"Karena Lo udah nyuri first gue dan juga lancang nyium pipi gue, jadi Lo mulai sekarang jadi milik gue" kalimat yang diucapkan seorang pemuda tampan yang biasa di sapa Lio sembari menatap lekat wajah Lisna.
"Ha?" Pekik Lisna.
"Gada penolakan, Lo udah lancang cium bibir gue. Siapapun yang berani nyentuh bibir gue, maka dia harus jadi milik gue!"
***
"Mulai detik ini Lo milik gue!"
***
"Lagian kemarin Lo duluan yang nembak gue, jadi kenapa sekarang Lo nolak?" Tanya Lio.
"Gue gabut doang kemarin" ketus Lisna menyesali kebegoannya.
"Gak perduli Lo gabut atau gak, Lo udah nembak gue dan Lo harus jadi milik gue! Lo juga udah cium gue, jadi Lo harus tanggung jawab menjadi pacar gue mulai hari ini!" Titah Lio tidak menerima penolakan.
"Gada hukuman lain gitu?" Tawar Lisna.
"Hukuman lainnya, Lo jadi cewek gue! Hukuman utamanya, Lo milik gue! Masih pengen yang lain? Hukuman cadangannya, Lo jadi pacar gue! Ngerti Lo?" Jawab Lio tersenyum miring.
follow lily27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lily_27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berebut
"Enggak, Lo cepat aja. Jangan lama, gue udah haus banget" rengek Lisna.
"Iya, sayangku. Tunggu sebentar yah, cantik" pamit Lio mengacak gemas rambut gadisnya itu kemudian langsung beranjak dan berlari ke arah kantin.
Beruntung karena masih jam masuk jadi kantin sepi dan dia bisa cepat, Lio membeli sebotol air minum juga sebungkus roti untuk Lisna.
Setelahnya, dia langsung kembali ke UKS, takut gadisnya itu menunggu lama nanti.
"Sayang, Lo minum dulu nah. Gue juga bawa roti, makan aja" ucap Lio lalu membukakan tutup botol minum itu dan memberikannya pada Lisna.
"Mau makan rotinya, sayang?" Tanya Lio.
"Mau" angguk Lisna antusias.
Lio tersenyum lalu membuka bungkus roti itu dan menyuapkannya pada Lisna. Benar-benar gadis tengil yang manja, harus di suapin bahkan makan roti juga di suap.
"Kita gak balik ke kelas, Lio?" Tanya Lisna sambil mengunyah roti itu.
"Nanti aja, sayang. Kita di sini aja dulu, lagian juga bentar lagi pulang. Nanggung kita masuk kelas" ucap Lio.
"Apa gak di marahin entar?" Tanya Lisna.
"Gak, tenang aja. Bu Nisa juga pasti udah lupa" ucap Lio santai.
"Lio.." panggil Lisna manja.
"Iya, sayang?" tanya Lio.
Lisna menatap Lio yang dibalas juga menatapnya lembut. Tangan Lisna perlahan terulur menyentuh wajah tampan pemuda itu, Lio sendiri langsung memegang tangan gadisnya itu yang menyentuh wajahnya lembut.
"Kenapa, cantik?" Tanya Lio dengan tangannya semakin menempelkan telapak tangan gadisnya itu di wajahnya.
"Lo ganteng banget" ucap Lisna tersenyum kecil.
"Lo baru sadar gue ganteng, sayang?" Tanya Lio tersenyum kecil.
"Iya, soalnya selama ini lo nyebelin. Jadinya gantengnya ilang" ucap Lisna dengan mimik wajah yang sangat lucu.
"Berarti kalau gue nyebelin gak ganteng yah, sayang?" Tanya Lio cemberut.
"Ganteng dikit" balas Lisna tersenyum kecil.
"Dikit pula" gumam Lio.
"Sayang, cium dong" pinta Lio manja.
"Cium di mana?" Tanya Lisna tersenyum kecil.
"Di sini juga boleh" ucap Lio menyentuh bibirnya seraya tersenyum manis.
"Sebentar yah, tapi" ucap Lisna.
"Iya, sebentar aja" ucap Lio tersenyum kecil.
Cup
Lisna mengecup singkat bibir Lio kemudian di lanjutkan mencium kedua pipinya. Terakhir di lanjutkan mencium hidung mancung pemuda itu, Lio tersenyum lebar mendapat banyak kiss dari gadis cantiknya itu. Ahk, senang sekali rasanya.
"Suka gak?" tanya Lisna tersenyum kecil.
"Sksksk, suka banget sayangku. Mau lagi" pinta Lio manja.
Lisna tersenyum kecil kemudian menarik Lio kedalam pelukannya, Lio diam saja membiarkan gadisnya itu memeluknya.
Jantungnya sudah berdisko karena perlakuan gadisnya itu, bisakah gadisnya itu seperti ini setiap hari? Sepertinya tidak bisa, soalnya taulah gimana Lisna hhee.
"Sayang..." Ucap Lio mendongak menatap wajah Lisna.
