NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 24

“Apa yang terjadi? Kenapa tempat ini begitu sepi?” Ibu Amelia meliarkan pandangannya demi mencari keberadaan siapa pun di rumah yang biasanya ditempati Amelia kabur—rumah Kanaya. Namun, semuanya tampak kosong dan sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupan, meski bangunan itu masih berdiri kokoh.

“Nyonya, apa yang Anda lakukan di sini? Rumah ini sudah tidak berpenghuni sejak seminggu yang lalu.” Seorang petugas yang memang ditugaskan untuk merawat rumah lama.

“Apa? Ke mana mereka pergi?”

Pria itu bisa melihat jejak ketidaksabaran di wajah wanita di depannya.

“Tidak tahu. Sebaiknya Anda pergi karena mereka tidak akan pernah kembali ke mari lagi.” Pria itu mengenyahkan sikap ramahnya karena wanita itu tak memperlihatkan niat baik dan pergi begitu saja.

Dia sudah memperhatikannya sedari tadi bagaimana wanita itu memukul gerbang dengan brutal dan berteriak seperti orang gila.

“Tuan, ada seorang wanita tua di depan mansion lama. Dia terus berteriak dan memanggil nama Nona Amelia. Apa kami harus mengusirnya?” Pria itu melapor.

“Tidak perlu, biarkan saja dia. Nanti juga dia akan pergi sendiri.” Ayah Kanaya menjawab santai dan kemudian mematikan telepon.

“Wanita itu sedang mencari Amelia. Dia datang ke mansion lama. Untungnya kita sudah pindah.” Pria itu menatap istrinya yang sibuk di dapur.

“Dia benar-benar tidak ada kapoknya. Andai dia bukan ibu Amelia, aku pasti sudah memukulnya.”

Ibu Kanaya juga merupakan seorang atlet taekwondo. Dari sinilah bakat Kanaya menurun. Dia mengambil hobi dari ibunya, sementara fisiknya mengambil sebagian besar dari ciri fisik ayahnya.

“Bibi, panggil Naya dan Amel. Sarapan sudah siap.” Wanita itu meletakkan omelet terakhir buatannya di atas meja. Wanita itu benar-benar antusias dengan hadirnya Amelia seolah keluarganya terasa lengkap.

Setiap Amelia datang, suasana rumahnya terasa lebih hidup. Kanaya yang biasanya pendiam jadi lebih banyak bicara dan akan menanyakan banyak hal pada sahabatnya itu.

“Apa yang Bunda masak?” Kanaya muncul di sebelah kiri ibunya, sementara Amelia muncul di sebelah kanannya.

“Omelet, ayo duduk dan makan.”

“Terima kasih, Bibi.” Amelia duduk di samping Kanaya.

“Sama-sama anak Bunda.”

Kanaya sama sekali tak cemburu dengan perhatian sang ibu pada Amelia. Dia justru sangat bahagia dengan hadirnya Amelia. Sebagai anak tunggal, dia tidak merasa kesepian lagi.

Amelia awalnya ingin membantu memasak, tapi dilarang oleh wanita itu. Akhirnya keduanya hanya duduk santai sembari bermain catur di pinggir kolam ikan.

Keluarga itu makan dengan tenang, Amelia sangat menikmati sarapannya kali ini. Meski sejak semalam dia sudah memikirkan betapa marahnya orang tuanya jika tahu dia lagi-lagi kabur, tapi Amelia tak peduli. Dia bisa menghadapi itu nanti. Namun, momen yang terasa tenang dan damai ini entah sampai kapan bisa bertahan.

Setelah sarapan, ayah dan ibu Kanaya kembali pada kesibukan masing-masing, ayahnya pergi ke kantor dan sang ibu mengunjungi agensi modelnya.

Sampai sekarang Kanaya masih tak menyangka jika ibunya yang mencintai taekwondo itu akhirnya memilih modeling sebagai kariernya.

“Mel, kapan In Another Life kamu lanjutkan? Aku tidak sabar menunggu penyesalan Elio.”

Saat ini kedua gadis itu tengah duduk di halaman belakang mansion yang berhadapan langsung dengan tebing. Suara debur ombak masih sama menenangkannya. Hal yang ditanyakan oleh Kanaya merupakan judul novel online terbaru Amelia yang masih on going dan sudah tidak perbarui selama beberapa minggu ini.

“Entahlah, aku masih bingung harus membawa ceritanya ke mana. Mungkin nanti akan kupikirkan lagi. Aku butuh ide untuk cerita yang satu itu.

