Bekerja dengan bos yang mengeluarkan peraturan 'Kamu jangan pernah jatuh cinta dengan atasanmu'. Wah gimana ya perasaan Yasmin diworo-woro oleh bos tampan pemilik perusahaan tempat dia bekerja?
Ketika tidak sanggup lagi menghindari perasaan cinta yang tumbuh perlahan terhadap bosnya Yasmin memutuskan untuk resign sebelum bosnya memecat dia terlebih dahulu. Yasmin pergi ke kota lain untuk melupakan cintanya.
Bayu, bos Yasmin baru menyadari bahwa dia telah menaruh hati dengan gadis berjilbab syar'i itu yang telah mengubah hidupnya menjadi lebih religius setelah Yasmin resign tanpa persetujuan darinya.
Akankah Bayu bertemu kembali dan mengungkapkan cintanya kepada Yasmin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rabiha Adzra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31: Flashback (Janjian)
Seperti kesepakatan kemarin, Yasmin pun menemani Ririn untuk bertemu Ibnu di Cafe Orange. Yasmin dan Ririn tiba bersamaan di cafe itu.
"Yas, Ibnu udah ada di dalam," ucap Ririn memberitahu Yasmin. Mereka pun masuk ke dalam cafe. Karena suasana cafe bukan lagi jam makan siang, jadi tidak terlalu padat pengunjung di dalam sana.
Dari jauh Ibnu sudah tersenyum menyambut kedatangan mereka. Yasmin dan Ririn berjalan menghampiri meja Ibnu.
"Sudah lama, Mas?," tanya Ririn.
"Nggak juga. Baru sekitar lima menitan," jawab Ibnu tersenyum.
"Kalian duduk lah," sambung Ibnu melihat mereka masih berdiri di samping meja. Yasmin dan Ririn pun duduk.
"Kata Ririn, kamu sakit ya," toleh Ibnu melihat ke arah Yasmin.
"Iya, Mas. Kecapekan aja," sahut Yasmin.
"Kapan kamu nikah? Jangan lupa undang aku, Yas," ucap Ibnu.
"Insya Allah bulan depan, Mas," jawab Yasmin pelan.
"Kenapa, kok jawabnya ragu begitu?" selidik Ibnu.
"Mas Ibnu pasti diundang Yasmin, kok. Asalkan datangnya denganku," sela Ririn. Ririn sengaja mengalihkan perhatian Ibnu agar tidak banyak bertanya lagi dengan Yasmin.
Ibnu hanya tersenyum melihat Ririn. 'Kalau ku perhatikan, wajah mereka berdua kok mirip, jangan-jangan mereka berjodoh,' batin Yasmin.
"Boleh, dengan senang hati," balas Ibnu tersenyum.
Yasmin melihat ke arah Ririn kenapa tiba-tiba ekspresi wajahnya mendadak berubah. Yasmin menatap Ririn seolah-oleh bertanya 'ada apa?'. Namun Ririn masih saja melihat Yasmin seperti sedang memberi isyarat kepadanya.
"Ehem!," suara deheman seorang laki-laki terdengar di antara mereka. Suara itu tidak asing lagi bagi Yasmin dan terdengar dari arah belakangnya. Yasmin melirik ke samping karena si pemilik suara sudah berdiri di samping kursinya. Aroma parfum yang sudah familiar menyeruak di hidungnya.
'Pak Bayu!!,' jerit hati Yasmin.
"Mas Ibnu, dia calon suami Yasmin," ujar Ririn coba mencairkan suasana dengan memperkenalkan Bayu kepada Ibnu.
"Oh, kebetulan sekali. Kenalkan saya, Ibnu," ujar Ibnu tersenyum lalu berdiri sambil mengulurkan tangannya, mengajak Bayu berkenalan.
"Bayu Rizky Mahendra," Bayu pun menyambut tangan Ibnu sambil menyebutkan nama lengkapnya.
