Untuk membalaskan dendamnya pada Alena, Satria menikahi Elena adik kembar mantan kekasihnya.
Dan Elena yang tidak tahu dendam Satria menganggap pria itu mencintainya.
Namun semua berubah begitu saja setelah pesta pernikahan berakhir.
"Aku tak menyangka kamu tega menghianatiku." Elena.
"Penghianatan di balas penghianatan." Satria.
Akan kah Elena mampu menghadapi rumah tangga yang terasa seperti neraka baginya?
Atau kah Elena menyerah pada cintanya karena lelah dengan sikap Satria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 31 Aku Mencintainya
"Pelan-pelan Pak, anda pasti bisa," ucap dokter Rizki mengarahkan Satria yang sedang belajar memegang benda yang berada di sekitarnya.
Beruntung patah tulang belakang di tubuh Satria masih tingkat ringan, sehingga memungkinkan pria itu untuk cepat sembuh.
Awalnya Satria sama sekali tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, tapi kini setelah satu bulan ia sudah bisa mendudukan tubuhnya hanya saja masih dibantu oleh orang lain.
Selama sebulan ini Satria hanya tinggal di rumah sakit untuk memudahkan dirinya cepat sembuh.
Ia tidak ingin pulang ke apartemennya karena di sana tidak ada satu orang pun yang bisa merawat dirinya.
Elena pergi entah ke mana, keberadaannya belum diketahui oleh dirinya.
Sedangkan Cecil, membeli rumah sendiri dengan menggunakan uangnya.
Terhitung, hanya dua kali saja Cecil datang menjenguk Satria, itu juga karena wanita itu meminta uang.
Karena status Cecil yang masih sebagai istrinya, Satria jadi tetap memberikan uangnya pada Cecil meski wanita itu tidak mau merawat dirinya.
Pyarrr!!
Satria menjatuhkan gelas yang sedang ia pegang, padahal susah payah ia tadi meraihnya.
Pria itu saat ini sedang belajar meraih dan memegang benda di sekitarnya yang tentu saja dengan bimbingan oleh dokter Rizki.
"Arrgghh!!" teriak Satria kesal.
Ia kesal sekali karena tangan dan jarinya masih saja berat dan kaku sehingga ia tidak bisa memegang benda dengan waktu yang lama.
"Sabar Pak, anda pasti bisa melewati ini semua." ucap dokter Rizki menenangkan Satria.
"Sampai kapan saya harus seperti ini?" tanya Satria sembari berusaha mencengkram kuat jemari tangannya namun masih belum bisa.
Satria memang belum banyak bisa menggerakan anggota tubuhnya, tapi pria itu sudah bisa kembali berbicara dengan lancar.
"Semuanya butuh proses Pak. Kesembuhan anda juga ada prosesnya," ucap dokter Rizki.
"Saya harus cepat sembuh dok, supaya saya bisa mencari istri saya." ucap Satria.
Dokter Rizki mengerti bagaimana perasaan pria di hadapannya itu.
Selama dirawat di rumah sakit, pria itu sama sekali tidak diurusi oleh istrinya. Dokter Rizki tentu saja tahu bahwa istri dari pasiennya itu adalah Elena Wulandari.
Sedangkan wanita yang beberapa kali ia lihat mendatangi Satria itu sebagai istri siri pasiennya.
Sedikit banyaknya Satria menceritakan tentang rumah tangganya pada dokter Rizki. Karena hanya dokter itulah yang menjadi temannya selama ia berada di rumah sakit.
Reyhan memang sering mengunjungi dirinya, namun sikap pria itu sangat berubah kepadanya membuat Satria menjadi canggung untuk bercerita.
Sikap Reyhan tidak seperti dulu saat belum mengetahui permasalahan rumah tangganya.
Dulu pria itu sangat care padanya tapi sekarang ini seperti ada jarak di antara mereka.
Meski sikap Reyhan berbeda, tapi setiap kali pria itu datang membesuk Satria, selalu memberi motivasi sahabatnya untuk semangat sembuh agar bisa meminta ma'af pada Elena yang telah ia sakiti.
"Itu bagus Pak. Jadikanlah hal itu sebagai motivasi untuk anda cepat sembuh," ucap dokter Rizki.
"Tapi sudah satu bulan saya belum bisa apa-apa juga dok," ucap Satria.
"Sekali lagi saya hanya bisa mengatakan bahwa semuanya butuh proses," ucap dokter Rizki.
Hahh.