“Jangan lama-lama. Aku sangat merindukan gadis bulanku.”

Amelia tertawa melihat wajah dramatis Kanaya. Gadis bulan merupakan julukan yang diberikan untuk Kaluna sang pemeran utama perempuan dalam ceritanya itu.

Jujur saja, terkadang Amelia mengalami masalah di tengah-tengah cerita. Saat alur mulai mencapai klimaks, dia mulai kebingungan bagaimana membawa akhir dari karakternya. Terkadang dia merasa kasihan pada karakternya yang bernasib buruk, tapi terkadang dia juga merasa perlu melakukannya agar alur tetap berjalan.

Kanaya merupakan salah satu pembaca setia tulisan Amelia, baik versi online maupun cetak. Beruntungnya gadis itu karena dia mengenal sang penulis sehingga dia bisa leluasa menanyakan kelanjutan setiap cerita, tapi sebuah kesialan bagi Amelia karena dia harus diteror oleh rasa penasarannya.

“Sabarlah, jika kamu terus menerorku, bisa jadi gadis bulanmu itu akan kubuat mati.” Amelia berucap iseng, tapi Kanaya menanggapinya dengan serius.

“Astaga. Kamu benar-benar psikopat. Jangan membunuh karakter kesayanganku seenaknya.”

Amelia tertawa puas melihat reaksi Kanaya yang begitu menghibur. Dia pikir terlalu banyak tingkah Kanaya yang membuatnya bisa tersenyum lebar. Namun, Kanaya justru diam-diam lebih bersyukur setiap melihat tawa Amelia seolah dia mendapatkan kepuasan sendiri.

“Siang ini antar aku pulang, oke.”

Wajah Kanaya langsung cemberut. “Kenapa kamu ingin pulang? Tinggal di sini saja.”

“Ada tugas yang harus kuselesaikan. Aku janji kita tetap akan bisa bertemu.” Amelia memberi penjelasan.

“Tugas apa? Tugas menjadi istri yang tak dianggap?” Kanaya merotasikan matanya. “Bisakah kamu egois sedikit? Dia bahkan tidak pernah melihatmu.”

“Aku akan pergi saat dia sendiri yang memintanya.”

Kanaya tak habis pikir dengan sahabatnya itu, mengapa hatinya begitu keras. Sudah disakiti sedemikian rupa, tapi tetap saja memilih bertahan.

“Baiklah, hanya kali ini, Mel. Benar-benar satu kesempatan. Jika hal buruk terjadi lagi padamu, dengan atau tanpa izinmu aku akan membawamu pergi jauh, bahkan jika memungkinkan, aku akan menghapus semua kenangan burukmu tentangnya.”

Kanaya sudah bertekad dan Amelia mengangguk pelan.

***

Amelia menarik napas pelan mendengar ceramah tanpa judul dari ibunya yang sejak dia datang bersama Kanaya hingga beberapa menit berlalu masih mengomel tentang hal yang sama—Amelia yang pembangkang dan bahkan mencoba mencelakai kakaknya sendiri.

“Kalau menurut Ibu aku tidak cukup bagus menjaga Mbak Rosa, lebih baik Ibu saja yang menjaganya. Aku dengan senang hati menjauh dan melakukan urusanku sendiri.” Amelia yang sudah jengah akhirnya bersuara.

“Lihat, ‘kan. Kau bahkan terus membangkang sekarang. Sudah Ibu bilang berhenti bergaul dengan si Kanaya itu.”

“Tidak perlu menyalahkan orang lain. Apa yang kulakukan sekarang karena situasi keluarga ini memang kacau. Siapa yang kira-kira akan terus bertahan di tengah lingkungan ini? Coba Ibu bayangkan, ada seorang anak yang selalu diminta mengalah sejak kecil. Keberadaannya antara ada dan tiada, setiap yang dilakukan selalu salah di mata keluarganya. Tak jarang dia bahkan mendapat kekerasan. Dan terakhir harus menikah atas permintaan anak kesayangan keluarga itu. Benar-benar hebat.” Amelia menceritakan apa yang dia lakukan seolah dia sedang menceritakan sebuah dongeng pengantar tidur.

“Amel, aku tidak bermaksud—“

“Tidak perlu, Mbak. Mbak tidak salah di sini. Akulah satu-satunya yang bersalah.” Amelia memotong ucapan Rosa begitu saja.

“Kakakmu bahkan belum selesai bicara Amelia, dengarkan dia!” bentak sang ayah.

“Untuk apa? Aku selalu mendengarkan orang lain selama ini, tapi siapa yang akan mendengarkanku?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!