Naomi Allura Karina seorang mahasiswi jurusan manajemen yang sering disapa Karina itu meninggal karena ingin menyelamatkan anak kecil yang akan tertabrak mobil.
Bukannya pergi tenang ke surga tapi Karina justru masuk ke dunia novel dan terbangun sebagai Aurora Evangeline Elowen nona keluarga Duke Elowen.
Sialnya lagi dia terkenal sebagai nona yang sangat menggilai putra mahkota yang merupakan calon tunangannya. Dimana dia nanti akan mati ditangan tunangannya sendiri karena dituduh meracuni adiknya.
Karina bertekad untuk menjauhkan diri dari sang malaikat mautnya bagaimanapun caranya dan mendapatkan kebahagiaan yang diinginkannya.
Adelardo Aldric Luca Griffin sang putra mahkota yang berhati dingin dan kejam itu sangat tidak menyukai Aurora karena sikapnya yang selalu menjadi benalu baginya, tetapi suatu hari sang calon tunangannya itu tiba-tiba berubah menjadi membencinya.
Apakah Aurora yang merupakan Karina berhasil menjalankan rencananya dan mendapatkan kebahagiaan???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardatus Sholeha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pergi ke wilayah timur
Setelah mendengar penjelasan dari Sir Marcus, para anggota rapat yang tadi tidak setuju pun mulai menyetujui pembuatan waduk tadi.
"Setelah mendengar penjelasan dari Sir Marcus, pembangunan waduk ini sangat berfungsi untuk mengatasi banjir diwilayah Timur. Oleh sebab itu Proses pembuatan waduk akan kita mulai besok" ucap Raja Alberto
...****************...
Sesuai dengan rencana untuk mengatasi banjir di wilayah Timur adalah dengan membuat sebuah waduk.
Terhitung sudah sekitar dua minggu pembangunan waduk ini dijalankan.
Hari ini William sedang memberikan laporan pembangunan waduk kepada Adelardo.
"Yang Mulia menurut laporan, pembangunan waduk akan segera siap dalam satu minggu lagi" ujar William
"Bagus, ternyata mereka bekerja lebih cepat dari jangka waktu yang diperkirakan selesai"William yang mendengar itu hanya bisa mendengus.
Adelardo memang benar-benar mengerahkan seluruh pekerja untuk pembangunan waduk ini. Tidak tanggung-tanggung Adelardo sampai mengacam para arsitek istana untuk menyiapkannya satu bulan, jika hal itu tidak tercapai maka akan tau akibatnya.
"Baiklah, kita pergi ke wilayah Timur sekarang "putus Adelardo
"Baik Yang Mulia"
Setelah menemui Adelardo, William langsung pulang ke mansion untuk bersiap-siap pergi ke wilayah Timur.
Aurora sudah sekitar satu jam berada di dapur.
Entah kenapa hari ini dia sangat ingin memakan nasi goreng mentega. Untung saja waktu di dunia modern Aurora selalu memasak sendiri, jadi untuk membuat nasi goreng bukan masalah besar dan hasilnya tidak mengecewakan. sekarang dia sedang berkutat dengan masakannya.
Lily sangat penasaran dengan masakan apa yang Aurora buat, sedari tadi dirinya hanya melihat kadang membantu memberikan barang yang dibutuhkan oleh Aurora.
Setelah sekian lama nasi goreng mentega yang dimasaknya pun jadi. Aurora mencoba mencicipinya sedikit dan dia bisa bernafas lega rasa nasi gorengnya memuaskan seperti dulu.
"Lily apakah jus jeruk ku sudah siap?" Tanya Aurora
"Sudah Nona, ini "
"Bagus, Lily bawakan nasi goreng dan jus jeruk ke taman ya"
Aurora berencana makan nasi goreng ditaman karena suasananya yang bagus ditambah angin yang sepoi-sepoi. Kalau bisa dibilang akhir-akhir ini Aurora suka menghabiskan waktunya ditaman kadang di rumah kacanya.
