Anara Kamala Alice tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya berubah selamanya di malam ulang tahunnya yang ke-23. Impiannya menjadi dokter hancur seketika ketika ia mendapati dirinya hamil di luar nikah—sebuah aib yang merenggut segalanya: beasiswa, pendidikan, dan kehormatan keluarganya.
Di tengah tekanan itu, ia terpaksa menikah dengan Alan Ravindra Sanjaya, pria yang bertanggung jawab atas kehamilannya. Alan, yang sebenarnya tunangan kakaknya, memperlakukannya dingin dan penuh kebencian. Keluarga Alan pun tak pernah menerima kehadirannya. Alan bukan hanya tunangan kakaknya, tapi juga calon jaksa besar yang dihormati. Namun, pernikahan itu jauh dari kata bahagia. Identitas Nara sebagai istri Alan disembunyikan dari publik, dan sikap Alan yang dingin membuatnya merasa terasing
Tapi di balik semua itu, ada rahasia besar yang perlahan terungkap—sebuah pengkhianatan yang tak pernah ia bayangkan datang dari orang terdekatnya. Sementara Alan mulai menyadari perasaan yang selama ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phoebeee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayah dan Rumah Sakit Jiwa
Dahi Alan berkerut bingung melihat sekitar saat mobil yang dikendarai oleh Dela berhenti, membuat mobilnya juga ikut berhenti.
Kenapa di rumah sakit?
Bukankah seharusnya mereka menemui Ayah Nara? yang mana juga merupakan Ayah Senja.
Tapi kenapa harus di sini?
Di rumah sakit jiwa?
Alan membuka pintu mobilnya kemudian turun, matanya terbelalak mendengar pintu dibuka kasar melihat Nara yang keluar dari mobil Dela dengan kaki telanjangnya berlari masuk ke dalam.
“Naraa!” panggil Dela yang terkejut Nara keluar begitu saja dari mobil dengan berlari.
Alan melihat itu sontak mengejar Nara namun langkahnya terhenti saat tanganya ditahan oleh seseorang.
“Lo ga usah ikut!” ujar Dela dengan sinis.
Alan menatap Dela dengan tajam tidak setuju dengan perintah sepupunya itu. Ia berjalan menyusul Nara yang juga diikuti oleh Dela dibelakangnya.
Nara berlari mengabaikan sapaan orang yang tertawa dan menangis menatap Nara bingung yang terlihat terburu-buru dan panik.
Alan meringis pelan saat badanya ditubruk oleh seorang wanita tua yang tertawa tidak jelas menatap Alan dengan berbinar.
“Anakku? Kamu anakku? Kemana saja kamuu~”
Alan meringis pelan dan mengeliat tidak nyaman saat pasien salah satu rumah sakit jiwa ini memeluknya dan mengira ia adalah anak dari wanita tua itu.
Ia berusaha melepaskan pelukan yang diberikan oleh wanita tua itu namun semakin ia berusaha melepaskan, semakin erat pelukan yang diberikan oleh ibu tua ini. Alan terkesiap saat melihat Dela sudah mendahuluinya bahkan tanpa membantu dirinya yang sedang kesusahan.
“Della, tunggu! Help me!” teriak Alan meminta bantuan Dela yang mengabaikan dirinya dan berjalan maju menyusul Nara yang sudah masuk ke dalam salah satu ruangan.
Alan berusaha semakin erat melepaskan pelukan wanita itu hingga ia bernafas lega saat salah satu perawat datang menengahi.
“Anakku~jangan pergi~” teriak ibu tua menangis keras
Alan mengabaikan teriakan wanita tua itu, disini benar-benar menyeramkan membuat dirinya tidak nyaman bagaimana terlihat orang seperti tidak sadar bahwa ia tertawa, menangis dan juga marah memukul barang sekitarnya.
Membuat Alan ingin segera pulang.
Alan mengejar Dela dan masuk ke dalam ruangan yang dimana Nara masuki tadi, kakinya berhenti melangkah saat mendengar suara isakan tangis Nara.
