Harvey, putra tunggal dari seorang mafia blasteran Italia.
Wah, bagaimana kisah selanjutnya antara Krystal dan Devano.
Yuk ikuti kisahnya.
Jangan lupa Like, Komen, Subscribe, Vote, dan Hadiah biar Author tambah semangat.
Salam dari Author. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icut Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 31 : SEDIKIT KISAH TENTANG KITA
Seperti malam-malam biasanya, seluruh siswa-siswi Cakrawala sedang menikmati makan malam mereka dengan khidmat. Sampai suara piring yang diletakkan dengan kasar diatas meja terdengar dan mencuri perhatian seluruh penghuni kantin.
Lokasinya ada di bagian meja tengah kantin, lebih tepatnya meja yang di tempati oleh Lenna, beserta beberapa anggota osis lain untuk makan baru saja di hampiri oleh tiga orang gadis. Sau diantara mereka kenal yaitu Zoey. Dan dua diantaranya adalah sahabat-sahabat Krystal yang setahun mereka bersekolah di Panca Dharma.
BRUK!
Lenna, Rara dan dua orang lainnya mengangkat kepala ketika senampan makanan mendarat kasar diatas meja mereka.
"Gue mau duduk di sini. Cabut!" Titah Zoey datar.
"Sorry, tapi lo bisa cari meja lain. Kami duluan di sini." Rara tersenyum mengejek.
"Tapi gue mau di sini. Gimana dong?" Zoey menunduk, tersenyum miring pada sekretaris osis itu.
"Lo nggak bisa seenaknya, di..."
"Ra, udah. Nggak papa. Kita aja yang pindah." Lenna menyela, ia tidak ingin kondisi semakin memanas dan berujung pertengkaran nantinya.
Rara berdecak, lalu bangkit berdiri begitu tidak ikhlas disusul oleh dua orang temannya yang lain. Lenna akan ikut bangkit membawa serta makanannya, tapi tiba-tiba dari arah belakang kedua pundaknya kembali ditekan untuk duduk.
Bingung, Lenna baru akan menoleh melihat siapa yang menahannya untuk tetap duduk. Sebilah pisau sudah lebih dulu menancam di atas meja, tepat di hadapannya. Dan kedua kalinya Lenna terkejut.
Kali ini bukan hanya Lenna, tapi hampir seluruh penghuni kantin yang jiwa keponya mulai meronta-ronta.
"Lenna Sabita?" Bisikan yang tepat di telinganya itu membuat Lenna merinding, sehingga reflek menarik kepala ke belakang.
"Ada apa, ya?" Matanya dan mata Carletta bertemu.
"Menurut lo ada apa, hm?" Tersenyum miring, Carletta kembali berbisik ringan.
Lenna gugup. Melihat tu Rara dan dua cecunguk yang lain ingin menarik Lenna berdiri. Namun, Zoey sudah lebih dulu mendorong ketiganya untuk pergi.
Kini, di meja kantin itu hanya tersisa Lenna yang diapit oleh Carletta yang duduk di bagian depan beradapan dengannya. Zoey di sisi kanannya. Dan Sasa di sisi kiri. Tidak mengerti kenapa ia terkesan di kepung seperti ini. Meski sedikit gugup, Lenna mencoba untuk tenang.
Di liriknya Sasa yang sudah mengambil alih makanan miliknya, lalu memakannya dengan santai tanpa izin. Lalu ada Carletta yang memainkan pisau di atas meja. Dan Zoey yang makan dengan tenang.
"So, lo anak beasiswa yang ternyata berhasil membuat teman gue untuk pertama kali jadi pecundang, hm?" Carletta mulai bersuara, menaikkan sebelah alisnya pada lawan bicaranya yang duduk tepat di depannya.
"Mantan murid beasiswa. Karena beasiswanya sudah resmi di cabut." Zoey menyela cuek di tengah kunyahannya.
Tawa sarkas Carletta terdengar.
"Oh sorry-sorry. Jadi udah di cabut? Oh my god! Gue baru tahu loh. Karena kabarnya itu murid paling berprestasi, yang sering kali mengharumkan nama Cakrawala sampai dapat hadiah kamar VIP dari pihak sekolah. Betul, Zoey?" Tanya Carletta dibuat sedramatis mungkin.
"That's right!" Menjentikkan jarinya Zoey mengangguk.
"Artinya lo anak paling unggulan di sekolah ini. Tapi kenapa lo masuk dalam salah satu murid yang nggak lulus saringan beasiswa lagi, hm? Apa namanya. Habis manis, sepah di buang. Gitu?" Melipat tangannya di meja. Carletta menyeringai.