Kebetulan Aurora membuat dua porsi nasi goreng yang akan dia makan bersama Lily.
"Wah Nona ini enak sekali, Kalau boleh tau apa nama makanan ini Nona?" Lily bertanya setelah mencoba nasi goreng
"Namanya nasi goreng mentega"jawab Aurora
Mereka makan dengan tenang sambil mengobrol.
Aurora mengalihkan pandangannya ke arah gerbang mansionnya, disana dia melihat kakaknya William yang sedang menuntun kudanya keluar dari gerbang mansion.Aurora jadi penasaran, dia pun segera pergi untuk menghampiri William.
"Kakak kau akan pergi kemana?" tanya Aurora heran melihat beberapa barang bawaan William dikuda.
"Aku akan pergi ke wilayah Timur untuk melihat pembangunan waduk disana" jawab William
"Kakak aku juga ingin melihatnya" ucap Aurora dengan antusias, dia sangat ingin sekali melihat proses pembuatan waduk. Semenjak berada di sini dia tidak pernah berpergian jauh, hitung-hitung pergi ke wilayah Timur sekalian berlibur dan mencari suasana baru.
"Tidak boleh, berbahaya" tolak William
"Tapi kak, aku ingin sekali melihatnya. Bagaimanapun pembuatan waduk itu solusi dari ku. Kak boleh ya ya ya" ucap Aurora sambil merengek
"Tapi aku akan menginap beberapa hari disana"
"Tidak apa kak" kukuh Aurora
"Tapi perjalanan ke wilayah Timur memerlukan waktu satu harian lebih, kau nanti bisa kelelahan selama diperjalanan" bujuk William agar Aurora tidak ikut
"Tidak akan, kakak tenang saja" ucap Aurora dengan yakin
William menghela nafasnya "Kau minta izinlah kepada Ayah, jika diizinkan aku akan membawamu pergi juga" ucap William pasrah dengan keinginan adiknya
"Oke, aku akan minta izin dulu ke Ayah. Kakak harus tunggu aku" Aurora langsung berlari untuk menemui Duke Aaron. William yang melihat Adiknya dengan semangatnya ingin ikut bersamanya hanya bisa menghela nafasnya.
Sementara itu sekarang Adelardo sedang mengelus kepala Dujin. Dujin adalah nama kuda favoritnya, Adelardo merawat kuda berwarna hitam itu dari kecil sampai sekarang yang sudah bisa menemani kemanapun Adelardo pergi bahkan pergi berperang sekalipun.
"Yang Mulia, Saya mendapatkan pesan bahwa William memundurkan waktu keberangkatannya karena ada sedikit kendala. Karena hal itu William mengatakan bahwa Yang Mulia bisa pergi terlebih dahulu ke wilayah Timur" ucap Xander
"Baiklah kita akan berangkat sekarang" ucap Adelardo, kemudian menaiki Dujin.
"Baik Yang Mulia" ucap Xander, kemudian pergi menuju kudanya juga.Sementara itu disebuah kamar terdapat seorang gadis yang sibuk berkemas. Ya dia adalah Aurora Evangeline Elowen, dirinya sibuk menyiapkan beberapa pakaian dan barang yang akan dibawanya pergi, setelah bersusah payah membujuk Ayahnya agar dia boleh ikut pergi bersama kakaknya William ke wilayah Timur.
Satu jam yang Aurora butuhkan agar Duke Aaron dan Duchess Mirabella mengizinkannya, karena hal itu juga William menunda kepergiannya untung saja William masih mau menunggunya itupun karena Aurora paksa tadi.