"Bayu Rizky Mahendra? Anak Pak Mahendra, pemilik Golden Corp?," tunjuk Ibnu ke arah Bayu seolah tidak percaya.
"Iya," jawab Bayu singkat.
'Irit banget sih ngomongnya,' batin Yasmin. Kalau sedang di luar, gaya Pak Bayu emang gitu, dingin kayak kutub.
"Senang sekali bisa berkenalan dengan anak pemilik Golden Corp," ucap Ibnu tersenyum.
Kalau Ibnu orangnya memang murah senyum. Makanya Ririn suka sekali dengan dia. Yasmin melirik Bayu hanya tersenyum kecil, kecil banget.
'Sepertinya calon mertua ku itu seorang pengusaha terkenal. Ibnu aja sampe tahu,' pikir Yasmin yang belum terlalu kenal dengan calon mertuanya itu.
"Yasmin, bisa ikut denganku sebentar," lirik Bayu ke arah Yasmin. Yasmin dan Ririn saling pandang. Ririn seolah memberi isyarat agar dia ikut saja dengan Bayu.
"Aku tinggal dulu, ya. Mas Ibnu titip Ririn, ya" ucap Yasmin sambil tersenyum.
"Kami permisi dulu," sambung Bayu lalu berjalan meninggalkan meja mereka tadi. Yasmin pun berjalan mengiringinya dari belakang. Hingga sampai di parkiran.
"Masuklah," perintah Bayu datar.
"Kita mau ke mana?," tanya Yasmin bingung.
'Kenapa pula kok, dia bisa ada di cafe ini juga. Padahal aku sedang tidak mau bertemu dengannya,' ucap Yasmin dalam hati.
"Masuk!!," Bayu membukakan pintu mobil di depan tanpa memperdulikan pertanyaan Yasmin.
Dengan rasa enggan dan terpaksa gadis berjilbab itu pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi. Bayu menutup pintu mobil dan berjalan memutar lalu masuk ke dalam mobil.
Kemudian Bayu melajukan mobilnya meninggalkan area Cafe Orange. 'Dia mau membawaku ke mana?,' tanya hati Yasmin.
"Aku menyuruh mu tidak masuk ke kantor untuk istirahat di rumah, bukan janjian makan dengan cowok," ujar Bayu dingin tanpa menoleh ke arah Yasmin. Laki-laki berwajah tampan itu tetap fokus menyetir.
"Bukannya aku tidak dibutuhkan lagi. Diistirahatkan di rumah, sama dengan diberhentikan secara halus. Iya, kan? Itu yang kamu bilang dengan Umi," ucap Yasmin tidak terima.
"Lagi pula bukan aku kok yang janjian dengan Ibnu. Aku hanya menemani Ririn," sambung Yasmin tidak suka dituduh begitu.
"Yasmin!! Aku tidak bilang memberhentikan kamu. Kamu itu harus istirahat setelah sembuh dari sakit, bukan diistirahatkan yang artinya berhenti bekerja!," ujar Bayu dongkol.
'Rupanya aku yang kurang nyambung. Yasmin, ada apa denganmu??,' batin Yasmin heran sendiri dengan jalan pikirannya. Gadis itu pun terdiam.
***
Bayu menahan emosi dengan sikap Yasmin yang seolah ingin memperkeruh suasana. Di kantor tadi dia tidak sengaja bertemu Fauzan dan menanyakan Ririn. Bayu ingin bicara dengan sekretaris Fauzan itu tentang Yasmin. Ternyata Ririn sudah izin pulang 30 puluh menit lebih awal karena tidak ada yang dikerjakan lagi. Fauzan hanya memberitahunya bahwa Ririn ada janji di Cafe Orange dengan seseorang. Bayu berpikir kalau Ririn pastilah janjian dengan Yasmin. Makanya Bayu menyusul ke sana biar bisa bicara langsung dengan orangnya kalau ternyata memang Yasmin juga ada di sana.