"Hahaha iya, itu namanya pantun." Ujar Sasa.
"Peribahasa!" Semprot Zoey. Yang di balas cengiran oleh Sasa.
"Iya sama aja lah. Adek Kaka mereka itu."
"Suka-suka lo deh."
Lenna tetap diam, tidak memberikan balasan apapun. Meski matanya tidak berkedip menatap Carletta. Sementara penghuni kantin mulai semakin tertarik sekarang. Mereka bisa membaca situasi, jika ini ada hubungannya dengan kejadian siang tadi di Aula antara Krystal dan Lenna.
"Kasihan. Nggak mampu ya bayar uang sekolah. Berapa sih biaya sekolah di Cakrawala?" Carletta tersenyum, ia terkesan mengejek.
"12 juta untk satu semester. Termasuk uang seragam, kamar dan biaya makan. Itu bagian strata satu, kalau VIP sekitar 20 juta lah." Bukan Lenna, tapi Zoey yang menyahut, masih dengan makanannya.
"Gimana kalau gue bayarin biaya sekolah lo sampai lulus. Tapi dengan satu syarat." Carletta menjeda sejenak, lalu bangkit dan berjalan mendekat pada Lenna. Duduk di atas meja dan menjadikan kursi yang Lenna duduki sebagai pijakan.
"Minta maaf, sujud dan cium kaki Krystal. Dan akui semua kesalahan lo di depan Devano dan seluruh siswa Cakrawala." Sambung Carletta datar, wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat. Penuh intimidasi.
Mendengar hal itu, membuat Lenna langsung bangkit dari duduknya. Menatap dingin pada Carletta.
"Gue emang orang nggak punya. Tapi bukan tempat lo untuk menginjak harga diri gue. Permisi."
BRUK!
"Eughh..."
Seluruh penghuni kantin terkejut, termasuk Dimas, Iqbal dan Rangga yang baru bergabung dengan drama seru malam ini. Tepat ketika kaki Lenna yang hendak pergi di jegal oleh Zoey dengan santai, sementara gadis itu tetap melanjutkan kegiatan makannya seakan tidak melakukan apapun.
Lenna tersungkur. Adegan semakin menarik ketika Carletta mencengkram krah piyama bagian belakang Lenna dan menyentaknya hingga berdiri. Tubuh Lenna yang masih limbung di dorong untuk duduk ke kursi, di kukung oleh dua kaki Carletta yang berpijak di sana. Yang membuat penghuni kantin menahan nafas adalah pisau yang di todongkan Carletta tepat dibawah dagu Lenna. Bahkan sedikit lagi ujungnya bisa melukai dagu mulus wakil ketua osis itu.
"Udah tahu nggak mampu dan cuma punya harga diri. Lo coba-coba ngambil peruntungan dengan main-main sama gue!" Desis Carletta.
Lenna jelas terintimidasi, ia hanya tidak menunjukkan nya saja.
"Gue nggak kenal sama lo, tapi lo..."
"Kalau lo punya masalah sama Krystal. Tandanya lo juga akan bermasalah dengan gue! Dan cewek kayak lo, berani-beraninya mempermalukan teman gue di depan banyak orang dengan kisah playing victim lo itu" Carletta menyela datar.
"Membela diri karena di fitnah menyelakai orang hingga hampir mati. Lo pikir gue playing victim? Gue hanya membela diri gue dari fitnah." Lenna membalas dengan tenang.
"Dengan cara memfitnah orang lain?" Zoey ikut menyela.
"Nggak ada yang gue fitnah di sini, Zoey."
"Lo punya kaca kan? Nggak ada ya? Perlu gue beliin, hm? Kalau ada, coba lo ambil kaca terus lihat pantulan diri lo di situ. Lihat, siapa lo dan siapa Krystal. Kalau sekolah cuma mengandalkan beasiswa, nggak usah belagu. Lo sama kayak pengemis, tapi sayangnya nggak ngemis secara langsung. Pantas untuk di kasihani." Kali ini Sasa ikut berdiri bangkit berdiri. Wajah gadis itu berubah serius. Kata-kata itu membuat seisi kantin terperangah.
"Wow! Gila senang nih gue sama cewek-cewek begini." Komentar Iqbal heboh.
Sementara Dimas hanya tersenyum miring yang tipis. Dan Rangga hanya memperhatikan dengan datar. Cukup menyenangkan ternyata.
Dan ucapan Sasa itu sukses melukai perasaan Lenna. Terlihat dari du belah mata gadis itu yang berkaca-kaca. Kesedihan karena penghinaan itu menyatu dengan emosi yang seketika membuncah dalam dirinya.
