WARNING!!
INI HANYA SEKEDAR CERITA KHAYALAN SEPINTAS. TANPA MENGIKUTI NORMA HUKUM DAN AGAMA.
BIJAKLAH DALAM MEMBACA, KHUSUS YG SUDAH MENIKAH SAJA.
Apa yang harus di lakukan, jika tiba-tiba gadis yg belum menikah, dan merasa tidak pernah melakukan hubungan badan dengan seorang lelaki manapun, tetapi tiba-tiba di perut nya ada janin yang sudah tumbuh.
"Tidak,, ini semua mustahil, apa iya di jaman sekarang masih ada perempuan yang hamil, tanpa lelaki. Seperti jaman Siti Maryam."
Naura menangis sambil menekuk kakinya, dia bingung dengan apa yang menimpanya.
PENASARAN???
BACA CERITA PERTAMA AKU YA,,
MOHON MAAF, SAYA PENULIS PEMULA, PASTI BANYAK SALAH-SALAHNYA, MOHON MAKLUM, DAN JANGAN LUPA KRITIKNYA..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Naura yang sadar setelah dirinya merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh keningnya, langsung terbangun, menampar keras pipi Vino.
Wajahnya merah padam, Nafas Naura memburu, "jangan kamu pikir, setelah berhasil nikahin aku, semuanya akan selesai!Kamu," Naura mengatur nafasnya, mengarahkan telunjuknya kedepan wajah Vino. "Lelaki brengsek, yang udah hancurin masa depan aku. Lagian, kemana aja kamu selama ini! kenapa kamu baru datang dan biarin aku mengalami penderitaan ini sendiri!"
Vino menunduk, semua yang dikatakan padanya memang benar adanya, "maafin aku, Ra" Vino memegang tangan Naura.
Dengan keras, Naura mengayunkan tangannya, sehingga tangan Vino terlepas.
Mata Naura menyorot tajam mata vino, terlihat begitu banyak kebencian dari mata itu, "ceraikan aku, setelah anak ini lahir."
Vino mengangkat wajahnya, ditatapnya mata Naura dengan tatapan teduhnya, "sampai kapanpun, Aku gak akan pernah ninggalin kamu, Ra." jawaban Vino terlihat tanpa ada keraguan sedikitpun.
Naura memalingkan pandangannya, entah kenapa, hatinya selalu melemah saat melihat tatapan teduh dari lelaki itu. "Kalau begitu, ceraikan aku sekarang. Aku gak butuh tanggung jawab dari cowok pengecut kaya kamu!"
Naura pergi, keluar dari kamar, sejujurnya, dia menyesal sudah mengatakan itu pada Vino, tapi, amarahnya saat ini, benar-benar tak bisa di bendung.
Naumi yang sedang duduk mengobrol dengan kedua orang tua Vino, mengerutkan kening, saat melihat anaknya berlari melewatinya "Kamu kenapa, Ra?"
Naura menghentikan langkah, "Naura mau cari udara segar, Bu" ujar Naura, tanpa menolehkan wajahnya.
Naumi yang merasa malu, terhadap tingkah Naura di depan orangtua Vino, hanya bisa mengucapkan maaf kepada besannya itu.
****
Naura duduk di atas ayunan, dia teringat saat umurnya masih kecil, dia selalu bermain ayunan, tertawa bahagia tanpa beban. Tapi sekarang, saat sudah dewasa, hidupnya hancur karena kelakuan bejat lelaki yang sekarang menjadi suaminya.
Terlebih, dengan kenyataan ayah kandungnya, yang ternyata kemungkinan masih hidup. Bahkan, namanya saja baru dia ketahui beberapa hari yang lalu.
"Naura?" suara lembut dari seorang wanita, mengagetkan lamunannya.
Naura menoleh, "iya Tante?" Naura tersenyum pada wanita yang sekarang menjadi mama mertuanya.
Anita menghela napas, mengerucutkan bibirnya, "Mama, bukan Tante, ingat, kamu sekarang istri Vino, anak Mama."
Naura sedikit kesal, saat mendengar nama itu, tetapi dia memaksakan untuk tersenyum, " iya, Mam-ma."
Anita mencolek hidung Naura gemas. Dipeluknya tubuh Naura dengan erat, "maafin Vino ya, mungkin dia punya alasan melakukan itu sama kamu, tapi Mama percaya, dia bukan lelaki yang jahat," Anita terus meminta maaf, tanpa melepaskan pelukannya.
Naura yang tersentak, karena perlakuan Anita hanya mengangguk, dia merasa nyaman berada di pelukan mertuanya itu.
Anita mengerti dengan perasaan Naura, walau bagaimanapun dirinya juga seorang wanita.