"Apakah masih lama?" tanya william yang tiba-tiba saja masuk ke kamar Aurora
"Tidak kak sebentar lagi siap" jawab Aurora
"Baiklah, kalau begitu cepatlah bersiap. Aku menunggu di kereta kuda" William kemudian pergi kembali
"Okey kak" Aurora segera menyelesaikan pekerjaannya
Setelah siap semuanya, Aurora langsung saja menuju kereta kudanya dengan diantar oleh Ayah dan ibunya. Ternyata didalamnya sudah ada William, dia pikir kakaknya akan pergi dengan menaiki kudanya."Kenapa kakak tidak berkuda?" tanya Aurora heran, karena waktu di taman tadi William sudah mengeluarkan kudanya.
"Aku mau menemanimu, biarkan saja Kesatria Dean yang berkuda" William berujar sambil menunjuk Dean berada
Aurora menganggukan kepala paham. Kesatria Dean juga ikut bersama mereka, karena itu salah satu syarat yang diberikan Ayahnya agar dia boleh pergi ke wilayah Timur.
Selama perjalan Aurora habiskan waktunya mengobrol dengan William setelah lelah mengobrol dia pun tertidur pulas.
Aurora membuka matanya dan menguap, tidak sadar sudah beberapa jam dia tertidur. Aurora membuka jendela samping kereta kudanya, terlihat pemandangan gelap sekelilingnya.
"Akhirnya kamu bangun juga" ucap William sambil membaca bukunya dibantu dengan lampu penerang yang sudah tersedia dikereta kuda.
"Aku tidak sadar jika hari sudah malam" ujar Aurora polos Aurora langsung saja turun dari kereta kudanya.
Akhirnya siangnya dia sampai juga di wilayah Timur.
Aurora berjalan sambil melihat sekeliling banyak sekali para pekerja bangunan yang hilir mudik.
"Salam kepada Putra Mahkota" ucap William
Aurora yang sedari tadi fokus melihat para pekerja pun tersentak mendengar suara William yang memberi salam kepada Adelardo. Aurora mengalihkan pandangannya ke arah Adelardo kemudian memberi salam juga.
Dia tidak tau jika Adelardo juga berada di wilayah Timur, William sama sekali tidak ada memberi tahunya.
Aurora kira Adelardo tidak pergi dan hanya menugaskan kakaknya untuk pergi melihatnya. Kalau dia tau disini ada Adelardo lebih baik tidak jadi pergi apalagi pertemuan terakhir mereka seperti itu, tapi apa daya dia sudah terlanjur berada disini.
Adelardo yang mendengar itu menoleh dan mengangguk sebagai balasan salam. Adelardo sedikit terkejut melihat Aurora, apa yang dilakukan gadis itu disini. Kenapa William juga membawanya. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada William tapi dia tahan.
"Yang Mulia bisakah kita berbicara sebentar?" tanya William
William akan memberitahu alasan kenapa Aurora bisa ikut bersamanya kepada Adelardo. Sedari tadi dia bisa melihat raut wajah keheranan Adelardo, sudah pasti banyak pertanyaan dari pria itu untuknya.
"Baiklah, kita akan mengobrol di sana" tunjuk Putra Mahkota ke arah meja yang berada dibawah pohon besar.
William dan Adelardo pergi sedangkan Aurora tetap berada ditempat tadi bersama kesatria Dean dan seorang pria yang tadi berada di sebelah Adelardo. Aurora tau pasti kakaknya mengajak Putra Mahkota berbicara untuk menjelaskan kenapa dirinya bisa diwilayah Timur juga.
"Kesatria Dean apa anda tau siapa arsitek yang merancang pembuatan untuk waduk ini?" tanya Aurora, dia kagum dengan arsitek yang bisa merancang waduk berbekal dari penjelasan William. Padahal mereka pertama kalinya mendengar mengenai waduk bahkan tidak pernah melihatnya, bukankah itu hal yang mengagumkan.
"Saya tidak tau Nona. Tapi saya dengar yang merancangnya adalah arsitek istana" jawab Dean
Aurora sudah tau dari William bahwa yang merancangnya adalah arsitek istana. Dia hanya ingin tau siapa nama arsitek itu.