Tak bisa menahan gejolaknya lagi, Lenna bangkit berdiri untuk melayangkan tamparan pada Sasa.
SREET!
Belum sempat mengenai pipi Sasa. Pisau yang berada di tangan Carletta sudah lebih dulu menggores lengan Lenna yang terangkat.
Darah dalam sekejap berceceran di lantai. Meski Lenna berusaha menutupinya dengann tangan kirinya. Namun darah yang keluar sungguh banyak.
"Up, sorry. Sengaja. Itu baru goresan. Kalau lo berani macam-macam lagi sama teman gue. Akan gue pastikan bukan hanya lengan lo yang gue gores, tapi gue bakal sayat habis seluruh tubuh lo. Paham?!" Tersenyum puas.
Carletta berjalan melewati Lenna, tidak lupa menubruk pundak gadis itu sangat kuat hingga siempunya terjatuh di lantai.
Di susul Sasa dan Zoey setelahnya.
Sementara Lenna di bantu oleh Rara dan dua temannya yang lain untuk segera ke UKS.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Devano baru saja selesai membersihkan diri. Lalu duduk di tepian ranjang memandang wajah damai Krystal yang tengah tertidur pulas dalam diam.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam dan Devano masih setia terjaga. Apa yang terjadi sehari ini membuat Devano tidak bisa terpejam. Pikirannya masih di penuhi dengan rangkaian kejadian mengejutkan hari ini.
Krystal yang tiba-tiba mengungkapkan bahwa Lenna adalah pelakunya.
Krystal yang tiba-tiba menghilang dari kamar asrama. Istrinya menggunakan gulungan gorden sebagai penyambung kaki untuk turun dari lantai 3 tanpa sepengetahuan orang lain. Lalu lanjut melompati tembok Cakrawala High School, maybe. Entah tembok yang mana, yang jelas Krystal berhasil lolos dari pantauan penjaga.
Namun, kejadian yang paling menyita otak Devano sekarang adalah istrinya hampir saja di culik oleh orang-orang suruhan Rafael Nicholas Ragaswara secara mendadak. Devano benar-benar kecolongan akan satu sosok itu. Bagaimana mungkin Devano bisa melupakan sosok Rafael yang setahun lalu di dibuat nyaris tidak bernyawa dalam pertarungan sengit diantara mereka berdua.
Sebenarnya tidak bisa di katakan bahwa hanya Devano yang membuat Rafael koma. Nyatanya hasil pertarungan mereka setahun lalu ombang, mereka sama-sama kuat dan mungkin saja jika terus melanjutkannya saat itu. Mereka berdua akan sama-sama mati.
Kejadian itu setahun lalu, di sebuah gedung kosong terbang kalai.
**Flashback On**
*Suara baku hantam itu terus terdengar saling bersahutan. Dua anak manusia di dalam gedung kosong itu masih melayangkan serangan satu sama lain. Sama-sama kuat. Dan sama-sama tidak mau kalah meski kondisi mereka sudah sangat mengenaskan*.
*Wajah tampan mereka babak belur. Terus memuntahkan darah. Bahkan berulang kali sama terjatuh*.
"*Kalau gue nggak bisa miliki dia, artinya lo juga nggak bisa, Dev! Kalau gue mati hari ini. Maka gue akan pastikan kita mati bersama." Ujar Rafael terputus-putus*.
*Tertawa sumbang, Devano merebahkan tubuh lemas nya tanpa perlawanan di antai kotor gedung tersebut. Ia terus terbatuk dan kembali memuntahkan darah. Mata sayunya yangg nyaris tertutup, menatap penuh pengejekan pada Rafael yang sudah berdiri dengan tubuh tertatih. Tangannya yang gemetar mengarahkan pistol ke arah Devano*.
*Kesekian kalinya Devano tertawa di sisa kesadarannya. Lalu*...
*DOR*!
*Satu peluru berhasil menembus dada Devano. Membuat Devano kembali terbatuk mengeluarkan darah. Semenit setelahnya Devano meregang nyawanya, sebelum kegelapan merengut semuanya*.
*Sedetik setelah Devano kehilangan kesadaran. Rafael menyusul ambruk tak sadarkan diri*.
*Dalam kondisi yang sama-sama mengenaskan mereka di temukan di gedung kosong, dilarikan ke rumah sakit yang sama*.
*Devano, menjadi orang pertama yang dinyatakan kritis. Karena peluru menembus tepat di jantungnya. Ia harus menjalani operasi berulang kali agar tetap hidup*.
*Di susul Rafael setelahnya, yang mengalami pendarahan di kepala dengan hebat*.