Satria menghela nafas kasar untuk mengurangi sesak didadanya.
Kata penyesalan tidak bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Bahkan ia juga yakin bila penyesalannya itu tidak bisa mengobati luka di hati Elena.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamar rawat itu dibuka oleh seseorang.
Ceklek.
Satria dan dokter Rizki segera menoleh kearah pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Ibu," panggil Satria.
Ternyata yang membuka pintu kamar rawat Satria itu adalah Mayang. Sehabis berbicara dengan Alena dan Reyhan tadi, ia segera mendatangi rumah sakit untuk melihat keadaan menantunya itu.
Bukan hanya itu, Mayang juga ingin mendengar penjelasan langsung dari Satria mengenai Elena yang pergi dari apartemen pria itu.
Tidak seperti biasanya Mayang tersenyum ramah pada Satria. Saat ini wanita paruh baya itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar rawat Satria dengan wajah yang dingin.
Meski Mayang mendengar Satria memanggilnya, tapi wanita paruh baya itu tidak kunjung menyahuti panggilan dari menantunya itu.
Terlebih dahulu Mayang menatap Satria yang sedang duduk dibrangker rumah sakit.
Wanita paruh baya itu bisa melihat kondisi Satria yang sangat menyedihkan. Pria itu hanya duduk dibrangker dengan kaki dan tangannya sulit untuk digerakkan.
"Apa ada yang ingin kamu jelaskan pada Ibu?" tanya Mayang pada Satria.
Satria tersentak dengan pertanyaan Mayang.
Ia bisa menduga bahwa ibu mertuanya itu sudah mengetahui kebenarannya.
"Ma'afkan aku, Bu." ucap Satria.
Kalimat itulah yang pertama kali pria itu lontarkan pada ibu mertuanya.
"Jelaskan!" titah Mayang menuntut penjelasan dari Satria.
Suasana di ruang rawat tersebut semakin terasa panas, membuat dokter Rizki yang berada di sana merasa tidak enak pada Mayang dan Satria.
Tugasnya memeriksa kondisi Satria juga sudah selesai sehingga Dokter Rizki memilih pamit pada Satria dan segera keluar dari ruang itu.
"Maafkan aku Bu, aku telah menyakiti Elena," ucap Satria menundukkan kepalanya.
Pria itu kemudian menceritakan semuanya pada Mayang, mulai dari Ia yang menjalin hubungan secara diam-diam dengan Alena, lalu kemudian dikhianati wanita itu.
Setelah dikhianati Alena, Satria juga menceritakan bila dirinya menyimpan dendam dan menjadikan Elena sebagai alat balas dendamnya.
Ia juga menceritakan bahwa dirinya telah menikahi wanita lain untuk membalas penghianatan Alena.
Mayang tersenyum miring menanggapi penjelasan menantunya itu. Penjelasan itu kurang lebih seperti apa yang Alena jelaskan tadi dikantor Reyhan.
Ia selama ini sudah salah menduga bila Satria adalah pria yang baik untuk putrinya.
Tapi pada kenyataannya, Satria bahkan dengan sengaja menyakiti Elena.
"Aku mohon Bu, ma'afkanlah aku. Aku sudah menyesali perbuatanku itu Bu," ucap Satria.
Mayang tidak menanggapi ucapan Satria. Ia justru melontarkan sebuah kalimat yang membuat pria itu semakin terpuruk.
"Ibu akan mencari Elena dan menemukannya. Setelah ia ditemukan, ibu akan meminta Elena untuk menceraikanmu. Cukup sudah Elena kamu sakiti," ucap Mayang.
"Jangan Bu, jangan lakukan itu. Aku tidak sanggup bila harus bercerai dengan Elena. Aku mencintainya Bu," ucap Satria sembari menggelengkan kepalanya.
"Cinta? Kamu bilang mencintai Elena setelah dirimu lumpuh dan tidak ada wanita yang mau denganmu," ucap Mayang tersenyum sinis.
"Tidak Bu. Aku sungguh mencintai Elena, aku sungguh menyesal baru menyadari cinta ini setelah kepergiannya," ucap Satria.
"Kamu simpan saja cinta mu itu untuk istri kedua mu," ucap Mayang.
Satria menggelengkan kepalanya menolak apa yang diucapkan Mayang.
"Tidak Bu. Aku berjanji akan menemukan Elena lebih dulu dari ibu. Setelah menemukannya, aku akan meminta ma'af padanya." ucap Satria.