Ternyata dugaan Bayu benar. Tapi yang mengejutkannya, ada laki-laki di antara mereka. 'Wah, janjian dengan cowok yang kemarin itu. Berlanjut rupanya,'
"Jadi Ibnu itu mau pedekate dengan siapa?," selidik Bayu sambil menyetir.
"Nggak usah nanya,deh. Ririn udah bilang ke Ibnu kalau aku udah dilamar. Jadi nggak mungkin juga dia tertarik dengan ku," jelas Yasmin dengan wajah ditekuk.
"Yas, selagi janur kuning belum melengkung. Apa pun bisa terjadi. Terus, apa maksud kamu sampai meminta ku untuk membatalkan pernikahan. Apa karena kamu tidak suka lagi dengan ku," toleh Bayu sekilas melihat Yasmin.
"Tidak!!!," teriak Yasmin menoleh ke arah Bayu. Sudut bibir laki-laki yang selalu berpenampilan rapi itu melengkung, menahan senyuman.
"Aku hanya merasa takut kamu nanti menyesal setelah menikah dengan ku. Aku ini bukan wanita yang sempurna dan aku merasa tidak pantas menjadi istri mu," sambung Yasmin menunduk.
Bayu lalu menepikan mobil di pinggir jalan yang aman dari lalu lintas.
"Tidak ada manusia yang sempurna, Yas. Aku juga banyak kekurangan, Yas. Aku punya rasa cemburu. Karena aku tidak pernah melihat kamu bertemu dan berbicara dengan laki-laki lain di luar kantor," balas Bayu melihat gadisnya.
Yasmin melihat Bayu sekilas, ketika manik mereka bertemu dia langsung mengalihkan pandangannya.
"Kamu masih mau jadi istri ku, kan?" tanya Bayu.
Yasmin hanya diam, Bayu melihat bibir calon istri itu tersenyum.
"Yas," panggil Bayu.
"Apa?,"
"Masih mau?," tanya Bayu.
"Kalau aku nggak mau bagaimana?," ujar Yasmin tanpa melihat ke arah Bayu.
"Nggak bisa, dong. Kamu kan udah menerima lamaran ku," balas Bayu sewot.
"Masih lamaran juga, belum ijab qabul," gumam Yasmin mengelak.
"Yas, mau ngajak ribut lagi?," ucap Bayu memperingatkan Yasmin dengan nada marah.
Yasmin malah tertawa geli sambil menutup mulut dengan tangannya.
'Dia pikir lucu apa,' batin Bayu.
"Udah ah Pak, jalan lagi. Bapak mau mengajak ke mana ini. Aku mau pulang," ujar Yasmin.
"Ke percetakan," Bayu pun menyalakan mobil kembali dan melanjutkan perjalanan.
"Mau ngapain?," tanya Yasmin polos.
"Mau makan," jawab Bayu asal sambil melihat Yasmin yang tampak heran dengan jawabannya.
"Ya, mau buat undangan pernikahan kita. Kenapa otak kamu belakangan ini kok agak lama loading-nya, Yas" sindir Bayu.
Yasmin hanya tersenyum, "Karena kebanyakan mikirin Bapak, sih," gumam Yasmin pelan tapi Bayu masih bisa mendengarkannya walaupun hanya sayup-sayup.
"Kamu bilang apa, Yas?," tanya Bayu tersenyum, pura-pura seolah tidak mendengarkan ucapan Yasmin.
"Ah, nggak," elak Yasmin membuang muka melihat ke luar jendela mobil.
Bayu tersenyum kecil sambil tetap fokus menyetir mobil menuju ke sebuah percetakan besar milik temannya.
🍁🍁🍁
karya yg sangat bagus n ispiratif
biasanya sy baca ga pernah smpe habis, ini ko malah pengen lagi ❤️