“Hikss, Ayahhh. Ini Naraaa, maaf Nara sudah lama tidak ke sini, Nara rindu Ayah-” lirih Nara yang menangis terisak dipelukan pria yang memakai baju biru rumah sakit itu.
Alan mendekat ke arah Dela yang berdiri kaku melihat Nara yang sedang menangis terisak.
Jujur ia bingung dengan situasi ini, kenapa Nara memanggil pria yang terbaring itu dengan sebutan Ayah?
“Kaget?”
Alan menoleh ke samping melihat ke arah Dela yang menatapnya dengan malas, menebak isi pikiranya. Alan hanya diam, tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Dela bahkan tanpa diberitahupun Alan yakin Dela mengetahui isi pikiranya.
“Ayahh, kenapa Ayah tidak membuka mata? Nara sudah datang ke sini! Maafkan Nara sudah lama tidak mengunjungi Ayahh~” lirih Nara menggoyangkan badan pria yang terbaring itu agar bangun sesuai keinginan Nara.
“Ayah?” gumam Alan dengan pelan
Dela menoleh ke arah Alan dengan senyum miringnya, ia mendengar gumaman dari sepupunya itu. Ia tahu Alan pasti tidak mengetahui fakta ini, fakta yang berusaha dunia tutupi.
“Itu Ayah Nara, Ia sudah lama masuk rumah sakit ini namun seminggu terakhir keadaan pria itu semakin parah.” jelas Dela dengan malas
Alan terdiam, jika pria itu merupakan Ayah Nara berarti ia juga Ayah Senja bukan? lalu kenapa setiap Alan bertanya dimana Ayah Senja kepada wanita itu, dia akan menjawab Ayahnya kerja diluar negeri dan sudah lama tidak kembali.
“Apa ia juga Ayah Senja?”
Dela memutar bola matanya dengan malas mendengar pertanyaan Alan. Ia tidak menyangka bahwa orang sepintar Alan yang sebentar lagi menjadi Jaksa besar menjadi bodoh seperti ini.
“Tentu saja bodoh, kenapa? dia bilang Ayahnya kerja di luar negeri?” tebak Dela
Alan sontak langsung menoleh ke arah Dela menatap sepupunya itu tidak percaya, bagaimana Dela bisa mengetahui itu?
“Tentu saja aku tahu, bodoh. Wanitamu itu memang licik dan pendusta, ia akan melakukan segala cara agar ia selalu menang,” ujar Dela
Alan terdiam, ia menatap Dela dengan tajam saat sepupunya itu mengatakan Senja adalah wanitanya, jujur ada perasaan di dalam hatinya tidak terima dengan itu.
“Jangan natap tajam seperti itu, Lo kira selama ini Senja itu wanita baik, huh? Selama ini wanita itu dan juga ibunya meninggalkan Ayah mereka di sini memberikan tanggung jawab kepada Nara agar ia yang menjaganya,” lanjut Dela.
Tatapan tajam Alan berubah menjadi bingung, Apa yang dikatakan Dela itu benar? Matanya kemudian beralih melihat ke depan, ke arah Nara yang menangis terisak memeluk pria tua yang terbaring itu.
Pria itu sudah membuka mata namun tidak menoleh ke arah Nara, ia hanya menatap ke depan, ke atas dinding langit warna putih dengan tatapan kosong.
Terlihat sangat miris.
“Nara tidak pernah ingin rebut lo dari nenek sihir itu, ia bahkan tidak menyukai siapapun. Selama ini Nara hidup hanya belajar dan belajar kemudian merawat Ayahnya, ia ingin jadi Dokter juga karena Ayahnya,” ujar Dela
Alan terdiam, ia pernah mendengar ini sebelumnya. Ia kira pria itu hanya omong kosong belaka namun ternyata itu benar.
Kenapa Gean bisa lebih tahu dibandingkan dirinya?