Perlahan, Anita melepaskan pelukannya, "Mama sama Papa mau pulang dulu ya, kamu baik-baik disini. Mama tunggu kamu di rumah kita ya," Anita mengusap pelan kepala Naura, lalu melangkah pergi.
Naura merasa tersanjung, dengan perlakuan Anita, walau bagaimanapun, tak jarang dirinya mendengar cerita tentang ibu mertua yang jahat. Tapi Naura, dirinya sangat beruntung, mendapatkan mertua sebaik dan selembut mama Anita.
Naura menggeleng, mengingat dia sudah bertekad akan bercerai dengan Vino, dan tak lama lagi, Anita tidak akan menjadi mertuanya lagi.
****
Naura sudah duduk di meja makan, bersama ibu juga kedua adiknya. "Naura, dimana Vino?" pertanyaan Naumi menghentikan tangan naura yang hendak mengambil nasi.
Naura memutar bola mata malas, dia melanjutkan kembali mengambil nasi dan menaruh di atas piring, "gak tau Bu, di kamar kali."
"Naura! kamu kok kaya gitu, sama suami kamu? ibu gak suka, kamu kaya gitu!"
"Tapi, emang Naura gak tau kok bu," Naura menunduk, melihat tatapan ibunya yang terlihat menyeramkan.
Naumi menyentuh tangan Naura, "kamu panggil Vino ya, kita makan bersama," suara Naumi terdengar lirih.
Dengan malas, Naura melangkahkan kakinya, menuju kamar tidur. Kamarnya yang kecil memudahkan Naura untuk melihat sekelilingnya.
"Dimana dia?" gumam Naura dalam hati. Naura melangkah ke kamar mandi, tetapi ternyata terlihat kosong.
Naura berlari ke arah luar, dia mengedarkan pandangannya, "dia kemana sih?" gumam Naura pelan.
"Kamu, cari aku?" suara berat Vino berhasil membuat Naura terkejut.
Naura gelagapan, "engga kok, siapa yang cari kamu? gak usah PD jadi orang!" Naura mencoba berkilah.
Vino mengulum bibirnya, melihat gelagat Naura seperti itu, sungguh ingin dirinya mencubit pipi mulus milik perempuan yang sekarang sudah menjadi istrinya. Tapi, mengingat Naura yang masih membencinya, sekyat tenaga dia menahannya.
Naura berjalan meninggalkan Vino, "Ibu nunggu kamu makan," tanpa menengok ke arah Vino, Naura melanjutkan lagi langkahnya.
Suasana makan malam begitu hening, hanya dentingan sendok dan piring, terdengar dari ruang makan yang menyatu dengan ruang keluarga itu.
Vino mengambil gelas yang sudah berisi air putih, setelah isi gelas itu berkurang, Vino menaruh kembali, "Bu, apa boleh kalau besok Vino mau ngajak Naura pulang?" ucap lelaki itu yang berhasil memecah keheningan.
Mata Naura membulat sempurna, dia kaget dengan penuturan Vino yang tiba-tiba.
Naumi tersenyum ke arah Vino "bo,"
"Aku enggak mau!" Naura langsung memotong jawaban ibunya.
****
"Kamu kenapa mau ngajak aku ke rumah kamu, tapi gak ngomong dulu sama aku!" Naura melipat tangannya di dada, wajahnya terlihat merah padam.
Setelah sedikit perdebatan bersama ibunya, akhirnya Naura terpaksa mengalah. Namun sekarang dirinya sangat kesal terhadap suaminya itu.
"Aku harus kerja, Ra. Kalau kamu gak mau ikut, gak papa kok," ucap lelaki itu dengan santai.
Naura menggeram, mengepalkan tangannya, dengan santainya Vino berkata seperti itu, padahal tadi di meja makan, di depan ibunya, suaminya itu terus membujuknya.
Naura menghentakan kakinya kesal, "aku mau tidur!" Naura langsung membaringkan badannya di atas tempat tidur.
Vino hanya mengangguk, dengan santainya Vino ikut berbaring di samping Naura.
Brukkk, ,
Naura reflek, mendorong tubuh Vino dengan sangat keras.
"Awwww, sakit Ra," Vino berdiri, sambil memegang pinggangnya yang terasa sakit.
"Rasain, siapa suruh kamu tidur di sini!" Naura menyunggingkan senyumnya, dia kembali merebahkan badannya di atas kasur kecil miliknya.
Vino terlihat celingukan, "terus, aku tidur dimana, Ra?"
"Terserah!"
.-
-
-
-
-
**Kasiaann, pengantin baru gak tidur bareng, wkwkwkwkwk
Sperti biasa, aku mau ngingetin, jan lupa, like koment sama vote nya ya. jan kasih kendor.
Salam... Semangat**
emang enak🤪