"Sir Marcus"
"Ha?" tanya Aurora sambil mengalihkan pandangannya kesamping ketika mendengar suara orang yang berada disebalah kirinya
"Sir Marcus, Nama arsitek istana yang merancang waduk ini"
Mendengar hal itu Aurora baru mengerti apa yang pria disebelahnya ucapkan. "Terimakasih atas informasinya Tuan---" Ucap Aurora ragu karena tidak tau nama pria disebelahnya
"Xander"
"Ah...terimakasih informasinya Tuan Xander"
"Sama-sama Nona Elowen"
"Tuan Xander, apakah anda tau dimana Sir Marcus berada?"
"Disana" tunjuk Xander ke arah seseorang yang sedang berbicara dengan beberapa para pekerja di dekat pembuatan waduk.
Aurora melihat ke arah yang ditunjuk oleh Xander
"Apakah Nona mau menemuinya?" tanya Xander
"Ya"
"Kalau begitu mari saya antar"
"Baiklah" ucap Aurora, kemudian berjalan mengikuti Xander
"Sir Marcus" panggil Xander
Sir Marcus yang mendengar dirinya dipanggil pun menoleh
"Tuan Xander" ucapnya kemudia menoleh ke arah Aurora. "Salam kepada Nona Aurora Evangeline Elowen"
"Sir Marcus, Nona Aurora Elowen ingin bertemu denganmu" ucap Xander
"Nona Elowen kalau boleh tau, kenapa anda ingin bertemu dengan Saya?" ucap Sir Marcus dengan heran
"Sir Marcus sebenarnya saya hanya ingin mengetahui siapa yang sudah merancang waduk ini. Ternyata anda yang merancangnya"
"Benar saya yang merancangnya Nona"
"Rancangan pembuatan waduk ini bagus sekali Sir Marcus" ucap Aurora kagum
"Terimakasih atas pujiannya Nona Aurora"
Aurora membalasnya dengan tersenyum. "Sir Marcus anda hebat sekali bisa merancangnya. Padahal anda tidak pernah melihatnya dan hanya mendengar penjelasan dari kakak saya"
"Ah...itu mungkin karena saya sudah terbiasa merancang bangunan"
"Benar sekali. Sir Marcus adalah arsitek handal kekaisaran, sehingga tidak bisa diragukan lagi kemampuannya dalam hal merancang bangunan"
"Anda terlalu memuji saya Tuan Xander" ucap Sir Marcus
"Nona Aurora" panggil kesatria Dean
"Ya, ada apa kesatria Dean?"
"Nona Aurora dipanggil Putra Mahkota untuk segera menemuinya"
Aurora yang mendengarnya langsung mendadak pucat, jantungnya berdegup kencang. Kenapa Adelardo memanggilnya?
Apa yang kakaknya bahas dengan Putra Mahkota, sampai Aurora dipanggil? Apakah dia akan dihukum karena sudah berani datang ke wilayah Timur?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dikepalanya. Dia jadi ingin kabur saja tapi sekarang dia berada diwilayah Timur.
"Nona" panggil Xander
"Ya?" Aurora tersadar dari pikirannya yang berkecamuk
"Nona Aurora, Anda dipanggil Putra Mahkota" Xander memberitahukannya lagi karena melihat Aurora yang melamun
"Ha..ya ya a-aku a-akan pergi. Kalau begitu saya pergi dulu Sir Marcus" ucap Aurora
"Ya Nona Elowen" jawab Sir Marcus
Aurora pergi berjalan ke arah tempat Putra Mahkota dan William duduk. Langkahnya melambat, jujur saja dia tidak ingin cepat sampai disana. Rasanya Aurora ingin berjalan di tempat saja agar tidak sampai kesana.
injak tuh kaki pangeran sombong