Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Kepercayaan diri yang ditunjukkan Dian, membuat wajahnya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Joshua menatapnya, rasa kagum itu kembali menyelinap, namun segera ditekan habis-habis. Gigi rahangnya mengeras.
Jangan lemah. Mereka semua bagian dari masa lalu yang menghancurkan hidupku, rencanaku adalah membuat nya jatuh cinta padaku, lalu menghancurkan nya batinnya bergemuruh.
"Baiklah. Semua usulanmu akan saya terapkan mulai besok pagi. Saya akan serahkan penanganan awal ini kepadamu, Dian."
Mata Dian sedikit membelalak kaget. "Kepada saya, Pak? Tapi... saya hanya asisten anda. Apakah semua asisten juga harus terlibat dalam urusan begini?"
"Kamu yang menemukan solusinya. Maka kamu yang akan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana," jawab Joshua tegas, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan, nadanya berubah tajam seakan mengingatkan sesuatu yang hanya dia yang tahu. "Dan ingat... jangan sampai mengecewakan saya. Karena jika gagal, tanggung jawabnya akan sepenuhnya ada di pundakmu."
Hati Dian tersentak. Ia merasa menyesal telah membantu memberikan ide untuk Joshua. Padahal ia ingin pekerjaan nya dikurangi. Dan sekarang ia malah menambah pekerjaan yang semakin memberatkan nya.
Huwaaaaa, apa yang telah aku lakukan.
Apa yang baru saja kulakukan... Ingin sekadar membantu sedikit supaya dia diam. Padahal aku sudah cukup lelah menahan semua ini
Mau apa lagi? Dijodohkan paksa, harus jadi asistennya, sekarang malah terikat mengurus masalah besar ini semua gara-gara ide sendiri. Kenapa aku tidak diam saja dari tadi?!
"Ada apa Dian? Apa kamu keberatan?"
"Tidak pak!"
Tidak..... Mulutku memang adalah musuhku
Lagi-lagi ia terjebak pada kata-katanya sendiri. Seharusnya ia menolak—ia tahu nanti pasti akan kelelahan luar biasa. Namun, mulutnya malah menyetujui segalanya sebelum akal sempat menahan.
“Baiklah jika kamu setuju. Tenang saja, kamu tidak sendiri. Saya akan membantu. Saya sangat senang kamu mau terlibat.”
Dengan dia masuk lebih jauh, mungkin aku akan melihat pikiran kotornya dengan ayahnya. Bisa saja, ayahnya itu menyuruhnya melakukan pengawasan diam-diam pada perusahaan ku.
“Karena ini sudah waktunya bersiap, tolong temani saya.”
"Ap… apa? Te… temani anda?"
“Iya. Aku akan mandi, sementara kamu siapkan pakaianku. Sekarang—ikut aku!”
Ia melangkah di belakangnya dengan kaki terasa berat, jantung berdebar kencang seakan mau melompat keluar. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara air memercik dari balik pintu kamar mandi yang terbuka sedikit.
“Ambil kemeja krem dan celana bahan di lemari sebelah kanan. Lipat rapi di atas kasur,” ujar Joshua dengan nada santai, namun ada nada yang mengawasi setiap gerak-geriknya. “Kamu selalu cepat setuju pada setiap permintaanku. Padahal terlihat jelas kamu sebenarnya enggan, bukan?”
Tangannya terhenti sejenak sebelum menyambar pakaian yang diminta. “Bukan begitu, Pak… saya hanya ingin membantu.”
Dian berusaha menjaga pandangannya tetap lurus ke depan, tidak berani melirik ke mana pun.
“Benarkah?”
Suara air tiba-tiba terhenti. Suaranya makin dekat, seolah berdiri tepat di balik celah pintu. “Padahal aku hanya mempermainkanmu saja. Pak Arya tidak pernah melakukan tugas seperti ini sebagai asisten ku.”
“Apa?” Dian merasa darahnya mendidih karena kesal tahu dirinya dipermainkan.
Tanpa sengaja ia berbalik ke arah pintu—dan dirinya terkejut bukan main. Joshua berdiri di sana, hanya mengenakan sehelai handuk yang melilit di pinggang, menutup bagian bawah tubuhnya saja.
Bagian dada dan lengannya terbuka sepenuhnya. Dian segera membalikkan badan, menutup kedua matanya dengan tangan, wajahnya memerah karena malu.
