Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Lapangan basket.
Bel istirahat kedua pun berbunyi.
Di kelas 12 IPS 1, Laila sedang merapikan buku-bukunya ke dalam tas. Sebenarnya ia berniat tetap di dalam kelas saja seperti biasanya—untuk berhemat, ia sengaja tidak pergi ke kantin.
Tiba-tiba Kirana menghampirinya yang sedang asyik membaca buku. “La, ayo ke lapangan basket! Sekali-kali temenin gue dong. Lagian di sana juga ada Arjuna, jadi lo bisa nyemangatin dia. Kan lo sekarang pacarnya Arjuna,” bujuk Kirana sambil memeluk lengan Laila manja.
“Enggak deh, mending gue baca buku aja di sini. mager kalau harus panas-panasan. Lagian tanpa gue pun, Arjuna udah banyak yang nyemangatin kok,” jawab Laila santai.
“Ihhh… beda dong La! Kalau disemangatin pacar, rasanya pasti beda banget. Apalagi Arjuna keliatannya sayang banget sama lo beda sama mantan-mantanya yang dulu, dan pastinya dia bakal senang banget kalau lihat lo dateng. Percaya deh sama gue,” rayunya terus.
Laila hanya menghela napas panjang.
“Ayo dong… mau ya Laa?” Kirana menatapnya penuh harap.
“Yaudah iya…” Akhirnya Laila luluh. Kirana pun langsung bersorak girang.
Laila pun bangkit berdiri, memasukkan bukunya ke dalam tas lalu mengambil botol minumnya. “Eh iya, Nada ke mana? Biasanya kalian berdua selalu ke mana-mana bareng, kayak Upin dan Ipin.”
“Huh..lo kayak ngga kenal dia aja. Diakan paling anti kalau disuruh lihat cowok-cowok ganteng, tapi tiap hari galau karena belum punya pacar. Aneh kan? terus kalau jam segini pasti dia lagi asyik di ruang dance,” jelas Kirana.
Laila hanya tersenyum tipis mendengar tingkah sahabatnya itu. Mereka pun berjalan beriringan menuju lapangan basket dan duduk di bangku penonton yang tersedia.
Lapangan ternyata sudah cukup ramai dipadati siswi yang datang untuk menonton. Ada yang duduk di depan kelas karena tempat yang teduh, namun tak sedikit pula yang rela duduk dekat lapangan meski terik matahari menyengat. Laila dan Kirana termasuk yang memilih duduk lebih dekat lapangan, karena menurut Kirana, dari tempat teduh kurang jelas melihat wajah-wajah cogan. Laila pun hanya menurut saja.
Sementara itu, Arjuna sedang duduk santai bersama teman-teman basketnya sebelum latihan dimulai. Gibran yang sedang melakukan peregangan tiba-tiba melirik ke arah bangku penonton dan melihat sosok yang tak asing baginya.
“Jun, lihat ke depan sana,” ucap Gibran tiba-tiba.
“Apaan sih?” Arjuna menoleh malas.
“Tuh, lihat… di sana ada siapa.” Gibran menunjuk ke arah tempat duduk Laila.
Arjuna pun ikut menoleh. Matanya seketika membelalak tak percaya. Ia bahkan mengucek matanya berkali-kali seolah takut salah lihat. “Gib… ini bukan mimpi kan?”
Gibran hanya memutar bola matanya malas. “Lebay banget sih lo. Padahal dulu mantan-mantan lo juga begitu kan?”
Arjuna tak menyahut ucapan Gibran. Ia langsung bangkit dan berlari menembus lapangan menghampiri Laila.
“ buset dah, langsung di datengin. Tumben banget, biasanya juga cuek bebek,” gumam Gibran sambil geleng-geleng kepala.
Di sisi bangku penonton, para siswi yang duduk di sekitar Laila pun heboh melihat Arjuna berlari kencang ke arah mereka.
“Eh… itu Arjuna mau ke sini kan? Kayaknya dia mau nyamperin gue deh!” seru seorang siswi dengan percaya diri berlebihan dari belakang Laila.
“Apaan sih, jangan geer dulu. Kayaknya dia mau nyamperin Salsabila. Jangan-jangan mereka balikan lagi ya?” timpal temannya.
Laila dan Kirana yang mendengar pembicaraan itu saling bertukar pandang.
“La, lo nggak apa-apa kan? Jangan dengerin omongan mereka. Anggap saja mereka burung yang berkicau,” bisik Kirana pelan.
“Apaan sih… gue biasa aja kok,” balas Laila pelan berusaha tenang.
