Keyla Salsabila, rela mengorbankan dirinya dalam sebuah pernikahan kontrak. Demi mendapatkan biaya untuk pengobatan sang Ibunda yang tengah sakit keras.
Hubungan pernikahannya dengan Edgar, pria yang menawarkan pertolongan dengan sebuah perjanjian kontrak awalnya jelas terasa hambar. Hingga berjalannya waktu, benih-benih cinta itu mulai tumbuh. Namun, ego mereka lebih besar menutupi cinta yang sudah lama bersemi.
Lantas, akankah mereka memilih tetap bersama atau malah memutuskan untuk berpisah sesuai surat perjanjian pernikahan?
Mari sama-sama kita simak perjalanan cinta mereka dalam cerita author amatir berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iing Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Coast
Keyla melenguh perlahan mengerjapkan matanya yang semakin berkerut, terkena sinar matahari yang masuk di celah-celah jendela kamar yang terlihat besar nan mewah tapi terlihat dingin di dalamnya.
"Aww.." rintihnya saat merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuh apalagi area inti tubuhnya yang terasa ngilu.
Edgar yang masih tertidur langsung bangun saat mendengar pekikan Keyla yang lumayan nyaring.
"Kamu kenapa? " tanya Edgar menatap wajah Keyla yang sedang kesakitan.
"Anu," menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu mengatakan alasan yang sebenarnya pada Edgar.
Dengan hati-hati Keyla menggeser tubuhnya hendak beranjak, baru saja Kakinya berdiri tubuhnya kembali terduduk di atas ranjang karena tidak kuat berjalan.
"Sakit? " tanya Edgar lembut, menyelipkan anak rambut Keyla kebelakang telinga. Keyla hanya mengangguk pelan dengan kepala tertunduk malu, tidak berani menatap pada pria di hadapannya.
"Ayo! " Edgar menggendong tubuh polos Keyla yang masih berbalut selimut masuk kedalam kamar mandi, mendudukkan dengan hati-hati ke dalam buth up yang sudah ia isi dengan air panas sebelumnya.
"Kata orang berendam di air hangat bisa mengurangi rasa sakitnya, " uangkapnya penuh perhatian. Sesaat kemudian Keyla kembali dibuat geleng-geleng kepala.
"Mau ngapain? " pupil mata Keyla melebar saat melihat Edgar melepaskan pakaiannya.
Bagaimana tidak terkejut, melihat Edgar yang membuka celana kemudian ikut masuk kedalam buth up yang sama.
"Memandikan istri ku, " sahutnya dengan wajah tanpa dosa. Seringai tipis terbit di wajahnya menatap wajah kesal Keyla.
Tubuh Keyla menegang saat tangan Edgar mengusap perutnya, perlahan gerakan itu semakin turun berhenti di area terlarang miliknya, memainkan lidahnya di leher putih mulus sang istri meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Masih sakit? "
"Sedikit, " Keyla yang sudah bergairah karena ulah Edgar hanya menjawab lirih dengan suara serak. Matanya terpejam menikmati sentuhan yang Edgar berikan.
Mendengar jawaban itu tanpa beripikir dua kali Edgar membalikkan tubuh Keyla menghadapnya, dalam hati ia berjanji akan bermain lembut dan tidak akan menyakiti istrinya. Bibirnya mulai bermain dengan begitu lembut pada dua squisy bewarna pink yang begitu indah, dengan gerakan yang sangat hati-hati Edgar kembali menyatukan tubuh keduanya.
Suara rintihan Keyla terendam saat Edgar membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman, dan adegan panas penuh gairah itu terus berlanjut sampai keduanya terkulai lemas.
"Maaf, aku gak bisa nahan diri! " ucapnya penuh sesal kembali menggendong Keyla keluar dari kamar mandi, tentunya setelah mereka berdua selesai membersihkan diri.
Keyla hanya tersenyum lembut mengangguk lemah sebagai jawaban, mulutnya seolah tak kuasa bersuara.
"Kak, " Keyla mendongak menatap wajah Edgar.
Saat ini keduanya tengah duduk di ruang keluarga dengan mata fokus pada televisi yang menyala, dengan Keyla yang berbaring di pangkuan Edgar.
Ya, semenjak percintaan pertama mereka tadi malam, Edgar tidak segan-segan lagi memperlihatkan perhatiannya pada Keyla meskipun belum ada kata cinta yang keluar dari bibir keduanya. Seperti hari ini, Edgar yang seorang workaholic memilih libur bekerja menemani Keyla. Tanpa disadari Edgar yang dulu sekarang mulai berubah menjadi sosok yang peduli pada orang sekitarnya.