“Ka… kamu. Kenapa keluar begitu?” suaranya bergetar menahan gugup dan marah.
“Ternyata kamu suka menatapku diam-diam. Apakah tubuhku begitu bagus?” katanya pelan namun penuh nada menggoda, melangkah mendekat perlahan hingga Dian bisa merasakan kehangatan tubuhnya dari belakang.
“Apa? Jangan mendekat!”
Dian membalikkan kepala sedikit, matanya masih terpejam rapat.
“Aku tidak memperhatikanmu diam-diam! Dari tadi aku cuma fokus pada pakaianmu. Aku melihat ke arahmu itu tidak sengaja—kamu sendiri yang mempermainkanku, memintaku masuk ke sini!”
Dian berusaha membela diri, suaranya makin meninggi karena malu dituduh mengintip.
“Dian, tidak perlu malu berlebihan begini. Kamu masih punya kesempatan untuk berterus terang sekarang.” Nadanya berubah sedikit lebih lembut namun tetap menekan.
“Lagipula kamu akan menjadi istriku, bukan? Nanti kamu akan melihat dan melakukan hal ini setiap hari.”
Mendengar itu, wajah Dian makin memerah sepenuhnya hingga ke telinga. Ia masih berdiri membelakangi Joshua, tidak berani menoleh sedikit pun.
“Bu… bukannya anda mau ganti pakaian. Sa… saya keluar dulu. Saya tunggu di bawah. Kalau sudah selesai bersiap, panggil saya. Saya… saya mau menemui Cindy dulu.”
Cindy sebagai alasannya untuk keluar dari kamar Joshua.
Dian tidak menunggu jawaban. Ia segera melangkah cepat keluar kamar, menutup pintu kayu itu agak keras seolah ingin menutup segala rasa malu dan gugup yang masih menyelimuti dirinya. Napasnya tersengal-sengal pelan saat ia menuruni tangga, jantungnya masih berdebar kencang seolah mau melompat keluar dari dada. Tangan yang tadi memegang pakaian itu kini gemetar hebat, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Sesampainya di kamar Cindy, ia mengetuk pintu kamarnya pelan. Cindy sedang duduk santai di tempat tidurnya sambil memainkan ponsel. Ia tahu, mbak Dian hanya sebentar di rumah mereka, jadi ia bangun untuk menunggu nya.
Saat mendengar ketukan dari luar pintu, Cindy merasa senang.
"Itu pasti mbak Dian."
Begitu melihat Dian yang wajahnya merah padam, napasnya tidak teratur dan tatapannya gelisah, gadis itu langsung mendekat dengan wajah cemas.
“Mbak Dian? Ada apa denganmu? Kenapa wajah mbak merah sekali? Apa kak Joshua melakukan sesuatu padamu?” tanya Cindy sambil mendekat, memegang bahu kakak iparnya itu dengan lembut. Ia membantu menopang nya, untuk duduk di ranjang nya.
Dian menggeleng pelan, mencoba menenangkan diri meski rasa malu itu masih terasa membakar pipinya. Ia menelan ludah susah payah sebelum bicara dengan suara masih sedikit bergetar.
“Ti… tidak ada apa-apa. Dia… dia hanya sedikit menyebalkan saja. Dia suka mempermainkan orang lain.”
Dian tidak berani menceritakan kejadian tadi—tentang tubuh Joshua yang terbuka, tentang kata-kata menggoda itu, tentang perasaan aneh yang sempat merayap di dadanya begitu tiba-tiba. Ia tahu Cindy pasti akan semakin khawatir jika mendengarnya.
Apa yang terjadi padaku kali ini? Biasanya aku tidak mudah untuk didekati pria. Tapi kenapa tiba-tiba ada yang berbeda saat dia mendekati ku.
Semoga semua ini hanya karena aku malu padanya. Itu saja.
Di lantai atas, Joshua masih berdiri di dekat pintu kamar. Senyum tipis masih terukir di bibirnya saat mendengar langkah kaki Dian yang menjauh. Ia perlahan mengenakan kemeja yang disiapkan gadis itu, menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya tajam dan penuh perhitungan—seolah tahu bahwa pertemuan tadi hanyalah awal dari segalanya. Dian mungkin bisa lari untuk saat ini, tapi ia tahu gadis itu tidak akan bisa menghindar selamanya. Dan rencana nya membuat Dian jatuh cinta, tidak akan sampai sebulan.