Arjuna terus berlari, wajahnya berseri-seri memancarkan kebahagiaan, membuat para siswi yang melihatnya semakin terpana melihat ketampanan Arjuna. Ia berhenti tepat di hadapan Laila, lalu perlahan berlutut setengah jongkok di depannya. Nafasnya masih naik turun terengah-engah setelah berlari sekencang itu.
“La… lo… lo dateng lihat gue latihan? Kenapa nggak bilang dulu sih? Kan gue bisa jemput lo di kelas dan cari tempat yang nggak panas begini,” ucap Arjuna lembut sambil menyeka keringat di pelipis Laila—padahal dirinya sendiri pun berkeringat lebih banyak.
Pemandangan itu membuat siapa saja yang melihatnya ikut menahan napas. Begitu perhatiannya Arjuna kepada Laila, sesuatu yang belum pernah sekalipun ditunjukkannya kepada siapa pun sebelumnya. Banyak yang tersenyum baper melihat kelembutan Arjuna, tak sedikit pula yang merasa iri—termasuk Salsabila yang duduk tak jauh dari sana.
“G-gue nggak apa-apa kok duduk di sini…” jawab Laila gugup, matanya tak henti melirik ke kiri dan kanan malu. “Jun… mending lo lanjut latihan aja gih” usirnya pelan dengan pipi yang sudah memerah merona.
" iya..iya. oh gini aja mending lo ikut gue kesana." ucap Arjuna sambil menunjuk tempat perkumpulan teman basketnya. "ngga tega gue liat lo kepanasan. di sana tempatnya lebih enak, adem. terus lebih deket ke gue." ajak Arjuna yang sudah berdiri.
Mata Kirana langsung berbinar mendengar ajakan itu, baginya ini kesempatan emas untuk berdekatan dengan para pemain basket yang terkenal dengan ketampanannya. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Kirana langsung menyenggol lengan Laila, "iyain aja La.. dari pada kepanasan di sini."
Laila hanya melirik sekilas ke arah Kirana, lalu menatap kembali kepada Arjuna.
" ngga deh Jun, gue beneran nggak apa-apa duduk di sini." tolak Laila.
" ck.. gue ngga terima penolakan, lu mau Jalan sendiri apa gue gendong. cepet pilih mana?!" paksa Arjuna tak memberi celah.
Laila langsung mendengus kesal, selalu saja Arjuna seenaknya- pikirnya. " iya iya... tapi temen gue harus ikut." ucapan Laila membuat Kirana kegirangan.
Arjuna langsung menyunggingkan senyum lebar mendengar persetujuan itu. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung meraih tangan mungil Laila dan menggenggamnya erat seakan tak ingin terlepas sedikit pun. Laila terperanjat, wajahnya seketika memerah padam. Ia mencoba melepaskan, namun genggaman Arjuna begitu hangat dan kuat hingga membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan.
“Ayo sayang,” ucap Arjuna lembut, lalu melangkah membawa Laila berjalan meninggalkan tempat itu.
Seluruh mata yang memandang terpaku pada pemandangan itu. Genggaman tangan Arjuna yang begitu erat dan terang-terangan menampakkan betapa ia menyayangi gadis di sampingnya.
Di belakang mereka, Kirana berjalan dengan langkah ringan penuh kegembiraan. Hatinya berbunga-bunga membayangkan akan segera berdekatan dengan para pemain basket yang dikenal rupawan dan gagah perkasa. Ia sesekali merapikan rambut dan bajunya, berharap ada yang melirik dan terkesan padanya.
Namun di sisi lain, di tempat duduk penonton, Salsabila menatap tajam ke arah mereka berjalan menjauh. Kedua matanya memancarkan api kebencian yang membakar dada. Tangannya mengepal erat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Di sebelahnya, kedua temannya pun tak kalah geram menatap punggung Laila yang berjalan berdampingan dengan Arjuna.
“Sialan mereka malah makin deket,” desis Salsabila penuh amarah, lalu nggak lama ia tersungging sinis.” kalau gue ngga bisa sama Arjuna, lu juga ngga bakal bisa Laila. sekarang senang-senang lah dulu kalian... tapi suatu saat nanti kalian bakal terpisah selamanya. tunggu pembalasan gue.... Laila."
Kedua temannya mengangguk setuju dengan senyum sinis yang mengerikan. Mereka bertiga pun beranjak pergi, meninggalkan lapangan dengan rencana jahat yang mulai tersusun di dalam benak busuk mereka.