"Hmm, " Edgar hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangan matanya dari televisi, dengan tangan mengusap lembut pipi sang istri.
"Aku coastnya di rumah sakit milik kak Evan, tempat ku bekerja waktu itu." Mendengar nama Evan disebut spontan Edgar menatap tajam pada istrinya yang terlihat gugup.
Bagaimana tidak gugup kalau di hadiahi tatap tajam seolah ingin menguliti hidup-hidup.
Edgar yang menyadari sesuatu perlahan mengubah ekspresi wajahnya meskipun dalam hati masih marah mendengar perkataan Keyla.
"Kenapa harus di rumah sakit itu? " tanya Edgar dengan geram tertahan.
"Itu peraturan dari kampus, Kak. Mereka yang menetapkan untuk penerima beasiswa. " Terangnya menjelaskan.
"Kalau gitu ngak usah jalur beasiswa! aku masih sanggup buat bayar kuliah kamu, " Keyla mendelik melihat sikap sombong suaminya sudah keluar.
"Ngak gitu juga konsepnya. Lagian apa salahnya coast di rumah sakit kak Evan, sama aja seperti aku bekerja dulu bedanya kali ini posisi ku jelas sebagai dokter umum. " Sanggah Keyla sedikit kecewa dengan pendapat Edgar.
Melihat sikap Edgar membuat Keyla salah mengartikan, perasaan yang seharusnya tidak ada dalam hatinya. Meskipun hubungan mereka tidak seperti dulu lagi, namun Keyla tetap mengingat pernikahan ini hanya sementara.
"Aku tau pernikahan ini akan berakhir, aku hanya ingin merasakan kebahagiaan diwaktu yang kumiliki walau hanya sekejap. " Gumam Keyla dalam hati, memejamkan matanya sesaat menetralisir rasa sesak di dada.Tanpa sadar cengkramannya ditangan Edgar semakin kuat.
"Kamu kenapa? masih sakit? "
"Hah? ngak papa, " sahutnya salah tingkah.
"Jadi gimana, Kak? " sambung Keyla lagi mengalihkan pembicaraan.
Edgar menghela nafas kasar, kemudian menatap lekat wajah Keyla yang menatap nya penuh harap.
"Baiklah, tapi berjanjilah satu hal padaku jangan kecewakan aku yang sudah memberikan kepercayaan padamu, " meskipun kurang mengerti maksud perkataan Edgar. Namun, kepalanya mengangguk cepat hanya dengan menyimpulkan kata baiklah, itu artinya Edgar mengizinkan.
"Siap, " jawabnya tegas, bangkit dari posisi kemudian meletakkan tangan di kening sebagai tanda hormat.
Edgar tertawa kecil merasa lucu dengan tingkah Keyla.
"Ayo istirahat! kalau tidak kita olahraga siang saja, " serunya menggoda. Keyla menatap tajam, apa suamiku tidak lelah melakukan hal itu berulang kali, pikirnya.
Bukannya takut Edgar malah terbahak-bahak melihat wajah Keyla yang sok kejam terlihat tidak cocok di wajah cantiknya.
*
*
"Nanti pulangnya aku jemput, " Keyla yang bersiap membuka pintu mobil mengurungkan niatnya, berbalik menatap pada Edgar.
"Ngak usah kak! aku pulang sendiri saja, " jawabnya lembut menolak halus usulan sang suami.
Bukannya apa, Keyla hanya tidak ingin terlalu bergantung pada Edgar dan hal itu akan menganggu pekerjaannya.
"Aku tidak menerima penolakan atau tidak ada izin coast disini! " ucapnya tegas disertai dengan ancaman.
Keyla yang malas berdebat hanya mengangguk lemah, kemudian keluar dari mobil setelah mencium tangan suaminya.
Karena sebelumnya Keyla juga pernah bekerja di rumah sakit ini walaupun hanya sebentar, hal itu sangat membantunya karena dari beberapa dari mereka sudah mengenal Keyla sebagai asisten dokter Evan dulunya.
"Semangat sekali, Dok? " tanya dokter paruh baya yang merupakan dokter senior yang membimbing Keyla di hari pertamanya.
"Iya Dok, ini cita-cita saya dari dulu. Jadi seorang dokter yang bisa membantu banyak orang. " Ungkapnya dengan wajah berbinar diiringi dengan senyuman lembut.
Keyla melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin, hingga jam pulang pun tiba. Melangkah lebar keluar dari rumah sakit, karena tidak ingin membuat suaminya menunggu lama.
"Keyla, " baru saja Keyla sampai di lobby rumah sakit, sebuah suara berhasil menghentikan langkahnya.
****
To be continued.