"Iya, Lio ganteng?" Tanya Lisna lembut.
"Cium lagi" pinta Lio manja.
"Gemas banget sih, pacar gue" gemas Lisna lalu mencium kening Lio.
"Sekarang giliran gue yang cium Lo yah, sayang" pinta Lio.
"Hm, boleh" ucap Lisna tersenyum kecil.
Lio tersenyum lalu mencium pipi gadisnya di lanjutkan mengecup bibir Lisna singkat. Kalau lama nanti kelabakan.
"Makasih, sayangku" ucap Lio tersenyum manis setelah selesai menciumi wajah gadisnya itu.
"Kita balik kelas aja yuk, lima menit lagi bel pulang" ajak Lisna.
"Ayok, sayang ku"
Lio langsung memeluk pinggang gadisnya itu, keduanya lalu keluar dari UKS dan menuju ke kelas mereka karena sebentar lagi bel pulang.
Setibanya di kelas, buk Nisa sudah tidak ada lagi di sana, hanya teman sekelas mereka yang sudah siap-siap menunggu bell pulang. Padahal masih ada lima menit lagi tapi mereka sudah menghadang tas mereka bersiap pulang, biasalah. Namanya juga siswa.
"Lama banget Lo berdua. Masa bersihin halaman belakang doang satu jam lebih" celetuk Jonatan.
"Serah kita lah" sinis Lio.
"Lo kayak gak tau aja, paling ngebucin dulu" ucap Arga mendengus.
Lio dan Lisna tidak menanggapi, keduanya langsung merapikan peralatan sekolah mereka dan bersiap untuk pulang.
Tidak lama kemudian langsung terdengar bunyi bel, Lio serta yang lainnya langsung keluar dari kelas dan menuju ke parkiran.
'Jelita apa udah pulang yah, sedari tadi gue gak liat batang hidungnya tu bocah' batin Lisna.
"Ayok naik, cantik"
"Lo gak mau pulang bareng gue, Lis?" Celetuk Galen.
Arga dan Jo melongo mendengar celetukan Galen, Lio sendiri berdecak kesal karena sahabatnya itu kembali usil. Padahal lagi senang-senangnya juga malah di ganggu sama wakil menyebalkan itu.
"Jangan mau, sayang. Sama gue aja" ucap Lio menahan kesal pada sahabatnya itu.
"Akhem, di rebutin nih" goda Arga.
"Sama gue aja, curut" celetuk Jo yang langsung mendapat tatapan tajam dari Lio.
"Jangan mau Lis, sama gue aja ayok" ucap Galen.
"Sini sama gue Lis, jangan mau sama mereka bertiga" usil Arga.
"Lo bertiga ngape jadi rebutin cewek gue?" Decak Lio.
"Ya kalau Lisna mau kan kita gak nolak, tapi kalau Lisna gak mau ya kita bisa apa" ucap Arga santai.
"Ayok Lis, Lo gak mau sama gue?" Tawar Galen.
Lisna bingung sendiri mau gimana, gadis itu sedikit heran dengan ketiga sahabatnya itu yang malah berebut minta dia pulang bareng mereka.
"Sayang, jangan mau. Sama gue yah" pinta Lio memelas, sengaja agar gadisnya itu luluh dan tidak terhasut omongan ketiga sahabat laknatnya itu.
"Sama gue, Lis" celetuk Arga.
"Gue!" Sela Galen.
"Sama gue, curut!" Pinta Jonathan.
"Sahabat sialan! Tunggu Lo bertiga" tajam Lio.
"Nantangin dia, Gal. Kita bertiga loh, bos. Lo pasti kalah kalau lawan kita bertiga" sombong Arga menantang bos-nya itu.
"Mau Lo seratusan juga gue jabanin" geram Lio lalu turun dari motornya dan menghampiri ketiga sahabat laknatnya itu yah sudah gugup melihat aura dingin ketua mereka itu.
"Mampus, Jo" gumam Arga.
"Turun Lo bertiga!" Titah Lio menatap tajam ketiga sahabatnya itu.
Galen dan kedua lainnya menurut turun dari atas motor mereka. Arga sendiri merutuki dirinya yang sok sok an menantang sahabat sekaligus bos nya itu.
Tiba-tiba Randy serta ketiga anggota Alaska lainnya datang dan melongo melihat ketua mereka tengah berhadapan dengan ketiga anggota inti lainnya seraya menatap tajam satu sama lain.
"Mereka kenapa, buk bos?" Tanya Randy cengo.
"Gue gatau, maklum aja" ucap Lisna tersenyum kecil.
"Lah? Mereka mau bacok kayaknya" celetuk salah satu teman Randy.
"Cegah, buk bos. Pak bos kalau marah susah di hentikan loh" ucap Randy.
"Biarin aja, lagian gak mungkin Lio hajar mereka" ucap Lisna santai.
"Bisa aja di hajar, buk bos. Mending cegah sebelum terjadi baku hantam sesama anggota inti" ucap Randy terkekeh kecil.
"Hm. Ok lah"
****
udh mmpir....
tp ko blm up y????