*Dari pihak keluarga masing-masing, Ragaswara's dan Harvey's memutuskan untuk merujuk mereka ke rumah sakit luar negeri*.
*Rafael ke Berlin, Jerman*.
*Devano ke Los Angeles, Amerika Serikat*.
Flashback Of
Ya, satu tahun kepergian Devano dari Indonesia. Meninggalkan Cakrawala High adalah menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit ternama di Los Angeles.
Rafael merenggang nyawa di Berlin. Devano meregang nyawa di Los Angeles, sementara alasan mereka hampir saling bunuh melanjutkan hidup di Indonesia. Lucu memang. Disaat mereka mempunyai satu motivasi hidup yang sayangnya sama yaitu gadis nakal yang hobi sekali membuat masalah.
Tapi takdir selangkah berpihak pada Devano. Ia berhasil melewati masa koma lebih dulu dari Rafael. Kembali ke Indonesia lebih awal dan langsung mewujudkan mimpinya yang tertunda selama 13 tahun untuk memiliki Krystal---gadisnya yang telah ia klaim sejak berusia 5 tahun.
Terlalu bahagia karena berhasil memiliki Krystal membuat Devano melupakan manusia yang masih meregang nyawa di Berlin, Jerman. Orang yang malam ini akhirnya mulai memperlihatkan taringnya lagi.
**13 tahun yang lalu**...
*Daddy Darrel baru saja keluar dari ruangan mayat. Ia sekarang berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk mencari keberadaan putranya yang tiba-tiba saja menghilang dari pengawasannya dan para bodyguard karena tadi ia berlari cukup panik akibat kabar kecelakaannya Zourist's Family*.
*Langkah kaki Daddy Darrel terhenti di depan sebuah ruangan rawat VIP yang pintunya sedikit terbuka itu. Semakin mendekatkan langkahnya, ia membuka pintu kian lebar dan mendapati punggung kecil seseorang yang sudah tidak asing lagi untuknya. Tengah berdiri di samping salah satu dua ranjang yang ada di dalam kamar ini*.
*Mata Daddy Darrel turun pada nama yang terpajang pada kaki ranjang, tempat dimana Devano---putranya berdiri*.
***Krystal Berliana Zourist, 5 tahun, perempuan***.
"*Dev?! Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Panggil Daddy Darrel pelan*.
*Devano menoleh datar pada Daddy ya*.
"*Melihat gadis ku tidur, Dad. Kenapa ada banyak sekali selang di tubuhnya? Dia akan kesakitan*."
*Daddy Darrel diam sejenak, mengalihkan pandangannya pada tubuh mungil Krystal yang dipenuhi alat-alat rumah sakit. Serta wajah manis itu di penuhi beberapa luka gores akibat pecahan kaca mobil, maybe. Karena mobil yang terbalik*.
"*Justru alat-alat ini yang menjadi penopang hidupnya untuk sementara. Dia akan segera pulih. Kamu tenang saja." Daddy Darrel merangkul Devano*.
"*Benarkah?" Tanya Devano datar*.
"*Tentu saja*."
*Daddy Darrel melirik Devano yang menatap Krystal begitu dalam. Tatapan yang sangat berbeda dari yang biasa putranya itu lemparkan pada orang lain*.
"*Kamu benar-benar menyukainya?" Tanya Daddy Darrel*.
*Yang di balas anggukan mantap oleh Devano*.
"*Ya, aku benar-benar menyukainya. Aku menginginkannya, Dad. Sangat*."
"*Tahu apa kamu tentang memiliki, hm? Kamu masih kecil, Dev. Masih belum mengerti apa artinya." Tersenyum. Daddy Darrel mengusap puncak kepala Devano*.
"*Aku mengerti, Dad! Aku akan menikahinya!" Desis Devano, matanya menajam pada Daddy nya*.
*Daddy Darrel meneguk salivanya, jantungnya berdegup kencang. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Darimana putranya ini tahu tentang nikah menikah*?
"*Kamu tidak bisa menikahinya sekarang, Dev*."
*Ucapan Daddy nya mengundang lirikan mematikan dari Devano. Daddy Darrel sudah tidak terkejut lagi. Mendapatkan lirikan tajam seperti itu sudah makanan sehari-hari untuknya*.
"*Kenapa tidak bisa? Daddy sudah berjanji akan membantuku mengambilnya." Tanya Devano sewot*.
"*Kamu pikir dia barang, hm*?"
"*Bukan. Tapi dia boneka. Boneka hidupku*."
*Daddy Darrel mendengus. Karena putranya jadi bucin terlalu dini seperti ini? Rasanya dulu, ia tidak begitu bucin pada istrinya, tapi dibatas kewajaran. Tapi kenapa keluar-keluar malah anak modelan Devano seperti ini*?