“Devil,” umpat Dela kepada Alan
Dela menoleh ke arah Alan menatap pria itu dengan santai dan remeh mengatakan, “Bahkan teman dekat lo udah berusaha dekat dan suka dengan Nara dari lama namun tidak berhasil, bukan?”
“Karena Nara susah di dapatkan dan lo akan nyesel karena udah memperlakukan Nara seperti ini. Lo kira setelah kejadian ini Nara akan mau sama lo? kembali sama pria pengecut seperti lo?” tanya Dela menunjuk Alan dengan keras hingga kena pada dada bidang Alan mendorongnya dengan penuh emosi seolah menyampaikan bahwa perkataanya bukan sembarangan.
Alan terdiam, ia menatap Dela dengan wajah datar, ia tidak menyangka sepupu yang selama ini diam-dian saja di pertemuan keluarga ternyata menakutkan.
Dela mendekat ke arah Nara meninggalkan Alan yang terdiam kaku, ia berharap setelah perkataanya tadi Alan bisa berpikir bahwa pria itu salah dan semua perkataanya bukanlah candaan belaka.
“Hikss, Ayah maaf Nara kembali setelah sekian lama. Nara tahu Ayah kecewa karena Naara tidak menjadi Dokter dan keluar dari kampus yang Ayah inginkan, maafkan Nara yang hamil diluar nikah Ayah,” lirih Nara menunduk meminta maaf kepada Ayahnya.
Ternyata Ayah masih belum memaafkan Nara setelah ia keluar dari kampus, ia meminta maaf saat itu harus berhenti dan mengatakan bahwa ia hamil diluar nikah. Ia jujur dan Ayah mengetahui bahwa pria yang menghamilinya adalah tunangan sang Kakak.
Ayah kecewa, ia marah saat itu meminta Nara keluar tidak ingin bertemu dengan Nara. Selama ini Nara memantau dari jauh Ayahnya, ia tahu keadaan Ayah semakin drop tidak ingin berbicara dengan siapapun termasuk perawat, pria itu hanya diam kaku menatap lurus dengan kosong seperti sekarang.
Andaikan Ayah memberikan kesempatan untuk ia menjelaskan bahwa bukan keinginannya merebut Alan dari Senja tapi Alan-lah yang membuat keadaan kacau seperti ini.
“Maafkan Nara Ayah. Nara janji akan mengembalikan Alan kepada Kak Senja bahkan jika Ayah meminta sekarang akan Nara lakukan tapi Nara mohon, bicaralah dengan Nara. Ara rindu Ayah,” lirih Nara
Alan diam mendengar ujaran Nara kepada Ayahnya. Alan tidak menyangka Bian Mala Alice terbaring lemah seperti ini, tiga tahun lalu ia masih berbicara normal dengan Pak Bian saat ia menjemput Senja di rumah.
Yang sekarang terbaring di rumah sakit jiwa tepi ibu kota.
Ia juga tidak terima dengan perkataan Nara yang ingin mengembalikanya kepada Senja, Nara seringkali menyebut itu membuat dirinya kesal akan ucapan wanita itu. Siapa Nara mengatur dirinya yang harus kepada siapa.
Kenapa Senja berbohong mengatakan bahwa Ayahnya kerja diluar negeri?
Perhatian Alan beralih ke arah perawat yang masuk ke dalam kamar mengatakan, “Maaf, waktu berkunjung sudah habis. Pasien butuh istirahat.”
Nara menggelengkan kepalanya, ia memeluk sang Ayah yang tidak beralih pandangan yang masih menatap langit-langit kamar dengan lurus.
“Tidak, Nara mau sama Ayah,” lirih Nara.
Alan maju mendekat ke arah perawat itu dan mengatakan, “Bisa beri kami waktu sedikit lagi?” tawar Alan
“Teman saya masih ingin bersama Ayahnya, Sus” lanjut Dela.
