Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Suapan Manis
Baru saja melangkah masuk ke kantin, mata Arjuna langsung tertuju pada pemandangan yang seketika membuat dadanya sesak: Laila sedang tertawa lepas dan bercanda riang bersama sosok yang menurutnya paling menyebalkan—Tama.
Tanpa pikir panjang, Arjuna langsung menghampiri meja itu dan menyempil duduk tepat di tengah-tengah Laila dan Tama sambil berteriak, “Awas! Awas! Awas! Air panas! Air panas!”
Tama mau tak mau harus bergeser menjauh karena terus didesak tubuh tegap Arjuna. "ck.. nyempil aja lu kek upil, ngga sadar diri banget punya badan segede dugong masih aja nyempil." gerutu Tama kesal karena suasana hatinya jadi buyar.
Arjuna malah menoleh ke kiri dan kanan seolah bingung. “Perasaan kek ada yang ngomong ya?”
Tama hanya mendengus kesal melihat tingkah Arjuna yang sengaja berlagak polos.
“Udah ah, ribut terus! Jadi nggak nafsu makan gue!” kesal Laila sambil meletakkan kembali sendok dan garpunya ke atas meja.
“Nggak boleh gitu sayang, mubazir kalo buang-buang makanan. Sini, biar Abang suapin biar nafsu makanya balik lagi,” rayu Arjuna sambil menyendok bakso dengan penuh semangat.
Semua orang di meja itu kompak berpura-pura mual sambil bergidik ngeri. “Jun, jijik banget denger lo ngomong gitu!” seru Gibran tak tahan.
Arjuna sama sekali tak peduli, ia malah mendekatkan sendok ke mulut Laila. “Ayo buka mulutnya sayang.”
Tanpa sadar Laila langsung membuka mulut dan melahap suapan itu pelan-pelan. Arjuna pun tersenyum lebar, lalu mengelus lembut puncak kepala Laila. Gadis itu buru-buru memalingkan wajah agar tidak terlihat kalau ia sedang tersipu malu luar biasa.
“iihhh… sosweet banget sih kalian! Jadi pengen punya pacar deh. Mas Pangeran, mau nggak jadi pacar aku?” goda Kirana sambil mengedipkan mata genit ke arah Tama.
Gibran yang duduk tepat di sebelahnya langsung nyeletuk ketus, “Gila, genit banget jadi cewek! Amit-amit deh kalau punya pacar modelan begini.”
Kirana membalas dengan tatapan sinis, tak peduli siapa yang ia tantang. “Dih, gue juga nggak suka cowok kaku kayak papan triplek!”
“Anjir papan triplek… berarti datar dong?” timpal Rian sambil menahan tawa hingga bahunya bergetar.
“Udah Neng, kalau Mas Pangerannya nggak mau, mending sama Akang Bowo aja ya,” goda Bowo sambil mengangkat alis berkali-kali.
Wajah Kirana seketika memerah malu. Meski tubuh Bowo lebih berisi, senyum ramah dan karismanya memang selalu bikin banyak cewek terpesona.
Sementara itu Nada hanya menunduk malu melihat tingkah temannya yang overdosis genitnya, lalu kembali fokus menyuapi makanannya. Di sebelahnya, Rian diam-diam memperhatikannya, lalu memindahkan potongan kulit ayam—makanan favoritnya sendiri—ke mangkuk Nada.
“Nih buat lu. Katanya sih kebanyakan cewek suka kulit ayam,” ucap Rian sambil tersenyum ramah.
Nada menggigit bibir bawahnya karena gugup luar biasa. Ini pertama kalinya ada lawan jenis yang begitu perhatian padanya. “M-makasih ya…”
Di sisi lain, Arjuna dan Laila malah asyik saling menyuapi. “Aaaa… mau lagi,” pura-pura Arjuna membuka mulut lebar. Laila pun menurut dengan telaten menyuapinya. Tak lama gantian Arjuna yang menyuapi Laila, begitu terus sampai mangkuk mereka berdua kosong tak bersisa.
Tama yang merasa tersisih akhirnya berdiri. “Gue cabut dulu ya. Makanan kalian udah gue bayar kok.”
“Oke, makasih ya Mas Pangeran!” seru Kirana cepat. Tama hanya tersenyum tipis sebelum berjalan meninggalkan kantin.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi, mereka pun bergegas menuju kelas masing-masing. Arjuna berjalan mengantar Laila, menggenggam erat tangan gadis itu tanpa rasa malu sedikit pun. Laila hanya menunduk dalam, membiarkan tangan mungilnya tergenggam hangat di sana.
“Nanti malam kita jalan yuk?” ajak Arjuna tiba-tiba.
Laila mendongak kaget, lalu menghela napas pelan. “Maaf Jun, gue nggak bisa.”
Ia menunduk kembali dengan ragu. “Ini yang gue takutin dari awal. Hubungan kita nggak bakal kayak pasangan lain pada umumnya kan?”
Arjuna tersenyum lembut sambil mengacak rambut Laila pelan. “Nggak apa-apa sayang. Kalau nggak bisa jalan, nanti malam gue ke kafe tempat lu kerja aja. Yang penting gue bisa liat senyum lu sebentar.”
Laila tersenyum haru, meski di lubuk hatinya masih ada keraguan. Ia masih sulit percaya—secepat inikah Arjuna benar-benar jatuh cinta padanya?