*Hanya karena Krystal membantu Devano supaya tidak terpeleset masuk danau. Devano langsung menginginkan gadis itu*?
"*Apakah kamu tertukar di rumah sakit?" Bisa-bisanya Daddy Darrel menanyakan itu*.
"*Mana ku tahu! Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku menginginkan barbie cantik ini! Kalau Daddy tidak bisa memberikannya padaku! Maka akan ku culik dan aku bawa pulang hanya untuk diriku!" Sahut Devano ketus*.
*Daddy Darrel mendengus. Demi menghindari kegilaan dari putra gilanya itu. Daddy Darrel benar-benar mendatangi Papa William setelahnya dan menyampaikan maksudnya*.
"*Tunggu Krystal berusia 17 tahun. Maka kamu boleh memilikinya." Itulah janji Papa William pada Devano*.
"*Deal? Kalau gadisku sudah 17 tahun, aku akan menjemputnya. Dan Om tidak boleh menghalangiku!" Devano mengulurkan tangannya pada Papa William*.
*Terdiam sejenak, Papa William lalu menjabat tangan kecil Devano*.
"*Baiklah*."
*Devano menyeringai. Pergantian tahun akan selalu jadi hari yang Devano nantikan*.
**2 tahun yang lalu**...
*Demi mengalihkan pikirannya dari Krystal. Devano benar-benar memfokuskan pikirannya pada sekolahnya di LA. Ia berhasil melewati masa SD dan SMP nya dengan baik. Ketika liburan sekolah, ia akan pulang ke Indonesia hanya untuk mengawasi gadisnya dari kejauhan*.
*Tahun ajaran baru masuk. Harusnya Devano kembali ke LA untuk melanjutkan SMA nya. Namun semua niatan itu urung*.
*Semua berawal dari acara perusahaan Zourist's. Krystal tumbuh menjadi remaja perempuan yang sangat cantik dengan balutan dress selututnya, ia terlihat kian menawan layaknya boneka hidup di mata Devano. Sebelum pemandangan indah Devano di rusak oleh kehadiran seorang laki-laki yang dengn lancangnya terlihat menggoda Krystal di sana. Meski terlihat jelas Krystal menolak bahkan menendang kaki cowok itu*.
"*Good girl!" Batin Devano*.
"*Siapa dia?" Tanya Devano datar pada James---bodyguard pribadinya*.
"*Itu Tuan Muda Rafael Nicholas Ragaswara. Putra tunggal dari Ragaswara's*."
*Devano mengernyit, rasanya ia pernah mendengar marga itu*.
"*Dia*..."
"*Ya, Tuan Muda. Itu sepupu beda marga dengan Anda. Kalian pernah bertemu di pertemuan keluarga besar di Italia tahun lalu*."
"*Damn it." Batin Devano*.
*Selama acara mata Devano tidak berhenti mengawasi. Sampai mata Devano menajam, rahangnya mengetat ketika dari kejauhan ia melihat bagaimana Rafael dengan kurang ajarnya mendekatkan wajah pada Krystal yang tertidur di taman hotel*.
*Saat bibir itu akan begitu lancang menyentuh bibir gadisnya. Devano melangkah lebar dan*...
*BUGH*!
*Satu bogeman mentah dilayangkan di rahang Rafael*.
*Dan kisah berawal dari sana. Devano harus membiarkan Rafael menang selangkah darinya, karena janji pada Papa William adalah memiliki Krystal di usia 17 tahun. Ia harus menunggu setahun lagi untuk bisa memiliki Krystal. Dan membiarkan celah terbuka lebar untuk Rafael. Ia hanya bisa memantau gadisnya itu dari jauh. Karena itulah ia memutuskan masuk ke Cakrawala High School, sekolah milik Daddy nya. Mengurungkan niatnya untuk pulang ke LA*.
*Yang sialnya! Juga ada Rafael di dalamnya. Devano harus terbakar api cemburu setiap kali melihat Rafael akan curi-curi kesempatan meninggalkan asrama untuk bisa bertemu dengan Krystal*.
*Awalnya Devano tidak merasa terlalu terancam karena Krystal tidak menunjukkan ketertarikan pada Rafael. Sampa hari ke hari, keduanya semakin dekat. Namun, lagi-lagi Devano harus bersabar. Laki-laki sejati adalah laki-laki yang omongannya bisa dipegang. Ia hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk ulang tahun gadisnya*.
*Namun, semua berantakan ketika tragedi itu terjadi. 3 hari setelah pesta sweet seventeen gadisnya*.