Perawat itu terdiam, ia menatap ke arah Nara yang masih memeluk Nara. Ia menarik nafas panjang kemudian mengatakan, “Baiklah, tetapi ada yang mau saya katakan sebelumnya. Mau disini saja apa diluar?” tawar perawat
Melihat mata perawat itu ke arah Alan membuat Alan seketika menganggukan kepalanya, ia menunjuk keluar agar bicara di luar saja namun langkahnya mereka terhenti saat suara Nara terdengar mengatakan, “Di sini saja Suster. Saya ingin tahu!”
Alan menoleh kebelakang melihat ke arah Nara yang sama sekali tidak menoleh ke arah dirinya maupun perawat, wanita itu masih menatap ke arah Ayahnya dengan lirih.
Suster mengangguk dan paham
“Maaf saya harus mengatakan ini di depan pasien. Keadaan Pak Bian sama seperti sebelumnya, ia hanya diam tidak ingin bicara dengan siapapun. Hal yang paling penting kami ingin sampaikan ini, sudah setahun biaya rawat Pak Bian belum dibayar-”
“Kami sudah berusaha konfirmasi kepada Ibu Davina, beliau mengatakan bahwa Pak Bian bukanlah tanggung jawabnya sekarang. Saya juga berusaha mencari tahu nomor ponsel Nona Nara namun tidak menemukannya dan syukurlah akhirnya Pak Bian ada yang mengunjungi setelah sekian lama,” ujar perawat.
Nara menatap perawat itu tidak terima, bukankah selama ini selalu dibayar?
“Bukankah selama ini sudah dibayar?” tanya Nara yang akhirnya membuka suara.
Perawat menoleh ke arah Nara dan tersenyum tipis menggelengkan kepalanya. “Tidak ada Nona Nara, biaya rawat Pak Bian sudah setahun belum dibayar. Maaf, rumah sakit jiwa ini kecil dan juga dari biaya rawat yang diberikan oleh keluarga pasienlah untuk gaji suster yang lain di sini,” ujar suster dengan ramah.
“Biar saya yang bayar,” ujar Alan dengan tiba-tiba
Nara menggelengkan kepalanya, air matanya jatuh membasahi pipi. Ia merasa dizolimi, bukankah selama ini perjanjianya bukan seperti ini?
“Bukankah Tante Dwi sudah membayar rawat Ayah?”
“Mama?” gumam Alan menatap Nara dengan bingung.
Perawat itu kembali menggelengkan kepalanya dan tersenyum, “Kami tidak pernah mendapatkan konfirmasi bernama Dwi dalam pembayaran Pak Bian,” ujar perawat dengan ramah.
Nara menggelengkan kepalanya, air matanya jatuh membasahi pipi semakin deras. Selama ini Nara selalu mengerjakan pekerjaan rumah bahkan yang seharusnya Bibi kerjakan Nara kerjakan untuk membayar rawat rumah sakit Ayah.
Perjanjian Mama mertuanya seperti itu, ia tahu Mami sudah tidak ingin berurusan dengan Ayah dan oleh sebab itu Nara yang bertanggung jawab. Mama mertuanya lah yang mengatakan bahwa Nara akan digaji dan gajinya akan dibayar untuk rumah sakit Ayah? dengan syarat ia harus jadi pembantu dirumah ini.
"Alana" alan-nara nama yg indah
makasih thor untuk extra part nyaa
di tunggu karya baru nyaa..
sukses slalu...
inilah last chapter dari buku ini, semoga kalian sukanya.
dengan ini aku menyatakan bahwa buku ini sudah tamat
maaf sepertinya tidak ada seos 2 karena aku berpikir lebih baik cukup di sini dan juga rencananya ak mau nulis buku baru.
jadi bagi kalian nyari cerita baru boleh ke buku baru aku yaa.
aku bakal mulai update minggu depan
terima kasih guys always waiting this story ❤ love you
Kalau Bisa SEASON 2 KU BERHARAP ADA THOR 😍😍😍😭😭😭😭❤️❤️💚❤️❤️